AYRA PUTRI AS-SYARIF

AYRA PUTRI AS-SYARIF
Cita - cita Ayra


__ADS_3

Aufar menatap Sang Ibu yang sejak tadi hanya diam Sesekali tersenyum lalu menunduk dan tersipu.Ia curiga dengan sikap sang ibu.


" Tunggu apakah ini kisah Ayah sama Bunda.Pangeran kedua Adalah Ayah dan Sang putri yang terluka akibat perjodohan itu adalah Bunda,lalu pangeran kedua adalah Pak de Rohman...?" Tanya Aufar ,otak pintarnya memang tidak bisa diragukan lagi ia bisa menangkap sesuatu dengan sangat cepat.


" Bener Ayah ,Bunda...?" Ayra memastikan


Himma tersenyum lalu mengangguk.


" Benar sayang." Jawabnya malu - malu


" Wow Amazing,jadi Ayah menikung Bunda disepertiga malam ...?" Ayra begitu antusias dengan kisah cinta segitiga Ayah ,Bunda sama pak de nya itu.


" Bukan menikung Barbie,Ayah adalah sosok pahlawan yang datang untuk menutup luka di hati Bunda.Aku bangga deh jadi anak Ayah." kata Aufar.Pemuda itu merasa bangga akan sosok sang ayah.


" Makasih nak,tapi Ayah ini bukan sosok yang sempurna.Ayah masih sering membuat susah Bunda bahkan Kakak kalian Akmal dia pergi karena kesalahan Ayah..."Gus Rokhim bersedih manakala ia mengingat Anak pertama mereka yang sudah kehilangan nyawanya sejak berusia satu tahun.


" Sudah Ayah jangan diingat lagi,semua itu bukan Salah Ayah , semuanya sudah takdir." Kata Himma tak mau Suaminya lebih bersedih lagi.


" Ayo kita sholat Isya ,tuh sudah waktunya." Ajak Himma mengakhiri cerita itu.Gus Rokhim beranjak mengikuti Himma sambil mengusap air matanya yang hampir saja jatuh membasahi pipinya.


Sedangkan Ayra dan Aufar juga ikut berdiri berjalan dibelakang mereka dengan rasa penuh tanda tanya tapi tak berani bertanya lebih apalagi melihat kesedihan Dimata sang Ayah.Biarlah hal itu tetap menjadi rahasia kedua orangtuanya.


***

__ADS_1


Pagi yang cerah secerah wajah Ayra.


Dua Minggu telah berlalu hari ini adalah hari dimana akan diumumkan hasil ujian Akhir Sekolah.Dimana para siswa akan melihat lulus atau tidaknya mereka.


" Senang sekali Kamu Barbie...?" Tanya Aufar saat berpapasan dengan sang adik didepan kamar masing-masing.


" Iyalah kan Hari ini Aku lulus ." Jawab Ayra dengan senang,memang gadis itu sangat jarang sekali terlihat sedih.Hanya kebahagiaan yang selalu terpancar dari wajahnya.


" Pede Amat ,emang yakin lulus...?" Aufar senang sekali menggoda sang adik.


" Hei meski aku tak sepintar kakak,tapi aku juga gak bodoh - bodoh amat.Ya pasti aku lulus lah." Jawab Ayra


" Iya ,iya gitu aja kok marah.Semoga kita sama - sama lulus dan mendapatkan nilai yang bagus Yah." Ucap Aufar mengusap kepalanya sang adik yang sudah tertutup hijab putih.


" Semoga Anak - anak Bunda Lulus dengan nilai yang baik.Dan semoga ilmunya kelak bermanfaat dan cita-cita kalian tercapai." Himma menambahkan doa untuk anak - anaknya.


Ngomongin cita - cita dalam benak Ayra terbersit sebuah cita-cita untuk menjaga seorang prajurit wanita pembela negara.


Ha iya Menjadi seorang anggota TNI adalah Cita - cita Ayra sejak kecil.Kalau ada orang bertanya " Ayra ,Ayra ,Ayra besok gede mau jadi apa..?


Ayra selalu menjawab " Besok gede aku mau jadi Tentara,kalau ada orang jahat bisa di tembak Dor...dor...dor..." Hehe kayak lagi Susan ya ,tapi kalau Susan kan pengennya jadi dokter biar kalau ada orang sakit bisa disuntik jus ...jus..Jus....


TNI itulah satu -satunya cita - cita yang sangat Ayra impikan.Entah tertarik pada apanya Ayra pada TNI padahal kan jadi TNI itukan berat lihat saja latihan mereka huh... Author tak yakin akan kuat.Eh inikan Ayra ya bukan Akoh....

__ADS_1


Aufar dan Ayra pergi ke sekolah bersama dengan mengendarai sebuah sepeda motor,Yah Aufar tipe kakak yang sangat menyayangi asik,ia selalu membonceng Ayra saat berangkat ataupun pulang sekolah.Bahkan Aufar rela menunggu sang adik jika Ayra ada kegiatan ekskul.Ayra memang aktif di ekskul sementara Aufar tidak begitu tertarik.


Ayra berlari menuju ruang kepala sekolah,dimana sang Kepala sekolah adalah Gus Rohman pak de nya sendiri.Ya Ayra dan Aufar memang bersekolah di Yayasan Yang dibangun oleh kakek Umar.Dan Gus Rohman lah yang meneruskan kepemimpinan disana karena putra Abah Umar hanya dua Gus Rohman dan Gus Rokhim.


Sementara Gus Rokhim memilih menjadi dokter maka Gus Rohman lah yang meneruskan perjuangan sang Abah.


" Assalamualaikum Pak de..." Sapa Ayra di ambang pintu.


Gus Rohman tersenyum melihat keponakannya


" Waalaikum salam Ayra ,ada apa..?" Tanya Gus Rohman


Ayra mendekat dan duduk di sebuah kursi yang ada didepan Gus Rohman.


" Kasih Ayra bocoran kelulusan dong pak de,Ayra penasaran nih...!" Pinta Ayra Antusias


" No ,Tidak ada bocoran !" Tegas Gus Rohman mengerjai Ayra padahal Hasil kelulusan itu sekarang sedang di papan pengumuman oleh guru lain yang tadi berpapasan dengan Ayra di depan ruang kepala sekolah.


" Kamu tunggu saja Ok." perintah Gus Rohman kepada Ayra.


" Ih Pak de gak asik,sama ponakan sendiri juga." Gerutunya sambil manyun.Lalu keluarga dari sana.


Gus Rohman hanya tersenyum melihat keponakannya itu merajuk.Sangat berbeda dengan Himma yang pendiam.Yah Himma adalah tipe orang yang hanya akan diam jika merajuk.

__ADS_1


Ups...Gus Rohman teringat himma ..


__ADS_2