Axel Yang Sakit Di Keluarga Duke

Axel Yang Sakit Di Keluarga Duke
BAB 6. ingatan di masalalu


__ADS_3

Di kediaman utama tempat axel berada terlihat enma yang sedang memasangkan alat bantu napas ke axel yang masi pingsan.


Para dokter yang di bawa oleh charon juga telah memeriksanya.


Hal yang membuat mereka semua tercengang adalah saat dokter mengatakan bahwa tubuh axel makin hari makin kian memburuk.


Para dokter berkesimpulan, bahwa iklim musim dingin yang ada di wilayah ini yang membuat hidup axel tidak bisa bertahan lama. apalagi wilayah ini memiliki musim yang tidak begitu menentu setiap harinya, itu membuat imun tubuh axel turun dratis yang membuatnya sangat beresiko untuk kesehatannya.


"Penurunan suhu tubuhnya sangat dratis. ini benar benar sangat berbahaya." ujar dokter sambil berjalan keluar dari kamar.


"Sebaiknya kita segera mencari sebuah obat yang bisa menekan suhu tubuh tuan muda, itu adalah satu satunya cara yang bisa kita lakukan untuk saat ini."


"Obat? katakan kepadaku apa nama obat itu aku akan mencarinya segera." tanya charon sambil menutup pintu kamar.


Dokter menggeleng dan berkata "Obat itu hanya terletak di daerah wilayah selatan yang berada di bukit atlas milik para Ras duyung."


"Para duyung memiliki harta karun yang bernama bunga es levieder yang jika inti sarinya di ambil bisa membuat yang meminumnya kebal terhadap dingin dan itu adalah satu satunya cara agar tuan muda axel bisa bertahan lebih lama."


Charon terdiam sesaat dan kembali bertanya "berapa lama waktu tuan muda untuk bertahan?"


"Paling lama seminggu."


"Wilayah selatan akan sangat susah di tempuh hanya dalam seminggu-" gumam charon


"-Baiklah kita harus menunggu tuan duke dan tuan muda pertama untuk kembali. saya akan mengantar anda ke kamar. setelah duke kembali, baru kita bicarakan ini bersama." dokter itu mengangguk mengikuti langka charon menuju sebuah kamar besar yang tak jau dari kamar axel berada.


Di sisi lain enma memasangkan alat bantu napas ke axel dengan hati hati.


Saat melihat wajah axel yang sedang tertidur membuatnya teringat akan pesan mendiang duchess, ibu kandung axel saat itu kepadanya.


Di sebuah ruangan yang besar di sana enma dapat melihat dua anak kecil dengan tatapan polos mengarah ke arah wanita mudah bersurai perak yang sedang menggendong anak yang baru lahir di lengannya yang sedikit gemetar. tampak wajahnya begitu senang, mata Rubby nya begitu hangat saat menatap ke arah bayi yang sedang menangis keras di gendongannya. 

__ADS_1


Lalu ingatan enma beralih ke saat dia memegang tangan wanita yang makin begitu lemah menatap ke arahnya dengan air mata yang terus membanjiri wajahnya. enma juga dapat melihat kedua anak tadi menangis histeris di sampingnya. 


Wanita itu terus memanggilnya dengan suara serak "enma aku tidak ingin mati, aku takut dia yang masi kecil akan menderita dan menyalahkan dirinya atas kematian ibunya." 


"Enma tolong jaga anakku."


"Enma aku mempercayaimu."


"Enma aku merindukan tuan duke, aku sangat lelah, bisakah aku tertidur sebentar?"


Scene kembali berubah.


"ahhh... putraku ibu sangat menyayangi kalian." wanita itu memeluk ketiga anaknya yang terus menangis di pelukannya dengan napas menderuh tersedak sedak. 


Hari demi hari wajah wanita itu makin pucat. bibir cantiknya yang ranum kini meninggalkan sebuah jejak yang kering dan pecah. tatapannya kosong dengan mata yang membengkak karena tangisan.


"Sayang maafkan ibu yang tidak bisa merawat kalian. makanlah dengan baik agar kalian bisa tumbuh dengan sehat. hiduplah dengan nyaman, di sini tidak ada yang bisa menyakitimu anak ku, jika bisa... ibu ingin mengatakan ibu sangat, sangat menyayangimu setiap harinya."


Bayi itu tersenyum membuka matanya yang tampak keemasan sambil merabah rabah dan memegang erat baju wanita itu seakan melarangnya pergi dari sisinya. wanita itu tersenyum dengan air mata yang terus menetes melihat bayi nya yang tampak begitu sehat.


"Ibu di sini sayang, ibu di sini.... maaf maaf..." wanita terus mengatakan maaf beberapa kali, membuat para pelayan yang ada di sana berusaha menahan rasa sedih dan ibah mereka. bahkan enma diam diam menghapus jejak air mata di pipinya dengan ujung jarinya.


Saat pagi menjelang wanita itu telah menghebuskan nafasnya. orang orang yang ada di ruangan itu memangis histeris yang membuat bayi itu kaget dan ikut menangis.


Enma berjalan mengambil bayi dalam pelukan wanita itu yang kini tertidur dengan lelap. enma dapat merasakan pederitaan yang telah wanita itu rasakan kini telah usai dalam damai.


musim semi kini telah datang menggantikan musim dingin yang seakan menyambut kepergian wanita itu.


Bunga bunga bermunculan dari pohon seakan ikut mengantar kepergian wanita itu dengan aroma matahari dan segalah tumbuh tumbuhan yang ada di sana.


Suara histeris kembali terdengar di ruangan itu ketika duke yang saat itu baru pulang dari peperangan. betapa terpukulnya dia ketika mendapatkan istri yang sangat dia cintai mati tanpa bertemu untuk terakhir kalinya. 

__ADS_1


Sekali lagi scene berganti, di mana pemakaman telah selesai diadakan. saat itu suana di kediaman calesthene telah berubah total. tak lama setelah pemakaman, anak kedua secara diam diam pergi meninggalkan rumah, tidak pernah kembali lagi hingga sekarang. bahkan tidak ada yang tahu apa anak itu sampai sekarang masi hidup atau tidak. 


Setelahnya, beberapa bulan kemudian anak pertama juga menyusul pergi meninggalkan rumah, menyibukkan diri di akademi dan hanya pulang sesekali. itupun, dia tidak tinggal lama dan akan segera pergi setelah menyelesaikan urusannya. hingga sekarang dia tidak perna sekalipun bertatapan mata atau berjumpa dengan axel yang saat itu sedang sakit.


Di sisi lain, duke juga sangat membenci kehadiran axel yang dia anggap sebagai pembawa sial, dan berpikir anak itulah penyebab kematian orang yang sangat dia cintai. meski ada beberapa kali niatan untuk membunuhnya tetapi duke tidak dapat melakukan itu lantaran axel yang makin hari makin mirip dengan istrinya.


Karena itulah demi menghindari itu dia selalu menyibukan diri dengan pergi ke medang perang melawan moster selama bertahun-tahun dan hanya pulang sesekali.


Selama itu juga axel selalu berpikir bahwa duke sangat menyayanginya, meski sejak kecil duke jarang bertemu dengannya karena sibuk dengan urusannya yang selalu pergi berperang. 


Namun, dia tidak menyadari bahwa segalah yang di berikan, segala kata kata manis, segala ungapan 'ayah juga merindukanmu' hanyalah sebua kebohongan. 


Hingga akhirnya di usia axel yang ke-10 tahun. yang mana saat itu duke kembali dalam keadaan mabuk berat tanpa sadar mengatakan kata kata yang menyakitkan kepada axel yang mengubah seluru hidupnya.


Dengan kasarnya dia membentak axel "karenamu istriku mati. mengapa saat itu bukan kau saja yang mati, mengapa harus istriku?!!" axel yang mendengar itu tersentak di pelukan enma dengan senyuman yang menggantung di wajahnya. 


"SEHARUSNYA KAU TIDAK DI LAHIRKAN! SEHARUSNYA KAU SAJA YANG MATI! SIALAN!!. MENGAPA KAU MALAH BERSENANG SENANG SETELAH MEMBUNUH ISTRIKU!!" napas duke begitu kasar dengan tatapan marah dan benci yang di arahkan kepada axel yang hanya bisa terdiam terpaku.


"Jangan pernah berpikir untuk bisa mendapatkan kasih sayang dariku lagi, aku sudah muak berpura pura menjadi ayah yang baik, itu semua adalah siksaan bagiku,"


"Dan akan sangat bagus jika kau bisa menghilang dari hadapanku." 


Sejak kejadian itu, kehidupan axel berubah dan sepenuhnya telah menutup hati kepada orang orang di sekitarnya, bahkan dia menjalani hidupnya bagaikan tikus mati. sering menyakiti diri sendiri, bahkan di usia 12 tahun dia sudah mulai suka mabuk mabukan hanya untuk menghilakan semua beban pikirannya. dia bahkan tidak pernah lagi menunjukkan dirinya kepada duke selayaknya dia tidak pernah ada di sana.


Bahkan saat dia sakit sekalipun dia tidak pernah menunjukkannya kepada siapa pun kecuali enma dan charon yang selalu setia merawatnya.


Dan suatu hari duke yang mendengar kabar bahwa axel yang diagnosis memiliki penyakit yang tidak di ketahui, sangat terpukul dan menyesal telah memperlakukan buruk anak itu selama ini, yang mana seharusnya anak seusianya hidup dengan cinta dari keluarganya.


Tak hanya enma yang teringat akan masa lalu itu, axel yang sedang tertidur dalam kesakitan juga sedang bermimpi hal yang sama, melihat masa lalu yang tiba tiba menghampirinya dalam gelap.


"Tolong jangan membenciku, aku akan melakukan apa pun...." gumam axek tanpa sadar.

__ADS_1


__ADS_2