Axel Yang Sakit Di Keluarga Duke

Axel Yang Sakit Di Keluarga Duke
BAB 5. jatuh sakit


__ADS_3

Keesokan harinya axel secara tiba tiba terbangun karena merasakan sakit di sekujur tubuhnya. kepalanya terasa begitu sakit seakan ingin pecah. bahkan saat dia bernafas pun rasanya begitu sesak bersamaan dengan detak jantungnya yang berdetak lebih kencang dari biasanya.


" uhh... uuhh..."


"Ughh... aghh..."


Axel dengan susa payah membuka selimutnya dengan sekuat tenaga tampa mempedulikan rasa sakit pada bagian dadanya. dengan kepala yang semakin pusing, axel bangun menuju pintu mencoba meminta sebuah pertolongan. tetapi, karena tumpukan kakinya yang terlalu lemah alhasil dia tidak bisa menahan keseimbangan tubuhnya dan membuat dirinya miring kesamping dan terjatuh membuat pandangannya semakin menjadi buram.


DUUKKK! BRRUKK!!!


"Huhhh...uhh..huhhh..." nafasnya semakin menderuh. axel sama sekali tidak bisa merasakan pijakannya lagi. hal yang dia ingat dan rasakan hanyalah rasa sakit yang semakin kian menjadi menjadi.


'Apa yang terjadi? mengapa tubuhku begitu sakit. siapapun... tolong aku.'


Enma yang memang biasanya setiap jam 6:00 pagi selalu datang untuk mengecek keadaan sekitar. karena baru baru ini dia mendapatkan sebuah informasi dari para pelayan lainnya bahwa salju akan turun lebih cepat dari biasanya. karena itu, dia harus segera menyiapkan segala hal sebelum axel terbangun.


Niatnya dia ingin menyalahkan penghangat lebih cepat di kamar axel. karena yang enma tau axel sangat lemah terhadap dingin.


Sesampainya di kamar dia langsung menyalahkan lilin sebagai penerang karena suasana kamar yang masi sedikit gelap lantaran cuaca yang semakin mendung yang menandakan badai salju akan segerah datang. saat dia menatap sekelilingnya dia langsung terpaku saat melihat axel yang sudah tak berdaya terjatuh memegang pinggiran kasur menahan rasa sakit yang dia derita sejak tadi.


Enma langsung berlari dan berteriak panik memanggil nama axel yang membuat seluruh orang yang mendengar itu buru buru berlari menuju ke tempat enma berada.


"SEGERA PANGGIL DOKTER!!" teriak enma.


Charon yang saat itu sedang sibuk mengurus bunga di taman kaca juga mendengar teriakan enma, dia lalu melesit melompat, melewati balkon kamar axel yang memang mengarah langsung ke taman. sesampainya di sana dia melihat axel dengan keringat yang sudah membanjiri seluruh badannya dan nafasnya yang mulai tersengal sengal serta wajahnya yang kini telah sepucat kertas.


Charon terdiam sesaat menatap anak 16 tahun itu yang kini menatapnya dengan sendu. hati charon entah mengapa terasa begitu ter-iris melihat anak dombanya yang untuk pertama kalinya terlihat begitu menyedihkan yang membuatnya spontan berteriak dengan mata memerah penuh amarah.


"Jangan hanya melihat, cepat bawa dokter ke sini!!"

__ADS_1


Charon adalah seseorang yang jarang kelihatan marah, jadi ketika mereka melihat charon yang tiba tiba marah membuat mereka semua saling memandang ketakutan. hingga membuat salah satu dari mereka berucap dengan gugup.


"Di luar sedang terjadi badai salju, kami tidak bisa melewatinya mengunakan kuda, saya tidak begitu yakin apakah dokter bisa sampai dalam satu jam ke sini."


Enma yang mendengar itu menggertakkan giginya mencoba berfikir hingga sebuah tangan yang lemah menarik ujung bajunya sambil menahan sakit, dan itu adalah axel.


"Uaghh..ahhg..."rasa sesak di dadanya membuatnya semakin sulit untuk bernafas. bahkan tampa sadar dia menarik sesuatu yang entah apa itu demi memendam rasa sakitnya.


Itu membuat enma merasa emosi dan berteriak dengan penuh tekanan "kalian berani membantah-"


"-Panggilkan para penyihir untuk segera membuka portal darurat! dan suruh dua kesatria untuk mengirim surat ke medang perang di mana duke berada dan satunya kirim ke akademi kekaisaran!!." tegas charon pada akhirnya memotong perkataan enma.


"Baik!" teriak mereka tampa bisa membantah lagi.


"Ini benar benar darurat. aku belum perna melihat tuan muda seperti ini sebelumnya."


Bisik para pelayan yang masi ada di sana.


Enma menatap ke arah charon yang hanya di balas dengan gelengan. lalu charon mendekat—menggendong axel yang sudah pingsang menuju kasur dan menidurkannya di sana.


"Kita harus bersiap untuk kemungkinan terburuk." lirih enma mengusap surai axel.


"Kita tidak bisa hanya tinggal diam".


"Nyalakan perapian dengan api yang besar, lalu siapkan air hangat sebanyak banyaknya. tutup jendela dengan rapat." perintah enma.


Di bagian terdalam hutan ada lebih lebih dari 30 orang berperang melawan monster yang mencoba menerobos pertahanan yang telah merekah buat. dari semua orang itu, hanya ada satu pria yang terlihat menonjol di garis depan. dia adalah duke yang memakai mantel bulu berwarna hitam yang sesekali memberikan aba-aba ke pada bawahannya.


Alunan pedang saling sahut menyahut di bawa salju yang mulai turun, dengan suara cring yang terdengar begitu nyaring di telinga. ketika ada yang tumbang terkena serangan monster maka para elf akan maju merapal kan mantra penyembuh kepada mereka yang terluka. dan mereka akan kembali bangkit untuk melawan monster yang tiada habisnya.

__ADS_1


"Duke kami telah selesai menanamnya seperti yang anda perintahkan." teriak salah satu pengawal yang datang menggunakan kuda.


Duke mengangguk lalu menyuruh pasukannya untuk segera mundur sejauh mungkin. ketika para monster sudah tidak menyerang dan yakin mereka telah kembali ke sarangnya, duke langsung mengeluarkan sebuah tombol dan...


BOOMMM!!! SRAKKK!!! BOOMM!!!


tiga letusan yang datang secara berturut turut mampu menghancurkan seluruh sarang monster, yang ada di hutan tempat mereka berpijak sekarang.


"Itu ledakan yang sungguh luar biasa." ujar para kesatria dengan wajah yang seakan tak percaya bahwa ledakan itu adalah buatan mereka.


"Hari ini kita kembali ke markas karena sebentar lagi akan ada badai salju." perintah duke meninggalkan hutan itu di ikuti oleh semua orang dari belakang.


"Sampai kapan kita akan terus berada disini? ini sudah 10 tahun. aku takut istriku bosan menunggu dan menikah lagi." keluh salah satu dari mereka dengan wajah masam.


Para kesatria yang mendengar itu saling memandang lalu menghembuskan nafas mereka ke udara dengan lelah "aku ingin istirahat..."


"Jangan hanya mengeluh, lihat kita sudah sampai." duke yang diam diam mendengar itu berkata dengan nada dingin membuat para bawahannya sontak menahan nafas dengan takut.


Sedangkan para kesatria yang sudah menghapal sikap duke hanya bisa tertawa dengan hambar sebagai balasannya. namun, salah satu dari mereka seketika terdiam ketika melihat siluet seseorang dari jauh sedang menaiki kuda ke arah mereka. salah satu elf yang juga menyadari itu langsung memberi tahukan itu kepada duke.


"Tuan duke berita penting, sebuah surat datang dari ibukota." teriak siluet itu yang ternyata seorang penjaga yang sedang pengantarkan surat.


"Dari ibu kota? apa kaisar sudah mati?" duke mengucapkan itu dengan nada serius, itu membuat para bawahannya menatap horor kearahnya karena berani mengatakan kata kata kurang ajar seperti itu.


Duke mengambil surat itu lalu membaca isinya yang tidak begitu penting untuknya, hingga sampai di kalimat terakhir yang sontak membuat wajahnya menggelap.


Tampa aba aba, duke berteriak "SEGERA BERSIAP, KITA AKAN KEMBALI KE KEDIAMAN ISTANA PUTIH, SEGERA!!"


Para pasukan yang mendengar perintah yang tiba tiba dari duke, saling melempar pandang kebingungan. kembali? apa kaisar benar benar mati? tapi mengapa mereka harus kembali ke kediaman utama bukan ke ibu kota? segala macam pertanyaan muncul di benak mereka menyaksikan duke yang nampak begitu khawatir.

__ADS_1


__ADS_2