Badai Pasti Berlalu

Badai Pasti Berlalu
Penguasa


__ADS_3

...Tidak selamanya yang berkuasa menjadi penguasa, semua ada batas kadaluarsa. Adakalanya yang diperbudak menjadi yang bertindak....


Tok...tokk...


"Assalamu'alaikum permisi buk" Ucap pak Aldi dibalik pintu kantor kepala sekolah.


"Waalaikumusallam iya, silahkan masuk"


Ceklek... Saat pintu itu terbuka aku tak kalah terkejutnya dari pemandangan di luar ruangan kepala sekolah. Ruangan yang benar benar elit, dengan alas lantai yang membalut tiap suduh ruangan, serta dengan corak keemasan.


Buk Yanti terkejut bukan main saat melihat keadaan anak satu-satunya. Ia berdiri dari kursi megahnya dan segera berlali menyambut putrinya. Bu Yanti dengan tubuhnya yang tinggi serta perawakan wajah yang terlihat sinis dan sadis sudah membuatku berdigik ngeri, sangat tidak disangka kalau anaknya bisa secantik ini.


"Kamu kenapa sayang?" Terlihat sangat jelas sekali dari wajah bu Yanti begitu mencemaskan anaknya, ia berlari menghampiri Aleta dan mentap wajah Aleta dengan sendu.


"Siapa yang berani buat anak mamah berantakan kayak gini?" Tanya bu Yanti sembari menautkan kedua tanganya pada wajah Aleta.


Aleta tak bicara hanya memberi isyarat dengan menunjuk ke arahku. Bu Yanti segera menatapku dengan lekat seolah ingin segera memangsa.


"Kamu apain anak saya ha?" Aku sangat terkejut dengan bentakkanya buk Yanti, aku tidak pernah mendapati kejadian seperti itu pada kedua orangtuaku apalagi sampai menyakiti tubuhku. Bentakkan bu Yanti seolah membisukan mulutku. Aku berdiri dengan tubuh yang gemetar ditambah lagi dengan perut yang lapar.


"Gimana ceritanya anak saya bisa sampai kayak gini Pak Aldi?" Ia yang melihat pak Aldi berdiri diantara aku dan Aleta mendongkakkan wajahnya mentap pak Aldi solah sedang mengintimidasi.


"Saya kurang tau buk! Tadi saat saya lagi keliling, terus ngelihat murid sedang berkumpul rame-rame, ehh saya samperin! Pas saya lihat ternyata anaknya ibuk lagi berkelahi dengan dia buk" Jelas pak Aldi sembari menunjuk kearahku


Sesekali kutatap wajah Aleta yang berdiri disamping pak Aldi dengan tangan yang terlipat didada, baju yang terkeluar dari rok, rambut yang sudah tidak terikat, ditambah lagi wajahnya yang kusam. Selang beberapa deting Aleta membalas tatapanku dengan tatapan sinis sembari menarik bibirnya membentuk senyum penuh kepuasan. Iya aku sadar saat ini dunia sedang tidak berpihak padaku


"Oh iya buk" pungkas pak Aldi memberikan isyarat pada bu Yanti untuk berbisik


Entah apa yang dibicarakan pak Aldi pada bu Yanti, tapi aku punya perasaan yang tidak enak. Ditambah lagi pak Aldi satu desa denganku yang sangat membeci ayah karna pernah ada perselisihan diantara keduanya


"Ohhhhh! baiklah, Sekarang kamu silahkan tunggu di luar Aldi, jagain pintu depan jangan suruh siapapun yang ingin masuk" Ujar Bu Yanti


Pak Aldi masih berdiam diri ditempat tadi sambil senyum sengar sengir, Bu Yanti yang seolah sudah paham apa maksud dan kemana arah tujuan pak Aldi ia dengan cekat mengambil dompet yang ada di dalam tasnya di atas meja.


"Ini buat kamu" Bu Yanti menyondorkan uang 200 ribu pada pak Aldi


"Ashiyapp buk, laksanakan" Merasa tujuannya telah terpenuhi, ia melangkahkan kaki dari ruangan itu. Namun sebelum ia pergi pak Aldi sempat mengibas-ngibaskan uang itu tepat dimuka ku, senyuman kepuasan tercipta begitu jelas.


***

__ADS_1


Seorang gadis kecil berlari setapak demi setapak menyusuri setiap kelas, dengan rambut yang terikat dua membuat ia pede dengan langkahnya. suasana yang sunyi menjadi bukti bahwa semua murid sudah tertib melaksanakan kegiatan belajar mengajar. Hingga akhirnya langkah mungil itu telah menghantarkan ia pada kelas tujuannya. Kelas 2 A, kelas yang berada diujung perbatasan antara SD dan SMP.


Namanya Alifa seorang gadis manis dan lucu, ia mempunyai rasa ketertarikan pada adikku. Wajar saja bila banyak yang menyukainya, seorang yang berperawakan tampan dengan kulit yang berwarna sawo mateng, bibir yang tipis serta hidung yang mancung. Setiap ada tugas ia selalu membuatkan padahal adikku tidak menyuruhnya ataupun memintanya. Ia duduk dibangku kelas 2 Sd sama seperti Gilang, namun kelas mereka berjauhan disebabkan kelas 2.B yang lama masih tahap renovasi karna habis gempa bumi.


Gadis kecil itu mengendap-ngendap berjalan menyusuri tiap jendela dikelas, ia mengedarkan pandangan mencari sosok keberadaan Gilang. Suasana kelas yang hening membuat Alifa harus berhati-hati melangkah. Ia terus berjalan hingga akhirnya tanpa disadari ia telah sampai pada sebuah pintu yang membuatnya terjatuh tepat dipertengahan.


Semua murid dikelas 2.A sontak tertawa ria kecuali Gilang dan bu Yasmin. Ia malu sekaligus gugup tak menentu, semua mata yang tadinya sibuk berkutik pada sebuah buku kini semua tertuju pada Alifa. Rasa malu yang ia terima mengalahkan semua rasa ngilu dikakinya.


"Alifa" Batin Gilang kebingungan


"Kamu kenapa nak? Apa kamu tidak masuk?" Seorang wanita yang hampir menginjak kepala 4 itu bertanya pada Alifa dengan lembut. Yang membuat semua murid berhenti tertawa.


Bu Yasmin adalah guru Bahasa Indonesia, seorang guru yang royalti. ia sangat mengayomi anak muridnya. Dengan mengajari semua murid yang seolah adiknya sendiri membuat semua murid nyaman ketika diajar bu Yasmin.


Alifa yang mendapati pertanyaan bu Yasmin dengan sigap bangkit dari posisinya dan segera merapikan rok yang ia kenakan.


"Mmm... Maaf buk Alifa mau bicara sama Gilang, ada hal penting yang harus dibicarakan" Alifa segan menatap wajah buk Yasmin, ia hanya mendudukan wajahnya.


Semua murid di dalam kelas sontak bicara "cie......cieee....cieeee" bahkan bu guru Yasmin pun ikut menjahili Gilang dan Alifa


"Cieee... Kayaknya ada yang mau ditembak ni" Sahut Bayu yang membuat kelas semakin tertawa lepas, Bayu adalah sahabat karibnya Gilang seorang yang berambut keriting, pecicilan dan penuh gairah.


Gilang menatap wajah Alifah penuh dengan kekesalan. Sedangkan Alifa hanya menunduk untuk menyembunyikan merah dipipinya.


"Ayo sini!" Ajak bu Yasmin.


Alifa pun dengan langkah yang ragu memasuki kelas itu.


"Oh iya, nak Alifa kenapa nggak masuk kelas?"


"Tadi bu kata pak Bambang siapa yang sudah selesai boleh keluar" Ucap Alifa pelan


"Ohhh gitu. Nah kalian anak-anak contoh ini Alifa, dia itu selain anak yang jago musik ia juga sangat pintar"


Tegas bu Yasmin


"Iya buk" sontak semua murid


"Sekarang nak Alifa mau ngomong apa sama nak Gilang?" Goda bu Yasmin

__ADS_1


"Emmm.... Tadinya mau bilang sama Gilang buk kalau kak Icah masuk kantor!" Icah yang tadinya hanya bisa menunduk kini menatap Gilang 


"Ha?" Seketika kelas menjadi ribut, mereka mulai sibuk menggibah "iya aku tau beritanya tadi dari aji" ucap siswa berbisik.


Gilang sudah tidak memperdulikan suasana lagi ia langsung pergi begitu saja.


"Gilang...!!!" Teriak bu Yasmin.


***


Gilang memaksakan diri untuk berlari sekuat hati. Ia tak menghiraukan bel pulang yang sedang berbunyi. Ia terus berlari hingga menghantarkanya pada sebuah gedung yang mewah dan bertingkat disebelah kantin bu Jamilah. 


Ketika semua siswa SD pulang anak SMP baru memasuki jam istirahat kedua. Mencari kakaknya ditengah ramainya siswa yang ingin pergi ke kantin tidak lah mudah, ditambah lagi dengan tubuhnya yang mungil sangat sulit untuk dapat melihat lebih leluasa. Dengan nafas yang terburu buru, ia bersandar pada tiang di lapangan basket.


"Kak numpang nanya, liat kak Feri?" Tanya Gilang pada salah satu siswa SMP yang sedang berlalu lalang melintasinya pergi ke kantin.


"Oh kamu adiknya Feri ya? Itu kakak kamu!" Remaja yang berkaca mata bulat menunjuk ke arah gedung tingkat dua.


Terlihat seorang yang bertubuh tinggi dengan mata sipit, hidung mancung serta mulut yang mungil sibuk berkutik dengan bukunya.


Gilang mengarahkan pandangannya pada arah tunjuk pemuda itu


"Tadi diajak kekantin katanya mau belajar! Yaudah kakak kekantin dulu yah!" Sambung siswa itu sembari tersenyum menepuk pundak Gilang


"Oh iya kak makasih yah kak!" Melihat laki-laki itu telah pergi meninggalkanya, Gilang berlarian sembari berterik . "Kak...!! kakak...!!! Kak Feri!"


Feri yang sibuk berkutik dengan buku dan bersandar pada dinding depan kelas, tiba-tiba merasa ada yang memanggil namanya ia segera mencari pemilik suara itu "Ehhh ngapain kamu kesini? Kenapa belum pulang?" Teriak Feri dari atas gedung


"Sini cepat" Ajak Gilang


"Iya, iya kamu tunggu disitu" Feri berlari berjuang membela kerumunan manusia yang sibuk bercengkerama.


"Kenapa dek? Kenapa belum pulang? Tasmu mana" Masih dengan nafas yang terburu buru dengan kedua tangan melingakar di pinggang untuk menetralisirkan nafasnya.


"Cepat kak ikut aku ke kantor" Gilang yang melihat Feri tiba dihadapanya dengan sigap menarik lengan Feri yang besar.


Dengan terpaksa Feri mengikuti langkah Gilang yang mungil "Ngapain ke kantor?" Tanya Feri penuh kebingunggan melihat tingkah Gilang yang menggubriskan pertanyaannya dan menarik lengan begitu saja. 


"Kak Icah masuk kantor kak, tadi dia bertengkar" Dengan nafas yang terengah-engah 

__ADS_1


Feri yang mendengar penjelasan Gilang segera melepaskan lengannya dan berlari meninggalkan Gilang dengan langkahnya yang lebar.


"Ehh kak tunggu!!!" Teriak Gilang


__ADS_2