
...Jangan ngerubah harimau untuk menjadi kucing karna mereka mempunyai kelebihan dan keunikan tersendirinya. Begitu juga manusia jangan ngerubah diri untuk disukai banyak orang cukuplah jadi dirimu apa adanya, karna kamu cantik dengan caramu sendiri....
"Assalammu'alaikum" Sahutku ditengah ramainya orang yang sedang duduk berkumpul dengan beberapa cangkir kopi yang terhidang dihadapan mereka
"Waalaikumusallam" Sontak semua menoleh kearahku, terlihat beberapa tamu dengan pakaian yang begitu rapi dan kakak yang sedang berbaring di atas Kasur tipis sudah cukup menjadi jawaban untukku. Aku tau mereka adalah keluarga korban yang mungkin untuk menagih janjinya atau sekedar untuk melihat keadaan kakak.
Aku melangkahkan kakiku memasuki ruang tamu dan bersalaman pada semua orang. "Ohhh ini anak gadis yang kamu ceritain tadi wan?" Ucap seorang bapak-bapak berambut klimis yang duduk disebelah bapak. Aku menyalaminya sembari melontarkan senyuman, padahal di dalam hati aku bertanya-tanya apa yang sudah bapak ceritakan tentangku pada mereka
"Haha iya Kar, punya anak gadis serasa punya anak bujang. Teman kemana-mana, bapaknya pergi pasti mau ikut" Ucap bapak terkekeh sembari mengusap kepalaku dibalik jilbab putih. aku tersenyum melihatnya tertawa lepas ahhhh lagi-lagi dia menyembunyikan luka dibalik tawa
"Kejadian lucunya Kar waktu dia masih kecil, saking terus mau ikut kemana bapaknya pergi. Waktu itu pertama kali saya ngajarin sholat dengannya. Nah kebetulan saya ngajarinnya di masjid, karna habis sholat maghrib ada tahlilan disana, jadi pikir saya sekalian aja. Masih sekitar 30 menitan lagi waktu maghrib, tapi kami sudah stand by. Setelah selesai belajar sholatnya pas banget waktu adzan berkumandang, nah saya suruh Icah ngambil wudhu dulu karna kebetulan saya sudah wudhu dirumah. Pikir saya dia sudah ikut sholat dibarisan belakang ehh taunya pas sudah mau alfatiha dia lari tergesa-gesa dengan kainnya dan ikut sholat dibarisan laki-laki" Sontak semua tertawa terbahak-bahak tak terkecuali kak Feri yang sedang berbaring. Aku hanya melongo mendengar cerita bapak entah apa Siasat dan tujuan bapak menceritakan itu. Aku benar benar malu, ditambah lagi anak bapak Sakar yang tampan seumuran gue ikut tertawa. Sesekali ku lontarkan senyuman keakraban untuk menghanyutkan suasana
Lakukan apa yang membuatmu bahagia pak sekalipun anakmu menderita hehe
"Haha... tapi sekarang sudah gadis, cantik lagi" Ucap bu Yuli dibalik senyumnya
"Iya tante, lagi pula itu kan waktu kecil"
"Terus... terus... gimana ceritanya?" Ucap paman Diko terkekeh
"Sudah ah Icah mau ke belakang" Sahutku kesal, sepertinya mereka benar-benar puas mempermalukanku. Aku meninggalkan ruang tamu yang masih diisi dengan tawa
"Buk...!" Sahutku merengek layaknya seorang anak kecil yang mengadu pada ibunya
Aku melihat ibu tersenyum kekeh sembari memasukan beberapa kue kedalam piring saji untuk hidangan para tamu "Ibu kok ketawa, pasti dengar cerita bapak tadi kan" Ucapku manja sambil memeluki ibu
"Haha ibu cuman keingat kejadian waktu itu"
"Ihh... Jangan diingat lagi bu, malunya sampe ubun-ubun"
"Hahaha.... Iya, iya... Nah sekarang antarkan dulu ini ke ruang tamu" Pinta ibu menyodorkan beberapa toples dan piring saji yang berisi kue diatasnya
"Males bu, pasti mereka masih ngetawain Icah"
"Yaudah minggir dulu, gimana ibu mau ngantar kuenya kalo kamu peluk ibu kayak gini. Disuruh nganter nggak mau" Dengan terpaksa aku melepaskan pelukkanya.
***
Kriukkkkkkkkkk
"Am gue laper" Sahut Putri sambil memegangi perutnya yang terasa lapar
"Ihh... Kok loh norak banget sih Put. Malu-maluin tau, untung lagi nggak ngumpul sama temen-temen bisa abis abisan gue dicemooh" Ilham yang menyadari suara perut Putri yang bergemuruh segera menyadarkanya bermain dari ponsel birunya, entah sedang apa yang ia lakukan pada handponenya.
"Yaa maaf, gue kan laper, gue belom makan, kita makan dulu yah" Ucap Putri menarik jaket hitam Ilham
Ilham melihat jam yang ada dilengannya menunjukkan pukul 16.00 "Udah jam empat, kita pulang aja yah. Makanya dirumah aja, soalnya aku ada jadwal balapan jam lima"
"Tapi ..."
"Kapan-kapan aja makannya yah sayang!" Sahut Ilham sembari mencium punggung tangan Putri
Seakan terkena pelet cinta. Dimata Putri satu kebaikkan Ilham mengalahkan seribu keburukkan Ilham dimatanya.
***
"Yasudah pak Iwan kami pamit mau pulang" Ucap pak Sakar dan berdiri dari duduknya
"Ehhh kok cepat banget pak!" Sahut bapak mensejajarkan tubuhnya
"Iya, soalnya kasihan bapak sendirian dirumah sakit"
"Oh yasudah salam yah buat bapaknya, insyaAllah uangnya akan kami usahakan secepatnya"
"Iya pak makasih sebelumnya" Ujar pak Sakar segera menjulurkan tanganya untuk bersalaman diikuti oleh anak dan istrinya
"Kami pulang Fer, semoga cepat sembuh" Sambung pak Sakar melemparkan senyuman pada kak Feri karna melihat keadaan untuk bersalaman tidak memungkinkan
Kami beruntung anak yang ditabrak kak Feri masih punya rasa kasihan, apa mungkin karna melihat keadaan rumah kami? atau melihat keadaan kak Feri? Yang pasti kami berterimakasih atas pengertiannya
***
__ADS_1
"Icah...Cah..." Teriak ibu dari arah dapur sedang memasak
"Iya... buk?" Sahutku di depan halaman rumah yang sedang menyirami bunga
"Tolong belikan ibu garam!!"
"Bentar ya buk!" Entahlah seperti sudah menjadi kebiasaan paling ampun disuruh suruh oleh ibu. Aku berlarian menuju rumah Putri yang ada di seberang jalan dari rumahku untuk menghindari perintah ibu
"Sembilan, sepuluh, selesai" Jam sore adalah jam anak-anak untuk bermain, dari ujung desa semua berkumpul membentuk permainan, dari mulai bermain petak umpet, bermain kelereng, karet dan juga layang-layangan. Suasana indah seperti inilah yang tidak akan ditemukan diperkotaan.
Langkahku terhenti saat melihat Gilang yang sedang bermain petak umpet garis dibibir menarik senyuman mencurigakan
"Itu Gilang!" Teriakku sembari menunjuk kearah Gilang yang sedang bersembunyi
"Gilang kalah" Sahut seorang bocah yang menjaga dinding pertahanan hehe
"Argghhhhhh apa maumu ha?" Teriak Gilang berlarian mendekatiku
"Eitttssss lo dipanggil ibu" sahutku mengacungkan jari telunjuk tepat dibibir Gilang
"Ngapain ibu manggil?" Tanya Gilang penasaran
"Mene ketehe! Mungkin mau ngasih uang!"
"Awas kalau pembohong" Ancam Gilang dan pergi menemui ibu. Aku tertawa puas melihatnya
"Put.. Put...!" Seperti biasa aku memasuki rumah Putri tanpa permisi, rumahnya sudah seperti rumahku juga. masuk kerumahnya tanpa permisi dan makan tanpa disuruh.
"Putrinya mana tante?" Tanyaku pada tante Nani yang sedang mengulek cabe di dapur
"Ada diatas baru pulang, samperin lah"
"Ha? Baru pulang tan?"
"Iya, katanya ada ekstrakulikuler di sekolah"
"Oh iya tante" Ucapku berlarian menaiki anak tangga dasar Putri jam segini baru pulang katanya sebentar aja mana bohong lagi sama tante Nani
"Iya...iya bentar" Sahut Putri lemas
Ceklekkkkk
"Loh bilang sebentar aja Put, tapi ini udah jam ....." Ucapku terpotong saat Putri yang duduk kembali sembari memegangi perutnya
"Ehh.. loh kenapa Put?" Tanyaku penuh kecemasan
"Nggak, biasa! Ada apa Cah?"
"Loh lagi nggak biasa, itu muka loh pucet Put"
"Gue lagi Pms" Ucap Putri berbohong
"Ohhh yakin? Loh nggak lagi telat makan kan? Loh dikasih makan kan sama Ilham?" Tanyaku menerka-nerka
"Se...serius gue lagi pms, yakali gu...gue ng..nggak dikasih makan sama Ilham" merasa terkaanku tepat sasaran Putri jadi gelagapan tapi seolah baik-baik saja.
"Oh yaudah, syukur deh kalo loh dikasih makan. Soalnya banyak banget sekarang cerita orang nggak dikasih makan sama pacarnya"
"Ya...iya itu orang lain, Il...Ilham mah kagak gi... gitu orangnya" Aku hanya memberikan isyarat anggukan ragu
"Lo mau apa?"
"Emmmm sebenarnya gue kesini mau ngajakin loh joging buat nambah tinggi badan untuk tes polwan nanti, tapi ngeliat keadaan loh yahhh kayaknya nggak memungkinkan, nggakpapa gue sendiri aja"
"Maafin gue yah cah, kapan-kapan gue temenin loh!"
"Sipp gue tunggu, tapi loh aman kan? Perlu bantuan gue nggak?"
"Ng...nggak usah, sekarang loh pergi cabut entar keburu malam" Sahut Putri sembari mendorong tubuhku keluar kamarnya
"Ohh... Yaudah"
__ADS_1
Deruan angin yang menyejukkan, matahari yang mulai tenggelam serta kendaraan yang berlalu lalang tak menggetarkan niatku demi meraih impian. Luapan kekecewaan, kehancuran, kesakitan, kesedihan semua kukumpulkan dalam satu teriakkan Arrgggghhhhhhhhhh sedikit melegakan sesak di dalam dada.
***
Kringgggg.....
Sepertinya suara itu adalah suara yang paling enak terdengar ditelingaku, saat ini dan selamanya.
"Cah kekantin yuk!" Ajak Putri
"Loh aja deh put,gue ada urusan" Aku melihat Arka yang keluar dari kelas dan sudah tahu kemana dia pergi, segera menyusulnya dan meninggalkan Putri
Aku melangkah perlahan bersembunyi dibalik kerumunan manusia yang sedang berlalu lalang, beberapa kali kuperhatikan sekitarku untuk memastikan tidak ada yang mencurigaiku. Jujur saja ketampanan Arka benar-benar meresahkan semua orang, karna banyak sekali dari kating atau satu angkatan pergi ke masjid untuk sholat agar dapat bertemu Arka atau supaya Arka mengetahuinya kalau dia sholat.
Jangankan melihat wajahnya baru melihat langkahnya sudah bisa membuat orang jatuh hati Arghhh apaansih gue
Terlihat dari arah jauh pemandangan Arka telah memasuki mushola
Duhh gimana caranya mau nyamperin Arka kalau tatapan semua orang tak berhenti menatap Arka
Aku mengedarkan pandanganku dan tertuju pada sebuah pengepel yang terletak disebelah pintu kelas 12 dekat mushola. Aku mengambilnya untuk menjadi bahan alasan sedang mencuci pengepel
Ahh sepertinya pengepel akan menjadi benda favoritku setelah bel istirahat haha
Aku memasuki mushola dan menuju pada tempat pengambilan air wudhu untuk berpura-pura mencuci pengepel.
Mentang-mentang diperhatikan banyak cewek terus loh merasa ganteng gitu? Gumamku memonyongkan bibirku sambil mencuci pengepel dengan kasar
"Ehemm" Aku tekejut dan segera membalikkan tubuhku pada pemilik suara. 1 detik, 2 detik, 3 detik, 4 detik, 5 detik. Aku dibuat tertegun dengan seseorang yang berdiri dihadapanku. Wajahnya sangat terlihat tampan jika dipandang lebih dekat ditambah lagi tetesan air wudhu yang berjatuhan di rambutnya membuat ia semakin terlihat menawan
"Permisi!" Suaranya kembali membuyarkan lamunanku
"Ohh...i..iya, ada apa?" Sahutku gelagapan
"Saya mau lewat, jangan berdiri menghalangi pintu!" Aku melototkan mataku ketika menyadari keberadaanku yang menghalang ditengah-tengah pintu.
"Oh... Sorry" Ucapku menyingkir
Beberapa kali aku menampari wajahku untuk menyadarkan diriku.
"Ehemm...ehemm... Cie... Cie.. habis ngapain ayo?" Tanya Putri dibalik pagar mushola
Aku menyadari keberadaan Putri dan mendengar suaranya yang menggema dengan sigap aku menutup mulutnya dan segera pergi mengajaknya menjauh dari mushola
"Emmm..emmmm uwekk tangan loh bau banget, habis megang apa loh?" Tanya Putri saat mulutnya sudah terlepas dari genggamanku
"Gue habis cebok nggak nyuci" Tegasku
"Uwekkk uwekkk jorok banget sih jadi cewek" Putri dengan sigap membersihkan mulutnya
"Ngapain loh disana tadi? Jangan-jangan loh ngikutin gue, iya?" Tanyaku pada Putri yang masih fokus berludah
"Hahaha kalo iya kenapa? Ciee....cie ada yang lagi kasmaran, kayaknya udah ada yang tau rasanya jatuh cinta gimana" Ucap Putri meraih bahuku
"Ihh apaansih loh gaje banget" Ucapku kesal sembari melipat tangan di dada
"Sudahlah cah, loh masih nggak mau cerita sama gue, setelah apa yang gue liat semuanya? Hahaha nggak usah malu gitu dong, ini tu biasa anak muda! Ayo dong cerita dong masa gue terus yang nggak pernah absen cerita sama loh"
"Jadi tadi itu rencananya mau balikin hutang gue, yang waktu loh nyuruh gue nungguin loh dan loh malah ninggalin"
"Ehh kok jadi gue yang disalahin?"
"Ya iyalah coba aja kalo loh nggak janjian sama Ilham dan loh balik bareng gue, pasti gue pinjem duit loh bukan duit Arka"
"Ohhh gitu ceritanya, yaudah buruan balikin"
"Yaudah buruan balikin" Ucapku mengejek Putri
"Haha yailah, yaudah gue bantuin. Sebagai permintaan maaf"
"Nggak usah! Gue bisa sendiri"
__ADS_1