Bahagia Itu Sulit

Bahagia Itu Sulit
Om PNS


__ADS_3

Setelah bel berbunyi semua orang berhamburan keluar dari gedung untuk pulang. Rici yang melihat Alan yang sedang berdiri di depan gerbang menunggunya.


"Kak!! Lo lama banget sih keluarnya!! Gue udah nungguin lama banget nih!!" ucapnya mengeluh pada Rici.


"Sorry tadi ada pengumuman tentang Camping.. Kelas lo juga ikut kan?"


"Iya dong!! Kelas gue ikut semua! Lo harus jajanin gue selama Camping hahaha!!"


Rici langsung berlari sambil menarik tangan Alan. "Jangan banyak omong.. Cepet jalan!! gue buru-buru mau minta tanda tangan!"


Keduanya langsung masuk kedalam bus untuk pulang. Selama perjalanan, banyak sekali orang yang minta berfoto dengan Alan. Rici sampai berfikir apakah Alan tidak lelah melakukan itu.


"Kak!! Lo ga mau foto sama gue gitu?? Kalo lo foto sama gue terus upload di sosmed pasti bakal langsung viral!!"


"Males. Ga ada gunanya gue foto sama lo, tiap hari ketemu aja udah bosen." jawabnya acuh.


"Sifat lo begini nih yang bikin orang-orang menjauh dari lo termasuk keluarga lo sendiri."


Rici tidak menghiraukan ucapan Alan dan mengalihkan pandangannya kearah jendela. Saat melihat kearah jendela ia melihat sosok tak asing, yaitu Livy dan Michael yang sedang berjalan bersama sambil bergandengan tangan.


Alan yang melihat itu sontak terkejut dan bertanya pada Rici. "Kak.. Bukannya itu pacar sama temen lo ya? Lo berdua udah putus?"


"Ngga, belum."


"Belum? Terus kenapa mereka gandengan tangan? Apa mungkin selingkuh? Mau gue tegur mereka?"


"Buat apa? Sejak kapan lo perhatian sama gue?" tanya Rici dengan nada ketus.


"Gue cuma nanya!! Kalo ga mau juga ga apa-apa! Orang kayak lo tuh emang pantes digituin!!" bentak Alan.


"Gitu ya? Ternyata orang kayak gue pantes diginiin."


Seketika Alan merasa bersalah sudah mengucapkan kata-kata seperti itu pada kakaknya, tapi rasa malunya untuk minta maaf lebih besar jadi ia hanya mengabaikannya.


Setelah beberapa lama akhirnya mereka berdua sampai di halte pemberhentian. Butuh beberapa waktu lagi untuk sampai ke rumah dan mereka melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki.


Ketika mereka berjalan dan hampir menuju rumah, mereka melihat seseorang berdiri tepat didepan rumah mereka. Seorang pria yang terus-menerus memanggil nama Audy untuk keluar dari rumah.


"Audy.. Tolong keluar.. Aku mau bicara sama kamu.. Tolong dengerin aku.. Ayo kita nikah!! Tabungan dan gajiku udah cukup buat membahagiakan kamu.. Kita bisa membangun keluarga yang harmonis dan punya anak yang cantik seperti kamu.." teriaknya didepan rumah.


Bagi dirinya sendiri mungkin ucapan itu terdengar sangat romantis tapi bagi orang lain termasuk Rici dan Alan yang mendengarnya itu sangat aneh dan menjijikan.


Alan yang melihat itu langsung mendekat ke arah pria itu. "Om.. Jangan teriak-teriak didepan rumah orang."


"Kalian pasti adik-adiknya Audy kan??" tanya nya bersemangat pada mereka.


"Iya kita adiknya.. Emang kenapa, om?"


"Panggil Kakak aja yah.. Tolong panggil Audy suruh keluar dong.. Kakak pengen bicara sama Audy. Setelah bicara sama kakak pasti dia bakal berubah pikiran dan mau nikah sama kakak." jelasnya.


"O—oh gitu ya om.. haha.. yaudah nanti saya kasih tau kak Audy. Kita masuk dulu ya om." ucap Alan sembari menarik Rici untuk masuk.


Setelah masuk ke rumah, Alan berteriak memanggil orang tua mereka. "Mah!! Ayah!! Alan pulang!!" teriaknya tapi tidak ada satupun yang menjawab dan hanya Nenek yang turun dari lantai atas.


"Rici sama Alan udah pulang ya.. Ayo makan siang dulu.. Udah nenek siapin makanannya."


"Nek.. Mamah sama Ayah kemana?" tanya Alan penasaran.


"Mereka tadi ditelpon sama orang kantor.. Ada meeting penting di luar kota jadi selama beberapa hari cuma ada kita berempat di rumah.. Ada apa kok tumben langsung cari mereka??" tanya nenek pada Rici dan Alan.


"Kita mau minta tanda tangan buat surat persetujuan Camping nek.." jawab Rici.


"Oh gitu.. Ya sudah nanti nenek yang tanda tangan, sekarang kita makan dulu ya."


Mereka pun mengangguk dan langsung duduk di meja makan. Lalu nenek pun langsung menyiapkan lauk pauknya.


Alan yang teringat pria yang berada di depan rumah langsung bertanya pada nenek. "Oh iya nek! Ada om-om yang manggil-manggil Kak Audy terus katanya suruh keluar, gimana nek?"

__ADS_1


"Oh.. Anak PNS baru itu ya.. Dia udah ngikutin Audy semenjak pulang kerja, jadi biarin aja." jawabnya.


Rici pun yang tidak melihat Kak Audy dari tadi langsung mencari keberadaannya. "Kak Audy kemana nek?"


"Oh iya dia lagi di teras atas.. Tolong kalian panggilin Audy buat makan siang ya.."


Mereka pun langsung bergegas menuju teras atas. Audy terlihat sedang termenung di teras atas sambil memangku wajahnya seperti sedang memikirkan sesuatu, mereka pertama kali melihat Audy seperti itu langsung kebingungan.


"Kak.. Itu Kak Audy kenapa? Kayaknya kita bakal abis kalau sampai ganggu dia deh." bisik Alan kepada Rici.


Rici langsung memanggil Audy yang sedang termenung. "Kak! Disuruh makan sama nenek.!" teriak Rici.


"Nanti kakak nyusul.. Kalian makan duluan aja."


Mendengar jawaban Audy yang tidak seperti biasanya membuat mereka kebingungan, pasalnya saat ditanya oleh mereka pasti ia akan menjawab dengan nada yang menyebalkan. Tapi kali ini jawabannya sangat lembut.


Alan yang melihat kesempatan langsung meminta uang jajan tanpa basa-basi. "Kak!! Aku minta uang jajan tambahan dong buat nanti Camping!" celetuknya.


"Bukannya Rici yang mau Camping ya? Kenapa kamu yang minta uang jajan tambahan?" tanya Audy.


"Angkatan ku juga ikut Camping kak!! Sekalian buat upacara penerimaan siswa baru yang waktu itu ga di adain, katanya sih biar menghemat pengeluaran." jelas Alan


Audy pun mengangguk tanda mengerti. "Jadi kenapa kakak harus kasih kalian uang jajan tambahan? Mending buat kakak shoping kan."


"Cih udah kuduga kakak ga bakal ngasih! Ya udahlah.. " Ucapnya sambil meninggalkan Audy.


"Eh sebentar.. Kakak bakal kasih uang kok asal kalian bisa bikin cowok yang ada didepan rumah itu pergi." ujarnya menawarkan.


"Ga, makasih. Aku kesini cuma karena disuruh nenek manggil kakak buat makan siang, bukan buat minta uang jajan." jawab Rici dengan tegas dan meninggalkan mereka.


"Berapa dapetnya?" tanya Alan serius.


"500 ribu per orang? Gimana? Setuju??" jawab Audy sambil tersenyum.


Rici yang sedang menuruni tangga langsung di hadang oleh Alan. Ia berusaha membujuk Rici agar mau mengusir pria itu dan mendapatkan uangnya.


"Ayo dong kak Rici... Lumayan loh 500 ribu buat kita!!" bujuknya.


"Kakak mau usir om-om itu dan kita dapet uang jajan atau aku bakal bilang ke orang rumah kalo kakak berduaan sama ketua kelas kakak yang lagi telanjang dada di atap sekolah??" ancam Alan sambil berbisik di telinga Rici.


Rici yang mendengar itu langsung menjawabnya, "Kamu punya bukti? Ngga kan? Jadi kenapa kakak harus takut?"


"Kakak pikir orang-orang disini perlu bukti kalau aku yang bilang? Sadar kak.. disini aku yang diuntungkan bukan kakak! Jadi pikirin baik-baik!" jawabnya sambil meninggalkan Rici.


"Hahhh.. bener-bener ngerepotin!!" gerutunya.


Setelah semuanya turun, mereka pun langsung makan makanan yang sudah disiapkan oleh nenek. Sedangkan pria itu masih saja diluar memanggil-manggil nama Audy dan mengajaknya untuk menikah.


Audy pun langsung bertanya lagi tentang penawaran itu. "Gimana? Ga ada yang mau uangnya?"


Alan langsung menggoyang-goyangkan tangan Rici yang berada disebelahnya, menyuruhnya untuk cepat mengusir pria itu.


Rici yang merasa risih dengan adiknya itu langsung berhenti makan dan bersiap untuk keluar rumah.


"Loh Rici mau kemana? Makanan kamu kan belum habis, Nak.." tanya nenek penasaran.


"Rici mau keluar nek.. Ada urusan sebentar, nanti Rici balik lagi kok."


Rici pun langsung keluar rumah dan bertemu pria itu yang sedang duduk didepan pagar rumahnya. Ia juga bertanya apakah Audy sudah mau keluar tapi Rici tidak menghiraukan dan hanya melewatinya.


"Harus apa?? Harus apa biar om-om itu pergi? Ayo pikir Rici.." gumamnya sambil menggigiti kukunya.


"GUK..GUK..GUK!!" tiba-tiba suara anjing menggonggong terdengar dari rumah tetangganya, ternyata itu Mimi. Dia adalah anjing ras Doberman peliharaan tetangganya. Mendengar gonggongan itu membuat Rici mendapatkan ide.


Ting..Tong..


Seorang wanita paruh baya pun keluar setelah mendengar bel yang dibunyikan oleh Rici. "Iya.. Ada apa ya??"

__ADS_1


"Permisi tante... Tadi saya denger Mimi terus-terusan menggonggong kayaknya dia pengen jalan-jalan. Boleh ga kalau saya ajak Mimi jalan-jalan sebentar?" tanya Rici penuh hati-hati.


"Astaga.. justru saya yang berterima kasih.. Dari pagi Mimi emang pengen jalan-jalan tapi saya lagi sibuk jadi belum sempet ajak jalan-jalan deh.. Kamu ga keberatan?"


"Ga apa-apa kok tante.. Justru saya seneng.." jawab Rici.


Wanita itu langsung masuk untuk mengambil sesuatu, saat keluar ia membawa semacam mainan berbentuk wortel "Ya sudah.. Kalau mau jalan-jalan bawa mainan ini aja. Mimi suka banget sama mainan ini, nanti kamu kasih aja ya biar ga berisik dijalan."


Rici langsung menerima mainan wortel itu dan langsung melepas ikatan Mimi untuk dibawa keluar.


Setelah berada diluar rumah Mimi seperti menantikan Rici memberi mainan itu padanya, melihat itu Rici langsung berbisik pada Mimi. "Mimi.. Kakak bakal lempar mainannya ke om itu, nanti Mimi ambil ya."


"GUK!!" seakan mengerti apa yang Rici ucapkan, Mimi langsung menggonggong seperti menjawabnya.


Rici langsung melempar mainan itu kearah pria yang sedang duduk didepan pagar rumahnya. Pria yang sedang termenung itu kebingungan karena ada mainan yang datang padanya entah dari mana. Ia langsung menoleh dan terkejut melihat ada anjing yang sedang menggeram kearahnya.


"GRRRRR... GUK.. GUK!!"


Rici langsung tersenyum dan melambaikan tangannya kepada pria itu. Lalu ia melepaskan tali anjing yang sedang ia pegang. Pria itu sontak terkejut dan langsung berlari sembari membawa mainan itu. Rici juga ikut berlari mengejar Mimi agar tidak pergi terlalu jauh.


Audy yang melihat dari teras atas hanya bisa tertawa melihat Pria itu lari terbirit-birit karena dikejar oleh anjing.


Setelah lama berlari, pria itu sadar kalau yang ia pegang adalah mainan anjing itu. Ia langsung membuangnya kearah lain tapi Mimi tetap mengejarnya karena Mimi sudah dilatih untuk mengejar orang mencurigakan yang berlari menjauhinya.


Rici sontak mengambil mainan yang pria itu buang dan langsung melambaikan mainan itu sambil berteriak memanggil Mimi. Mimi yang mendengar panggilan Rici langsung berhenti mengejar pria itu dan berbalik untuk mengambil mainan yang Rici pegang.


"Nice Mimi.. Anak pintar.. Nih mainan kamu." ucapnya sambil mengelus-elus Mimi dan memberi mainannya.


Setelah selesai berjalan-jalan bersama Mimi, Rici langsung mengantar Mimi pulang kerumahnya dan berterima kasih kepada wanita itu.


Setelah berusaha keras untuk mengusir pria itu dari rumahnya akhirnya Rici pulang kerumah. Ia langsung disambut oleh Audy dan Alan di depan pintu.


"Bagus!! Ini uang buat kalian.. masing-masing dapet 500 ribu." ucap Audy sambil memberikan uang pada mereka.


"Makasih kak." jawab keduanya.


"Oh iya.. ini kakak kasih tambahan 200 ribu buat Rici karena udah usir cowok tadi."


"Harus rata dong kak sama adiknya!! Masa cuma kak Rici yang dikasih!!" teriak Alan.


"Terserah kakak dong.. Itu kan uang kakak, kalau kamu ga mau balikin aja ke kakak." ucapnya ketus


Setelah memberikan uang untuk adik-adiknya Audy langsung kembali ke kamarnya untuk beristirahat.


Alan langsung menghitung uangnya, ia juga memberitahu kalau ia sudah mendapatkan tanda tangan nenek. "Oh iya kak.. Aku udah dapet tanda tangan nenek. Kalau mau minta tanda tangan ke kamar nenek aja." ucapnya sambil berjalan meninggalkan Rici untuk kembali ke kamar.


Rici bergegas mengambil Formulir persetujuan dan langsung pergi menuju kamar nenek. Disana ia melihat nenek sedang duduk sambil memandangi jendela yang ada di samping tempat tidurnya.


"Nek.. Rici mau minta tanda tangan."


"Ayo sini masuk.. Nenek juga mau bicara sebentar sama Rici." pintanya lembut.


Perlahan Rici mulai mendekat dan duduk di samping nenek. Nenek mengambil pulpen dan langsung menandatangani formulir milik Rici.


"Nenek mau bicara apa sama Rici?" tanya Rici penasaran.


"Rici.. Tolong jaga Alan disana ya.. Walaupun nenek tahu kalau Alan bisa jaga dirinya sendiri tapi nenek lebih percaya kalau kamu yang jagain Alan."


"Iya, Nek.. Rici pasti jaga Alan kok." jawab Rici meyakinkan.


"Syukurlah.. Nenek jadi tenang. Walaupun Alan anak yang pinter tapi dia tetep anak yang ceroboh. Nenek tenang kalau Rici mau jaga Alan.. Nenek cuma pesan hati-hati disana. Kalian berangkat berdua, pulang juga harus tetep berdua."


Rici langsung menggenggam tangan nenek untuk meyakinkannya. "Nenek tenang aja ya.. Rici pasti bakal jagain Alan. Oh iya nek!! Rici mau ijin main ke rumah Felly ya.. Kakek Neneknya undang Rici buat makan-makan disana, kebetulan tadi Rici kan baru makan sedikit hehe.."


Nenek pun langsung mengelus lembut kepala Rici sambil tersenyum. "Ya sudah tapi jangan pulang terlalu malem ya.. Hati-hati dijalan."


"Hehe iya nek.. Aku juga cuma sebentar kok."

__ADS_1


Setelah mendapatkan ijin dari Nenek, Rici langsung bergegas pergi menuju rumah Felly.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2