Azizah

Azizah
Indra


__ADS_3

Azizah sedang membaca buku di kelasnya, sedangkan Indah sedang pergi ke kantin. Indah tadi sudah mengajak bahkan memaksa Azizah untuk ikut dengannya, tapi Azizah bersikukuh menolak ajakan Indah.


Katanya Azizah ingin belajar, karena nanti ada ujian sosiologi.


Tak lama kemudian, Hanif dan Indra masuk. Di kelas itu, belum ada siapa siapa selain mereka. Azizah memutuskan untuk keluar menuju perpustakaan.


"Nif, gue ke toilet bentar." Kata Indra yang dibalas anggukan oleh Hanif.


Indra sebenarnya bukan ingin pergi ke toilet, tapi ingin menyusul Azizah.


"Azizah!" Panggil Indra membuat Azizah membalikkan badannya.


"Kenapa, Ndra?" Tanya Azizah.


"Kalau kerja kelompoknya di rumah gue aja gimana? Lo mau nggak? Soalnya yang lain maunya kerja kelompok di rumah gue." Kata Indra datar.


"Terserah kalian. Aku ngikut aja," jawab Azizah. Ia menundukkan kepalanya.


"Kalau habis pulang sekolah aja gimana? Yang lain udah sepakat kalau mengerjakan tugasnya pas pulang sekolah ini, lo bisa nggak?" Kata Indra.


"In Syaa Allah bisa," jawab Azizah.


"Ya udah ... gue balik ke kelas." Kata Indra yang dibalas anggukan oleh Azizah.


Indra tidak kembali ke kelas, ia pergi ke taman. Ia duduk di kursi taman.


Indra menghela nafasnya.


"Apa gue terlalu diam?" Batin Indra.


"Nggak nyangka, ternyata Hanif juga suka sama Azizah," ujar Indra lirih.


Si Indra suka sama Azizah, kenapa waktu mengantar Azizah ke UKS Indra malas malasan, bahkan sempat mengomeli Azizah?


Dari awal Azizah masuk ke sekolah ini, Indra diam diam memperhatikannya. Sebenarnya Indra pun menyukai Azizah, seperti Hanif. Namun, Indra tidak memberi tahu siapa siapa.


Kriiiiiinnggggg

__ADS_1


Bel pertanda masuk sudah berbunyi, Indra beranjak dari duduknya dan berjalan menuju kelasnya.


Jam pertama adalah pelajaran sosiologi, semua anak kelas XII IPS 1 sedang melaksanakan ulangan.


Ada yang bisik bisik, ada yang saling lempar kertas berisi jawaban, ada yang melihat ke bawah meja, karena dibawah meja ada buku, dan ada yang fokus mengerjakan ulangan tanpa menoleh kesana kemari.


Guru sudah memperingatkan, tapi tak lama kemudian para siswa siswi ini mengulang kembali perbuatannya.


Azizah dan Indah fokus mengerjakan tanpa saling mencontek.


Hanif dan Indra saling bisik bisik.


Semua murid mengerjakan hingga bel pergantian pelajaran berbunyi.


"Zah, gimana soal tadi? Susah nggak menurutmu?" Tanya Indah.


"Mmmm ... ada beberapa soal yang buat aku bingung ... nomor 7 sama 10," jawab Azizah.


"Sama ... aku juga bingung nomor yang itu." Kata Indah.


"Kamu kapan ngerjakan posternya?" Tanya Indah.


Setelah mengerjakan ulangan tadi, Indra sama sekali tidak beranjak dari tempat duduknya, sedangkan Hanif sudah izin pergi ke toilet.


Percakapan Azizah dan Indah, tak luput dari perhatian Indra.


"Kalau aku belum tau ... yang lain nggak ada ngomong apa apa." Kata Indah, Azizah tersenyum.


Setelah mengatakan itu, Hanif datang dengan ekspresi yang bahagia.


"Guys, kita jamkos!" Seru Hanif, seisi kelas bersorak ria. Tak terkecuali Indra, ia yang tadinya terdiam kini mulai berteriak teriak seperti biasa.


"Pak Joni nggak masuk?" Tanya Indah, Indah merupakan wakil ketua kelas, sedangkan Hanif ketua kelasnya.


"Enggak, katanya tadi ada urusan," jawab Hanif.


Indah tersenyum lebar. Azizah hanya menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


"Indah, aku mau ke perpus ... kamu mau ikut?" Kata Azizah.


"Ke perpus mulu, Zah ... kamu tau sendirikan, aku tu paling males ke perpus ... ke kantin kek." Kata Indah dengan nada yang dibuat kesal.


"Ini kan belum waktu istirahat, lagian aku juga pengennya ke perpus." Kata Azizah.


"Iya deh, si paling perpus ... kamu aja ke perpus, aku di kelas aja, mager ...." ujar Indah sembari memindahkan tasnya untuk dijadikan bantal.


"Beneran nggak mau ikut?"


"Iya ... kamu aja."


"Ya udah," kata Azizah, ia pergi ke perpus.


Di koridor sekolah yang sepi, karena semua murid masih di kelas, Azizah berjalan santai menuju perpustakaan, namun, tiba tiba dari arah yang berlawanan, Chika dan teman temannya berjalan sambil memegang sebuah gelas berisi teh ditangannya.


Melihat itu, ingin sekali rasanya Azizah kembali menuju kelas, tapi ia berusaha untuk berani, Azizah menundukkan kepalanya.


Saat mereka berpaspasan, dengan sengaja Chika menyenggol bahu Azizah dan menumpahkan tehnya di seragam Azizah.


"Astaghfirullah," ucap Azizah, ia sangat terkejut. Ternyata tehnya masih agak panas, membuat tangannya yang terkena teh memerah.


"Sorry, Zah ... baju kamu jadi basah, ya? Aku tadi sengaja ... hahahaha!" Kata Chika.


Chika dan teman temannya tertawa, Azizah berusaha menahan airmatanya agar tidak jatuh.


Tiba tiba, Chika menarik tangan Azizah, sedangkan Liana membekap mulutnya, dan Tia memegang tangan kirinya.


Chika membawanya menuju belakang gudang sekolah. Tempat itu memang sangat sepi. Hampir tidak ada murid yang pernah ke tempat itu.


Plakk


Chika menampar pipi Azizah dengan kuat, membuat Azizah meringis. Air mata yang dari tadi ia tahan tumpah juga.


"Kenapa? Sakit?" Tanya Chika, ia memperlihatkan senyum liciknya.


"Mana sahabat lo itu? Yang selalu lo manfaatin buat balas dendam sama kami?" Tanya Chika.

__ADS_1


"Aku nggak pernah manfaatin Indah!"


Bersambung ...


__ADS_2