
Indra mengulurkan tangannya, Azizah hanya melihat tanpa menyambut uluran tangan Indra.
"Ck, ga usah sok jual mahal, gue udah mau nolongin lo, giliran ditolongin sok gak mau!" Kata Indra kesal.
"Maaf ... tapi aku ga--,"
"Iya ... iya gue ngerti, lo emang nggak mau bersentuhan dengan laki laki kan?" Potong Indra.
Indra melirik Azizah yang terdiam.
Tanpa berkata kata, Indra meninggalkan Azizah.
Azizah hanya menatap punggung Indra yang menjauh dan hilang dibalik dinding.
Azizah mencoba bangun, ia berjalan, sesekali memegang dinding saat akan jatuh kembali. Tanpa ia sadari, ternyata Indra belum pergi dari sana, ia memperhatikan Azizah dari jauh.
"Hari ini ada jadwal pelajaran olahraga kan?" Batin Indra.
"Annisa!" Panggil Indra pada seorang siswi yang bernama Annisa.
"Iya, kenapa?" Tanya Annisa.
"Gue boleh minta tolong nggak?"
"Apa?"
"Tolong ambilkan baju olahraga di tasnya Azizah, terus anter ke ruang UKS, disana ada Azizah." Kata Indra.
"Emang kenapa?"
"Pake nanya emang kenapa, Azizah itu habis di bully sama geng nya Chika. Sekarang lo gak usah banyak tanya, gue masih ada urusan!" Setelah mengatakan itu, Indra meninggalkam Annisa.
🌺🌺🌺
Azizah sedang mengobati luka yang ada ditangannya. Sesekali ia meringis.
"Ya Allah."
"Assalamu'alaikum," ucap Annisa saat melihat Azizah sedang mengobati lukanya.
Azizah melihat ke arah Annisa.
"Wa'alaikumussalam," jawab Azizah.
"Astaghfirullah ... kenapa bisa sampai begini, Zah?" Tanya Annisa panik.
"Nggak papa kok, Nis." Kata Azizah.
"Oh iya, maaf aku tadi buka tas kamu tanpa izin, aku bawain baju olahragamu, baju kamu kan basah." Kata Annisa sambil menyodorkan satu stel baju olahraga.
Azizah menerimanya.
"Makasih, ya, Nis," ucap Azizah.
"Iya, sama sama ... emmm, tadi Indra yang ngasitau aku, terus dia nyuruh buat ambil bajumu." Sambung Annisa.
"Indra?"
Annisa mengangguk.
Terdengar bunyi bel pertanda masuk berbunyi.
"Zah, kamu mau aku bantuin nggak?" Tanya Annisa.
"Nggak usah, Nis. Kamu duluan aja, ini aku juga udah selesai kok obatin lukanya. Habis ini aku ganti baju ... kamu duluan aja, ntar dimarahin pak Wahyu." Kata Azizah.
"Beneran?"
"Iya, udah kamu duluan aja."
"Ya udah, aku duluan. Assalamu'alaikum," ucap Annisa.
"Wa'alaikumussalam," jawab Azizah.
Semua siswa siswi kelas 12 sudah berkumpul di aula.
Terlihat pak Wahyu yang bolak balik melihat jam tangannya.
"Apa hari ini Azizah, Hanif, dan Chika tidak masuk?" Tanya pak Wahyu.
Semua murid saling berpandangan.
"Mereka semua masuk, pak. Tadi saya lihat Hanif sama Chika masuk ke ruangan kepsek, kalau Azizah ... saya nggak tau, pak." Jelas Habibi.
"Azizah tadi di bully sama Chika dan temannya pak." Kata Indra cepat.
"Di bully?"
"Iya, pak. Tadi saya sama Hanif yang lihat mereka bully Azizah di toilet cewek." Kata Indra.
"Siapa temannya Chika yang ikut bully Azizah?"
"Tia sama Liana, pak!" Jawab Indra cepat.
Sontak, semua menatap Tia dan Liana yang gugup.
"Apa benar kalian sudah membully Azizah?" Tanya pak Wahyu dingin.
__ADS_1
"Indra tu ngarang, pak. Kami nggak ada bully Azizah." Kata Tia.
"Heh! Lu nggak usah bohong ... jelas jelas gue lihat kalian kok yang bully Azizah!" Bentak Indra.
"Emang lo punya bukti?!" Bentak Tia tak mau kalah, sedangkan Liana hanya terdiam.
"DIAM!" Teriak pak Wahyu.
"Liana, Tia, dan Indra, ikut saya ke ruangan kepsek." Kata pak Wahyu.
"Dan yang lain boleh olahraga apa saja." Kata pak Wahyu langsung pergi.
Indra, Liana, dan Tia mengikuti pak Wahyu.
Keesokan harinya ...
Azizah pergi ke sekolah bersama Indah.
Mereka berjalan menuju kelas. Sesampainya di kelas, mereka hanya melihat Hanif dan Indra yang sedang duduk sambil berbincang bincang.
"Assalamu'alaikum," ucap Azizah dan Indah.
Hanif dan Indra menoleh.
"Wa'alaikumussalam," jawab mereka bersamaan.
"Zah, gimana keadaan kamu?" Tanya Hanif.
Azizah tersenyum kikuk, ia melihat Indah yang heran.
"Emang Azizah kenapa?" Tanya Indah.
"Kamu nggak tau, Ndah?" Tanya Hanif.
"Tau apa?"
"Eh! Nggak papa kok ... Ndah, tadi kamu bilang kamu belum sarapan kan? Kita ke kantin, yuk!" Ajak Azizah, namun Indah menahannya.
"Enggak! Pasti ada yang kamu sembunyiin. Hanif, emang Azizah kenapa?" Kata Indah.
Hanif melihat Azizah yang menggelengkan kepalanya.
Saat Hanif hendak bicara, Indra sudah duluan bicara.
"Kemarin tu, si Azizah di bully sama Chika dan temannya." Kata Indra to the point.
Indah terkejut.
"Bener, Zah?!" Tanya Indah menatap Azizah, Azizah mengangguk pelan.
Indah langsung emosi, ia membanting tasnya, kemudian berjalan keluar kelas.
Azizah langsung berlari mengejar Indah.
"Kenapa lo kasitau, hah?!" Kata Hanif kesal.
"Emangnya nggak boleh?!" Kata Indra acuh.
Tanpa bicara lagi, Hanif langsung pergi.
Indra hanya menatap Hanif sampai tak terlihat.
"Emang gue salah ngomong, ya?" Batin Indra.
Di kantin sekolah, Chika dkk sedang menikmati sarapan.
Indah sudah sampai di kantin, ia melihat sekeliling kantin, dan ia melihat Chika disana.
Indah berjalan menghampiri mereka, tanpa basa basi, ia langsung mengambil mangkuk berisi bubur ayam itu, setelah itu ia lempar buburnya ke seragam Chika.
Chika langsung berteriak sambil berdiri.
"Heh! Lo apa-apaan, sih!" Teriak Chika.
"Lo yang apa-apaan, ngapain kemarin lo bully sahabat gue, hah!" Bentak Indah tak mau kalah.
Azizah yang baru sampai di kantin, langsung berlari menghampiri Indah.
"Sabar, Ndah!" Kata Azizah sambil memegang tangan Indah.
Wajah Chika sudah memerah menahan marah.
"Ndah, lo apaan sih?! Gak jelas gau nggak!" Kesal Liana sambil membantu membersihkan rok Chika.
"Ndah, kok lo mau temenan sama Azizah? Lo itu cuma dimanfaatin sama dia." Kata Tia.
"Dasar tukang ngadu!" Kata Liana sinis seraya menatap Azizah tajam.
Mata Azizah sudah berkaca kaca, kemudian ia berlari meninggalkan kantin.
"Azizah!" Panggil Indah, namun Azizah tak menghiraukannya.
"Lo liat sendiri kan, Ndah? Azizah itu nggak pantas temenan sama lo, dia itu cengeng, tukang ngadu ... Azizah itu cuma manfaatin lo supaya bisa balas dendam ke kita." Kata Chika dibalas tatapan tajam dari Indah.
"Lo ada masalah apa, sih sama Azizah?" Tanya Indah lalu pergi meninggalkan Chika dkk.
Azizah terus berlari, saat berlari, ia bertemu Hanif dan Indra. Hanif terus memanggilnya, tapi Azizah terus berlari.
__ADS_1
"Ndra, Azizah kenapa ya?" Tanya Hanif sambil terus menatap punggung Azizah yang berlari menjauh.
"Mana gue tau!" Jawab Indra sewot.
Hanif menatap Indra.
"Biasa aja kali jawabnya!" Kata Hanif kesal.
"Lagian ngapain lo nanya gue, emang gue emaknya?!" Kata Indra langsung meninggalkan Hanif yang kesal.
🌼🌼
Azizah berlari menuju toilet, ia menuju wastafel. Air matanya sudah menetes, is tak dapat membendung air matanya.
"Hiks,"
"Kenapa mereka benci banget sama aku? Aku salah apa? Apa karena Hanif? Tapi aku kan nggak pernah sengaja mau dekat sama Hanif. Tugas waktu itu kan yang bikin kelompoknya bu Rina bukan aku yang milih." Kata Azizah lirih.
Tiba tiba ada yang mengetuk pintu.
"Azizah, kamu didalam kan?" Tanya Indah yang ternyata menyusul Azizah.
Azizah bergegas membasuh mukanya.
Ceklek
"Zah, kamu nggak papa?" Tanya Indah khawatir.
Azizah mengangguk.
"Aku nggak papa," jawab Azizah pelan.
"Aku lihat kamu nangis tadi. Lihat aja, aku bakal bikin Chika dan teman temannya itu nyesal karena udah sakitin sahabat aku." Kata Indah geram.
"Jangan, Ndah. Biarin aja." Kata Azizah seraya memegang tangan Indah.
"Biarin gimana? Mereka itu udah beberapa kali bully kamu, walaupun udah masuk kantor berkali kali, bahkan di skors, tetep aja nggak jera." Jelas Indah.
"Iya aku tau, Ndah. Tapi kamu jangan balas dendam, bukannya reda, malah tambah panjang masalahnya kalau kamu balas." Kata Azizah.
"Tapi mereka itu udah nyakitin kamu."
"Aku nggak papa. Mending sekarang kita ke kelas, bentar lagi masuk." Kata Azizah langsung menggandeng tangan Indah. Indah diam.
Jam istirahat ...
Kantin sekolah ...
"Hanif, lo serius suka sama Azizah?" Tanya Indra.
"Iya Ndra. Entah kenapa sekarang gue gugup gitu kalo ngomong sama dia, tapi kalo nggak ngeliat sehari aja, gue cari terus." Jelas Hanif.
"Terus, perasaan lo sama Chika gimana? Lo bilang dulu lo cinta sama Chika." Kata Indra serius.
"Lo tau sendirikan, Chika itu selingkuh, dia malah pacaran sama Riyan!" Kata Hanif sedikit kesal.
Indra terdiam.
Melihat Indra yang tak merespon apa apa membuat Hanif bingung.
"Lo kenapa, sih, Ndra? Serius amat? Gua nggak pernah liat lo seserius ini." Tanya Hanif.
Indra mengusap wajahnya.
"Nggak, gue nggak papa. Noh cepetan bakso lu dihabisin, keburu dingin ntar." Kata Indra langsung menyantap bakso didepannya.
Hanif menyadari ada yang berbeda dengan Indra. Tapi Hanif hanya diam.
"Kenapa rasanya gue nggak suka kalau Hanif suka sama Azizah?" Batin Indra.
"Eh! Kok gue malah mikir ke situ, sih?! Mana mungkin gue suka sama Azizah." Batin Indra seraya menggelengkan kepalanya.
"Ndra, lo kenapa?" Tanya Hanif heran sekaligus merinding melihat gerak gerik Indra.
"Hah? gu--gue nggak papa. Tadi kepala gue tiba tiba pusing, makanya gue geleng geleng," jawab Indra terkekeh.
"Serah lo, Ndra. Gue juga pusing liat kelakuan lo." Kata Hanif.
"Eleh ... gini gini gue juga banyak yang naksir." Kata Indra yang tak ditanggapi Hanif.
Sepulang sekolah ...
Azizah dan Indah sedang berjalan menuju parkiran.
"Ndah, tugas b. Indo di suruh bikin poster kan?" Tanya Azizah.
"Iya, Zah. Kita nggak satu kelompok lagi." Kata Indah sedih sembari mengeluarkan motornya.
"Anggota kelompokmu siapa siapa aja, Zah? Tanya Indah.
"Aku, Habibi, Nara, Tia, sama Indra," jawab Azizah.
"Tumben, si Indra nggak sama Hanif. Biasanya bareng terus tu dua bocah." Kata Indah seraya menatap Azizah.
"Kayak kita kan?" Kata Azizah sambil tersenyum.
"Tapi Hanif satu kelompok sama aku, lho." Kata Indah.
__ADS_1
Bersambung ...