
*Pagi hari
"Audy.. Rici.. Alan.. Ayo cepet sarapan!! Ini udah jam berapa kok kalian belum turun?!!" teriak ibuku dari arah dapur.
Aku dan yang lainnya pun langsung bergegas turun menuju dapur. Di sana sudah ada ibu ayah dan nenek yang sedang menunggu kami turun untuk sarapan bersama.
Ketika aku hendak mengambil sarapan yang sudah sediakan tiba-tiba Kak Audy berkata akan langsung berangkat ke kantor, "Mah.. Audy berangkat duluan ya soalnya udah mau telat, takut ketinggalan bus nih."
"Ga mau dianter sama ayah aja??" tanya ayahku.
"Ga usah yah.. Audy lebih suka naik bus, lagian nanti ngerepotin ayah soalnya kan kantor Audy arahnya berlawanan." Jawabnya sambil tersenyum manis.
Lalu ia langsung melihatku dan Alan dengan tatapan tajam. "Kalian ga mau berangkat sekarang?? Liat tuh waktunya udah mepet, bisa-bisa kalian ketinggalan bus nanti."
"Kan ada ayah yang nganterin jadi ga bakal telat hahaha" jawab Alan dengan tawa mengejek.
"Kalian berdua kan udah dapat fasilitas antar jemput dari sekolah jadi ga perlu ayah anterin.. Udah cepet sana berangkat nanti telat!!" bentak ayah.
Aku dan Alan pun buru-buru pergi ke sekolah, kami berjalan bersama dengan Kak Audy menuju Halte bus. Setelah keluar dari rumah aku merasa sangat tertekan karena pandangan orang-orang selalu tertuju pada kami, sampai beberapa orang pun menghampiri Kakakku.
"Wahh Audy selalu cantik ya.. Mau berangkat kerja yaa?" tanya salah satu orang yang memberhentikan kami.
"Iya bu.. saya mau berangkat kerja haha." jawabnya sambil tersenyum sangat manis.
Orang-orang yang melihat senyum kak Audy pun seketika langsung terdiam karena terpukau dengan kecantikannya. Banyak orang yang mulai datang menghampiri kami setelah itu membuat jalan tertutup rapat.
"Nak Audy gimana kalau nanti menikah sama anak ibu? Dia PNS loh pasti hidup nak Audy terjamin.. Anak-anak kalian nanti juga pasti bakal cantik kayak nak Audy.."
"Nanti saya pikirkan ya bu.. haha.. karena sekarang saya cuma fokus mau kerja dulu aja." jawab Audy.
"Aduh... kamu kan udah waktunya menikah.. Lagipula perempuan itu udah seharusnya ada dirumah dan laki-laki yang kerja. Kalau kamu masih fokus bekerja gimana kalau Alan saja yang menikah sama anak kedua ibu, hmm??" tanya orang itu kepada Alan, Alan yang mendengar itu terkejut.
"Eh? Saya? Bukannya anak kedua ibu baru umur 5 tahun ya? saya kan udah 12 tahun." jelas Alan.
"Ga apa-apa, justru perbedaan umur yang jauh itu semakin baik iya kan haha." pernyataan orang itu membuat semua orang tertawa dan hanya kami yang tidak tertawa.
Terkadang aku merasa sangat bersyukur memiliki wajah yang biasa saja jika dibandingkan dengan Kakak dan adikku, jadi aku tidak membuang waktu untuk menjawab pertanyaan semua orang seperti mereka. Tapi, saat aku melihat wajah kakak sepertinya kesabarannya sudah hampir habis karena sekarang wajahnya yang putih itu sudah berubah menjadi warna merah.
Aku langsung mencari celah untuk keluar dari kerumunan orang-orang karena sebentar lagi bus akan segera datang, tapi kerumunannya terlalu padat untuk keluar sampai-sampai aku meminta bantuan kak Audy untuk pertama kalinya.
"Kak.. Ayo kita udah telat, kakak ga mau telat ke kantor kan?" tanyaku membuat keheningan dalam kerumunan itu.
"Ahh bener juga.. Rici sama Alan lagi buru-buru ya. Kalau gitu saya sama adik saya berangkat dulu ya ibu-ibu." pamitnya buru-buru.
Merekapun mulai membukakan jalan untuk kami, walaupun mereka semua diam saat aku disana tapi setelah kami bertiga menjauh mereka mulai berbisik. Dan aku juga tahu kalau mereka sedang membicarakan ku.
Setelah kami menjauh dan para warga tidak terlihat kakakku mulai menunjukkan sifat asli dibalik wajah cantiknya itu.
"Wah orang itu bener-bener ngerepotin banget!!! Anaknya PNS katanya?!! Bahkan gajiku itu lebih besar dari gaji anaknya!! Dan apa tadi dia bilang? perempuan itu mending dirumah aja?!! Dia kira kita lagi hidup di jaman dahulu apa?!! Lagipula siapa yang mau nikah sama cowok mata keranjang kayak gitu, JIJIK!!!" gerutu kak Audy sambil mengacak-acak rambutnya kesal.
Alan yang sama kesalnya pun menyahuti kak Audy, "Tadi kalian denger kan waktu dia bilang aku suruh nikah sama anak keduanya?!! Sampai sekarang pun aku masih kesel dengernya!"
"Udahlah kalian, lagipula bukan sekali dua kali kita kayak gini. Kukira kalian udah terbiasa." sahutku.
"Kamu bisa ngomong gitu karena kamu ga ngerasain jadi kita!! Karena wajah kamu itu yang paling biasa diantara kita!" bentak Kak Audy kepadaku diikuti oleh anggukan Alan tanda setuju.
"Yah.. aku juga bersyukur punya muka biasa kayak gini jadi aku ga membuang waktu buat jawab pertanyaan orang kayak mereka kan." jawabku sambil meninggalkan mereka untuk masuk Bus yang baru saja tiba.
__ADS_1
...****************...
Di gerbang sekolah
Setelah keluar dari bus sekolah aku pun berjalan menuju gerbang sekolah. Melihat lalu lalang para siswa yang hendak masuk sekolah membuat hatiku terasa hangat karena disinilah aku merasa dihargai.
Saat aku sedang melihat-lihat sekitar tiba-tiba ada seseorang yang menarik tanganku dan menggandengnya, "RICI!!!! Pagi.. kamu udah sarapan??" tanya nya padaku.
"Udah tadi dirumah."
"Rici kamu udah ngerjain pr matematika itu belum? aku belum.. huhu..." rengeknya.
"Udah.. itu kan tugas dari minggu lalu, kenapa belum?"
"Rici kan tau kalau aku ga pinter matematika, aku mau tau jawabannya ya Rici... Pliss.."
"Nanti dikelas aja."
"Yeyyyyy!!!! Makasihhh Rici!!! Kamu emang best friend." ucapnya sambil memberikan love di jari nya padaku.
...Dia adalah temanku yang bernama Lyvia Anastacia. Dia adalah salah satu orang yang terkenal di sekolah ini karena kecantikan dan keimutannya. Banyak pria di sekolah ini yang menyukainya karena dia bersikap sangat manja. Kami berteman karena ia adalah anak dari teman ibuku yang sudah meninggal jadi aku disuruh untuk berteman dengannya....
Saat masuk ruang kelas banyak orang terutama pria yang memperhatikan kami, ini karena Livy selalu menggandeng tanganku sejak dari gerbang.
"Livy.. lo bisa lepasin tangan gue bentar ga? kita udah sampai di kelas." ucapku sembari berusaha melepaskan tanganku darinya.
"Rici ga mau gandengan sama aku? Aku sedih loh.. padahal kita kan best friend." jawabnya sambil memasang ekspresi sedih yang membuat anak-anak yang lain menatap tajam ke arahku.
"Bukan gitu maksud gue Livy.. gue cuma mau taruh--"
Ucapanku terpotong karena temanku yang satu lagi membanting pintu kelas saat masuk ruangan.
"Duh!!! Livy Lo bisa minggir dari kursi gue ga?!! Kenapa Lo selalu duduk ditempat gue sih!! Minggir!!" Bentaknya membuat Livy ketakutan dan langsung berdiri dari kursi.
"Apa Lo semua liat-liat?!! Ada yang lucu?! Dan Lo ngapain masih disini?!!" ucapannya membuat semua anak-anak di kelas mengalihkan pandangannya dari kami.
"Ga usah marah Fel.. dia nunggu catatan matematika gue." jawabku menenangkan Felly sambil mengambil buku catatan didalam tas.
"Lo tuh bodoh apa gimana sih Beatrice?!! Dan buat lo Livy!! Ini tugas udah dari minggu kemarin dan lo masih belum ngerjain?!!! Sana balik ke kursi lo!!" bentaknya membuat Livy langsung kembali ke kursinya sambil menggerutu.
"Beatrice!! Lo tuh jadi orang jangan terlalu baik! Ga semua orang bisa lo baikin!!"
"Haha iya ngerti dan gue juga tau lo pasti bakal ngomong gitu, Thanks.."
...Yang ini adalah teman terdekatku namanya Fellicity Anneliese. Dia juga salah satu orang terkenal di sekolah, ia terkenal karena sifatnya yang keras dan tubuhnya yang kuat. Dia pernah memenangkan kejuaraan Taekwondo tingkat nasional , tapi semenjak orang tuanya meninggal ia tidak melanjutkan pelatihan itu dan hanya fokus mengurus Adik dan kakek neneknya....
...****************...
*Waktu Istirahat
Setelah bel berbunyi menunjukkan waktu istirahat Livy langsung berlari menuju kursi ku, "Rici.... Ayo kita ke kantin.."
"Lo ga liat gue ya?" tanya Felly.
"Haha iya liat kok, ayo kamu juga ikut kita ke kantin Fell" ajaknya.
"Rici kamu mau makan apa?"
__ADS_1
"Ga tau nanti gue liat menu hari ini dulu." jawabku.
"Eh Beatrice bukannya itu pacar lo ya? Dia ngapain ngumpul disana?" tanya Felly penasaran.
"Ga tau juga."
"Kita kesana yuu.. kayaknya seru, lagian aku juga penasaran disana ada apa." saut Livy sambil menarik tanganku dan Felly menuju kerumunan itu.
Saat kami menuju kerumunan itu tiba-tiba kerumunan itu dibubarkan oleh para guru. Para guru terlihat kesal dan membawa penggaris kayu panjang serta membawa beberapa murid yang tadi berkerumun disitu.
"Michael!! Tadi ada apa kok rame banget???" tanya Livy padanya tapi entah kenapa nada bicaranya seolah-olah dia sedang bertingkah imut didepan Michael.
"Livy ngapain disini?? Tadi ada murid yang sengaja tumpahin susu ke murid lain jadi hampir aja berantem.. Livy harusnya ga disini nanti dimarahin guru gimana?" jelas Michael kepada Livy yang entah kenapa membuatku geli mendengarnya.
"Ekhem.."
"Oh!! Ada Rici juga.. Lo mau kemana? Ke kantin kan? kok ada disini?" tanya nya padaku.
"Ga apa-apa tadi gue ditarik sama Livy kesini karena dia penasaran sama masalah tadi."
"Oh yaudah deh gue ke kantin duluan ya sama temen-temen, bye semua." ucapnya sambil meninggalkan kami disini.
"Kadang gue heran sebenernya Michael itu pacar lo apa pacar Livy kok perlakuannya beda banget." tanya Felly.
"Yahh.. gue juga ga tau.."
"Ngga kok.. Michael sama Rici tuh romantis banget!!! Kalo ke aku cuma perlakuan sebagai temen doang." jelas Livy dengan cepat seolah tidak ingin yang lain salah paham.
...Laki-laki tadi adalah pacarku namanya Michael Kenz. Kami sudah berpacaran sejak masih kelas 1 SMA. Kami memiliki banyak waktu bersama tapi entah kenapa akhir-akhir ini dia memperlakukan ku tidak seperti biasanya tapi aku tidak peduli dengan itu karena aku percaya padanya....
...Michael mengetahui kondisi keluargaku, tapi ia tetap menerimaku apa adanya dan itu membuatku menyukainya. Ia selalu mendengarkan cerita keluh kesahku, selalu ada disaat aku membutuhkannya dan selalu menghiburku saat ada masalah. Itu yang membuatku semakin menyukainya....
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Lyvia Anastacia
Fellicity Anneliese
Michael Kenz
__ADS_1