AYRA PUTRI AS-SYARIF

AYRA PUTRI AS-SYARIF
Membujuk


__ADS_3

Gus Rokhim mengabiskan teh manis hangat yang dihidangkan oleh sang istri.Setelahnya ia duduk termenung otaknya sedang bekerja keras mencari kata-kata untuk membujuk sang istri agar setuju dan merestui cita - cita Ayra.


Gus Rokhim sedang merangkai kata demi kata agar tak membuat sang istri lebih marah lagi.


Sejenak ia pun menemukan cara yang tepat untuk merayu wanita yang telah menemani hidupnya selama dua puluh tahun lamanya dalam suka Maupun duka.


Sebelum masuk kedalam kamar ,Gus Rokhim menghela nafas sebentar " Bismillah " Ucapnya berharap bujukannya nanti berhasil tanpa melukai hati sang istri.


Gus Rokhim tau benar alasan kenapa Himma sangat melarang anak - anaknya menjadi prajurit.Himma hanya takut anak - anaknya akan menghadapi hidup yang keras.Tau sendiri kan bagaimana kerasnya menjadi tentara.Dimulai dari latihan yang berat ,dan setelah lulus masih harus menghadapi hal yang lebih keras lagi.Himma takut resiko besar yang akan dihadapi oleh mereka.


" Sayang !" Gus Rokhim memanggil Himma yang terlibat sedang melipat pakaian.


" Jangan coba - coba membujuk aku mas, aku tetap tidak akan setuju.Untuk Aufar saja aku tidak setuju apalagi Ayra.Menjadi Tentara itu keras mas.Aku tidak rela jika anak - anakku hidup dalam kekerasan.Ayra adalah putriku satu - satunya.Cucu kesayangan para Kakek dan nenek ,serta kesayangan para Pakde dan Bude nya."


Gus Rokhim tersenyum mendengar kata-kata dari mulut istrinya itu Wanita yang biasanya lemah lembut itu sekarang menjadi sangat garang.


" Iya sayang aku mengerti kok." Gus Rokhim memeluk serta menghujani wanitanya itu dengan ciuman bertubi-tubi.


" Bunda lihat Ayah sudah ubanan nih , takutnya ubannya nular kerambut Bunda." Gus Rokhim sengaja mengalihkan pembicaraan agar istrinya itu agak tenang.Dan setelah tenang ia akan kembali membujuknya.

__ADS_1


" Ayah ini.Bunda sedang serius,malah bercanda lagi.Mana ada Uban nular." Himma merasa kesal tapi juga senang.Gus Rokhim tak pernah berubah setiap kali Himma marah ia akan selalu memeluknya.


Gus Rokhim sangat tau ,jika marah wanita itu tidak butuh apa - apa selain sebuah pelukan hangat dari orang yang dicintainya.


" Ada , buktinya ayah ketularan ubannya Papa sama Abah."


" Ih mana ada,jangan ngaco ya.Coba bujukan model apa yang akan Ayah sampaikan kepada Bunda...?" Benarkan Himma sudah tak semarah tadi.


Lagi - lagi Gus Rokhim tersenyum.Ia mengeratkan pelukannya di tubuh Himma.


" Hem apa ya ....?" Gus Rokhim pura - pura berfikir


" Tidak Ayah, mau sekeren apapun aku tetap tidak setuju." Himma masih kekeh dengan keputusannya.


" Ah Bunda gak asik nih ." Gus Rokhim pura - pura merajuk.


" Apaan sih Ayah ini ,kayak anak kecil saja." Himma terkekeh melihat suaminya itu merajuk dengan bibir mengerucut.


Gus Rokhim pura - pura merajuk dengan memasang wajah lucu agar himma tak jadi marah.Suami limited edition ini memang paling bisa membuat himma tertawa dan melupakan emosinya.

__ADS_1


" Bunda kasih ijin ya.Kasian loh Ayra kalau sampai bunda tak mengijinkan dia masuk akademi militer.Putri kita itu pasti sangat sedih." Bujuknya lagi.


" Bunda lupa ya kalau takdir itu ada di Tangan Allah,jadi tak perlu khawatir jika Allah meridhoi Ayra dia pasti baik - baik saja.Tugas kita sebagai orang tuanya hanya mendoakan yang terbaik.Apalagi doa dari Bunda sudah pasti Allah akan mengabulkan karena doa yang paling mustajab itu adalah doa tulus dari seorang ibu.Doa ibu itu menembus langit loh Bun." Dengan sangat hati-hati Gus Rokhim memberikan pengertian kepada istrinya itu agar hatinya melunak dan memberikan ijinnya untuk Ayra.


Himma nampak berfikir, hatinya mulai luluh.Dalam benaknya ia membenarkan ucapan dari suaminya itu.


" Baiklah kasih Bunda waktu Ayah." Ucapnya pasrah


Gus Rokhim tersenyum senang mendengar jawaban Himma.Saking senangnya ia pun menghujani Himma dengan ciuman.Mulai dari kening, mata ,hidung dan terakhir bibir Himma yang menjadi tempat paling favorit.


" Ih Ayah ,mandi dulu sana bau asem." Himma berusaha mendorong tubuh suaminya agar menjauh darinya.


" Nanti malam dilanjut ya Bun.Ayah kangen berat nih sama Bunda." Gus Rokhim menaik turunkan alisnya.


" Apanya yang dilanjut...?" Tanya Himma pura - pura tidak mengerti kode dari Gus Rokhim.


" Aish Bunda ah ,masak gak ngerti...?" Gus Rokhim berdecak sebal ,ingin sekali melahap Himma saat ini.Tapi wanita itu sudah kabur keluar dari dalam kamar dengan cekikikan.membuat kedua anaknya yang masih berada di ruang keluarga terheran-heran.


Aufar dan Ayra pun ikut tersenyum melihat Ibunya.Jika sudah bisa tertawa seperti ini itu artinya Sang ibu sudah tidak marah lagi kan...

__ADS_1


" Semoga saja " Doa Ayra


__ADS_2