AYRA PUTRI AS-SYARIF

AYRA PUTRI AS-SYARIF
Akhirnya


__ADS_3

Seminggu telah berlalu


sejak saat itu pula Gus Rokhim dan Himma selalu saja membahas tentang cita - cita Ayra yang ingin menjadi seorang Abdi negara.


Awalnya Himma memang kekeh tidak setuju,tapi karena bujukan dari Gus Rokhim dengan mengatakan dalil serta beberapa alasan akhirnya Himma pun setuju.


Hal ini membuat Ayra bisa bernafas lega.Ia bahkan sampai sujud syukur dan berlutut dikaki sang Ibu.


Senang sekali rasanya mendapatkan restu dari ibunya.


Hari ini dengan ditemani sang Ayah Ayra akhirnya mendaftarkan dirinya pada sebuah Pendidikan Akademi Militer.Ayra mengambil jurusan Akademi Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat.


Setelah melengkapi berbagai persyaratan dan tes,Ayra pun dinyatakan diterima.


Isak tangis menghiasi kepergian Ayra.


Himma tersedu-sedu melepaskan putrinya itu.Bagaimana tidak sedih dengan kepergian sang putri.Ayra adalah putri yang terbiasa manja kepadanya.Mulai hari ini tak akan ada lagi celotehan Ayra.


Himma pasti sangat kesepian.Belum lagi membayangkan kehidupan Ayra nanti di asrama.Ah rasanya Himma ingin sekali mencabut ijinya jika tidak ingat betapa Ayra ingin sekali menjadi seorang prajurit.


"Sudah sayang, Ayra anak Hebat kok." Berkali kali gus Rokhim mencoba menenangkan Himma tapi Himma masih saja tak rela.

__ADS_1


Bahkan Sudah hampir tiga hari himma tak mau makan.


Hal ini membuat Gus Rokhim dan Aufar merasa khawatir dengan kesehatan Himma.


" Bunda makan ya.Ini aku yang masak loh." Aufar membujuk sang Himma agar mau makan.Karena keadaan Himma seperti ini membuat Aufar menunda kuliah.Ia lebih memilih menemani sang ibu dirumah dan menunggu sampai ibunya iklas dengan kepergian adiknya.


" Bunda tidak lapar sayang." Tolak Himma sambil mengusap air mata yang tak henti hentinya menetes.


Keadaan Himma sangat memprihatikan, tubuhnya terlihat lebih kurus dan matanya bengkak karena terus - terusan menangisi sang Putri.


Himma takut jika disana Ayra merasa tersiksa tau sendiri kan kalau menjadi tentara itu tidak mudah.


" Ayolah Bun ,kalau Bunda begini terus Ayra pasti sedih dan dia jadi tak fokus.Apa Bunda mau Ayra bersedih...?"


" Bun aku sudah menunda kuliah ku demi Bunda Lo tapi kenapa Bunda masih bersedih juga...?" Tanya Aufar tampak putus asa.


Himma menatap sang putra.tampak kesedihan di matanya.Aufar sudah rela menunda untuk mendaftar kuliah hanya demi dirinya.Ada rasa bersalah kenapa dia tak melihat itu ,kenapa dia melupakan putranya itu.


" Maafkan Bunda sayang !" Ucapnya menyesal.


Himma memeluk sang putra dengan air mata yang masih terus saja keluar.

__ADS_1


" Iya Bunda ,asal Bunda mau mau makan." Aufar membalas pelukan himma.


" Baik lah Bunda mau makan tapi sedikit saja." Aufar tersenyum senang akhirnya sang Bunda mau makan juga.Dengan telaten remaja itu menyuapi sang Bunda.Sunguh tak ada hal yang paling melegakan selain bisa membujuk wanita yang telah melahirkannya kedunia ini.


Wanita yang telah membesarkannya penuh dengan kasih sayang dan cinta.


" Alhamdulillah, makasih sayang.Masakan mu enak sekali." Ucap Himma setelah ia merasa cukup dan meminta Aufar untuk berhenti menyuapinya.


Aufar tersenyum lagi,ia menghabiskan makanan sisa ibunya.Tak ada kata jijik baginya.


" Makasih Bunda mau makan." Aufar meletakkan piring diatas meja.lalu ia duduk bersimpuh di bawah himma dan menenggelamkan kepalanya pada pangkuan sang Ibu.


" Bunda jangan begini lagi ya.Aku sangat sedih." Ucapnya dengan suara bergetar.Sungguh ia sangat menyayangi himma lebih dari apapun.


" Maafkan Bunda sayang." Himma mengelus rambut Aufar dan sesekali mengecupnya.


Tak ada kata selain rasa syukur ia panjatkan kepada Tuhan karena telah mengaruniakan pria - pria Sholeh dalam hidupnya.Pria - pria yang bisa menyayanginya dengan tulus.Pria seperti Papa ,suami serta anaknya.


" Sayang,apa kamu tidak mau kuliah seperti apa yang kamu inginkan sebelumnya." Tanya Himma teringat bahwa sebelumnya Aufar memiliki rencana ingin melanjutkan di kota B tempat sang kakek tinggal.


" Tidak Bun ,aku mau kuliah disini saja.Agar bisa tetap bersama Bunda.Aku takut Bunda kesepian jika aku pergi juga." ucap Aufar mantap.Ia tak ingin meninggalkan Himma

__ADS_1


" Terimakasih sayang." Himma memeluk Aufar sangat erat.


__ADS_2