
Pagi itu waktu aku duduk dikelas 3 Smp. Aku duduk di depan kelas dibawah pohon kayu manis yang rindang dan meneduhkan. Dengan baju yang lusuh serta rambut yang tak teruruh dan setermos es mambo menemaniku. Tak luput aku tersenyum sambil berteriak pada setiap anak-anak yang berlalu lalang melintasi diwaktu istirahat.
"Es mamboooo! Es mamboooo! buruan dibeli!" teriakku dengan nada ciri khas yang unik.
Sahutan demi sahutan anak-anak menghampiri begitu ramai. Terik panas matahari membuat sepotong es mambo menjadi tujuan diwaktu istirahat .
"Aku satu cah!"
"Aku dua!"
"Aku juga satu cah!"
Begitulah sahutan anak-anak kepadaku sembari menyodorkan uang dan ada juga yang langsung mengambil esnya.
"Iya, iya bentar, sabar yah!" aku benar benar disibukkan dengan pembeli yang begitu ramai, sampai tidak tau mana yang sudah bayar dan mana yang belum.
Sembari melayani pembeli aku masih berteriak. Hinga suaraku yang nyaring terdengar mengusik ditelinga anak kepala sekolah yang sedang bermain handpone bersama ketiga sahabatnya di dalam kelas.
"Argggghhhhh siapa sih berisik banget! Udah dibilangin nggak boleh jualan disekolah, ehh masih saja itu anak," ucap Aleta berdecak kesal. Ia berdiri dari duduknya dengan tangan terlipat didada.
Aleta adalah anak kepala sekolah yang seusia denganku. Penampilannya bak seorang putri. Kulit putih lagi bersih, serta pakaian yang harum dan rapi. Sangat berbanding 180 derajat dariku yang senang dengan berpakaian seperti laki-laki. Badan yang tak terurus serta baju yang tak rapi.
"Udah sikat aja Let!" sahut Saskia sahabat karibnya Aleta yang berambut keribo.
"Iya Let! anak kayak dia sesekali harus diberi pelajaran, biar jera." Ucap Sinta menyamai posisi Aleta.
Aleta melangkahkan kakinya menuju keluar kelas dengan mengacungkan petikan kedua tangannya diatas bahu sebagai isyarat untuk kedua sahabatnya mengikuti.
"Ayo....! Ayo...! buruan! dibeli....! dibeli...!" teriakku sembari sibuk mengurusi pembeli yang meminta kembalian.
Brukkkkkkkkkk.
Sebuah tendangan berhasil mendarat di termos yang berisikan es mambo, hingga esnya berjatuhan ditanah. Semua orang terkejut dengan perilaku Aleta cs yang datang tiba-tiba dan langsung menendang termos es dengan sengaja.
"Upsss sorry!" ucapnya terkekeh dengan menangkup mulutnya.
Semua orang menyingkir karna mereka tau yang berhadapan denganku adalah anak orang penting di sekolah.
Aku menatap Letta dengan tajam. Emosiku membeludak. Bagaimana tidak es yang kujualkan itu milik tetanggaku, yang pasti aku harus mengganti rugi.
"Mau loh apa ha?" Bentakku dengan kepalan tangan yang siap ku daratkan ke muka Aleta
__ADS_1
Shiftttt
Dengan sigap Saskia dan Sinta berdiri dihadapan Letta, dan meraih kepalan tanganku.
"Eitsss, lo tau kan yang lo hadapin ini siapa?" tanya Saskia menatapku tak kalah sengitnya.
"Gue nggak peduli!" aku menghempaskan genggaman itu "Mau dia anak kepala sekolah kek! anak presiden kek! gue nggak peduli kalau tingkahnya sama sekali tidak mencerminkan manusia!" bentakku seraya menonjok-nonjok kearah Aleta
Aleta membelalakkan matanya tidak terima atas ucapanku. "Apa lo bilang ha? lo itu sadar nggak? hidup lo itu cuman ngandalin orang tua yang pejudi, jadi jangan gaya-gayaan dong. Ngaca! Dasar anak haram." Kata Aleta sengit. Matanya melotot tak mau kalah, Ditatapnya diriku dengan tatapan jijik.
Aku tidak terima siapa pun yang menghina orangtuaku. Karna aku sadar apa yang orang tuaku lakukan terpaksa untuk menghidupi keluarga.
Tatapanku penuh kemurkaan seperti orang yang siap memangsa. Tanpa pikir panjang aku menerjang kedua sahabat Aleta yang berdiri menghalangiku, hingga membuat kedua sahabatnya tersungkur. Aleta menelan salivannya melihat apa yang telah ku perbuat pada kedua sahabatnya.
plak!
Sebuah tamparan halus berhasil mendarat dipipi Aleta yang mulus. Semua siswa melongo melihat apa yang telah aku perbuat benar-benar tidak masuk diakal, menampar seorang anak kepala sekolah yang sangat killer bahkan semua orang termasuk guru sangat takut padannya.
"Bangsat!!!" geram Aleta memegangi wajahnya.
Aleta menatap sekelilingnya dengan tatapan kebahagiaan melihat Letta sengsara. Kemarahannya semakin menculut. Dengan sigap ia meraih rambutku dan menjambaknya.
Aku tidak mau berdiam saja, perlawananku jauh lebih kuat. Aku membalas tarikan rambut Aleta yang begitu lembut dan harum tanpa rasa kasihan.
Aku tersenyum puas sudah membuat Aleta yang berperawakan harum dan rapi kini berantakan tak karuan. Aleta yang menyadari posisinya kalah meminta bala bantuan pada kedua sahabatnya.
"Woii.... Saskia! Sinta! tolongin gue!" teriak Aleta yang merasa sakit dengan tarikanku yang begitu kuat.
Sinta dan Saskia yang sedari tadi menatap ngeri padaku, hanya bisa berkata. "Mmm...anu Let, bukannya kita nggak mau nolongin. ini saja kita masih sakit, kita minta maaf yah!" sahut Sinta dan Saskia memegangi perutnya yang masih nyeri sebelum akhirnya mereka memilih pergi meninggalkan Aleta yang masih bergelut dengan aksinya.
"Brengsek!" umpat Aleta
Tak ingin menghilangkan kesempatan disaat lawannya mulai lengah aku menjatuhkan tubuh Aleta ketanah
Brukkkkkkkkkkkk....!!!
Kini posisiku berada diatas Aleta. Aku meraih kerah bajunya "Loh boleh menghina gue abis-abisan, tapi loh nggak berhak menghina orang tua gue, paham!" Bentakku dengan mata yang berbinar tepat dimuka Aleta.
Prittt..........prittt.........
Seorang bapak-bapak berambut klimis berkumis tipis menggunakan seragam satpam berlarian menghampiri, membuatku dengan sigap melepaskan Aleta.
__ADS_1
"Stoppp...stoppp!!!" teriak pak Aldi membentangkan kedua tangannya.
"Apa apaan ini ha? Sudah besar masih saja berkelahi. Malu dilihat adik kelas. Seharusnya kalian itu mencontohkan yang baik untuk adik kelas bukannya kayak gini!" bentak pak Aldi dengan kedua tangan yang terpaut dipinggang.
Pak Aldi mengedarkan pandanganya melihat semua siswa masih berdiam diri ditempat "Ini kalian semua juga, kenapa masih disini? cepat semuanya bubar!" emosi pak Aldi benar-benar terpancing saat semua siswa hanya diam saja dan malah menjadikan sebuah ajang tontonan.
"Huuu.....!!!" teriak semua siswa kesal pada pak Aldi yang terlalu terbawa perasaan kemudian pergi meninggalkan kerumunan.
"Dasar anak zaman sekarang pada nggak ada akhlaknya!" Gumamnya. Ia hanya menggeleng-nggelengkan kepala, melihat tingkah laku semua siswa dan siswinya yang semakin hari semakin menjadi jadi.
Pak Aldi menatap Aleta dengan lekat sesekali ia mengucek matanya untuk memastikan apakah yang dihadapanya benar-benar Aleta. Karna jujur saja, penampilan Aleta yang ada dihadapanya saat ini sudah tidak berbentuk seperti Aleta yang bak seorang Putri lagi, dengan rambut kusut yang tak beraturan, baju terkeluar serta wajah yang kusam.
Aleta yang risih dengan tatapan pak Aldi yang terlalu dekat dengannya segera memundurkan satu langkah tubuhnya "Ihhh pak Aldi kenapa sih?"
Pak Aldi terkejut mendengar suara Aleta yang sudah menjadi jawaban atas pertanyaan yang menggelayuti kepalanya "Loh? ini benaran non Aleta?" tanya pak Aldi sembari memegangi kedua bahu Aleta
Aku melotot menatap pak Aldi ketika mendengar ucapannya pada Aleta dengan panggilan non.
Norak! nan non, nan non. Ini sekolah bukan rumah kalee. Lagi pula pak Aldi mau-mau aja dibabuin sama nih orang Batinku memutar bola mata.
"Bisa nggak. Nggak usah pegang-pegang!" ucap Aleta angkuh dengan kedua tangan terlipat didada
"Ehh iya maaf non!" Balas pak Aldi segera menurunkan tangannya.
Aku benar-benar dibuat kesal melihat tingkah laku Aleta yang menurutku sama sekali tidak berperikemanusiaan.
"Emang yah mulut loh nggak ada sopan santunnya, sini gue ajarin!" ujarku yang siap menerkam mulut Aleta dengan tangan.
"Hey!!!" bentak pak Aldi seraya menangkap tanganku.
Aku mengernyit. Tidak mengerti dengan arah jalan pemikiran pak Aldi yang sudah dibela, malah balik marah.
"Kenapa pak? orang seperti dia emang pantas diberi pelajaran, supaya dia tau cara memanusiakan orang itu seperti apa?.... Oh, oke! sekarang dia boleh berkuasa karna ibunya kepala sekolah, tapi dia juga harus sadar bahwa tidak selamanya ibunya menjadi kepala sekolah. Bermegah-megahan dengan uang orang tua untuk apa? biar dibilang anak orang kaya? mau dihargain orang? ckkkk, kalau lo mau disegani banyak orang, lo harus ngandalin otak lo sendiri bukan otak orang tua lo...."
Plakkkk
Sebuah tamparan halus mendarat dipipiku. Hawa dingin dari tangan pak Aldi serta rasa panas dipipiku bergumpal menjadi satu, membuatku meringkih kesakitan. Tangan pak Aldi yang begitu besar membuatku tersungkur.
"Loh sudah keterlaluan Icah!" bentak pak Aldi
Aku memegangi wajahku setelah akhirnya aku mengernyitkan dahi, mengingat dimana letak ucapanku yang keterlaluan. Cukup lama. Hingga sesaat kemudian aku baru sadar. Kalau pak Aldi sangat membenci keluargaku karna pernah ada perselisihan dengan bapak. Padahal sebelumnya pak Aldi ialah salah satu sahabat karibnya bapakku, mereka selalu bersama baik suka maupun duka. Namun semenjak ada perselisihan diantara keduanya, membuat pak Aldi sangat membenci keluargaku. Ia mempermalukan aku dan saudaraku disekolah, dengan membocorkan bahwa bapakku seorang bandar togel. Sejak saat itu, aku Gilang maupun kak Bayu dijauhi bahkan diejek oleh beberapa teman sekolah kami. Tapi tidak padaku, aku masih memiliki sahabat sekaligus sepupu yang masih setia menemani. Namun kali ini berhubung Putri sakit ia tidak dapat membela diriku.
__ADS_1
"Udah pak langsung bawa ke mami aja!" pinta Aleta tersenyum sinis.
"Siap non!" sahut pak Aldi sigap menarik lenganku dengan paksa