Bahagia Itu Sulit

Bahagia Itu Sulit
Terintimidasi


__ADS_3

Tok.. Tok.. Tok..


Felly langsung membuka pintu saat ada yang mengetuk dan melihat Rici


"Rici!! Ayo masuk.."


"Makasih."


"Ayo langsung ke dapur aja." ajak Felly. Disana sudah ada kakek dan nenek serta Evan yang sedang memindahkan makanan ke meja makan.


"Rici udah sampai yah.. Ayo kita makan dulu.." ucap nenek Felly.


Setelah itu mereka semua duduk di kursi masing-masing yang sudah disiapkan. Mereka semua berbincang dengan hangat sembari makan, suasana itu sangat nyaman dibanding saat ia makan dirumah. Dalam hati kecil Rici, ia tidak ingin momen ini cepat berlalu.


Melihat Rici yang hanya diam sambil tersenyum, nenek Felly pun langsung bertanya padanya. "Rici ga suka makanannya ya? Kok diem aja?"


"Oh ngga kok nek!! Ini enak!!" jawab Rici panik.


"Udah nek.. Jangan nanya gitu ke Rici.. Rici gimana sekolahnya?" tanya Kakek Felly.


"Ga gimana-gimana kok kek.. Cuma belajar doang hehe."


Felly langsung ingat kalau dia belum meminta tanda tangan untuk persetujuan Camping langsung memberitahu kakek neneknya. "Oh iya!! Felly sama Evan perlu tanda tangan buat Camping. Yang mau tanda tangan kakek atau nenek?"


"Aduh.. nenek sama kakek ga bisa tanda tangan. Felly aja yang tanda tangan yah.. Nanti tinggal tulis nama kakek buat walinya." jelasnya.


"Oh gitu nek.. oke deh!!" jawab Felly dan langsung kembali makan.


Kakek Felly yang mendengar tentang Camping Felly dan Evan langsung merasa sedih. "Maaf ya kakek sama nenek ga bisa kasih kalian uang jajan banyak.. Tapi besok kakek


cari uang lebih buat uang jajan kalian ya.." ucapnya sambil tersenyum.


"Ga perlu kek.. Felly punya cukup uang kok buat jajan Evan. Lagian disana juga disediain makanan jadi ga perlu beli.. Kakek istirahat aja dirumah."


Rici yang mendengar itu semua langsung merasa bersalah karena makan dirumah Felly. "Maaf ya.. Padahal ini ikan yang udah capek-capek kakek tangkap tapi Rici malah ngerepotin dengan ikut makan disini."


"Loh... Emangnya kenapa? Justru kita semua disini yang selalu ngerepotin Rici jadi kakek sama nenek malu cuma bisa bales kebaikan Rici cuma pakai ikan yang kakek tangkap. Dan yang terpenting, Rici ga perlu sungkan disini.. karena kakek sama nenek udah anggap Rici kayak Cucu sendiri, sama kayak Felly sama Evan.." jelas kakek sembari tersenyum pada Rici.


Rici yang mendengar ucapan kakek seketika langsung menangis. Ia merasa sangat dihargai dan disayang oleh mereka yang bahkan tidak memiliki hubungan darah dengannya.


"Makasih semuanya.. Rici ga pernah ngerasa di repotin, malahan Rici seneng bisa bantu karena Rici sayang sama kalian semua."


Kakek dan nenek Felly hanya bisa tersenyum terharu mendengar apa yang dikatakan Rici. Felly pun sibuk menenangkan Rici. Sedangkan Evan terus melanjutkan makannya.


"Kalo habis nangis kan pasti kak Rici ga nafsu makan. Sisa ikannya buat aku ya kak.." celetuknya sembari mengambil Ikan bagian Rici.


Neneknya hanya bisa tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. "Evan... itu kan buat tamu.."


"Hehehe.. ga apa-apa kan kak Rici?" tanya Evan.


"Iya Nek ga apa-apa.. Rici juga tadi udah makan dirumah."


"Tuh kan kata kak Rici ga apa-apa. Kak Rici mah baik ga kayak Kak Felly, pelit!!"


"Ya lagian lo mah kalo minta ga nanggung-nanggung diambil semua!!'


Semua orang pun tertawa melihat kelakuan Felly dan Evan. Rici juga ikut tertawa bersama mereka, Rici merasa bahagia karena bisa melakukan hal yang tidak bisa ia lakukan saat berada dirumah.


...****************...


Setelah selesai makan bersama. Felly langsung mengajak Rici ke kamarnya untuk membantunya mempersiapkan barang bawaan untuk camping.


Tringgg...


Tiba-tiba suara notifikasi pesan terdengar dari ponsel keduanya dan langsung membukanya.


"Loh Grizel bikin grup." ucap Felly.


"Kayaknya buat nanti Camping deh."


"Kayaknya dia baik.. Kita udah 3 tahun sekelas bareng sama dia tapi baru kali ini kita ngobrol pribadi sama dia, Iya kan?" tanya Felly.


"Iya bener. Karena biasanya dia main sama anak kelas lain." jawabnya.

__ADS_1


Felly pun lanjut mengemasi barang-barangnya sambil dibantu oleh Rici.


Tok..Tok..Tok..


Mendengar ketukan suara ketukan di pintunya, Felly sudah mengira kalau itu adalah Evan dan langsung menyuruhnya masuk.


"Evan.. kenapa? tumben ke kamar kakak?" tanya Felly.


Evan pun langsung menunduk dan ragu-ragu memberitahu kakaknya. "Kak.. punya jaket dua ga? Gue mau pinjem buat nanti".


Langsung saja Felly memberikan jaket yang sedang ia pegang kepada Evan dan membuat Evan sangat senang.


"Makasih kak!! Gue lanjut siap-siap dulu ya!!" ucapnya sambil pergi ke kamarnya sendiri.


Rici yang kebingungan karena melihat Felly memberikan jaket yang akan dipakainya nanti kepada Evan langsung bertanya alasannya pada Felly.


"Bukannya lo cuma punya satu? Kenapa malah dikasih ke Evan?" tanya Rici penasaran.


"Ga apa-apa lagian gue juga ga gampang kedinginan. Daripada jaketnya ga kepakai mending kasih ke Evan, kan?"


Rici yang mendengar kebohongan Felly hanya bisa tersenyum, karena Rici lah yang paling tahu tentang Felly. Walaupun ia mengatakan hal seperti itu tapi sebenarnya ia adalah orang yang mudah kedinginan.


"Kadang gue iri sama keluarga lo, walaupun sederhana tapi bikin hati gue nyaman. Sedangkan rumah yang gue anggap sebagai tempat pulang? Cuma nenek yang satu-satunya peduli sama gue haha." ucapnya sambil tertawa ketir.


Felly sontak langsung memeluk Rici untuk menenangkannya. "Kan ada gue sama yang lain.. Kalau lo berpikir ga punya tempat buat pulang, lo harus inget kalau lo masih punya gue! Keluarga gue bakal selalu menyambut lo disini."


Mendengar itu Rici langsung merasakan kelegaan di hatinya dan langsung membalas pelukan Felly.


"Oh iya!! Gue punya jaket dua, gimana kalau lo pakai yang satunya. Daripada ga gue pakai kan? Alan juga punya jaket sendiri." ucap Rici menawarkan.


"Ga usah.. Lo kan tau gue orangnya ga gampang kedinginan."


"Ga apa-apa daripada ga di pakai sama gue kan? Besok gue bawa ya pas ke sekolah." paksa nya.


Felly pun terpaksa menyetujuinya karena tahu kalau Rici akan terus memaksanya.


Tak terasa waktu sudah lama berlalu, Rici segera pamit pulang dan Felly pun mengantar Rici sampai depan rumahnya.


"Masih terang loh padahal.. Pulangnya nanti aja, gue anter kok.." rengek Felly pada Rici.


"Grizel..? Cuma berdua? Tumben.."


"Iya ga apa-apa mungkin dia mau lebih deket sama kita dan justru gue seneng kalau kita nambah temen lagi, kan?"


"Gue yang ga seneng.." gumam Felly.


Rici yang mendengar gumaman Felly hanya bisa tertawa kecil. "Lagian lo bakal tetep jadi sahabat terdeket gue walaupun gue banyak temen lain."


"Hehe iya gue percaya.."


...****************...


Dari kejauhan Rici melihat Grizel sedang duduk menunggunya di kursi taman. Grizel pun yang melihat Rici sontak langsung melambaikan tangannya.


"Hai.. Maaf ya jadi nyuruh lo kesini.." ucap Grizel.


"Ga apa-apa. Kenapa? Bukannya besok juga ketemu disekolah?"


"Emmm.. sebenernya ada yang mau gue ceritain. Tapi gue ga punya temen cerita.. Hehe maaf ngerepotin."


"Cerita aja.. Gue dengerin kok." ucap Rici meyakinkan.


Grizel tampak ragu untuk menceritakannya, karena baginya ini adalah cerita yang memalukan. "Gue suka sama Alex!! Tapi gue malu..."


Rici tidak terlalu terkejut dengan pernyataan Grizel, karena ia tahu kalau semua anak perempuan di kelasnya menyukai Alex.


"Hmm gitu.. terus apa masalahnya?" tanya Rici penasaran.


"Gue denger lo ngerti cara nulis novel yang bagus ya.. Sebenernya akhir-akhir ini gue lagi nulis novel. Jadi gue mau minta penilaian lo tentang novel gue." jawab Grizel sambil memegang tangan Rici.


"Oh lo punya novel..? Apa judulnya biar nanti gue baca.."


"Judulnya Pangeran es yang hangat ada di WeToon kok.. Tolong kasih penilaiannya ya.."

__ADS_1


Rici langsung mencari judul novel yang diberitahukan oleh Grizel. Ia pun mulai membacanya secara teliti agar bisa tahu dimana letak kesalahan novel tersebut.


"Novel lo bagus kok.. tapi gue saranin sih pakai tanda baca yang jelas, biar yang baca ga bingung.." jelas Rici sambil memberi tahu bagian mana yang bermasalah.


"Oh gitu!! Akhirnya gue tau kesalahannya dimana, makasih ya Rici!!"


"Tapi omong-omong.. Karakter cowok dan cewek disini kok kayak ga asing atau cuma perasaan gue ya."


"Hehe ga kok.. Sebenernya ini rahasia, tapi gue bakal kasih tau lo. Sebenernya karakter cowok disitu terinspirasi dari Alex dan yang cewek dari gue.. Seenggaknya di novel gue sama Alex bisa hidup bahagia nantinya." jelas Grizel.


"O—oh gitu ya.. haha.. Ya udah karena udah selesai semua, gue pulang duluan ya." pamit Rici meninggalkannya.


"Oke!! Sekali lagi makasih ya!! Sampai ketemu disekolah besok!!" teriak Grizel.


Sambil berjalan Rici pun tersenyum bahagia karena ia mendapatkan teman baru. Disisi lain Grizel pun bahagia karena akhirnya bisa berteman dengan Rici. Tapi mereka tidak tahu kalau ini adalah awal kesedihan mereka.


...****************...


*Dirumah


Sesampainya dirumah, Audy langsung memanggil Rici untuk segera ke kamarnya. Audy berencana mengajak Rici pergi keluar besok.


"Besok kamu ikut kakak ke Mall." ucap Audy.


"Ajak Alan aja pasti dia mau.. Lagian aku juga ga mau beli apa-apa."


Audy langsung meletakkan ponsel yang sedang di pegangnya dan menatap Rici dengan tatapan tajam. "Telinga kamu ga bisa denger ya..? Kakak bukan nawarin tapi emang nyuruh kamu ikut sama kakak, jadi kamu pikir bisa nolak?"


Biasanya Rici hanya diam mendengar perkataan Audy dan hanya menurutinya. Tapi kali ini ia ingin melakukan hal yang tidak pernah ia lakukan. Kali ini ia ingin menjadi dirinya sendiri dan mengutarakan pendapatnya.


Rici yang tadi hanya menunduk kini berusaha memberanikan diri untuk bicara pada Audy sambil menatap lurus ke arah kakaknya. "Kak.. Bisa ga sekali aja lo denger pendapat gue. Gue ada urusan besok jadi ga bisa ikut."


Audy tertegun melihat Rici yang berani menjawab perkataannya, ia diam sejenak karena terkejut.


Terlihat sedikit tarikan di ujung bibirnya seperti menikmati suasana ini. "Hooo...."


Rici masih tetap menatap lurus ke arah kakaknya sebagai tanda bahwa ia serius dengan perkataannya. Audy yang melihat Rici masih berani menatapnya langsung menghentikan senyumnya dan membuat suasana di kamar itu terasa berat yang membuat Rici merasa terintimidasi.


"Kamu pikir kita seumuran sampai manggil kakak pakai kata 'Lo' ? Kakak udah pernah bilang jangan sekali-kali pakai kata itu sama kakak, tapi ternyata kamu ga ngerti ucapan kakak ya.. Kakak jadi sedih loh kalo kamu bilang gitu.."


Rici terkejut melihat perubahan raut wajah Audy yang tidak sesuai dengan apa yang dia ucapkan. Seketika perasaan terintimidasi kembali dirasakannya, ia yang sedari tadi menatap Audy kini hanya bisa tertunduk.


Audy hanya diam menunggu dan memperhatikan ekspresi wajah Rici, ia penasaran apakah Rici akan menatapnya lagi seperti tadi atau tidak. Ia kembali tersenyum melihat Rici yang kini hanya bisa tertunduk padanya.


Setelah terdiam beberapa saat Audy langsung bangkit dari duduknya dan berjalan menghampiri Rici. Ia berdiri di belakang tubuh Rici sembari memegang pundak adiknya itu lalu mulai berbisik padanya. "Kamu kira kakak takut sama tatapan kamu..? Kalau kamu emang seberani itu harusnya sebelum ngelakuin itu kamu kendaliin dulu kaki kamu yang selalu gemetar waktu liat kakak, Rici."


Mendengar perkataan itu Rici sangat terkejut karena ia bahkan tidak tahu kalau selama ini ia gemetar bahkan hanya saat melihat Audy.


Audy tersenyum puas saat melihat tubuh Rici gemetar. Ia langsung menjauh dari Rici dan kembali duduk di kasurnya, lalu bertingkah seperti tidak terjadi apa-apa diantara mereka.


"Kakak sakit hati loh kalo kamu bicara ga sopan gitu sama kakak.. jadi kamu harus bilang apa sama kakak?"


"Maaf kak!!" Rici sontak langsung menjawab karena ia takut perasaan terintimidasi itu muncul lagi.


"Jadi kamu ikut ke Mall kan sama kakak? Kali ini kakak ga maksa kamu buat ikut jadi jawab aja senyaman kamu yaa.." ucap Audy sambil tersenyum.


"I–iya kak aku ikut." jawab Rici sambil gemetar.


"Bagus deh.. Ya udah sana kamu balik ke kamar, kamu pasti capek, kan?"


Rici langsung bergegas kembali ke kamarnya seolah ingin cepat-cepat meninggalkan ruangan itu.


"Oh Rici.." panggil Audy tiba-tiba membuat Rici terkejut.


Mendengar Audy menyebut nama Rici saja sudah membuatnya sangat gemetar ketakutan. Audy yang melihat Rici gemetaran dan berusaha untuk mengatur nafasnya membuat Audy tersenyum. "Ga jadi.. Kakak lupa mau bilang apa."


Rici hanya tersenyum dan langsung pergi dari ruangan itu dan kembali ke kamarnya. Audy hanya bisa tertawa melihat tingkah adiknya itu.


"Lucu.. itu kenapa aku suka anak itu" gumamnya.


Audy yang sadar dengan gumaman nya sontak langsung berhenti tersenyum. "Suka ya.. haha.. ga mungkin."


Sementara dikamar Rici. Ia terduduk lemas karena mengingat kejadian tadi, ia juga sedang berusaha untuk mengatur nafasnya dan berusaha menghentikan gemetar tubuhnya.

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2