Bahagia Itu Sulit

Bahagia Itu Sulit
Alan salah paham


__ADS_3

*UKS


"Rici!!... huhuhu.. huhu" tangis Livy.


"Lo bisa berhenti nangis ga sih?? Emangnya lo ga capek?!" tanya Felly membentaknya.


"Kamu ga tau sakitnya kena bola tuh gimana..huhu.. sakit banget tau!".


"Ya sorry!! Gue ga sengaja kali.. Namanya juga manusia pasti ada salahnya!".


"Aku yakin kamu bukannya ga sengaja kan!! Aku tau dari awal kamu tuh benci sama aku, tapi ga gini caranya..huhuu..Rici.." bantah Livy sambil memeluk Rici yang ada disebelahnya.


"Sekarang gue tanya!! Lo sama Michael pasti sengaja kan mukul bola itu kenceng banget biar kena Rici?!! Jawab!!" 'bentak Felly sambil menarik bahu Livy agar terpisah dari Rici.


"Ngga!! Aku ga kayak kamu yang sengaja celakain orang!! jawab Livy. Ia pun langsung memegang tangan Rici, "Kamu pasti percaya kan..? Aku sama Michael ga mungkin sengaja mukul bola itu ke kamu Rici.. Kamu percaya kan sama aku?".


Rici pun perlahan melepaskan genggaman tangan Livy, "Gue juga ga tau Liv mau percaya siapa. Tapi gue percaya dengan apa yang gue liat di lapangan".


Michael yang sedari tadi hanya diam dan memperhatikan mereka tiba-tiba saja mulai berteriak dan membela diri, "Jahat banget lo nuduh kita kayak gitu!! Lo sendiri juga tadi mukul bola ke arah Livy sampai kena tangannya kan?! Berarti lo juga sengaja!!"


"KURANG AJAR!! --" belum sempat Felly berbicara, dokter UKS sudah menyuruh semuanya untuk diam karena mengganggu anak-anak yang lain yang sedang sakit.


"Cuma boleh ada 2 orang yang jaga! Emang kalian pikir yang punya telinga cuma kalian doang?!! Kalian ga bisa baca peringatan yang ditempel di depan pintu apa?!! mending kalian keluar deh sekarang!!" tegur dokter sambil menunjuk kearah tanda bertuliskan DILARANG BERISIK.


Setelah meminta maaf pada dokter, Rici dan Felly keluar dari ruangan. Sementara Michael ingin tetap disana menjaga Livy. Sepanjang perjalanan menuju ruang kelas Rici terlihat sangat sedih entah apa yang dia pikirkan, melihat itu Felly merasa sangat bersalah.


"Gue minta maaf.. Ini gara-gara gue ga bisa kendaliin emosi gue pas liat mereka" ucapnya tiba-tiba.


Rici yang sedang termenung terkejut dan bingung kenapa Felly meminta maaf padanya, "Emang lo salah apa?".


"Gara-gara gue, lo jadi berantem sama Michael.. Padahal gue sendiri tau kalau lo berusaha banget jaga hubungan kalian. Gue minta maaf".


"Lo ga salah apa-apa Fell.. Gue.. cuma lagi berusaha yakinin diri gue sendiri kalau mereka ga ada hubungan apa-apa dibelakang gue.. gue berusaha tetep berfikir positif tapi entah kenapa ga bisa.. hiks.." ucap Rici tiba-tiba terduduk dan menangis.


Felly yang melihatnya langsung memeluk Rici dan menenangkannya dengan menepuk-nepuk bahunya, "Gue paham.. Lo udah berusaha keras nahan ini sampai sekarang. Sebenernya gue ga mau ngomong ini sama lo tapi kayaknya lo harus tau ini deh".


"Gue harus tau apa?" tanya Rici penasaran.


"Sebenernya beberapa hari yang lalu pas pulang sekolah gue liat mereka berdua di Playground deket apartemen Livy. Mereka berdua lagi--"


"Ciuman" Potong Rici tiba-tiba.


"Lo tau?!!" tanya Felly berteriak.


"Gue tau. Gue ada disana pas mereka lagi berdua.. gue mau ke rumah Livy karena mau balikin buku dia yang ada di gue, ditengah jalan gue malah liat hal yang ga mau gue liat" jelasnya.


"Kenapa lo ga kasih tau gue?!!".


"Gue cuma ga mau memperpanjang masalah. Yang gue mau mereka kasih tau gue sendiri".


"Lo mau nunggu sampai kapan? Lo percaya kalau mereka bakal ngakuin itu sendiri?" tanya nya tapi Rici hanya diam tak menjawab.


Sambil menunggu Rici berhenti menangis, Felly duduk di sampingnya. Ia banyak menceritakan hal lucu kepada Rici tapi Rici diam saja, tiba-tiba ada seseorang yang datang.


"Lo berdua ngapain duduk dilantai..? Kenapa belum ganti baju?" tanya Alex ketus.


Lalu muncul seseorang dari belakang Alex dan melambaikan tangannya, "Haii.."


"Alex..? Kelvin..?".

__ADS_1


"Lo berdua ngapain disini?" tanya Felly.


Alex pun langsung menyilang kan tangannya dan memiringkan kepalanya, "Itu yang tadi gue tanya, ngapain lo berdua masih disini?".


"Gue sama Rici lagi istirahat aja disini sambil duduk, lo kalo mau lewat ya lewat aja" ketus Felly.


Rici pun bangun dari duduknya dan membersihkan celananya dari debu yang menempel, "Omong-omong kalian berdua habis kemana? kenapa datang dari arah UKS?".


Kelvin langsung sigap menjawab pertanyaan Rici, "Karena kita berdua habis dari UKS hehehe.." jawabnya.


"Oh lo habis dari UKS kok gue sama Rici ga liat ya? Btw Tim C udah selesai tanding?" tanya Felly.


"Lo ga liat gue ya karena lo sibuk marah-marah ke si Michael sama Livy!! Masa badan gue segede gini masih ga keliatan, buta lo ya..? Makanya punya mata tuh dipake!!" jawab Kelvin sambil meledeknya.


"Berani lo ya?!! Sini lo jangan beraninya pas dibelakang Alex doang!!" Ucapnya sambil menghampiri Kelvin.


Kelvin yang melihat Felly mendekat sontak langsung berlari, "KABUR..!!!"


"WOY..KESINI LO!!!!" Teriak Felly sambil mengejarnya.


Kini hanya tersisa Alex dan Rici saja di tempat itu. Suasana canggung menyelimuti mereka, mereka hanya bisa diam satu sama lain karena selama ini tidak pernah mengobrol secara pribadi.


Rici pun mulai membuka pembicaraan sembari berjalan menyusuri lorong gedung, "Makasih.."


"Buat..?" tanya Alex penasaran.


"Makasih lo udah nyelametin gue dari bola itu" jawabnya ragu-ragu.


"Gue juga minta maaf udah bentak lo didepan banyak orang".


"Yah.. gue juga salah sih karena ga menghindar. Punggung lo masih sakit??" tanya Rici sambil memperhatikan belakang tubuh Alex.


"Udah mendingan cuma sedikit memar doang" jawabnya santai.


Alex yang terkejut pun langsung menghindar dan berusaha melepas tangan Rici dari punggungnya, "Lo ngapain sih?!! Lo mau gue buka baju disini?!".


"Iya."


"Gila ya lo!! Kalo ada yang liat gimana?!!" tolaknya.


"Lo ga mau lepas disini? Kalo gitu ikut gue!!" ucap Rici sambil menarik tangan Alex untuk mengikutinya.


...****************...


Rici menarik tangan Alex dan berlari menaiki tangga menuju atap gedung sekolahnya, ia melihat sekeliling untuk memeriksa apakah ada orang yang akan naik ke atap gedung itu lalu menutup dan mengunci pintu itu.


Melihat Rici mendekat membuat Alex panik, "Heh lo mau ngapain? Jangan deket-deket!! Lo mau ngapain sampai kunci pintu begitu?!!".


"Lo mau buka baju itu sendiri dan tunjukkin lukanya atau mau gue buka secara paksa?!! cepet pilih kita ga ada waktu banyak!!" tanya Rici memaksa.


"Emang lo mau ngapain kalo gue kasih liat?!! Mau lo sembuhin?".


"Gue bakal tanggung jawab sampe luka lo sembuh total!!" jawabnya dengan yakin.


"Apa..? Tanggung..jawab..? Gue ga apa-apa, jadi lo ga perlu tanggung jawab!!" teriak Alex.


"Cepet buka!!! Kalau lo ga buka, gue yang bakal buka" ucap Rici sambil menarik-narik baju Alex agar terbuka.


Alex yang sedang berusaha menarik bajunya agar tetap tertutup akhirnya menyerah, "Stop!!! Iya gue buka!! Gue bakal buka sendiri".

__ADS_1


Jawaban Alex membuat Rici puas dan menunggu Alex membuka bajunya. Alex yang terlihat ragu-ragu untuk melepas bajunya akhirnya berbalik lalu melepas semua bajunya dan kini hanya bertelanjang dada.


Rici terkejut melihat memar besar yang terlihat di punggung Alex. Rici bisa mengerti kenapa memar bekas pukulan bola bisa jadi sebesar ini. Itu karena bola Voly yang tadi dimainkan lebih keras daripada bola biasanya.


Rici merasa sangat bersalah karena Alex harus menggantikan dirinya terkena pukulan bola yang kencang. Perlahan ia mulai menyentuh memar yang ada di punggung Alex.


"Ugh.."


"Pasti saki.., sekali lagi gue minta maaf dan gue bakal bertanggung jawab sampai lo sembuh" ucap Rici sambil menjauh.


"Gue ga apa-apa, lo ga perlu tanggung jawab lagian gue emang sengaja nahan bola itu. Lain kali lo jangan gila mau nahan bola itu sendirian mendingan Lo menghindar!".


Rici merasa sedih sekaligus senang karena ia tau kalau ada orang lain yang tulus mengkhawatirkan dirinya, "Makasih.. sekali lagi makasih.."


setelah ia mengucapkan terimakasih, tiba-tiba Rici mendengar ada suara orang yang memanggilnya dari kejauhan.


"Kak..Rici..??"


Sontak Alex dan Rici pun langsung menoleh ke arah suara itu. Dari balik bangunan muncul Alan yang sedang bersama temannya, "Alan..?"


"Kak lo ngapain disini?!! Kenapa tuh cowok ga pakai baju?!! Kak..?!! Brengs*k lo!! Lo apain kakak gue hah?!! Teriaknya sambil berlari menghampiri Rici.


Alex hanya terdiam sambil menggeleng-gelengkan kepalanya, Rici juga berusaha menenangkan Alan agar tidak salah paham tapi Alan tetap saja berteriak kepada Alex.


"Ngga Alan.. Itu cuma temen gue!!" ucap Rici menenangkan dan menarik Alan menjauh dari Alex.


"Brengs*k Lo!! Jangan mentang-mentang badan lo bagus jadi bisa godain kakak gue!! Lo siapa hah!!" teriak Alan sambil menunjuk-nunjuk ke arah Alex.


"ALAN!!!!". Mendengar teriakan Rici, Alan pun langsung terdiam karena takut. Alan diam karena tahu teriakan Rici adalah pertanda jika ia sudah benar-benar marah.


Setelah semuanya diam, Rici meminta Alex agar kembali duluan ke kelas tanpa dirinya. Mendengar itu Alex langsung memakai bajunya dan pergi meninggalkan atap.


"Alan.. dengerin.. Alex itu temen gue! Gue sengaja suruh dia buka bajunya karena gue mau mastiin memar yang di punggungnya itu parah atau ngga, Paham?!" jelas Rici.


"Lagian ngapain lo liat memar di punggung dia? Bilang aja lo mau liat badannya yang bagus kan kak?!! Kalo cuma gitu doang sih gue juga bisa!!".


"Bukannya badan lo tulang semua ya Lan?" celetuk temannya, lalu Alan pun memberinya tatapan tajam yang berarti menyuruhnya untuk diam.


"Hahh.. Alex itu memar karena nyelametin gue dari bola Voly!! Dan memarnya itu parah banget!".


"Terus ngapain harus di Atap? di kunci lagi pintunya!! Kan bisa aja liatnya di kelas atau di kamar mandi ya kan? Kenapa harus di Atap coba?" tanya Alan.


"Lo punya otak ga sih?!! Kalo di kamar mandi berarti gue harus masuk ke kamar mandi cowok gitu?!! Dan kalo dikelas pasti dia juga malu lah diliat banyak orang!!".


"Ngapain malu coba?!! Badan dia kan bagus kayak Atlet, kalo gue jadi dia sih ga bakal malu!" gerutu Alex.


"Ya kan lo emang malu-maluin orangnya, Lan.." celetuk temannya lagi.


"Lo bisa diem ga sih?!! sebenernya lo temen gue apa temen kak Rici sih?!!".


"Udahlah!! Capek gue ngomong sama lo. Yang jelas masalah ini udah kelar!! Lo jangan ikut campur masalah gue!! Kalau lo masih ikut campur, gue bakal kasih liat foto lo yang lagi ngerokok ke Mama!!" Ancam Rici yang membuat Alan mengangguk ketakutan.


Setelah itu Rici pergi kembali ke kelas. Sampai kelas ia dikejutkan karena semua perempuan di kelasnya berlari menghampirinya untuk menanyakan sesuatu yang sangat penting.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


1. Kelvin Leonard


__ADS_1


...Kelvin Leonard adalah sahabat yang paling dekat dengan Alex. Orang tua mereka saling mengenal dan selalu bersama sedari kecil. Walaupun mereka selalu bersama tapi sifat mereka sangat bertolak belakang satu sama lain. Tidak seperti Alex yang cuek dengan sekitarnya, Kelvin justru sangat aktif dan ceria. Dia adalah orang yang mengutarakan pendapatnya tanpa memikirkan orang lain....


...Karena sifatnya yang seperti itu ia tidak sungkan-sungkan untuk menjahili orang lain termasuk Felly. Mereka adalah orang yang paling berisik di kelas. Kelvin dan Felly memiliki banyak kesamaan termasuk nilai pelajaran mereka. Nilai mereka sangat membuat para guru sakit kepala tapi walaupun begitu mereka adalah orang yang sangat bekerja keras....


__ADS_2