Azizah

Azizah
Hijrah


__ADS_3

"Lo mau nggak gue ajarin beladiri?" Tanya Indra tiba tiba.


Kenapa sikapnya mendadak berubah seperti ini?


"Mereka nggak nyakitin aku secara berlebihan, kok."


"Jadi lo mau dibully terus?!" Tanya Indra menaikkan nada bicaranya.


"Ka--kamu kenapa?" Tanyaku spontan.


Aku melihatnya sekilas, ekspresinya berubah dingin.


"Ekhem ... nggak papa, gue cuma inisiatif aja pengen ngajarin lo beladiri biar nggak terus terusan di tindas kayak gitu, lo jangan ke GR an," jawabnya.


Aku mengangguk pelan.


Tit! Tit!


Suara klakson motor membuatku dan Indra mengalihkan pandangan. Di motor itu ada Indah yang sedang menatapku seraya melambaikan tangan.


Alhamdulillah ... aku bisa pulang sekarang.


"Ndra, aku pulang dulu. Makasih, ya ... Assalamu'alaikum," ucapku.


"Wa'alaikumussalam," jawab Indra. Aku langsung pergi.


Aku menghampiri Indah.


"Maaf, aku kelamaan ... tadi habis kerja kelompok tu cerita cerita dulu, sampai lupa waktu, hehe." Jelas Indah.


"Nggak papa," jawabku


"Kamu nggak marah, kan?"


"Nggak, ayo pulang, ini hampir waktunya sholat Maghrib," jawabku pelan.


Sesampainya dirumah, aku langsung bersih bersih lalu bersiap untuk melaksanakan Sholat Maghrib.


Sedangkan disisi lain ...


Author POV

__ADS_1


Indra sedang menatap langit langit kamar, ia terkadang tersenyum sendiri.


"Baru kali ini gue bisa ngomong sama Azizah, walaupun ... dia cuek." Gumam Indra.


"Bukan cuma lo yang berpikir gue berubah, Zah, gue sendiri juga merasa kalau gue ini berubah." Batin Indra seraya tersenyum.


Tiba tiba senyumnya luntur kala mengingat bahwa sahabatnya sendiri juga menyukai Azizah.


Indra sebenarnya sudah cukup lama menyukai Azizah. Namun, ia selalu berusaha menutupinya dengan bersikap dingin dan cuek pada Azizah. Indra dulu juga sudah memiliki pacar, oleh karena itu ia selalu berusaha menjaga jarak dan bersikap dingin pada Azizah.


Belum lama ini ia sudah putus dengan pacarnya.


Keesokan harinya ...


Azizah berangkat ke sekolah bersama Indah. Selama perjalanan menuju kelas, Indah bercerita panjang lebar. Lalu mereka tidak sengaja berpas pas an dengan Chika dan kedua temannya


"Zah, tau nggak? Kemarin aku senenggg banget. Hanif perhatian banget lho sama aku." Kata Indah seraya melirik Chika.


"Jangan mulai, Ndah." Kata Azizah pelan sembari menepuk pelan lengan Indah. Namun tak dihiraukan Indah.


"Ada yang caper, tapi Hanif cuek banget. Haha, emang enak dicuekin?" Sindir Indah lagi, Chika memang satu kelompok dengan Indah.


Chika yang merasa tersindir pun langsung menghampiri Indah dan mendorongnya.


"Oh? Lo tersindir? Padahal gue nggak ada nyebut nama lo,' jawab Indah santai.


Chika hendak menampar Indah, dengan cepat Indah menahannya.


"Kayaknya lo udah sering banget bully orang, dikit dikit nampar, gimana kalo sekarang gue yang balik nampar lo? Biar lo tau gimana rasanya." Kata Indah lalu menghempaskan tangan Chika.


"Ndah ... jangan bertengkar lagi, ayo kita ke kelas." Kata Azizah seraya menarik tangan Indah.


Tiba tiba Chika bertepuk tangan.


"Dua sahabat ini memang bagus banget main drama. Yang satu barbar plus tukang caper, yang satu lagi sok polos plus tukang caper juga." Kata Chika dingin.


Indah mengepalkan tangannya, hendak melawan, namun tangannya ditahan Azizah.


"Dua duanya juga caper ke orang yang sama." Sambung Chika.


"Lo tu yang tukang caper!" Balas Indah tak terima. Azizah yang sudah muak langsung menarik tangan Indah kuat, meninggalkan Chika yang tersenyum penuh kemenangan.

__ADS_1


"Awas aja kalo lo berani cari gara gara sama gue." Gumam Chika.


Azizah berjalan cepat seraya menarik tangan Indah.


"Lepas, Zah!"


Azizah melepaskan tangannya.


"Kamu kenapa narik aku, padahal aku mau kasih pelajaran buat Chika!" Kata Indah menaikkan nada bicaranya.


"Ndah, nggak usah diladenin, biarin aja. Kalo kamu ladenin terus, masalahnya nggak reda malah kamu yang terus emosi." Kata Azizah.


Indah tidak menanggapi Azizah, ia pergi meninggalkan Azizah. Azizah menggelengkan kepalanya.


Azizah pergi menuju kelas, Indah tadi tidak ke kelas, melainkan ke kantin. Azizah tidak mau menyusul Indah, karena mungkin saja Indah masih kesal dan tidak ingin diganggu.


Azizah sudah tahu, Indah jika sedang marah tidak ingin diganggu.


Dikelas masih sepi belum ada siapapun. Mereka berangkat pagi sekali.


Azizah mengeluarkan sebuah buku. Belum lama Azizah memutuskan untuk hijrah. Ia berusaha mengubah kebiasaannya yang kurang baik menjadi lebih baik. Yang tidak bermanfaat menjadi bermanfaat. Memperbaiki ibadahnya, merubah penampilannya, dan berusaha memperbaiki sifat dan akhlaknya.


Dulu, saat dikelas ia lebih memilih untuk memainkan ponselnya, sekarang ia berusaha untuk lebih rajin membaca buku. Ia berusaha untuk tidak menyia- nyiakan waktu.


Azizah menyesal jika mengingat perbuatannya dulu.


"Ndra, bukannya Azizah itu dulu pernah pacaran?" Tanya Hanif saat mereka sudah sampai di parkiran sekolah.


"Iya, emang kenapa?" Tanya Indra cuek.


"Setelah liburan kemarin, Azizah berubah, gue nggak pernah lagi liat dia jalan dan ketawa tawa sama cowok, terus penampilannya beda gitu." Kata Hanif sembari tersenyum.


"Terus?" Ucap Indra.


"Lo perhatiin dong, sekarang dia tu lebih kalem." Kata Hanif.


"Dari dulu kali!" Balas Indra.


"Emang, tapi sekarang tu beda aja gitu." Kata Hanif membuat Indra jengah.


"Lo ngomong apa, sih dari tadi? Nggak jelas banget!" Kata Indra kesal.

__ADS_1


Hanif berdecak, kemudian berjalan menuju kelas meninggalkan Indra yang masih kesal.


Bersambung ...


__ADS_2