AYRA PUTRI AS-SYARIF

AYRA PUTRI AS-SYARIF
Diam


__ADS_3

Sore yang cerah secerah wajah bocah berusia 18 Tahun yang baru saja dinyatakan lulus dari SMA.


Senang sekali rasanya meski tidak masuk sepuluh besar tapi Ayra sudah sangat bersyukur.


" Senangnya anak Bunda hemm." Sang Ibunda menyambut kedatangan kedua anaknya di depan pintu.


" Assalamualaikum Bunda...!" Sapanya kepada wanita terhebat yang telah berjuang mengandung , melahirkan serta membesarkannya dengan penuh kasih dan sayang.


" Waalaikum salam." Sang bunda memberikan tangan kanannya untuk dicium olehnya.Sementara sang kakak masih sibuk memarkirkan motornya di garasi depan.


" Gimana ,lulus tidak...?" Tanya Himma kepada Ayra meski Himma yakin seratus persen putrinya ini lulus.


" Alhamdulillah Bunda Ayra lulus,tapi nilainya tak sebagus nilai kakak." Ayra nampak cemberut.


Himma mengelus puncak kepala anaknya meski harus sedikit berjinjit karena Ayra lebih tinggi darinya.


Senyum manis terulas dari bibir wanita yang saat ini berusia hampir empat puluh tahun itu.Ya usia Himma saat ini memang sudah menginjak empat puluh tahun kurang dua bulan.


" Gak papa sayang, disyukuri saja.Memang Allah menciptakan manusia dengan kepandaian berbeda-beda jadi kita tidak boleh banyak protes,yang penting tetap berusaha dan semangat.Tak boleh menyerah Ok.Ingat Man Jadda wa Jadda, siapa yang bersungguh-sungguh pasti akan mencapai hasilnya." Himma memberikan nasehat kepada putrinya itu agar tetap berusaha dan tidak pernah menyerah meski Allah sudah menemukan takdir bagi kita.Tetapi bukankah takdir itu tidak dapat diketahui oleh kita,oleh karena itulah kita harus tetap berusaha dan bertawakal kepada Allah.Kita yang berusaha dan serahkan hasilnya kepada Allah maka Allah akan memberikan yang terbaik bagi kita.

__ADS_1


" Bunda tidak marah kan...?" Tanya Ayra lagi


" Kenapa harus marah sayang,bukankah kamu sudah berusaha dengan maksimal bukan...?"


" Makasih Bunda,Ayra sayang sekali sama Bunda." Ayra memeluk tubuh Himma dengan penuh syukur karena telah dilahirkan oleh wanita yang baik hati dan tak pernah membandingkan dirinya dengan sang kakak.


" Bunda juga sayaang sekali sama Ayra ." Wanita yang masih terlihat cantik dan masih imut itu membalas pelukan sang putri.


" Ehmm..Aufar gak disayang nih...?" Aufar datang menghampiri kedua wanita besar usia yang saling berpelukan.Dua wanita yang sangat berarti dalam hidupnya.


" Sayang pakai banget kakak." Ayra dan Himma menjawab secara bersamaan lalu sama - sama mengulurkan tangan agar Aufar ikut masuk kedalam pelukan mereka.Aufar tersenyum dan menghampiri keduanya,tak ada rasa malu bagi Aufar memeluk kedua wanita itu.


" Ayah ikut...!" Tiba-tiba Gus Rokhim datang dan ikut berpelukan bersama kedua anak dan istrinya.Jadilah keempat orang itu berpelukan layaknya Teletubbies.


" Alhamdulillah " Gus Rokhim mengucapkan syukur atas kelulusan kedua anaknya itu.


" Dan sekarang waktunya kita membicarakan jenjang selanjutnya.Kedua anak kita mau melanjutkan dimana ...?" Tanya Gus Rokhim mengurai pelukannya.


"Aku mau lanjut kuliah ditempat Kakek Ayah." Aufar mengatakan niatnya yang ingin melanjutkan kuliah di kota tempat tinggal sang kakek.Kota kelahiran Himma.

__ADS_1


" Mau ambil jurusan apa kak..?" Tanya Ayra Antusias


" Bisnis,sambil belajar langsung sama kakek dan juga Pak de Kara."


" Wah kakek pasti senang " Timpal Himma sambil mengambilkan minuman untuk mereka yang baru saja pulang kerja.Sedangkan Ayra membantu dengan membawakan beberapa Camilan dari dalam kulkas.


Keempatnya pun duduk diruang keluarga sambil mengobrol santai membicarakan tentang langkah anak - anak selanjutnya.


" Bagus Aufar ,Ayah akan mendukung cita - cita kamu ,kalau Ayra apa rencana selanjutnya...?" Tanya Gus Rokhim sambil menatap sang putri.Padahal Gus Rokhim sudah tau cita - cita Ayra.Gus Rokhim hanya ingin putrinya itu mengatakan langsung kepada Himma.


" Ayra mau masuk Akademi Militer Bunda ." Jawabnya ragu - ragu.Ayra takut Ibunya itu akan marah merana sejak awal Himma sudah berpesan kepada Aufar agar tidak masuk akademi militer,tapi malah Ayra yang punya keinginan seperti ini.


Himma menghela nafas berat,ada rasa sesak dalam dadanya saat ia mendengar keinginan sang putri.Sungguh Himma tidak rela.Tanpa berkata apapun Himma langsung berdiri dan meninggalkan mereka.


Dengan mata berkaca-kaca Himma masuk kedalam kamar.Ya Wanita dengan dua anak itu memang selalu begini jika marah, dia akan diam dan meninggalkan orang yang membuatnya marah.


" Ayah..." Rengek Ayra.Ia tau ibunya sudah pasti tidak setuju.


" Tenang biar Ayah yang membujuk Bunda." Kata Gus Rokhim.

__ADS_1


Himma memang telah mengatakan kepada Aufar agar putranya itu tidak pernah ada Niat menjadi seorang Prajurit.Sebenarnya pesan itu bukan hanya untuk Aufar tapi juga untuk Ayra.


Himma tak pernah menyangka jika putrinya itu yang ingin menjadi seorang prajurit,makanya sejak awal Ayra hanya diam saja jika sang Ibu sedang mewanti - wanti kakaknya.


__ADS_2