
...Tidak asa suatu kebetulan, semua sudah direncanakan. Bahkan daun yang jatuh dari pohon pun sudah Allah gariskan....
2014.
Lima belas tahun, waktu memaksaku untuk beranjak. Hidupku yang awalnya hanya mengerti bermain kini dituntut untuk menjadi pemain. Meski dengan keadaan yang serba kurang ayah dan ibuku tak luput berjuang. Untuk menyekolahkan kami demi masa depan, agar nasib kami tidak lagi dikhawatirkan.
Pagi yang menyising membuatku yang sedari subuh tadi bangun, malah semakin menarik selimut itu dan menengelamkanya di seluruh tubuhku. Tampaknya suara ibu ibu yang membersihkan beras menggunakan nyiru dan kokokan ayam yang siap mencari makan tak berhasil membangunkanku.
"kringggg......kringggg"
Tanganku merabah mencari benda pipih bermerek Advan disampingku yang sedari tadi menganggu.
Aku terkejut karna mendapati bukan alarm yang berbunyi melainkan telpon dari Putri, sahabat sekaligus sepupuku.
Banyak sekali yang mengatakan kalau kami kembar. Mungkin karna seringnya kami berjalan bersama, hingga membuat kami terasa tak ada yang beda. Padahal sangat terlihat jelas sekali perbedaan antara kami berdua. Aku mempunyai tubuh yang lebih tinggi dari Putri yaitu 165cm dan 158cm. Putri mempunyai hidung sedikit lebih mancung, dengan mata yang sedikit besar jika dibanding dengan mata sipitku. Memiliki warna kulit yang sama yaitu sawo matang yang membuat kami terlihat manis.
Jika dari segi pakaian Putri sangat senang menggunakan pakaian feminim seperti mengenakan rok. Sedangkan aku sudah dari dulu dengan kearifan lokalku yaitu sedikit gaya tomboy menemani hari-hariku. Aku benci menggunakan pakaian feminim seperti itu, yang membuat diriku tidak leluasa malakukan sesuatu. Sejak kecil aku dan Putri selalu memasuki Sd sampai Sma yang sama. Hingga deretan rumah yang bersebelah dengan ciri khas rumah adat besemah.
"Woy, cah!! gila. Loh baru bangun? Gue udah berapa kali miscall loh nggak diangkat-diangkat" Teriak Putri dari seberang telpon.
"Assalamu'alaikum dulu bisa nggak? Orang baru bangun tidur udah dibentak-bentak aja" Ujarku dengan suara ciri khas bangun tidur
"Ih ribet yah!" Decak Putri kesal
"Yaudah nih Assalamu'alaikum!" sambung Putri tak ikhlas
"He..he gitu dong! Waalaikumusallam. Ada apa Put? Tumben loh nelpon gue pagi pagi gini?" Ucapku sembari mengucek-ngucek mata yang masih digelayuti rasa kantuk.
"Ngawur loh, ini udah jam berapa tau! loh nggak sekolah? Aku udah mau berangkat ni" Sahut Putri yang sedang menunggu angkot.
Sebenarnya Putri sudah tau kalau aku akan kesiangan lagi. Tapi mengingat kejadian beberapa waktu lalu Putri yang kesiangan meminta aku untuk menunggunya, namun aku malah meninggalakanya dengan alibi sudah menunggu terlalu lama hehehe. Padahal itu sering dilakukanya pada Putri bahkan lebih lama. Putri hanya ingin aku merasakan yang sama walaupun hatinya tidak tega.
Dengan mata yang masih enggan dibuka, seketika mataku terbelelak ketika melihat jam di hp yang menujukkan pukul 07.00 Wib
"Astaghfirullah" Tanpa aba-aba aku meninggalkan Putri yang masih menelponku diseberang sana begitu saja.
"Hallo cha..? Icha...? Yaudah gue duluan yah!" Tut..Tut.. yang menandakan telpon sudah terputus
Siapa sih yang sebenarnya nggak ada akhlak, dia apa gue. tadi nyuruh orang salam dulu eh sekarang giliran dia yang nggak ngucap salam. Bahkan ninggalin gue begitu saja, kayak dia hmmmm.
Batin Putri kesal karna melihat tingkah laku sahabatnya yang aneh. Namun Putri tidak lagi heran jika sering mendapati Icah yang sering terlambat. Karna sedari dulu kebiasaanya dengan Icah sudah tertanam sejak dini, padahal jarak rumah mereka dengan smp dapat ditempuh berjalan kaki sekitar 200m.
Bahkan yang lebih konyolnya lagi yang pernah ia lakukan bersama Icah yaitu berangkat sekolah dengan keadaan masih menggunakan pakaian tidur. Sedangakan pakaian sekolah sudah ia masukan kedalam tas bersama seperangkat alat mandi dan bedak my baby. Mereka berniat untuk mencuci muka di sungai jernih dekat sekolahnya agar menghalau keterlambatan. Tidak bisa dipungkiri rencana mereka tidak berjalan begitu lancar, saat beberapa teman laki-laki mereka sedang menuju ke air jernih untuk duduk sambil menikmati sebatang rokok dibibirnya. Terpaksa mereka harus sembunyi dibelakang batu besar dan menunggunya pergi supaya bisa berganti pakaian.
Nasib mereka berkata lain. Yang semulanya mereka lakukan agar tidak terjadi lagi keterlambatan, namun malah sebaliknya mereka masih saja terlambat. Malah menambah memperunyam masalah saat teman sekelas Putri meminjam buku ditasnya. Lelaki itu melihat sebuah celana tidur yang berada di dalam tas Putri. Tanpa ragu laki-laki itu mengambilnya dan mempermalukan Putri dengan cara menunjukkan celana itu dihadapan semua murid dikelas. Sebuah pengalaman yang dahulu ditangisi sekarang malah ditertawai.
Putri tersenyum setiap mengingat kejadian masalalu yang lucu bersama Icah. Hingga sebuah klakson angkotan birn yang menghampiri menyadarkan Putri dari lamunanya.
***
Dengan langkah yang tergesa-gesa serta masih dengan kantuk yang tersisa, tanpa sengaja aku salah menginjak pada injakan sebuah anak tangga ketiga, hingga membuatku tersungkur ketanah.
"Aarghhhhh" Aku menjerit kesakitan.
Ku lihat perlahan kaki itu yang sedari tadi kupegang. tidak ada luka tapi warna biru dikakiku cukup membuat ngilu.
Perlahan aku berdiri dengan pegangan sebuah tiang. Ku paksakan kakiku untuk terus melangkah, karna mengingat waktu semakin berjalan.
"loh, ibu masih disini ternyata? Icah kira udah pergi kekebun kopi!" Seruku saat melihat ibu yang sedang mencuci pakaian di tempat pemandian umum.
"Kamu nggak sekolah?" Bukanya menanggapi bicaraku, ibu malah balik bertanya tanpa menoleh kearahku karna masih sibuk mencuci baju.
"Sekolah..!!" Jawabku santai sambil mengguyurkan air kemukaku.
"Ini sudah siang, nanti kamu bakal terlambat! salah siapa juga udah dibangunin nggak bangun-bangun" Ketus ibu dengan sedikit menaikan nada bicaranya.
"Gilang, kak Yi, semua sudah capek ngebangunin kamu" Sambung ibu.
Aku hanya terdiam karna tidak mengingat siapapun yang membangunkan.
Batinku bertanya. setidur mati itukah aku? Bahkan tidak hanya Gilang dan kak Feri yang membangunkan, alarm yang berjejer dari pukul 04.30, 04. 15, 05.00, 05. 15......., tidak sekitipun mengusik telingaku dari tidur.
Ibu membilas pakaian itu ke air pancoran. Aku semakin kesal dengan ibu karna menghalangiku yang sedang sibuk berkumur.
Sudah tau anaknya bakal terlambat, ehhhh malah ngehalangin untuk cepat . Batinku berdecak kesal.
***
Jam menunjukkan pukul 07.15
Terlihat dibalik cermin gambaran seseorang yang begitu natural tanpa bedak sedikit pun melekat diwajah. Dengan seragam putih abu-abu yang sedari dulu ia tunggu-tunggu. mengenakan jilbab putih yang tipis bersilang di bahu kanan dan kiri.
Seperti biasa, sebelum sekolah aku bercermin dan memberi semangat untuk diri sendiri. Tapi kali ini bukan kalimat semangat yang terlontar, melainkan permohonan.
"Ya Allah tolong berhentikan waktu untuk sejenak saja"
Waktu tinggal tersisa sekitar 15 menit lagi untuk masuk. Dan membutuhkan waktu sekitar 25 menit untuk tiba disekolah Sma N.1 Jarai jika menggunakan angkotan umum.
__ADS_1
Aku yang tak pernah mau diantar oleh bapakku, kini harus terpaksa meminta antar.
Ku tatap lekat wajah bapakku yang baru saja tertidur di ruang tamu sejak jam empat pagi akibat bergadang mencari uang. Terlihat lipatan nasolabial atau garis senyum diwajahnya, yang menjadi pertanda bahwa dia seorang yang ceria meski banyak beban derita. Aku akui, dia adalah seseorang yang pandai menutupi luka begitu rapi.
Aku sering memperhatikan saat ia bertemu temannya yang sering bercanda ria, padahal saat dirumah ia selalu mengeluh bagaimana untuk makan besok, bagaimana dengan tagihan tagihan pinjamanya.
Ada rasa kesal sekaligus kasihan padanya. Aku kesal karna ia harus mengorbankan banyak waktu pagi, siang dan malam untuk mencari rezeki yang haram itu. Setiap hari ia selalu tidur jam 4 pagi dan terbangun jam 9 pagi. Ia selalu berkutik dengan lembaran kertas yang semua bertuliskan angka dan melayani setiap pembeli yang ada. Tapi aku terenyuh saat menyadari bahwa itu semua terpaksa ia lakukan untuk aku dan keluargaku.
Arggggghh kenapa sih bapak mau melakukan sejauh ini, tanpa memikirkan acaman di depan yang siap menyergapi dirinya dimana pun dan kapanpun. Tanpa sengaja air mataku jatuh
"Ya Allah tolong lindungi dia, jauhkanlah marah bahayamu darinya" Ucapku seraya mengangkat kedua telapak tangan memohon pada-Nya
"Pak...Bapak! Bangun pak" Sebenarnya aku benar-benar tidak tega untuk membangunkannya.
"Hmmmm?" Dia hanya bergumam tanpa membuka matanya sedit pun
"Emmmm, anu pak. Icah mau sekolah" Sahutku ragu-ragu
Masih dibalik selimut biru terlihat ia sedang mengambil dompet dari saku celananya. Ia menyodorkan dompet berwarna hitam itu kearahku
"Nggak pak, Icah bukan mau minta uang. Icah mau dianter bapak pake motor hari ini" Aku membalas menyodorkan dompet itu kearahnya
Perlahan ia membukakan mata sembari mengernyit, karna matahari tepat diwajahnya. "Ehhh ini udah jam berapa? kok kamu belum berangkat sekolah?" Tanya bapak sembari bangkit dari tidurnya dan duduk bersandar di dinding rumah.
"Nahhh, justru itu pak! Icah mau dianter bapak hari ini karna udah kesiangan, kalau Icah naik angkot pasti terlambat"
Beberapa detik ia menggeliatkan tubuhnya untuk mereganggkan otot-otot dan tulang.
"Yaudah tunggu sini, bapak mau cuci muka dulu kalau gitu" Dengan tubuhnya yang masih sempoyangan ia mencoba berdiri dan melangkah untuk pergi.
"Oke, Jangan lama-lama ya pak hehe" Sahutku sembari mengacungkan ibu jari kearahnya.
Waktu berjalan terasa begitu cepat, setiap detikan jarum jam yang berdetak, jantungku rasanya tidak mau kalah cepat.
"Cah..! Icah...ayo!" Teriakan itu menyadarkanku yang sedari tadi mondar mandir tak menentu, merasa dipanggil aku segera menghampiri ayah yang sudah siap melaju di depan halaman rumah. "Ehh, iya pak"
"Buruan entar telat" Sahut ayah
***
"Icah pamit yah pak! Assalammu'alaikum" Seperti biasa aku selalu mencium punggung tangannya saat ingin pergi.
"Waalaikumusallam, bapak balik ya"
"Iya, hati-hati ya pak" Dengan semampunya aku mempercepat langkah. Keberuntungan berpihak kepadaku saat ingin melewati gerbang sekolah, seorang satpam yang menjaga gerbang utama sedang asik bercengkrama dengan satpam lainnya di dalam pos satpam. Tak ingin membuang kesempatan emas ini perlahan aku membuka gerbangnya, dengan posisi menjongkok melewati pos satpam itu. Hingga akhirnya aku berhasil meloloskan diri ke mushola yang berada di samping pos satpam.
"Hufttt, Alhamdulillah" Batinku sambil mengusap dada untuk menetralisirkanya.
"Ngapain kamu disini nak?" Aku terkejut saat mendapati seorang bapak-bapak yang berumur sekitar 40 tahunan dengan seragam guru yang berjenggot berdiri diseberangku, sehingga membuat kepalaku tersandung pada sebuah jendela.
"Eh pak!" Sahutku mendekati bapak itu sembari ingin mengambil tanganya untuk memberikan salam agar tidak membuat kecurigaan padanya.
Dengan sigap bapak itu menarik tanganya dan menangkupkan ke dadanya. Sedangkan aku masih dengan posisi membungkuk dan tangan yang masih terpaku.
"Ihhh bapak suka bercanda juga yah ternyata!" Ucapku dan segera ingin mengambil tanganya kembali, namun bapak itu dengan cekatnya mundur untuk menghindari.
Aku yang merasa bahwa bapak itu tidak mau di sentuh karna takut jika istrinya cemburu, segera meminta maaf padanya
"Mm..maaf pak" Aku menundukan pandanganku dan siap menerima jika bapak itu murka
"Saya yang seharusnya minta maaf" Serunya
"Ngapain kamu disini? Kenapa belum masuk?" Seakan tersambar petir saat ditanyai dengan pertanyaan seperti itu.
Apa yang harus dijawab Cah? ayo berfikir! Kalau kamu bilang kamu terlambat, kamu nggak tanggung-tanggung dibawa ke kantor oleh bapak takut istri ini. Aduhhh..... Batinku kesal, karna otakku tidak menemukan ide.
Aku mengedarkan pandanganku, mataku yang tertuju kearah sebuah pengepel seakan mendapat secercah harapan. "Anu pak... lagi nyuci pengepel untuk membersihkan kelas soalnya saya lagi piket" Ucapku berbohong dengan memasang wajah yang ceria supaya bapak itu percaya
"Oh iya udah, kalau selesai silahkan kembali ke kelas"
"Ii...Iya pak" Aku yang mengingat bapak itu tidak mau disalami langsung saja melangkahkan kakiku dengan cepat
"Huuuuu, hampir saja kamu Bambang" Ucapku terkekeh
***
"Ibu minta maaf karna minggu kemarin Ibu tidak masuk, seoalnya...." Ucap buk Yanti terpotong saat mendengar suara ketukan pintu "Tok...tokk" semua mata tertuju pada pemilik yang mengetuk.
"Assalamua....laikum" Seketika suaraku mengecil saat mataku tertuju pada salah seorang yang berumur sekitar 40 tahun berdiri di depan.
"Waalaikumusallam" Sontak seluruh siswa
"Bu Yanti?" Aku mengernyitkan pandangan untuk memastikan apakah itu benar-benar bu Yanti atau hanya halusinasi.
"Ngapain kamu masih disitu? dari mana saja kamu?" Bu Yanti sudah tau kalau aku akan masuk dikelas itu saat mengabsen tadi.
"Iii...Ini buk, baru balik nyuci pengepel" Aku menunjukkan pengepel itu pada bu Yanti
__ADS_1
Sontak seluruh siswa mengernyit seakan sedang mengitimidasi diriku. Mereka menunjukkan wajahnya penuh kebingungan, karna sedari tadi batang hidungku belum terlihat oleh mereka. Putri yang melihatku hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala dengan menautkan tanganya ke dahi.
"Yasudah cepat duduk" Perintah bu Yanti
"Baik buk" Dengan sigap aku menempatkan pengepel itu kesudut belakang kelas, dengan otak yang dipenuhi banyaknya pertanyaan ngapain bu Yanti disini? Apa bu Yanti juga mengajar di sekolah ini? atau sedang ada pertukaran guru sementara? Arghhhhhhhh kenapa harus dipertemukan dengannya lagi.
Putri yang mendapatiku sudah duduk disampingnya meletakkan punggung tangannya kedahiku. Aku yang tidak suka perlakuan Putri segera mengibaskan tanganya "Ihhh, loh kenapa sih Put? aneh banget" Ucapku berbisik
"Loh bilang gue yang aneh? Loh yang aneh!" Bisik Putri sambil memperlihatkan jari yang bersilang di dahinya
"Terserah!" Aku kesal dengan tingkah Putri apalagi mengetahui dia ninggalin pergi sekolah.
"Dimana tas loh?" Tanya Putri melihatku pergi kesekolah tanpa membawa tas
"Di..."
"Hei kalian!" Seperti biasa bentakkan yang kerap sekali kudengar membuatku memotong bicara. Merasa yang dipanggil bu Yanti adalah aku dan Putri segera kami menoleh kearahnya
"Sekali lagi kalian bisik-bisik, ribut dikelas, keluar kalian berdua dari kelas ini" Tegas bu Yanti sembari menunjuk ke arah luar
"Baik buk!"
"Ehh kamu, mana buku tulis? cepat keluarkan!" Sambung bu Yanti menatapku.
Deggg
"Ii..iya buk, ini mau diambil" Aku menyenggol lengan Putri untuk memberikan isyarat meminjam buku padanya
"Put pinjam buku loh, cepet!" Bisikku sembari menenggelamkan tubuh dibalik meja seolah-olah sedang mengambil tas di laci
"Idih buku apaan?" Sahut Putri penuh kebingungan
"Ihhh buku apa aja" Perlahan Putri mencari buku di dalam laci meja dengan pandangan masih menghadap ke depan.
"Ini" Putri menyodorkan buku yang bersampul biru
"Pena-nya?"
Putri hanya mengeluarkan nafasnya dengan kasar melihat tingkah laku-ku "Ini ambil" Geram Putri terus majuÂ
Menatap wajah Putri yang mulai kesal dengan ulahku, akupun mencoba merayunya "He..he.. Makasih, itu baru namanya sepupu gue"
"Baiklah untuk anak-anak, siapa yang mau menjawab soal matematika ini?" Ujar bu Yanti berdiri di hadapan papan tulis dengan mengacungkan sebuah spidol
Semenit berlalu namun tidak ada satupun siswa yang mau menjawabnya "Oke baiklah, kalau tidak ada yang mau nunjuk ibu sendiri yang bakal nunjuk" Sambung bu Yanti sembari menatap seluruh siswa satu persatu.
Duh gawat nih aku berkeringat dingin karna tidak memahami sedikit pun penjelasan dari bu Yanti. Bagaimana mau mengerti sedangkan gurunya saja tidak aku senangi. Aku menenggelamkan pandanganku dari tatapan bu Yanti dan berpura pura berfikir seolah sedang memahami materi yang diberi, sembari mengorek ngorek kertas yang tidak jelas.
"Hey kamu! maju! kerjakan soal di depan" Tunjuk bu Yanti dengan nada ciri khasnya yang begitu keras dan nyaring
Aku yang masih terpaku dengan kegiatan tidak jelas itu, berharap yang ditunjuk bu Yanti bukan diriku.
Tiba-tiba Putri yang berada disamping menyenggol bahuku"Ihhh diam Put, entar kita dipilih kalau ribut" Bisikku yang masih berkutik dengan coretan yang palsu
Paaakkkkkkkk....
Semua murid tekejut tak terkecuali diriku saat tamparan kedua telapak tangan yang lebar mendarat di mejaku. Saking terkejutnya aku terjatuh dari kursi, dan beberapa benturan terkena ke kaki yang terluka.
Suasana kelas yang tadinya hening seketika menjadi ramai dengan suara tawa memenuhi sudut ruangan
Awwwwwwww jeritku dalam hati. Aku ingin sekali meluapkanya namun mengingat ini sekolah bukan rumah, aku hanya bisa menahan rasa sakit dengan menggigit bibir bawahku.
"Ehhh kamu nggak kenapa-kenapa Cah?" Putri yang melihatku terjatuh segera berdiri dan menyambutku. Itulah yang membuat kami tidak ada alasan untuk bertengkar, karna walaupun kami sering saling menjatuhkan, kasar, jahil namun sebenarnya sangat mempunyai rasa peduli dan sayang begitu besar, hanya saja gengsi untuk mengatakan.
Orang jatuh masih juga nanya nggak kenapa-kenapa, yah jelas kenapa -kenapa lah. Batinku kesal menatap Putri, Dengan terpaksa aku menyambut uluran tanganya mengingat semua teman sekelas masih menertawaiku.
Dengan tangan yang dilipat didada serta senyuman sinisnya bu Yanti masih berdiri dihadapanku, tanpa ada perasaan iba bahkan tidak terlihat perasaan bersalah diwajahnya.
"Cepat kamu kerjakan itu" Tunjuk bu Yanti sembari menyodorkan sebuah spidol ke arahku. Seketika suasana kelas kembali seperti semula. Mendapati bentakan bu Yanti yang sangat dekat denganku, membuatku teringat kembali pada kejadian masa lalu tanganku seolah bergerak dengan sendirinya mengambil spidol di tangan bu Yanti dan menuju ke arah papan tulis
Bodoh!! kenapa aku mengambilnya, apa yang akan ku tulis sedangkan aku tidak sedikit pun paham pada materi, membaca soalnya saja sudah cukup membuatku pusing apalagi harus menjawabnya arghhhhhh. batinku berdecak kesal.
"Ayo jawab" Bentak bu Yanti yang sedang duduk di meja guru dengan kaki yang bersilang.
"Emmmm maaf bu!" Aku yang bingung untuk menuliskan apa, dan menjawab bu Yanti apa. Hanya bisa menggauk-nggaruk kepalaku yang sama sekali tidak gatal.
"Saya ...." Ucapku terpotong saat seorang laki-laki yang bertubuh jangkung duduk disudut belakang kelas angkat bicara
"Saya buk, saya yang akan menjawabnya" Ia beranjak dari duduknya dan segera mengampiri.
Tak luput dari ciwi-ciwi memandangi lelaki tampan itu dengan rasa penuh kagum.
Alhamdulillah, terimakasih ya Allah. Batinku lega sembari mengelus dada
"Kamu? berikan spidol itu padanya! dasar tidak bisa diandalkan" Bu Yanti yang mendapatiku tidak mengerjakan apapun menjadi kesal.
"Ayo nak silahkan maju" Sambut hangat bu Yanti
__ADS_1
Dasar buaya putih, giliran laki laki aja dia lembut. Orang punya selera juga kaleee, nggak mungkin dia mau sama emak-emak! Ehhh, apa nenek-nenek yah? Batinku terkekeh