Azizah

Azizah
Diam


__ADS_3

"Aku nggak pernah manfaatin Indah!" Bentak Azizah.


"Oh ... lo sekarang udah berani sama gue? Asal lo tahu, gue bersikap kayak gini itu juga gara gara lo!" Chika menatap tajam Azizah.


"Aku salah apa?" Tanya Azizah pelan.


"Salah lo itu, lo udah ngerebut Hanif dari gue!" Teriak Chika.


"Aku nggak pernah ngerebut Hanif, aku nggak pernah deketin Hanif." Kata Azizah, air matanya sudah membanjiri pipinya.


"Lo kira gue percaya? Lo itu kelihatan polos, lugu ... tapi ternyata lo itu tukang caper, gara gara lo Hanif putus sama gue!"


Azizah menggelengkan kepalanya pelan, ia bingung, kenapa ia yang disalahkan. Ia merasa tidak pernah mencari perhatian dan mendekati Hanif.


"Napa lo diem? Benerkan yang gue bilang?" Chika tersenyum meremehkan.


Azizah hanya diam, ia menatap Chika. Percuma, jika ia membela dirinya, Chika tidak percaya. Air matanya saja yang terus mengalir.


"Sebenernya gue agak kasihan sama lo, lo itu cengeng, nggak bisa ngapa ngapain selain nangis ... tapi seru juga bikin lo nangis."


Bel istirahat telah berbunyi ...


"Kali ini, lo gue lepasin ... tapi, kalo Hanif masih suka deketin lo, lo bakal dapat yang lebih dari ini." Ancam Chika lalu berlalu pergi dari hadapan Azizah diikuti teman temannya.


"Hiks ... karena masalah cowok, aku jadi diperlakukan kayak gini ... aku nggak pernah deketin Hanif ... tapi kenapa hiks ... Chika nuduh aku." Azizah duduk seraya memeluk lututnya.


Ia memegang pipinya yang masih terasa sakit, penampilannya juga berantakan, seragamnya kucel, karena ditarik.


Azizah berdiri, ia merapikan seragamnya lalu menuju toilet untuk membasuh wajahnya.


Azizah memutuskan untuk ke kelas, Indah pasti sudah mencarinya atau menunggunya untuk pergi ke kantin. Ia memaksakan diri untuk tersenyum


Sesampainya di kelas ...


Azizah tidak melihat siapapun kecuali Indra yang sedang merebahkan kepalanya diatas meja.


"Dia sakit?" Batin Azizah.


Azizah ingin meninggalkan Indra, tapi ia merasa khawatir.


"Indra?" Panggil Azizah, Indra mengangkat kepalanya.

__ADS_1


Azizah terkejut, ia kira Indra tadi sedang tidur.


"Apa?" Tanya Indra lesu.


"Kamu sakit?" Tanya Azizah, Indra tertegun, baru kali ini Azizah bertanya dan mengajaknya bicara.


"Enggak, pusing dikit aja," jawab Indra.


"Tapi mukamu pucat, ke UKS aja." Kata Azizah.


"Gue cuma pusing dikit, ntar ilang sendiri." Kata Indra, ia kembali merebahkan kepalanya.


Azizah terdiam sejenak, kemudian pergi dari kelas.


Indra POV


Sejak pagi, kepalaku pusing, tidak tau apa penyebabnya.


Saat istirahat tiba, aku memutuskan untuk di kelas saja. Hanif mengajakku ke kantin, namun aku menolaknya karena kepalau pusing.


Hanif khawatir, ia menyuruhku ke UKS, tapi aku tidak mau. Akhirnya Hanif memutuskan untuk ke kantin sendiri.


Di kelas sangat sepi, tidak ada satupun orang disini. Aku paling tidak suka suasana seperti ini. Sunyi.


Ponselku lowbat, aku lupa men-charger nya.


Jadi aku tak dapat menyalakan musik.


Saat aku sedang beristirahat, tiba riba terdengar suara langkah kaki mendekat. Aku yang tak mau tau, tak ingin mengangkat kepalaku. Hingga terdengar sebuah suara yang sangat aku kenal memanggilku.


"Indra?"


Aku mengangkat kepalaku.


Aku menatapnya. Ku lihat ekspresinya seperti khawatir.


"Apa?" Tanyaku lesu, aku benar benar malas bicara sekarang.


"Kamu sakit?"


Pertanyaan singkat yang hanya terdiri dua kata itu membuatku tersenyum tipis.

__ADS_1


Ini baru pertama kali ia bertanya padaku.


""Enggak, pusing dikit aja," jawabku, kulihat dirinya seperti memastikan sesuatu.


"Tapi mukamu pucat, ke UKS aja." Dari perkataannya, tidak ada unsur mengajak disitu.


Mendadak kepalaku pusing sekali, aku meringis.


"Gue cuma pusing dikit, ntar ilang sendiri," kataku langsung merebahkan kepalaku diatas meja.


Aku tidak mendengarnya bicara lagi. Tak lama kemudian, kudengar suara sepatunya menjauh dari kelas.


Aku menghela nafas.


Padahal Azizah hanya menanyakan pertanyaan singkat, tapi kenapa aku jadi gugup?


Tak lama kemudian, Hanif datang menghampiriku.


"Ndra!" Panggil Hanif seraya menepuk pelan pundakku. Aku mengangkat kepalaku.


"Napa?"


"Lo minum obat, nih. Sama makan dulu rotinya." Kata Hanif seraya menyodorkan sebuah plastik berisi air minum, roti dan obat.


"Makasih," ucapku kemudian segera memakan rotinya.


Hanif duduk didepanku, kemudian membuka rotinya juga.


"Eh ... by the way, tadi Azizah nyamperin gue lho." Kata Hanif.


"Ngapain?" Tanyaku pelan, walau dihatiku sangat penasaran.


"Ngasitau tentang keadaan lo, kayaknya Azizah khawatir banget sama lo ... dan jujur aja, gue agak cemburu." Kata Hanif disertai senyuman tipis.


Aku menatapnya.


"Lo cemburu?" Tanyaku, ia mengangguk.


"Tapi nggak papa ... lo kan nggak suka sama Azizah." Kata Hanif, yang membuat perasaanku ... entahlah.


Hanif tidak tau saja, kalau aku beritahu, yang ada persahabatan kami bisa hancur.

__ADS_1


Aku tidak mau.


Bersambung ...


__ADS_2