AYRA PUTRI AS-SYARIF

AYRA PUTRI AS-SYARIF
kejutan


__ADS_3

Waktu berputar lebih cepat tak terasa empat tahun telah berlalu sejak Ayra memasuki akademi militer.Kini gadis remaja yang manis dan manja tapi juga mandiri itu berubah menjadi sosok gadis yang dewasa.Ayra yang bar - bar itu menjadi lebih tegas.


Wajahnya semakin cantik seiring dengan bertambahnya usia.Sekarang Usianya sudah menginjak dua puluh dua tahun.


Dengan bergelar Letnan dua Ayra pulang kerumah sebelum ia dikirim untuk bertugas.


" Assalamualaikum" Sapa Ayra didepan rumah.


Rumah yang ia tinggalkan empat tahun yang lalu.Rumah penuh kenyamanan.


Rasa gugupnya semakin bertambah kala ia melihat sosok seorang wanita sedang tergopoh-gopoh berjalan menuju pintu luar.


Sosok itu adalah Himma ,ibunda yang sangat ia rindukan.


" Waalaikum salam" Jawab Himma dari dalam rumah.Wanita yang masih terlihat cantik meski usianya sudah tak muda lagi.

__ADS_1


Himma berdua terpaku di ambang pintu.Ia masih belum percaya sosok seorang gadis dihadapan itu adalah Ayra putrinya.


" Bunda ,Ayra pulang...!" ucapnya dengan suara bergetar meski sudah Menjadi seorang TNI Ayra tetaplah Ayra yang bisa saja menangis ketika bertemu dengan orang yang sangat ia rindukan selama bertahun-tahun.


" Ayra ..kamu Ayra ...?" Tanya Himma masih tak percaya.Wanita itu langsung memeluk tubuh Ayra yang semakin tinggi.Isak tangis mewarnai pertemuan mereka.


" Bun , maafkan Ayra." Ayra hanya bisa mengucapkan maaf kepada Himma.Ia tak tau mau bicara apa kepada ibunya itu.Ayra berlutut dibawah kaki Ibundanya,ia merasa bersalah telah meninggalkan wanita itu.


"Sayang,jangan begini ayo berdiri.Kamu tidak salah." Himma membimbing Ayra agar berdiri.Setelah putrinya itu berdiri Himma langsung memeluk tubuh Ayra kembali , entah kata apa yang patut ia ucapkan buat sang putri.Marah ...? pastinya Himma tak bisa marah apalagi kini ia bisa melihat putrinya itu memakai seragam kebanggaan.Seragam seorang abdi negara.


" Oh iya ,ayo sayang masuk.Pasri kamu belum makan kan.Ayo kita sarapan sama - sama,Bunda kangen makan bareng sama kamu." Celoteh Himma.Wanita ini akan berubah menjadi sosok ibu yang banyak bicara ketika ia dihadapkan dengan keluarganya.Padahal jika di depan umum Himma adalah sosok yang lemah lembut dan tak banyak bicara.Apalagi ketika berkumpul dengan ibu - ibu disekitar tempat tinggalnya.Meski diajak ghibah,Himma tak banyak bicara ataupun ikut menimpali saja,mungkin hanya sesekali tersenyum saja.


" Tunggu,kok Ayah tidak terkejut ...?" Tanya Himma sudah mulai curiga kenapa suaminya itu tak seheboh dirinya menyambut sang Putri.Atau jangan - jangan....?


Himma menatap Gus Rokhim penuh selidik, sementara yang ditatap hanya tersenyum - senyum.

__ADS_1


" Hem ,kalian sekongkol ya...?" selidik Himma


" Iya Bunda, kemarin itu sebenarnya aku pengen langsung pulang.Tapi kata Kakak dan Ayah jangan dulu."Adu Ayra kembali memeluk Himma dari samping.


" Jadi..." Tanya Himma lagi memastikan


" Iya Ayah dan kakak yang jemput Ayra di Stasiun kemarin sore Bunda..." Ayra mana bisa bohong sama ibunya.


Himma hanya bisa melotot karena kesal sama suami dan putranya itu.


" Maafkan kami ya Bunda,kami hanya ingin membuat kejutan sama Bunda." Aufar yang baru saja keluar dari kamar langsung memeluk sang Bunda agar wanita yang sangat ia sayangi ini tidak marah.


" Ya sudah , terimakasih atas kejutannya.Bunda benar - benar speechless banget." Akhirnya karena rayuan maut dari Aufar membuat Himma tak jadi marah.


Tiada suatu hal yang paling membahagiakan selain berkumpul bersama keluarga dengan formasi yang lengkap seperti ini.

__ADS_1


Mereka pun akhirnya makan bersama untuk pertama kalinya dengan anggota keluarga yang lengkap seperti ini sejak empat tahun yang lalu.


__ADS_2