
Lucy lalu mengganti pakaian nya dengan sebuah pakaian kaus hitam dengan celana jeans pendek di atas lutut serta menggunakan sebuah Jaket biru.dengan rambut hitam nan ikal yang terurai serta warna mata yang merah bagaikan darah.
Wajah yang begitu cantik namun mendominasi terukir di wajah nya.bibir yang kecil mata yang besar kaki yang jenjang tubuh yang ideal.dada yang cukup terbilang bagus dengan tinggi 170 cm.
Lucy berjalan keluar dari pintu kamar nya.iya berdiri melihat sekeliling rumah yang sangat tidak asing bagi nya.ini adalah rumah keluarga angkat nya dahulu.keluarga Robinson.
"tidak ku sangka aku dapat kembali menginjak kan kaki di rumah ini" ucap Lucy seraya memperhatikan beberapa orang yang terlihat duduk di sebuah sofa di lantai bawah dengan bahagia.
"kalian bahkan begitu bahagia. Namun aku tidak akan membiarkan kalian terlalu lama bersenang senang. Jika Sebelum nya aku bisa menghancurkan kalian maka kali ini pun aku pasti akan kembali menghancurkan kalian" ucap lucy yang merasa kesal melihat beberapa orang di lantai bawah seraya memegang erat pagar pembatas lantai itu.
Lucy lalu berjalan menuruni tangga rumah nya.saat melewati beberapa orang yang sedang berbahagia Lucy hanya acuh tak acuh pada mereka.
"mengapa kau memakai pakaian seperti itu di luar" ucap seorang pria paruh baya yang terlihat tidak senang dengan pakaian yang di pakai Lucy.
Lucy tidak menghiraukan ucapan pria itu.iya terus melanjutkan langkah nya tanpa memperdulikan nya.
jika iya masih Lucy yang dulu mungkin iya akan sangat begitu sopan dan penurut.iya yang dulu bahkan hampir tidak pernah keluar selain bersekolah.
Namun Lucy yang saat ini sudah berbeda.iya begitu mendominasi.tidak pernah mendengar perintah dan hanya memerintah.sikap nya juga begitu dingin acuh tak acuh.
Pria tua yang merasa di abaikan oleh Lucy menjadi marah.
"anak sialan berani sekali kau mengabaikan ku.apa kau ingin ku hajar seperti sebelum nya" ucap pria itu dengan suara yang marah.
pria itu adalah ayah angkat Lucy Andra Robinson.
__ADS_1
Lucy lalu menghentikan langkah nya dan berbalik memandang pria tua itu dengan mata tajam seakan ingin membunuh orang tersebut.
"cih..jangan mengatur ku.kau harus ingat aku hanyalah anak yang telah kalian telantarkan" ucap Lucy mengingatkan mereka bahwa selama ini mereka tidak memperdulikan nya.
"aku tidak peduli apa yang ingin kau lakukan.kau berpakaian terbuka seperti itu apa kah ingin melakukan hal tak tau malu nanti.kau ingin merusak nama keluarga ini" ucap pria itu dengan marah .
"kau tidak perlu khawatir tentang itu.jika aku mau aku bisa menghancurkan kalian" ucap Lucy dengan mendominasi serta tatapan yang tajam dan mengancam.
Andra Robinson yang melihat tatapan mata Lucy merasa sedikit ketakutan.iya seperti merasa ada sesuatu yang menekan diri nya iya juga merasa bahwa wanita di depan nya sedikit berbeda dari biasanya yang slalu diam dan patuh.
"kau..." ucap pria itu dengan sangat marah seraya memegang dadanya karena merasa sedikit sakit.
dua wanita di dekat nya langsung menenangkan pria itu agar tidak tersulut oleh amarah.
Gadis itu adalah tasya iya hanya berbeda 3 tahun dengan lucy.dulu saat orang tua angkat nya mengadopsi nya iya masih berusia 2 tahun setelah 1 tahun bersama dan di beri kasih sayang lahir lah Tasya dan merubah semua kehidupan bahagia Lucy.
"suami ku jangan terlalu emosi.tidak baik untuk kesehatan mu'' ucap seorang wanita seumuran dengan Andra iya tak lain adalah ibu angkat Lucy.
Mereka berdua mencoba untuk menenangkan Andra Agar tidak tersulut emosi.
"kak jangan berkata begitu.dia adalah ayah kita sudah seharusnya kita menghormati nya dan menjaga nama baik nya" ucap Tasya dengan air mata.
Tasya terlihat begitu lembut dan baik hati di luar.namun sesungguh nya Tasya bukan lah orang yang baik.iy bahkan begitu licik dan kejam.lucy sangat ingat Tasya pernah mengirim beberapa preman untuk mencelakai Lucy.
namun keberuntungan berpihak pada Lucy iy berhasil selamat dari para preman itu dan kembali pulang dengan selamat. Saat Lucy kembali Tasya seolah begitu khawatir dengan keadaan nya.namun dalam hati nya begitu kesal karena gagal mencelakai Lucy.
__ADS_1
"ayah?!.dia bukan ayah ku.dan kau jangan pernah memanggil ku kakak dengan mulut kotor mu itu.itu sangat menjijikkan" ucap Lucy dengan tatapan tajam mengarah ke arah Tasya.
"Kak.ada apa dengan mu hari ini.mengapa kau begitu emosi kak.apa kakak sungguh membenci Tasya...huhuhu" Tasya menangis seolah olah dia telah di ganggu oleh Lucy.
"drama yang bagus" ucap Lucy melihat air mata buaya Tasya.
"lucy.masuk ke kamarmu sekarang.dan renungkan kesalahan mu jika tidak ayah tidak akan segan dan menghukum mu lagi" ucap Andra yang sangat marah melihat putri kesayangan nya menangis.
"kau tidak ada hak lagi untuk mengaturku.aku memiliki jalan ku sendiri.sebaik nya kau mendidik putri kesayangan mu itu dengan baik lagi.akting nya sangat buruk" ucap Lucy lalu pergi meninggal mereka begitu saja.
Lucy lalu keluar dari rumah karena tidak ingin ikut dalam drama kluarga itu.saat Lucy ingin pergi iya ingat bahwa iya tidak memiliki fasilitas seperti mobil ataupun motor.
selama ini keluarga nya hanya menyekolahkan nya saja dan memberi makan.bahkan uang saja Lucy sama sekali tidak di berikan.
"ah sial.betapa miskin nya aku yang sekarang." ucap Lucy dengan kesal karena tidak memiliki apapun untuk di pakai.
Lucy pun pergi dengan berjalan kaki keluar dari rumah.iya berjalan sepanjang jalan menikmati udara.iya merasa senang karena dapat terlahir kembali.iya sangat ingat dulu keluar dari rumah saja iya tidak pernah.bahkan pergi dan pulang sekolah slalu di antar oleh supir yang di tugaskan ayah nya.
"aku merindukan kakek.saat ini seharusnya kakek masih hidup.kakek meninggal saat usia ku genap 25 tahun.aku ingin melihat ke adaan nya" ucap Lucy sambil berjalan menyusuri setiap jalan.
Lokasi rumah kakek angkat Lucy pada kehidupan sebelum nya cukup jauh.butuh waktu satu hari jika menggunakan mobil.
Lucy ingin pergi menggunakan taxi namun iy bahkan tidak punya uang sepeserpun di kantongnya.
Lucy terus berjalan menyusuri setiap jalan.iya menikmati perjalan nya walau tidak tau harus menuju ke mana.bagi nya lebih baik berada di luar dari pada di rumah yang penuh dengan orang orang licik.
__ADS_1