Badai Pasti Berlalu

Badai Pasti Berlalu
Kecelakaan


__ADS_3

...Dukamu adalah laraku, tangismu menjadi pertanda bahwa diri ini belum bisa berbuat apa-apa ...


Di sebuah rumah kayu berwarna biru terlihat dari kejauhan orang yang sedang berkerumunan dirumahku, sebenarnya ini sudah lazim karna mereka berdatangan hanya untuk memasang togel. Namun ramainya kali ini tidak seperti biasanya, kali ini tidak hanya bapak-bapak namun ibu-ibu juga ikut serta.


Aku mengernyitkan dahi, apa yang sebenarnya terjadi dirumahku? pikiran ku melayang kemana-mana, aku takut jika yang datang adalah polisi yang menyergapi bapakku.


Tanpa berpikir panjang aku berlari untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Deruan nafas yang terengah-engah serta bendungan air mata yang sudah siap ditumpahkan


"Pakk....!Bapak....!" Teriakku membelah kerumunan manusia di depan halaman rumah.


Hingga tiba disebuah ambang pintu yang membuatku membisu. Seorang laki-laki yang kucari, kini bersandar pada sebuah dinding tepat di hadapanku. Matanya sembap, wajahnya pucat dan lesu, serta disampingnya ada beberapa pamanku dan kakek yang sedang berbicara dengannya.


Tubuhku bergetar begitu hebat sembari menutup mulutku menahan tangis. Dengan langkah yang gontai aku berlarian untuk memeluk bapakku. Seketika tangisanku pecah sejadi-jadinya


"Bapak...! Kenapa pak? Jangan nangis?" Berharap pelukanku menenangkan hatinya malah membuatnya menangis terisak-isak.


Sebuah tepukan halus mendarat dipundakku, akupun melepaskan pelukan"Ayo ikut tante" Ucap bibi Yuli lembut sembari menggenggam tanganku.


Aku menatap wajah bapak yang semakin sendu, dan beberapa paman memberikan isyarat anggukan untuk mengikuti bi Yuli, dengan terpaksa aku mengikutinya "Apa yang sebenarnya terjadi bi? kenapa bapak menangis" Ucapku terisak.


"Sabar yah sayang!" Sahut bi Yuli lalu merangkulku, bukanya menjawab malah semakin membuatku penuh kebingungan.


Hingga langkahnya berhenti pada sebuah kamar milikku dan ibu, Mataku terbuka lebar saat arah pandangan tertuju pada ibu yang sedang berbaring dengan mata terpejam ditemani oleh Gilang dan beberapa tetangga.


"Diam yah sayang, ibumu lagi pingsan. Tadi kakakmu tabrakan sama seorang kakek yang baru saja pulang dari sawah, hingga menyebabkan kakinya patah dan keluarganya meminta tebusan sebesar 10 juta untuk membeli kaki palsu, dan juga perempuan yang dibonceng kakakmu mengalami luka parah, keluarganya tidak terima anak gadis satu satunya cacat, mereka meminta tebusan 5 juta"


Degggg...


Bagai hantaman batu besar menimpaku, aku bersandar pada dinding kamar dan menjatuhkan tubuhku, dengan pandangan masih mengarah pada ibu. Gilang yang menyadari aku telah pulang berlarian menangis dan memelukku.


Dimana kami harus mencari uang sebesar itu? Sedangkan untuk makan saja kami susah! Lima belas juta bukanlah uang yang kecil. Aku mengeratkan pelukan Gilang yang sedang terisak.


"Sekarang kakaknya dimana bi?" Tanyaku pada bi Yuli yang memilih duduk disampingku


"Kata pamanmu tadi, dia masih dalam perjalanan menuju pulang" Sahut bi Yuli sembari mengusap kepalaku


Arggghhhh


Ada kecewa yang yang tak sempat terucap ketika mata hanya bisa menatap, disaat adeganmu begitu pilu namun aku belum bisa mengambil peranku.


***


Malam menyergap suara bapak bapak terdengar dari luar kamar yang membuatku terjaga.


"Aduhh selisih satu angka saja"


"Sudah saya bilang pasang yang itu juga"


"Loh gimana ri, dapat?"


"Cuman seribu, nyesal gue"


Aku mengambil benda pipih yang ada dinakas, kulihat jam sudah menunjukkan pukul 03.00. Seorang perempuan tertidur begitu pulas disampingku, kutajamkan pandangan pada tubuhnya untuk memastikan masih bergerak. Aku mengernyitkan dahi sembari duduk dan meletakkan telunjukku di arah bawah hidungnya, karna tidak mendapati tubuhnya yang bergerak sedikit pun. Deruan nafasnya yang begitu halus seketika menenangkan diriku "Hufttt Alhamduliilah" Batinku mengelus dada. Mungkin karna tebalnya selimut menjadi penghalang.


Perlahan aku melangkahkan kakiku untuk mengintip di ruang tamu. Wajah yang pertama ku tatap adalah bapak, ia hanya terdiam dengan berpangku tangan di dagu dengan kacamata andalannya sembari menunduki sebuah tulisan yang penuh angka, dan kedua temannya yang masih sibuk meratapi kekalahanya.


Aku tekejut saat bapak menyadari kehadiranku dibalik pintu kamar "Ehh yuk belum tidur?"

__ADS_1


Ayuk adalah sebutan untuk kakak perempuan, bagiku itu adalah panggilan sayang bapak kepadaku "Bukan belum tidur pak, tapi sudah bangun. Bapak itu yang tidurlah!" Ucapku mendekat kearah ayah


"Bentar dikit lagi. Tolong buatkan kopi untuk bapak dan pamanmu nak!"


"Ahhhh, biarlah nggak usah Cah" Sahut paman Ari sembari mengibas-ngibaskan tanganya


"Iya lagi pula ini masih malam tidurlah" Sambung paman Jang. Mereka adalah sahabat karibnya bapak, yang tak pernah absen dari rumah.


Batinku menggerutu melihat mereka benar-benar lupa waktu, jam 03 pagi masih dibilang malam hmmm


"Nggakpapa paman, kan jarang-jarang Icah buatin paman kopi kalau bukan terjaga kayak gini" Sahutku melemparkan senyuman lalu pergi ke dapur untuk memasak air. Biasanya memang ibu yang selalu membuatkan kopi pada tamu-tamunya bapak


"Ini angka untuk singapur besok ri" Ujar paman Ujang menyodorkan catatan angkanya


"Ahh gue kapok sama loh jang, coba aja loh nggak mempengaruhin gue, udah menang banyak gue barusan"


"Woii kali ini beneran ri, percayalah!" Sambung paman Ujang merangkul paman Ari


"Ini paman kopinya diminum" Ucapku sembari menyodorkan segelas kopi pada mereka yang sibuk berargumen dengan pendapat mereka masing-masing.


"Wahh makasih yah Cah, udah makin pintar yah udah bisa bikin kopi!" Sahut paman Ari sembari melepaskan rangkulan paman Ujang dan menghirup kopinya


"Iya paman sama-sama"


Aku mengarahkan pandanganku kearah bapak, kerutan dikening menjadi saksi betapa banyaknya beban pikiran yang ada dikepalanya "Ini pak kopinya!"


"Ehhh iya nak, makasih yah! sudah kembalilah kekamarmu dan tidurlah!" Sahut bapak lalu menatap kearahku dan tersenyum


Aku memegangi pundak bapak "Pak! bukan Icah yang harus tidur, tapi bapak. Tubuhmu yang song jago ini juga lelah, jangan dipaksain! nanti sakit"


"Tau tu, bapakmu memang orang yang paling keras kepala Cah!" Sahut Paman Ari sembari mencibikkan bibirnya


Gilang tidur disamping kak Feri yang dijaraki sebuah bantal guling karna khawatir terkena lukanya. Wajah dan kaki kak Feri hampir penuh dengan balutan perban. Ada perasaan iba sekaligus kesal yang menyergapi diri saat melihatnya. Andai saja, dia tidak membuat masalah ini pasti beban bapak tidak akan seberat ini. Namun perkataan Arka kembali menyadarkanku Semua terjadi atas kehendak Allah, mau sebersi keras apapun kita untuk menghindari bala' kalau itu sudah takdirnya, kita tidak bisa mengelak. Aku hanya bisa menghembusakan nafasku dengan kasar


"Kenapa belum kekamar yuk?" Suara bapak menyadarkan lamunanku


"Eh iya pak" Aku melangkan kakiku menuju kamar. Saat ingin menenggelamkan kepalaku di dalam selimut, suara bapak-bapak kembali membuatku penasaran aku mencoba duduk ditepi ranjang.


"Bagaimana cerita Feri bisa nabrak orang itu Wan?" Tanya Paman Ari penasaran sembari menoleh kearah kak Feri


Bapak yang melihat paman Ari berbicara, ia menegadahkan kepalanya untuk menatap paman Ari "Jadi begini kronologinya, pada saat anak saya pulang dari sekolah bersama temanya membawa motor dengan kecepatan tinggi, tiba-tiba dipersimpangan ada bapak Herman yang baru saja pulang dari sawah melintasi jalan raya tanpa melihat kiri kanan. sementara jarak motor anak saya sangat dekat sehingga terjadilah kecelakaan, yang mengakibatkan kaki pak Herman patah dan harus diamputasi. Dia meminta uang sebesar 10 juta untuk membeli kaki palsu. Tidak hanya itu gadis yang dibonceng anak saya mengalami luka parah, orang tuanya meminta uang untuk berobat sebesar 5 juta" Ucap Bapak pilu


Paman Ari dan Ujang tertegun menelan salivannya mendengar penjelasan bapak.


"Sedangkan kalian tau sendiri makan saja kami susah" Sambung bapak menenggelamkan pandangannya dengan tangan


Degggggggg


Ohhh berarti yang kecelakaan tadi siang kami lihat itu kak Feri? Aku memeluk kakiku sembari menenggelamkan wajah diatasnya, aku menahan tangis dengan menggigit bibir bawah. Aku tidak ingin suaraku terdengar yang membuat ayah semakin bersedih.


"Aku bisa nolong Wan, tapi tidak bisa menolong lebih banyak, kamu tau sendiri anak saya sebentar lagi mau lahiran" Sahut paman Ari tertegun


"Tidak usah ri, kamu jauh lebih membutuhkannya. Masih banyak persiapan yang harus kamu siapkan untuk kelahiran anak kamu" Balas bapak menantap paman Ari lekat.


Suara isak tangisku terkeluar begitu saja sehingga membuat ibu yang sedang berbaring menggerakkan tubuhnya. Dengan sigap aku menaiki tempat tidur dan membelakangi ibu. Ibu yang mendengar suara isak tangis mentapku untuk memastikan apakah aku sedang menangis, atau hanya mengigau. Ia mendongkakan wajahnya menatapku, alhasil aku sudah berpura-pura tidur sebelum ibu menyadarinya. Ibu yang melihatku baik-baik saja, lalu menarikan selimut menyelbui diriku dan segera memelukku.


***

__ADS_1


"Icah Nur Rahma?" Panggil bu Tika yang sedang duduk di kursi guru


"Hustt.. Icah..Icah!!" Bisik Putri sembari menyenggol lenganku yang sedang tertidur dengan menautkan lengan diatas meja untuk menutupi muka.


Aku terkejut karna Putri menyenggolku dengan spontan "I..iya siap buk!" Sahutku memecahkan keheningan sembari maju kedepan kelas untuk mengambil spidol


Sontak seluruh siswa tertawa terbahak-bahak kecuali Arka dan Putri, laki-laki itu menatapku dengan tatapan dinginnya sedangkan Putri melihat tingkahku malu melihatnya, ia menutupi mukanya dengan tangan.


"Mau ngapain kamu?" Ucap bu Tika menatapku dengan tajam


"Tadi buk Tika manggil Icah kan? Icah mau ngejawab soal yang ibu berikan?" Ucapku polos "Eh tapi kok papan tulisnya kosong buk?" Sambungku penuh keheranan melihat papan tulis yang masih kosong


"Yang nyuruh kamu ngejawab soal siapa? memberikan materi saja saya belum, kamu udah mau ngejawab! mau jawab apa kamu? Saya manggil kamu itu untuk ngabsen! Sekarang cepat cuci muka kamu! Jam segini masih saja ngantuk" Bentak bu Tika menunjuk kearah luar untuk mempertegas perintahnya.


"Maaf buk, baiklah permisi buk" Sahutku berlarian keluar kelas.


***


"Parah loh Cah masih pagi pagi udah ngantuk aja" Ujar Putri memasukkan buku kedalam tasnya


"Sudahlah Put gue malas berdebat dengan loh hari ini" Ucapku malas dan meninggalkan Putri dalam tidurku diatas meja


"Cah gue tau loh lagi punya masalah, gue udah dengar semua dari bapak tentang kejadian kak Feri kemarin, gue paham apa yang loh rasain, tapi nggak kayak gini juga, disaat sekolah yah sekolah" Ucap Putri merangkulku


Aku mendengar penjelasan Putri seolah emosiku terpancing, aku melepaskan rangkulannya dan mendongkakkan wajahku menatapnya dengan lekat.


"Loh nggak akan pernah paham put sebelum loh ngerasain apa yang gue rasain" Geramku sembari mengacungkan jari telunjuk dihadapan Putri


"Heyy Icah Nur Rahma, loh lihat disekeliling loh ini" Sahut Putri kembali merangkulku dan mengarahkan telunjuknya kearah seluruh siswa yang sibuk dengan aktivitas mereka masing-masing


"Loh lihat Cah! Apa loh pikir mereka yang tertawa terbahak-bahak itu nggak punya masalah? Apa loh lihat yang sibuk bercengkrama itu nggak punya masalah, dan apa loh lihat hidup gue ini baik-baik saja? Nggak Cah" Bentak Putri penuh kekesalan karna sudah berapa kali mencoba menghiburku namun kuacuhkan saja


Aku menatap Putri berkata dengan tulus dan air mata yang sudah siap ditumpahkan dengan sigap aku menarik bahunya untuk ku peluk.


"Maafin Icah ya Put, Icah tau Icah salah" air mataku jatuh dengan sendirinya, aku beruntung punya sepupu sekaligus sahabat seperti Putri, dengan keegoanku, dengan kekanakkanku ia bisa menyempurnakanya melalui kelebihannya


Putri mengeratkan pelukkan "Iya Cah maafin gue juga yah, mungkin cara gue udah berlebihan pada Icah, tapi percayalah cah itu semua gue lakuin karna gue sayang sama loh"


Putri menarik bahu dan menatapku dengan lekat "Loh tau cah kenapa mereka walaupun dengan seribu masalahnya namun tetap terlihat baik baik saja? Karna mereka sadar cah, percuma! nggak ada untungnya. Malah bakal jadi penghalang untuk kita melakukan hal-hal lainya! dan gue minta sama loh kalo lagi sekolah yah sekolah, urusan masalah nanti saja, loh harus fokus untuk belajar supaya bisa tercapai impian loh, paham kan?"


"Cailah loh kayak ngajarin anak kecil aja Put!" Sahutku terkekeh melepaskan lengan putri dipundakku


"Emang anak kecil uwekkkk" Ucap Putri menjulurkan lidahnya


"Sembarangan loh yah!" Tanganku rasanya gatal untuk mencubit Putri yang selalu saja berhasil membuatku kesal


"Eitsss, gitu dong senyum"


"Sekali lagi makasih yah Put, udah berhasil bikin hari hari gue kesal" Aku menekan setiap ucapanku dihadapan Putri


"Cailah gue kira apa, yaudah yuk kekantin"


"Tapi loh yang traktir yah!"


"Siapppp sekalian balas kebaikan loh kemarin" Sahut Putri menatap daguku


"Iya, gara gara loh kemarin gue telat makan"

__ADS_1


"Yaudah yu! cepat-cepat, entar keburu nggak kebagian" Ajak Putri menarik lenganku


__ADS_2