Azizah

Azizah
Pertanyaan


__ADS_3

Azizah POV


Aku segera membereskan alat tulisku begitu guru keluar dari kelas. Sore ini aku akan pergi ke rumah Indra untuk tugas kelompok.


Di kelas ini sepi, tidak ada siapa siapa. Semua siswa sudah keluar, begitu juga Indah. Begitu ia menerima telepon, ia pamit padaku dan langsung keluar.


Aku malas bertanya akhirnya hanya diam, aku juga tidak menceritakan kejadian di belakang gudang sekolah itu.


Aku keluar dari kelas dan menuju parkiran. Aku melihat Indah sudah duduk anteng di motornya seraya melambaikan tangan ke arahku.


Aku pun ikut melambaikan tangan.


"Zah, sore ini kamu kerja kelompok di rumah Indra, kan?" Tanya Indah.


"Iya," jawabku.


"Bareng aku, ya. Aku juga mau kerja kelompok di rumah Hanif, rumah mereka kan searah. Nanti kalo kamu mau pulang, call aku." Kata Indah.


"Aku nggak ngerepotin?"


"Ish ... kamu kenapa, sih? Suka banget ngomong itu. Udah berapa kali aku bilang, kamu tu nggak pernah ngerepotin aku. Yang ada aku kali yang sering ngerepotin kamu." Kata Indah membuatku tersenyum.


"Iya. Oke nanti kita berangkat bareng."


Indah tersenyum, kemudian menyalakan motornya.


Setelah menunaikan sholat Asar, aku pun bersiap siap.


Aku mengenakan gamis longgar warna hitam dipadukan dengan garis warna putih dibagian bawah. Lalu aku memakai hijab panjang berwarna hitam.


Aku memakai bedak tabur tipis tipis diwajahku. Setelah siap, aku keluar kamar dan menghampiri mama.


"Ma, Azizah berangkat dulu, ya," ucapku seraya mencium tangan mama.


"Iya, hati hati. Kalau sudah selesai langsung pulang, jangan mampir kemana mana." Kata mama. Aku menganggukan kepalaku.


"Iya, ma. Assalamu'alaikum," ucapku.


"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh."


Tepat saat aku selesai mengenakan sendal. Terdengar suara motor menghampiri. Itu Indah.


"Assalamu'alaikum," ucap Indah.


"Wa'alaikumussalam," jawabku.


"Yuk, berangkat!" Ajaknya. Bersemangat sekali.


Sesampainya didepan rumah Indra. Aku terpaku. Rumah ini besar dan mewah. Hampir sama dengan rumah Hanif. Walaupun masih besar rumah Hanif, tapi rumah ini begitu asri dan sejuk saat mata memandang.


Banyak bunga dan rumput Jepang hampir di seluruh halaman rumah. Dan ada pohon pohon.


"Cari siapa, neng?" Aku terkejut.


"Astaghfirullahal'adzim," ucapku. Disampingku berdiri seorang pria paruh baya sedang tersenyum ke arahku.


Aku tersenyum." Maaf pak, saya temannya Indra. Saya datang kesini ingin mengerjakan tugas kelompok." Jelasku.


"Ohhh ... tenyata temannya den Indra. Oh iya, silahkan masuk, tadi ada juga beberapa teman den Indra yang sudah datang." Kata bapak itu seraya membukakan pintu gerbang. Sepertinya bapak ini habis belanja, aku melihat ia membawa plastik hitam yang berisi barang barang. Entah apa.


Aku menekan bel yang berada disamping pintu rumah sesuai instruksi bapak tadi yang sudah ke ketahui namanya. Namanya adalah pak Budi.


Tak lama kemudian, pintu terbuka menampilkan sosok pria yang mengenakan kaos lengan pendek berwarna hitam dengan celana hitam panjang. Ia tersenyum tipiiiiis sekali.

__ADS_1


Aku menundukkan pandangan.


"Assalamu'alaikum," ucapku.


"Wa'alaikumussalam," jawabnya.


"Masuk." Datar sekali. Setelah mengatakan satu kata itu, ia langsung masuk ke rumahnya.


Mengapa sikapnya mendadak dingin begini? Tapi memang kalau denganku sikapnya dingin seperti ini. Ya sudahlah, untuk apa aku pikirkan.


Aku melangkah masuk.


"Assalamu'alaikum," ucapku begitu masuk ke dalam rumah ini.


"Wa'alaikumussalam," jawab teman teman yang lain.


Aku duduk di dekat mereka, mereka ada yang menatapku datar, ada juga yang kulihat menggerutu. Entahlah, kali ini teman satu kelompokku memang ada yang tidak begitu menyukaiku. Yaitu Tia, sedangkan Nara selalu bersikap datar padaku.


"Ngapain, sih datang segala. Merusak suasana aja." Kata Tia pelan namun sinis, aku tertunduk.


"Udah ... lo jangan bikin ribut. Mending lo lanjutin kerjaan lo tadi." Kata Nara. Ia mengambil sebuah buku lalu memberikannya padaku.


"Lo kerjakan ini." Kata Nara datar, aku hanya mengangguk.


Setelah hening, aku mencoba mengangkat kepalaku, karena aku merasa ada yang memperhatikanku sejak tadi.


Benar! Ternyata Indra sedang menatapku, aku kembali menundukkan pandangan, kenapa juga aku gugup.


Selama mengerjakan tugas kelompok, aku merasa tak nyaman, setiap aku melihat Tia, ia selalu menatapku sinis terkadang juga memarahiku. Aku pun bingung.


"Warna in tu yang bener, kayak anak kecil!" Katanya. Aku hanya diam seraya terus fokus pada tugasku.


Tia juga selalu mengajak Indra bicara, dengan nada yang ramah dan ceria, tapi yang diajak bicara hanya cuek dan memasang ekspresi datar.


Dan Tia langsung menatapku tajam kala ia sadar kalau aku sedang melihatnya.


"Ngapain lihat lihat! Kerjakan tugas lo yang bener!" Kata Tia sinis.


"Tia, lo bisa nggak, sih fokus sama tugas lo? Jangan suka ngurusin orang." Kata Indra.


"Dan menurut gue, Azizah bagus kok warna in posternya." Kata Indra lagi.


Tia terdiam, ku lihat ia kembali menatapku tajam. Aku tak peduli, aku kembali meneruskan tugasku.


Pukuk 16.40 tugas kami sudah selesai, semua sudah pulang, hanya aku dan Tia yang belum.


"Heh! Lo ngapain masih disini? Mau caper, ya?" Tanya Tia saat kami sudah berada diluar rumah.


"Aku nunggu Indah," jawabku singkat.


"Alasan! Lo tuh diem diem juga suka cari perhatian cowok, ya. Udah Hanif, ehhh ... sekarang Indra juga." Kata Tia. Aku terus ber-istighfar.


"Ini ngapain berdua masih disini?" Nada datar dari seseorang membuat kami membalikkan badan. Indra ... bukan hanya nada bicara yang datar, ekspresi wajahnya juga.


Menurutku sikapnya sekarang berbeda, bukankah ia cowok yang pecicilan dan ramah.


"Azizah nggak mau pulang, mau caper kali." Kata Tia membuatku langsung menggelengkan kepala.


"Nggak, aku serius lagi nunggu Indah." Kataku cepat.


Saat Tia hendak bicara, Indra sudah duluan bicara.


"Tia, lo pulang aja. Sopir lo udah nunggu lo dari tadi." Kata Indra.

__ADS_1


"Tapi--"


"Pulang." Kata Indra dingin.


Dengan wajah kesal, Tia pulang. Aku hanya menggelengkan kepala melihatnya.


"Lo nunggu Indah, kan? Duduk aja disini." Kata Indra setelah beberapa detik hening.


Ia kemudian duduk di kursi depan rumahnya.


"Duduk," ucapnya seraya melirik kursi kosong di sampingnya yang terpisah oleh meja.


"Aku nunggu di depan gerbang aja." Kataku.


"Ada yang mau gue omongin." Kata Indra membuatku kaget, menatapnya sekilas.


"Ngomong apa?" Tanyaku.


"Duduk dulu, masa tamu gue berdiri, sih. Lo nggak capek?"


Aku hanya menatapnya malas, tapi duduk dikursi itu juga.


"Cepat mau ngomong apa?" Tanyaku lagi, aku nggak boleh lama lama disini. Hari sudah semakin sore. Aku juga tidak mau hanya berdua dengan Indra. Walaupun di depan ada pak Toni.


"Lo ... suka nggak sama Hanif?" Pertanyaan macam apa itu?


"Biasa aja," jawabku singkat.


"Kalau Hanif suka sama lo?"


"Ya ... Itu kan perasaan dia."


"Maksud gue, lo nggak seneng, atau gimana?"


"Aku udah bilang tadi, biasa aja."


"Masa? Hanif itu terkenal cowok keren, kece. Banyak lo yang naksir dia, kamu nggak?"


"Sudah aku bilang, biasa aja."


"Kalo dia nembak lo, lo terima nggak?"


"Kalo kamu cuma mau bicarakan hal yang nggak penting kayak gini, mending aku pergi." Kataku.


"Bentar ... bentar. Jangan pergi dulu. Oke, aku nggak nanyain itu lagi, kali ini penting." Kata Indra saat aku ingin berdiri.


Indah mana, sih? Kok belum datang juga. Aku pengen cepet cepet pulang.


"Apa?" Tanyaku


"Gue udah sering bahkan pernah lihat lo di bully sama Chika dan juga teman temannya. Bahkan, tadi Tia juga marah marah sama lo. Pertanyaan gue, apa lo nggak pernah lawan?"


Penting? Apakah ini pentig untuk dibahas? Menurutku tidak, ini hanya kembali menggoreskan luka di hati.


"Ini sama sekali nggak penting untuk dibicarakan, Ndra."


"Penting! Gue minta kali ini jawab jujur!"


Kok kesannya kayak maksa aku buat ngomong, ya?


"Pernah, tapi nggak bisa, aku kalah." Kataku pelan.


Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2