Azizah

Azizah
Peristiwa


__ADS_3

Part 1 (Peristiwa)


Jalanan kota yang padat dengan suara klakson kendaraan yang saling bersahutan. Disisi lain ada seorang gadis yang tengah duduk dibawah pohon disebuah taman dikota.


Sebuah kacamata minus bertengger dihidungnya. Ia mengenakan hijab warna putih dengan seragam putih abu abu.


Ia tengah membaca buku.


"Assalamu'alaikum," ucap seseorang yang menghampiri gadis itu.


Gadis itu menghentikan aktivitas membacanya.


"Wa'alaikumussalam," jawab gadis itu sembari menutup bukunya.


Gadis itu berdiri.


"Indah, kamu dari mana aja? Aku dari tadi nungguin kamu lho disini." Kata gadis itu kesal.


Gadis yang bernama Indah itu meringis.


"Iya, aku minta maaf, ya, Azizah ... tadi aku beli snack dulu disana." Kata Indah seraya menunjuk sebuah minimarket yang letaknya tak jauh dari mereka.


Gadis yang bernama Azizah itu membetulkan posisi kacamatanya. Lalu melihat sebuah plastik berukuran cukup besar berada di genggaman Indah.


"Kamu beli snack banyak banget, sih! Buat satu bulan?" Kata Azizah seraya menggelengkan kepalanya pelan.


"Ya nggaklah, Za. Paling besok juga udah abis. Tadi adik aku minta beliin jajan, sekalian kan aku borong." Kata Indah sambil menampilkan senyum manisnya.


Azizah hanya tersenyum melihat sahabatnya itu.


"Ya udah, kita pulang, yuk!" Ajak Azizah seraya mengambil sebuah tas berukuran sedang yang ia letakkan di kursi taman.


"Yuk!"


Kedua sahabat itu pergi menuju garasi, mereka menaiki sebuah motor matic.


🌺🌺🌺


Nama gadis itu adalah Azizah Diana Putri, ia sudah duduk dibangku SMA. Usianya 17 tahun. Azizah tinggal bersama orangtuanya.


Indah Permata, ia adalah sahabat Azizah. Indah duduk dibangku SMA. Usianya sama dengan Azizah, 17 tahun, hanya beda beberapa bulan.


Azizah dan Indah sudah bersahabat sejak masih duduk dibangku SMP. Setelah lulus SMP, keduanya memutuskan untuk sekolah di SMA yang sama.


Azizah adalah gadis yang hobi membaca buku, bahkan orang orang kadang sering memanggilnya dengan sebutan 'kutu buku'. Azizah juga gadis yang pendiam dan pemalu.


Sedangkan Indah, adalah gadis yang hobi memasak. Ia gadis yang ceria dan ramah.


🌺🌺🌺


Sesampainya dirumah Azizah ...


"Makasih, ya, Ndah, udah nganterin aku." Kata Azizah.


"Iya, sama sama. Aku duluan, ya ... Assalamu'alaikum," ucap Indah.


"Wa'alaikumussalam. Hati hati, Ndah."


"Iya," jawab Indah, lalu melajukan motornya.


"Assalamu'alaikum," ucap Azizah begitu masuk kedalam rumah.


"Wa'alaikumussalam," jawab ibu Azizah dari dalam.


Azizah segera menghampiri ibunya yang sedang melipat baju dikamarnya.


"Ma," ucap Azizah seraya menyalami tangan ibunya yang bernama Aminah.


"Ma, nanti sore Azizah boleh nggak ke rumah teman, soalnya ada tugas kelompok." Kata Azizah.


"Iya, boleh. Tapi kalau sudah selesai, langsung pulang." Kata bu Aminah.


"Iya, ma."


"Sekarang kamu ganti baju dulu, terus makan ... Mama tadi masak sup ayam. Nanti ambil aja di dapur."


"Iya, ma," jawab Azizah.


Azizah menuju kamarnya, saat hendak menaruh tasnya, tiba tiba ponselnya berdering.


Azizah membaca nama yang tertera di ponselnya.


"Hanif?" Monolog Azizah.


Azizah menggeser tombol hijau, kemudian mendekatkan HP ke telinganya.


"Assalamu'alaikum," ucap Hanif disebrang sana.


"Wa'alaikumussalam," jawab Azizah.


"Nanti jadi nggak kerja kelompok?" Tanya Hanif.


"In syaa Allah, jadi," jawab Azizah.


"Lo udah bilang sama nyokap lo?"


"Sudah."


"Oke, nanti jam setengah 4 lo ke rumah gue, ya ... nanti gue suruh Nara buat datang duluan." Jelas Hanif.


"Iya," jawab Azizah.


Setelah percakapan itu, hening beberapa saat.


"Kalo sudah gak ada perlu, aku tutup telponnya. Assalamu'alaikum." Kata Azizah langsung memutuskan sambungan tanpa menunggu jawaban dari Hanif.


"Eh, jangan di tutup du--" Hanif tidak melanjutkan perkataanya.


"Wa'alaikumussalam," ucap Hanif.


Hanif menepuk keningnya.


"Kenapa gue jadi gugup gini, ya?" Gumam Hanif.


🌺🌺🌺


Azizah segera meletakkan ponselnya.


Azizah memang cuek dengan lawan jenis, ia tidak suka basa basi dengan pria, Azizah bicara jika ada perlu saja.


Setelah berganti pakaian, Azizah segera menuju dapur untuk makan. Setelah makan, Azizah menuju kamarnya.


Azan sudah berkumandang, Azizah segera berwudhu dan shalat Asar.


Selesai shalat, Azizah bersiap untuk pergi kerja kelompok. Ia mengenakan gamis longgar warna biru dongker dan hijab lebar warna hitam. Tak lupa kacamatanya. Kemudian ia menyambar sebuah tas selempang.


Azizah menuju kamar bu Aminah, bu Aminah baru selesai shalat.


"Ma, Azizah berangkat dulu, ya. Mau kerja kelompok." Kata Azizah.


"Iya, tapi ingat pesan mama, kalau sudah selesai mengerjakan tugas, langsung pulang." Kata bu Aminah.


Azizah mengangguk.


"Iya, ma. Azizah pamit, ya, ma. Assalamu'alaikum," ucap Azizah.


"Wa'alaikumussalam," jawab bu Aminah.


Azizah pergi menggunakan angkutan umum.


Sesampainya di rumah Hanif ...


Untuk beberapa saat, Azizah terdiam menatap sebuah bangunan didepannya. Sebuah rumah berlantai dua dengan cat warna putih, halaman yang luas dan banyak bunga bunga dan kolam ikan.


Hingga sebuah tepukan di bahunya menyadarkan dirinya.


"Astaghfirullah," ucap Azizah langsung menoleh.


"Nara? Aku kira siapa." Kata Azizah pelan.


"Lo ngapain bengong disini? Kenapa nggak masuk?" Tanya Nara.


"Enggak papa, mmm ... Masuk yuk!" Ajak Azizah mencoba mengalihkan pembicaraan.


Sebelum mereka menekan tombol bel rumah, Hanif sudah muncul dengan senyum manisnya.

__ADS_1


"Hai!" Sapa Hanif.


"Assalamu'alaikum," ucap Azizah.


"Wa'alaikumussalam," jawab Hanif.


"Eh! Ayok masuk, tenang aja didalam sudah ada Indra." Kata Hanif.


Azizah POV


Sekarang aku sedang duduk di ruang tamu di rumah Hanif, kami sedang mengerjakan tugas kelompok yang diberikan oleh bu Rina tadi siang.


Jadi, tugas kami adalah membuat peta. Dan ini harus tugas kelompok.


Biasanya aku akan satu kelompok dengan sahabatku, Indah. Tapi bu Rina memilih kelompoknya sendiri, biasanya kami sendiri yang memilih akan satu kelompok dengan siapa.


Author POV


"Guys, kalian mau minum apa? Mau sirup, teh, atau air putih?" Tanya Hanif.


"Gue sirup." Kata Indra tanpa mengalihkan pandangannya. Saat ini Indra sedang mewarnai peta, begitu juga dengan Azizah dan Nara.


"Gua sirup juga," timpal Nara.


"Kalo lo mau minum apa, Zah?" Tanya Hanif.


"Aku sirup juga," jawab Azizah .


"Oke, bentar, ya!" Kata Hanif kemudian pergi ke dapur.


______________________


Pukul 16.40 pekerjaan mereka sudah selesai.


"Alhamdulillah, akhirnya selesai juga," ucap Azizah.


"Alhamdulillah," ucap Hanif, dan Nara.


"Ya udah kalau gitu gue pamit mau pulang, makasih Nif, minuman sama cemilannya." Kata Nara..


"Iya, lo kesini naik apa Ra?" Tanya Hanif.


"Motor. Gue duluan, ya, rumah gue jauh nih, gue harus pulang, ntar papa gue nyariin lagi." Kata Nara.


"Aku juga mau pulang. Hanif, makasih, ya." Kata Azizah langsung mengambil tas selempangnya, dan membereskan barangnya.


"Gue duluan, ya. Bye guys!." Kata Nara langsung berjalan keluar.


"Aku juga pamit mau pulang. Assalamu'alaikum," ucap Azizah langsung berjalan keluar.


"Tunggu, Zah!" Teriak Hanif saat Azizah sudah berada diluar rumahnya.


Azizah menghentikan langkahnya lalu berbalik. Hanif segera berlari menghampiri Azizah.


"Lo tadi kesini naik apa?" Tanya Hanif.


"Naik angkot," jawab Azizah singkat, padat, dan jelas.


"Gue anterin aja, ya. Ini udah sore lho." Kata Hanif.


"Nggak usah, makasih. In syaa Allah aku bisa pulang sendiri. Ada Allah yang selalu melindungiku." Kata Azizah sambil terus menundukkan pandangan.


Hanif terdiam.


"Assalamu'alaikum," ucap Azizah langsung berbalik, lalu berjalan menjauh.


"Wa'alaikumussalam," ucap Hanif.


Cukup lama Hanif terdiam, hingga sebuah tepukan menyadarkannya.


"Gua perhatiin dari tadi, kayaknya lo suka sama Azizah." Kata Indra


"Gua nggak tau." Kata Hanif datar langsung masuk kedalam rumah.


"Baru kali ini gue lihat dia bisa ngomong banyak didepan cewek, biasa juga irit banget kalo ngomong." Gumam Indra.


__________________


Azizah sudah sampai dirumahnya pukul 17.01


"Assalamu'alaikum," ucap Azizah saat masuk ke rumah.


"Wa'alaikumussalam," jawab bu Aminah sambil menghampiri Azizah.


"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh," jawab ayah Azizah yang bernama Furqon.


Azizah mencium tangan Aminah, kemudian menghampiri ayahnya yang sedang duduk di kursi, lalu mencium tangan Furqon.


"Gimana, tugas kelompoknya sudah selesai?" Tanya Aminah.


"Alhamdulillah, udah selesai, ma," jawab Azizah.


"Ma, pa, Azizah ke kamar dulu, ya." Kata Azizah.


"Iya, nak," jawab Furqon, Aminah menjawab dengan anggukan.


Azizah tersenyum, ia kembali ke kamarnya.


Keesokan harinya ...


Setelah mandi dan sholat Subuh, Azizah mengaji, setelah mengaji, Azizah bersiap siap untuk berangkat ke sekolah.


Setelah siap, Azizah pergi ke dapur. Di dapur terlihat Aminah sedang memasak.


"Assalamu'alaikum, ma," ucap Azizah tiba tiba mengagetkan Aminah.


"Wa'alaikumussalam. Kamu ngagetin mama, deh." Kata Aminah, tangannya sibuk memasak nasi goreng yang sudah hampir siap.


"Azizah bantuin, ya, ma." Kata Azizah.


"Nggak usah, ini sudah selesai kok, Azizah siapin piring sama gelas aja, ya." Kata bu Aminah seraya mematikan kompor.


"Iya ma," jawab Azizah langsung bergegas menyiapkan peralatan makan.


Selesai sarapan, Azizah berpamitan pada ayah dan ibunya.


Hari ini Azizah berangkat sendiri, biasanya ia akan berangakat ke sekolah bersama Indah, tapi tadi Indah chat Azizah, katanya hari ini Indah tidak sekolah karena kurang enak badan.


Sesampainya di sekolah ...


Azizah berjalan santai menuju kelasnya.


Tapi tiba tiba, Azizah mempercepat langkahnya.


"Bestienya kemana, yah? Sendirian aja?" Tanya seseorang yang mengikuti Azizah.


Azizah semakin mempercepat langkahnya, bahkan seperti hendak berlari. Namun, lengannya dicekal oleh orang tadi membuat Azizah terkejut.


"Lo kalo diajak ngomong itu jawab!" Bentak orang itu.


"Chika, plis jangan ganggu aku, aku mau ke kelas." Kata Azizah berusaha bersikap biasa saja.


Gadis yang bernama Chika itu tersenyum sinis. Ia mendekatkan mulutnya ke telinga Azizah yang tertutup hijab.


"Kalo gue gak mau, lo mau apa?" Bisik Chika membuat Azizah merinding.


Kedua teman Chika yang bernama Tia dan Liana saling berpandangan kemudian tersenyum miring.


"Guys, bawa ke toilet." Kata Chika yang dijawab anggukan oleh kedua temannya.


Sekolah masih sepi, hanya beberapa siswa yang baru datang, Azizah sering berangkat sekolah pagi, itu yang membuat Chika dan kawan kawan ikut berangkat pagi.


"Lepas!" Teriak Azizah.


"Diam!" Bentak Chika.


Azizah terdiam.


"Enggak, aku nggak mau diperlakukan kayak gini terus, aku harus melakukan sesuatu." Batin Azizah.


Saat sudah sampai di toilet, tiba tiba Azizah menggigit tangan Chika kuat, menginjak kaki Tia, dan meninju perut Liana dengan sikunya.


Genggaman mereka terlepas, tak mau menyia-nyiakan kesempatan itu, Azizah segera berlari, namun Chika berhasil menarik tangannya.


"Udah mulai berani lo sama gue?" Walaupun pelan tapi dingin.

__ADS_1


"Aku bilang lepas!" Bentak Azizah berusaha melawan.


"Semakin lo ngelawan, semakin gue bakal bikin lo menderita." Kata Chika dingin kemudian kembali menarik Azizah.


Disisi lain, Hanif dan Indra dengan santainya berjalan menuju kelasnya. Hanif memasang ekspresi datar saat perempuan menyapanya, sedangkan Indra ... menanggapi dengan senyuman semanis mungkin ... dasar tebar pesona.


"Nif, tunggu sini bentar, ya ... gua mau ke toilet, mau rapiin rambut, kayaknya tadi gue kurang menawan." Kata Indra disertai kekehan kecil yang dijawab dengan deheman oleh Hanif.


Hanif menunggu Indra. Namun, tiba tiba Indra datang dengan wajah panik.


"Nif! Tadi gua denger di toilet cewek samar samar kayak ada suara gaduh." Kata Indra cemas.


"Paling orang bercanda." Kata Hanif datar.


"Emang sih ada yang ketawa, tapi tadi gaduh banget, gue takut terjadi sesuatu." Kata Indra.


"Lo kira ada yang bully orang?"


"Bisa jadi."


"Tapi kan kita nggak boleh ke toilet cewek." Kata Hanif.


"Tapi gue khawatir, Hanif." Kata Indra kesal


"Ya udah, gue ikut."


Mereka menuju toilet perempuan, memang suara gaduh itu semakin dekat semakin nyaring. Mereka berhenti didepan pintu, mendengar dengan lebih seksama.


"Lo udah berani deketin Hanif, Hanif itu punya gue!" Kata Chika pelan namun mengerikan.


"Siram lagi guys!" Kata Chika, kedua temannya mengambil air lalu menyiramkannya tepat diatas kepala Azizah.


Azizah hanya diam, dari tadi ia sudah disiram, ia duduk memeluk lututnya.


"Nama gue disebut sebut, siapa sih itu?" Gerutu Hanif.


"Pasti ada yang gak beres, kita gedor aja, Nif." Kata Indra.


"Woy! Yang didalam keluar sekarang!" Teriak Hanif sambil menggedor pintu.


"Buka!" Teriak Indra.


Suara gaduh didalam seketika hening, tak lama kemudian terdengar suara bisik bisik.


"Kalo nggak ada yang buka, gue dobrak!" Bentak Hanif.


Mendengar ancaman Hanif, Chika membuka pintu.


Ceklek


"Chika?" Batin Hanif.


"Ngapain kalian?" Tanya Indra dengan tatapan mengintimidasi.


Chika dan kawan kawan tidak menjawab, Chika sepertinya hendak menjawab, namun ia urungkan.


Hanif ingin masuk, tapi dihalangi Chika.


"Minggir!" ucap Hanif dingin.


Nyali Chika menciut, ia membiarkan Hanif masuk ke toilet.


Hanif terkejut kala mendapati Azizah duduk sambil memeluk lutut dengan kepala tertunduk.


Hanif langsung menghampiri Azizah.


"Azizah!" Panggil Hanif.


Azizah mengangkat kepalanya, lalu menatap Hanif.


Hanif semakin terkejut, mata Azizah sembab, pipinya juga merah. Fiks, ini pasti kerjaan Chika.


"Indra!" Panggil Hanif.


Indra yang sedang adu mulut dengan Chika, langsung berhenti. Ia menghampiri temannya.


"Kenapa?" Tanya Indra.


Indra terkejut saat melihat kondisi Azizah yang memprihatinkan.


"Lo antar Azizah ke UKS, gue mau ngomong sama Chika."


Indra setia memegang tangan Chika dan Liana kuat, supaya mereka tidak kabur.


"Kenapa jadi gue?"


"Anter aja apa susahnya, sih!" Kata Hanif kesal.


"Ga-gak usah." Kata Azizah membuat kedua orang itu menatapnya.


"Aku bisa sendiri." Azizah mencoba berdiri, saat Hanif ingin membantu, namun Azizah menolak.


"Liana, lo bantu Azizah!" Kata Hanif.


"Ogah!" Liana tak mau, ia membuang muka.


"Oh, jadi lo gak mau? Lo mau gue aduin ke papa lo?" Tanya Hanif terdengar santai.


Papa Liana adalah rekan bisnis papa Hanif, bahkan Hanif sangat akrab dengan ayah Liana.


Liana terdiam, mau tak mau ia membantu Azizah.


"Ndra, lo jagain Azizah, biar Liana yang bantu Azizah." Kata Hanif.


Indra mengangguk malas.


Liana memapah Azizah, sedangkan Indra mengikuti dari belakang.


"Sekarang lo ikut gue." Kata Hanif menatap Chika, ketika semua sudah pergi.


Chika diam.


"Ikut!" Bentak Hanif membuat Chika terkejut.


Hanif membawa Chika ke ruang guru.


Sedangkan Azizah tengah menahan sakit pada kakinya, tiba tiba terbesit ide jahil di kepala Liana.


Dengan sengaja Liana menjatuhkan dirinya, membuat Azizah jadi ikut terjatuh.


"Astaghfirullah'aladzim!" ucap Azizah.


Indra yang dari tadi berjalan santai terkejut melihat kejadian itu, ia langsung berlari menghampiri Azizah.


"Heh! Lo sengaja, ya!" Bentak Indra menatap Liana tajam.


Liana tersenyum sinis, kemudian berdiri.


Tanpa menjawab pertanyaan Indra, Liana beralih menatap Azizah yang kesakitan.


"Gue minta maaf, ya, Azizah. Tadi tu gue bener bener jatuh." Kata Liana dengan ekspresi dibuat buat merasa bersalah.


Liana mengulurkan tangannya.


Azizah yang melihat itu menyambut uluran tangan Liana, tapi saat Azizah ingin berdiri, Liana sengaja melepas genggaman tangannya membuat Azizah terjatuh kembali.


Saat itu juga Liana tertawa.


"Hahaha ... males banget gue bantuin!" Setelah mengatakan itu, Liana pergi meninggalkan Azizah.


Indra menahan Liana.


"Enak banget lo ngomong kayak gitu, lo harus bantuin!" Kata Indra geram.


"Gue gak mau!" Balas Liana.


"Lo bener bener, ya. Gue bakal kasitau Hanif, biar Hanif laporin ke bokap lo!"


"Aduin aja, gue gak takut, gue emang sengaja nurut sama Hanif tadi, biar gue bisa balas dendam sama Azizah." Kata Liana lalu pergi.


"Liana!" Panggil Indra.


"Emang bener bener, ya!" Indra geram.


Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2