
Jika gunung indah karna kawahnya dan pantai indah karna ombaknya maka manusia indah karna akhlaknya
Waktu istirahat adalah waktu yang ditunggu-tunggu semua murid ketika berjam-jam berkutik, dengan rangkaian materi yang sulit sekali untuk dipahami. Ketika semua murid menyempatkan waktu itu dengan urusan dunia tapi tidak pada Arka. Seorang laki-laki yang beperawakan tampan, dengan tubuh yang jangkung, hidung yang mancung serta kulit yang putih tak menciutkan nyalinya berjalan menuju musholah ketika trik matahari mulai menaik. Selain tampan yang tak kalah menawannya dari Muhammad Arka Ramadhan ialah sangat paham dengan ilmu agama. Tidak salah jika banyak dari ciwi-ciwi yang mengidolakan laki-laki yang super dingin itu, apalagi ditengah sebuah perdesaan seperti ini.
Waktu yang singkat terasa begitu lambat saat bu Yanti mengajar, diriku benar-benar dibuat ambyar. Arghhhhhh kenapa harus bertemu dia lagi? aku berdecak kesal.
***
Di sebuah Mushola kecil dengan pahatan yang begitu rapi berbalut warna biru dan putih membuat Mushola itu terlihat menyejukkan saat dipandang.
Terik matahari dan ngilu dikaki tak menggetarkan langkahku menuju mushola tempat tasku berada. Aku membuka kenop pintu mushola itu dan mencari tujuanku
"Alhamadulillah masih ada" Aku segera mengambilnya dan kembali melangkah untuk pergi. Saat ingin meraih kenop pintu langkahku terhenti ketika mendengar bacaan ayat suci Al-Qur'an yang terdengar begitu menyejukkan.
"Bismillahirohmanirohim, Ar-Rahman, alamal Qur'an........" Suara yang begitu indah disertai dengan alunan irama menggema keseluruh penjuru musholah.
Seperti terhipnotis, aku dibuat membisu dengan alunan yang begitu merdu, merasakan sedang berada dialam lain yang penuh dengan kedamaian dan ketenangan. Aku penasaran siapa sang pemilik suara itu? Tanpa ragu terus melangkahkan kakiku untuk mencari tahu.
Aku menyibakkan kain penghalang bewarna abu-abu yang membentang dihadapanku. Arka? MasyaAllah batinku takjub. Lagi-lagi aku dibuat membisu saat mendengar suara merdu yang memenuhi segala penjuru.
"Sodakallahuladzim" Aku yang tau kalau kalimat itu adalah kalimat penutup membaca Al-Qur'an dengan sigap menutup kembali kain penghalang dan pergi meninggalkan musholah sebelum ketahuan.
***
"Ehh dari mana kamu Cah? Aku cari-cari dikantin nggak ada!" Tanya Putri saat melihatku yang baru saja masuk kekelas.
"Ini, ngambil tas!" Seruku sembari menunjukkan tas.
Putri hanya Ber-oh-ria
Aku menempatkan tas lalu pergi melihat pemandangan dibalik jendela yang terhubung langsung kearah musholah. Putri yang sedari tadi memperhatikan arah pandanganku tertuju pada sosok Arka yang sedang berjalan menuju kelas.
"Cieee...cie... yang lagi ngeliatin pahlawannya" Goda Putri menyenggol lenganku ketika sedang sibuk memperhatikan laki-laki itu dibalik jendela.
"Ihhh...kebiasaan loh ya ngagetin orang" Bentakku gelagapan tak karuan.
"Ehhh... kalau nggak ada apa-apa biasa aja kale mukanya, nggak usah gelagapan kayak gitu. Apa jangan-jangan loh mulai suka yah sama ketua kelas tampan itu?" Goda Putri tertawa sambil mencolek daguku
"Hati-hati! saingan loh banyak, cantik cantik lagi" Sambung Putri berbisik
Aku dengan sigap menutup mulut Putri "Sttttt, bisa diam nggak sih Put?"
"Lagian siapa juga sih yang suka dengan laki-laki yang super dingin itu" Sambungku melipat tangan didada
"Yakin nggak mau? Aku aja nih Cah kalau belum punya pacar, bakal gue kejar tu anak sampai dapat" Sahut Putri merangkulku
"Terus apa masalahnya sama gue? Lagi pula perlu loh ingat DIA BUKAN TIPE GUE!" Aku menekankan ucapanku agar Putri percaya, dan berhenti dari omongannya yang nggak bermanfaat itu.
"Hati-hati loh entar kemakan omongan sendiri!" Putri masih saja menggodaku, apalagi melihat tingkah ku yang gelagapan membuat dia semakin tertarik untuk menjahili.
"Loh kenapa sih Put dari tadi ngeselin banget?"Aku benar-benar dibuat kesal oleh Putri, semua ucapan yang terlontar dimulutku selalu saja ada celah untuknya menyanggah.
"Eittsss selow buk jago! Gue cuman mau ngingetin aja, bilang makasih sama ketua kelas tampan itu" Ucap Putri bisik saat Arka sudah kembali masuk ke kelas.
"Idih loh nyuruh gue bilang makasih sama dia? Buat apa? Lagi pula dia maju karna atas keinginannya sendiri. Kalau pun gue bilang makasih sama dia, dia nggak bakal ngejawab, yang malu siapa? lah gue lah masa loh, nggak mungkin kan" Aku memilih untuk pergi dari Putri yang selalu saja mengusikku, Putri hanya bisa menarik udara melalui rongga hidungnya dalam-dalam dan mengeluarkannya dengan kasar.
***
Kring..... Kringg
Jam menunjukkan pukul 13.00 bel pulang pun berbunyi, semua murid yang awalnya pergi begitu rapi seketika pulang berantakkan tak karuan.
"Eh Cah! kamu duluan aja ya pulangnya. Nanti kalau ibuku nanya, bilang aja Putri masih ada urusan disekolah" Seru Putri menatapku.
"Nggak.. Nggak... Aku nggak mau" Aku tidak memperdulikan Putri sembari memasukkan buku kedalam tas.
"Ayolah Cah, sekali ini aja plisssss, yah! Yah!" Ia terus memohon sembari memperlihatkan wajah puppy eyesnya.
Ckkkkk aku berdecak kesal "Emangnya kamu mau kemana sih put? Ketemu pacar kamu yang berengsek itu?" Aku membalas tatapan Putri. Merasa pilingku tepat sasaran Putri hanya tersenyum malu sembari menggaruk-nggaruk kepala yang tidak sama sekali gatal.
"Udahlah Put! Putuskan aja, masih banyak laki-laki di dunia ini. Gue aja yang ngederin curhat loh nangis-nangis hampir tiap malam bosen, apalagi loh yang merasakanya. Emang segila itu yah cinta? Udah disakitin, di duain. Ehhh masih aja mau, logika dong Put"
Entah itu nasehat keberapa kali terlontar dimulutku pada Putri saat ia bercerita tentang hubungan mereka. Kadang saat ia bersedih dan belum memulai cerita aku sudah bisa menebaknya, saking seringnya cowok brengsek itu nyakitin Putri. Rasanya ingin sekali pukulan ini mendarat kewajahnya, namun aku selalu saja mengrungkan niatku mengingat tidak selang beberapa jam ribut mereka baikan lagi. Aku serasa di prankk oleh Putri dan Ilham, mereka yang pacaran, gue yang ribetnya, gue yang pusingnya, gue yang menderitanya, gue dan gue.
__ADS_1
"Hustttt...Jangan keras-keras bisa nggak, entar kedengaran yang lain kan nggak enak" Pungkas Putri sambil mengacungkan jari telunjuknya ke bibirku.
"Entar loh bakal ngerasain apa yang gue rasain Cah kalo loh udah jatuh cinta. Loh bakal ngerasain yang namanya budak cinta, buta karna cinta, tuli karna cinta dan...."
"Dan loh lupa dengan orang tua loh. Iya kan?" Timpalku memotong perkataan Putri yang seolah-olah dirinya pakar cinta yang mengerti segalanya.
Aku sendiri masih sulit untuk mendeskipsikan makna cinta yang sesungguhnya, karna cinta tidak hanya untuk sepasang laki-laki dan perempuan yang saling mengikat saja, namun sangat luas makna dan jangkauanyya. Mengenai jatuh cinta aku juga tidak terlalu paham seperti apa rasannya jatuh cinta? dan apakah aku pernah jatuh cinta?Kalau untuk berpacaran sendiri aku belum pernah, sudah bisa diterbak karna apa alasannya hehe..
"Ehhhh, jangan bawa-bawa orang tua dong Cah, gue kan jadi merasa bersalah. Gue nggak mau nangis disini. Lagi pula berpindah ke hati yang baru dari hubungan yang lama itu tidak mudah Cah. Gue males buat memulai kisah yang baru, mengenal orang baru, memahami karakternya dari awal lagi" Tatapan Putri sendu
"TERSERAH YAH PUTRI SAYANG" Sindirku sembari menautkan telapak tangan ke wajah Putri lalu pergi meninggalkanya.
"Eh Cah tunggu!" Putri melihatku meninggalkanya dengat cekat mengambil tas dan berlari mengejar.
"Yah Cah, Plissss... Sekali ini aja" Sahut Putri dengan nafas yang masih terengah-engah karna mengejarku
Aku menghelakan nafasku dengan kasar "Oke, tapi ingat! sekali lagi dia nyakitin kamu, gue yang bakal turun tangan"
Putri hanya menelan salivanya "I..iy..iya makasih yah Cah" Seperti mendapatkan segudang emas Putri segera memelukku.
"Eh Cah, loh tungguin gue nunggu Ilham yah, masa tega ngeliat sahabatmu yang cantik ini menunggu sendirian"
"Uwekkkkkk" Aku yang mendengar ocehan Putri rasanya ingin muntah.
"Eh jangan gitu dong sahabatku yang paling baik dan tidak sombong" Ujar Putri menyenggol tubuhku dengan tubuhnya
"Sabar Icah!" Aku bergumam sembari mengelus dada. Putri hanya terkekeh
"Emmmm kita enaknya nunggu dimana yah Cah?" Tanya Putri ketika sudah berada di gerbang sekolah dengan mengedarkan arah pandanganya mencari tempat yang santai.
"Emmm, gue tau Put tempat yang enak untuk nunggu Ilham" Putri dengan cekat menoleh kearahku dengan pandangan yang berbinar "Serius Cah? dimana?"
"Tuhh..." Putri mengarahkan pandanganya menuju arah yang ku tunjuk
"Di kuburan" Sambungku tepat ditelinga Putri
Kuburannya lumayan jauh namun masih bisa dijangkau oleh mata.
"Buruan mau kemana? Gue panas tau, mana klakson orang-orang berisik lagi" Bunyi klakson selalu berbunyi di sepanjang jalan, jalan yang sempit membuat macet berkepanjangan karna padatnya kerumunan manusia yang berlalu lalang ditambah lagi anak SMA yang baru pulang. Terjadinya kecelakaan di depan SMA sudah menjadi biasa terdengar di telinga.
"Yaudah kita duduk situ aja, sepi disana!" Putri menunjuk kearah sebuah bangku yang panjang di bawah pohon jambu yang rindang, tempat itu memang selalu sepi karna pemilik rumah tepat dibelakangnya sudah tidak berpenghuni
Deruan angin yang menyejukkan membawa polusi jalanan siap menghantam, kami tidak begitu menghiraukan karna sudah menjadi sebuah santapan. Mungkin itu menjadi salah satu alasan kenapa kami berkulit hitam, Ehh maksudnya sawo mateng.
Sudah 30 menit waktu berlalu dan jalanan sudah tidak begitu macet namun batang hidung Ilham masih belum terlihat. "Masih lama Put? Gue belum makan nih dari tadi?" Sahutku memecahkan keheningan
"Sabar yah Cah, bentar lagi kok! Ehh itu dia" Seorang laki-laki dengan rambut gondrong, celana ripped jeans dan mengenakan motor Pixion tiba dari arah pasar.
Tinn....Tin....
"Yaudah dia udah jemput, makasih yah Cah. Gue pamit dulu!" Sambung Putri dan memelukku
"Ohhhh jadi ini yang dimaksud cinta itu buta ya Put?" Sahutku berbisik di telinga Putri dengan pandangan yang masih menatap kearah Ilham, karna masih tidak percaya seorang Putri bisa tergila-gila dengan lelaki yang ugal-ugalan itu.
"Terserah loh mau bilang apa, dahhhh!" Balas Putri dan berlari menuju Ilham.
"Oh gini balasanya, nggak nungguin gue dapet angkot dulu?" Aku kesal karna kini giliran aku yang ditinggal sendirian
Putri yang samar-samar mendengarkan ucapanku hanya bisa melambaikan tanganya seraya melaju dengan kecepatan tak terkira. Aku terus menatap Putri sampai punggungnya tak terlihat dari arah pandangan.
Tinnnn...Tinnn...
Aku terkejut saat suara klakson angkotan umum berwana biru berada disampingku "Mau balik neng?" Tanya seorang bapak-bapak yang berumur 40 tahunan sedang mengemudi
"Iya pak, bentar" Dengan sigap aku mengambil tas yang berada disampingku dan segera menaiki mobil itu.
Arka! Batinku dalam hati saat melihat Arka sedang duduk di angkot. Hanya ada dua penumpang di dalam mobil tua itu, seorang bapak-bapak yang berada disamping pengemudi dan Arka duduk tepat dibelakang pengemudi. Aku mengambil posisiku paling belakang. Bapak itu melihatku untuk memastikan aku sudah duduk dan segera melajukan mobilnya.
Kenapa dia baru pulang? Ngapain dia dari arah pasar? Batinku penasaran
"Pulang kemana dek?" Tanya sopir memecahkan keheningan sembari menatap Arka di balik kaca spion dalam mobilnya.
Aku penasaran dengan jawaban Arka, karna aku tau suara Arka yang kecil membuatku harus menggeser sedikit dudukku hingga tepat di hadapan jendela. Aku membuang pandanganku ke arah luar seolah-olah tidak perduli dengan pembicaraan mereka.
__ADS_1
"Ke Muara Payang pak" Suara Arka terdengar begitu ngalir melewati telingaku
Ohhhhh! Arka balik Muara Payang satu kecamatan dong sama gue. Batinku sembari mengangguk-angguk
"Oh Muara Payang! Emang asli dari sana dek?" Bapak itu seolah tidak percaya kalau Arka berasal dari desa, melihat ketampanan Arka yang seperti orang korea
"Nggak pak!" Aku mengernyitkan dahiku mendengar ucapan Arka yang singkat dan tidak jelas
"Ohhh bukan ya! Pantesan, wajahnya nggak ada mirip-miripnya kayak orang desa" Sambung pak sopir dengan menatap kearah depan.
"Iya pak ya, kayak orang Korea!" Seru seorang bapak-bapak yang duduk disebelah pengemudi
"Iya, makanya saya Tanya tadi!" Aku yang mendengar ucapan sopir dan penumpang hanya berekspresi seakan-akan ingin muntah. Sedangkan Arka hanya menggubriskan mereka dengan membaca.
"Ada apa tu di depan?" Seorang sopir kebingungan melihat jalan di arah depan begitu macet dan membentuk kerumunan, akupun mengarahkan pandanganku kearah depan dalam mobil, begitu juga dengan Arka.
"Kenapa rame-rame?" Tanya sopir saat melihat seorang pemuda yang lewat dan baru saja pergi dari kerumunan itu
"Ada orang kecelakaan pak"
"Ohhh! Sekarang sudah diamankan?" Sahut bapak-bapak disebelah sopir
"Iya pak, dua-duanya sudah dilarikan kerumah sakit"
"Oh iya makasih yah!" Melihat jalanan yang sudah tidak macet dan teriakan klakson yang terus meneriaki membuat pak sopir melajukan kendaraanya
"Sekarang lagi rawan-rawannya yah kecelakaan" Ucap pak sopir
"Iya, soalnya ini udah memasuki bulan naas. Jadi kalau ada sanak keluarga yang mau pergi, lebih baik jangan dulu" Aku hanya ber Oh-ria mendengarkan penjelasan bapak itu karna tidak mengetahui apa-apa.
"Ehemmmm" Aku yang semulanya membuang muka keluar kini menatap Arka dengan tatapan intens
"Maaf sebelumnya pak, tidak ada yang namanya bulan naas atau sial semua terjadi atas kehendak Allah, kita tidak boleh mempercayainya karna termasuk salah satu perbuatan syirik atau menduakan Tuhan" Aku langsung terkekeh dan menutup mulutku saat mendengarkan penjelasan Arka yang membuat bapak itu malu dengan perkataanya bebera menit yang lalu.
"Tuhh dengarin" Sahut pak sopir
"I...Iy..iya aku minta maaf, soalnya aku sendiri taunya dari orang-orang!" Bapak itu malu dan menggaruk-nggaruk kepalanya yang sama sekali tidak gatal.
Ucapan Arka beberapa menit yang lalu membuat suasana menjadi sunyi, mungkin kedua bapak itu takut untuk berbicar, lebih tepatnya salah ucap
Aku meraih saku celana untuk mengambil ongkos saat sebentar lagi ingin sampai, namun aku baru tersadar saat tidak menemukan uang disaku celana Astaghfirullah gue lupa minta uang tadi Aku menepuk jidatku
Duhhhh gimana ini? mana sebentar lagi mau turun? Apa aku harus pinjam uangnya Arka? nggak! nggak! nggak boleh! Mau taruh di mana muka gue. aku mengusap wajahku
Aku tidak punya pilihan lain Bismillah "E...ehem..! Hemmmm, ehemmm! EHEMM!!" Aduhh ini anak tuli atau apasih. Aku berdecak kesal, tingkah dingin Arka benar-benar meresahkan Awas loh yah bakal gue buat loh mau bicara sama gue tunggu aja. Aku sangat tidak tenang dengan posisiku saat ini, kakiku yang terus bergerak, mulut yang menggigiti jari.
Perlahan kututup mata untuk menyiapkan nyaliku "ARKA!!!" Teriakku masih dengan mata tertutup. Alhasil tidak hanya Arka yang menoleh, namun bapak-bapak dan sopir menoleh kearahku dibalik kaca spion.
"Ng...Nggak pak, manggil dia" Ucapku gelagapan sembari menunjuk ke arah Arka.
Mereka hanya ber oh-ria. Alhamdulillah batinku mengelus dada.
Aku kembali menatap Arka, Seketika tubuhku membeku saat pandangan kami bertemu, aduhhh kenapa natapnya kayak gitu Arka, pandanganmu melemahkanku Batinku menggerutu
"Kenapa?" Pertanyaan yang ringan namun memberat di jantungku.
"Emmmm, ada uang lima ribu? Besok saya balikin" Aku mengankat tanganku dengan ragu, terlihat tanganku begitu bergetar aku kembali menurunkannya.
Arka mengambil uangnya di dalam saku celana tanpa berbicara sepatah kata, lalu menaruhnya ke samping tempatku duduk. Dengan sigap aku mengambil uang itu
"Kiri pak!"
"Emm makasih yah" Ucapku pada Arka sebelum turun dari mobil, seprti biasa dia hanya diam saja.
Aku berlari untuk cepat segera pulang kerumah, meluapkan segala rasa.
...
 ...
MUHAMMAD ARKA RAMADHAN
__ADS_1