Belenggu Cinta Aileen

Belenggu Cinta Aileen
Persiapan pernikahan


__ADS_3

...❄️...


...❄️...


...❄️...


"Selamat pagi nona." Sapa Sarah saat melihat Aileen menuruni tangga. "Selamat pagi juga Sarah." balas Aileen.


Wanita itu berjalan menuju ke keruang makan untuk mengisi perutnya yang mulai keroncongan. Akhir-akhir ini Aileen memang selalu merasa lapar, terutama di pagi hari.


Bahkan tubuhnya seperti tak bertenaga apabila mulutnya belum mengunyah sesuatu.


Karena itulah ia mengerahkan seluruh tenaganya yang hanya tersisa sedikit untuk mencari apa saja yang bisa ia makan.


"Anda mau sarapan apa nona?" tanya Sarah yang sudah mulai menyiapkan beberapa hidangan di atas meja. Aileen menarik kursinya, lalu melipat tangannya sambil memandangi Sarah dengan wajah cemberut.


"Dimana kepala pelayan? kenapa harus kamu yang menyiapkan sarapanku? sebaiknya kamu duduk saja di sana. Kita sarapan bersama." kata Aileen seraya mengisi piringnya dengan makanan.


Biasanya, jika Aileen bangun lebih pagi, ia bisa sarapan bersama dengan papa Dave, tapi karena tadi ia sedikit terlambat maka sekarang ia harus sarapan seorang diri. Dan Aileen tidak suka itu.


Sarah bergeming. Tidak ada yang salah sebenarnya dengan permintaan Aileen, hanya saja hal seperti itu tentu saja tidak boleh dilakukannya sebagai seorang pengawal.


Terlebih lagi saat berada dirumah ini. Dimana setiap sudut ruangan telah terpasang cctv.


"Anda saja nona, saya sudah sarapan tadi." tolak Sarah, berbohong. "Kalau begitu setidaknya kau bisa duduk untuk menemani ku, bukan?" kata Aileen mendengus gak suka.


Ia tahu kalau Sarah akan menolak ajakannya. Wanita itu memang selalu bersikap kaku seperti ini. Tapi tetap saja Aileen juga tidak mau makan sendirian.


Sebelum menarik kursinya dan menuruti permintaan Aileen, wanita itu terlebih dahulu membuat susu khusus yang di konsumsi oleh ibu hamil, yang harus diminum Aileen di pagi hari.


Sarah juga menyiapkan vitamin yang sudah diresepkan oleh dokter Sebelumnya.


"Ini susu dan juga vitamin anda nona." kata Sarah, lalu duduk di depan Aileen. "Terimakasih Sarah. Kau tidak perlu melakukan ini juga, aku bisa mengurusnya sendiri." balas Aileen.


"O, ya apa saja jadwal ku hari ini?" tanyanya, sambil mengunyah makanan. "Tidak banyak." kata Sarah, membuka tablet yang selalu dibawanya.


"Hanya bertemu dengan designer yang sudah di pilih oleh tuan Dave. Janji temunya adalah pukul 9."


Aileen mengernyit. "Designer yang mana? apa dia benar-benar kenalan papa Dave?" Aileen menyuapi makanannya lagi dan lagi.


"La Cornelia, nona. Designer yang terkenal dengan wedding dress nya. Saya sudah menyiapkan informasi tentang nya untuk anda." jawab Sarah, sambil menyerahkan tablet yang berisi informasi tentang sang designer. Aileen mengangguk. "Baiklah kalau begitu. Ada lagi?"


"Pada siang harinya, anda harus pergi bersama tuan Cole. Tuan Cole sendiri yang akan menjemput anda. Beliau sudah menghubungi saya tadi pagi. Anda berdua akan pergi untuk melihat lokasi gedung resepsi pernikahan yang akan digunakan nanti. "


Selain sebagai pengawal, Sarah adalah orang yang mengurus segala keperluan Aileen, bisa di bilang, Sarah adalah sekertaris pribadi sekaligus pengawalnya..


"Gedung? apa kau tau gedung yang mana? kenapa tidak di hotel kita saja? bukankah itu bisa lebih menghemat biaya, dan juga bisa sekaligus mempromosikan hotel kita."


Jujur saja, sebagai seorang pebisnis, Aileen cukup pemilih saat harus memperhitungkan antara untung dan rugi.


"Saya kurang tahu nona. Tuan Cole tidak mengatakan apa-apa tentang hal itu." Aileen diam. Jika tidak mengatakan tujuannya, maka itu artinya, Cole sendirilah yang memilih lokasi gedung pernikahan tersebut.


"Kalau begitu temani aku bersiap. Bukankah pertemuan pertama jam 9?" kata Aileen yang sudah menyelesaikan sarapan paginya.


Perutnya sudah terisi, dan rasanya ia sudah memiliki tenaga untuk mulai beraktivitas. "Minum vitamin anda nona." Sarah menginginkan.


"Ah, aku hampir saja lupa." Aileen kembali duduk, mengambil vitaminnya lalu menelannya. Huh rasanya tidak enak.


"Satu lagi nona." Sela Sarah sebelum Aileen kembali keatas. "Tuan Dave juga berpesan, agar anda menyerahkan urusan hotel pada wakil direktur sementara anda mempersiapkan pernikahan." mendengar hal itu Aileen hanya menghela nafas.


"Ya ya, akan ku pikirkan. Lagi pula aku bukannya tidak bisa melakukan apa-apa karena kehamilan dan juga pernikahan yang akan di adakan dalam waktu dekat, bukan? aku tidak bisa mengalihkan tugas begitu saja." tolak Aileen.


Sarah kembali bergeming. Ia tidak membantah ucapan nona nya, sebab ia tahu bagaimana usaha wanita itu selama ini untuk mengurus semuanya seorang diri..


"Baiklah nona. Akan saya sampaikan seperti itu." turut Sarah.


"Ah, satu lagi yang penting nona," sela Sarah lagi. Aileen menunggu. "Anda juga memiliki janji dengan dokter untuk pemeriksaan rutin kandungan anda. Apa perlu saya katakan hal ini pada tuan Cole?" tanya Sarah. Aileen mengernyit sesaat, lalu tersenyum.


"Apa aku harus pergi bersamanya? mungkin saja dia sibuk. Aku bisa sendiri Sarah. Kau saja yang menemani aku." putus Aileen.


Sebagai orang yang juga berkecimpung di dunia bisnis, Aileen tahu betul bagaimana sibuknya seorang direktur, karena itulah ia tidak ingin hal-hal kecil seperti ini menyita waktu calon suaminya.


Lagipula, hal seperti ini adalah masalah sepele. Ia bisa mengurusnya sendiri.


"Baik nona."

__ADS_1


...❄️...


Pukul sembilan tepat, Aileen dan Sarah sudah tiba di rumah mode tempat dimana ia harus memilih gaun pengantin yang akan ia kenakan pada hari pernikahan nya nanti.


Saat keduanya masuk kedalam, sang designer sendirilah yang langsung menyambut mereka.


"Selamat datang nona Aileen. Saya La Cornelia." katanya mengulurkan tangan dengan hangat. "Halo, senang bertemu dengan anda." Wanita yang terlihat begitu anggun di usia keemasannya.


Apa wanita ini benar kenalan papa Dave? bukan kekasih rahasianya? "Tuan Dave sudah menghubungi saya sebelum anda tiba, dan saya harap anda mengijinkan saya untuk mengurus gaun anda nona, Aileen."


"Tentu. Jika papa Dave sudah mengatakan demikian, maka lakukan saja." turut Aileen. Lagi pula ia tidak ingin mengurus sesuatu yang terlalu merepotkan.


Asalkan nyaman di pakai, rasanya itu sudah cukup. Selebihnya, bukankah designer tahu apa yang harus dilakukannya?


"O, ya, dimana mempelai pria nya?" tanya La Cornelia, mencari-cari sosok calon suami Aileen.


"Mempelai pria?" Aileen menoleh pada Sarah. "Iya nona. Jika ingin melakukan fitting seperti ini, seharusnya mempelai pria nya juga hadir. Karena baju anda berdua harus di sesuaikan, bukan?" La Cornelia menjelaskan singkat.


Aileen baru tahu jika ada hal seperti ini. Ia pikir sudah cukup jika ia datang sendiri, dan begitu juga dengan Cole, pria itu bisa mengurus setelannya sendiri.


"Sepertinya mempelai pria nya,-


"Maaf kalau aku terlambat." Sela Cole tiba-tiba. Pria itu baru saja tiba di depan pintu. Mata Aileen membulat saat melihat Cole berdiri di sana.


Ia tidak mengatakan apapun, tapi sorot matanya sudah mengisyaratkan apa yang dipikirkan wanita itu. "Tadi saya harus mampir ke kantor sebentar, karena itu saya sedikit terlambat." tambah Cole lagi.


"Tidak apa-apa tuan Cole. Mari, kita akan melihat gaun yang cocok dan juga setelan yang cocok untuk anda berdua." La Cornelia menuntun mereka masuk ke lantai atas.


Cole mengangguk samar, begitu juga dengan Aileen. Setelah La Cornelia berjalan di depan, Cole langsung menghampiri Aileen.


"Kau menunggu ku? maaf kalau aku terlambat." ucap Cole dengan suara membujuk.


Aileen tidak tahu mengapa Cole harus meminta maaf pada dirinya, sedangkan ia sendiri tidak pernah mengatakan apa-apa tentang fitting tersebut.


"Tidak apa-apa. Lagi pula aku juga tidak tahu kalau kau akan datang. Aku pikir.." Cole tertawa kecil, disela-sela perkataan Aileen.


"Apa kau pikir kau sedang membeli gaun pesta nona? gaun pengantin tentu saja harus di siapkan bersama mempelai pria, dan untuk mu, tentu saja aku harus datang bukan?" ujar Cole.


Tawa pria itu membuat Aileen sedikit meringis. Rasanya konyol jika memikirkan kebenaran dibalik kata-kata tersebut.


Ia tidak perlu melakukan ini dan itu, yang dilakukannya hanya menerima dan melakukan bagiannya. Karena itulah Aileen pikir hari ini pun akan begitu.


Setelah melihat-lihat beberapa karya terbaru dari designer, mereka pun mendapatkan gaun yang cocok dengan selera Aileen, dan setelah mencobanya, ternyata benar-benar nyaman untuk dikenakan.


Modelnya juga tidak terlalu berlebihan. Bahkan terlihat begitu elegan saat di kenakan Aileen. Begitu juga dengan Cole, ternyata sangat mudah menemukan apa yang ingin di pakainya pada hari pernikahan mereka nanti.


Warna dan model yang dipilihnya pun senada dengan gaun yang akan Aileen kenakan. "Bagaimana? apa ini cocok untuk ku?" tanya Cole, saat sudah selesai mengenakan semua setelan nya.


Pria itu terlihat tampan. Dan juga mempesona dengan balutan setelah berwarna Biru dark grey.


"Itu bagus. Kau terlihat tampan." kata Aileen menilai. "Benarkah? aku senang kalau kau suka. Aku rasa ini cocok. Aku akan pakai yang ini saja." putus Cole.


"Ya. Itu bagus untuk mu."


Melihat bagaimana interaksi antara Aileen dan juga Cole, La Cornelia merasa senang. Keduanya adalah klien yang sangat mudah di tangani.


Biasanya para calon pengantin memiliki banyak permintaan dan juga detail-detail yang berbeda saat memilih gaun pernikahan. Tapi pasangan kali ini, sungguh pasangan yang mengesankan bagi Cornelia.


"Baiklah. Kalau anda berdua sudah menetapkan pilihan, sisanya bisa anda serahkan pada saya." La Cornelia mengambil alih. "Baiklah. Terimakasih atas bantuan anda Cornelia." sahut Aileen.


"Senang bekerja sama dengan anda berdua. Semoga pernikahan kalian menjadi pernikahan yang bahagia."


...❄️...


...Setelah fitting baju pengantin selesai, Cole dan Aileen harus pergi ke tempat selanjutnya......


"Sarah. Kau bisa langsung kembali ke hotel. Aku dan Cole akan langsung pergi ke tempat berikut nya." kata Aileen setelah ketiganya keluar dari rumah mode milik La Cornelia.


"Baik nona." Turut Sarah. "Tapi bisakah anda menunggu sebentar?" Aileen mengernyit. Begitu juga dengan Cole. Sarah langsung pergi ke mobil dan mengambil tas kecil yang selalu dibawanya kemana-mana.


"Bawa ini nona." kata Sarah. "Apa ini Sarah?"


"Di dalamnya ada susu dan juga vitamin anda." kata Sarah. "Anda harus meminum nya tepat pukul 12 siang. Jangan melewatkan apapun. Begitu juga dengan makan siang. Anda harus makan siang tepat waktu. Kesehatan anda harus diutamakan." peringat Sarah.


Aileen mengangguk samar. "Tolong ingatkan pada nona, tuan." kata Sarah pada Cole, juga.

__ADS_1


"Baiklah. Kalau begitu kami akan pergi."


Cole tersenyum saat membukakan pintu mobil untuk Aileen. Kemudian ia juga menyusul masuk kedalamnya.


"Kau memiliki pengawal yang baik, Aileen. Sarah sepertinya sangat perhatian padamu. Sangat jarang menemukan pengawal seperti itu." Cole bisa melihat jika Sarah begitu mempedulikan Aileen.


"Aku sudah mengenal Sarah cukup lama. Dan wanita itu tidak pernah berubah." Aileen tersenyum. "Sejak dulu, Sarah sudah seperti seorang saudari dibandingkan seorang pengawal."


"Syukurlah kalau begitu. Setidaknya kau memiliki seseorang yang bisa diandalkan selain aku nantinya." Cole tersenyum.


"Bagaimana dengan mu? apa kau juga punya?" tanya Aileen. "Maksud ku seseorang seperti Sarah." sambungnya.


Cole kembali tersenyum. Tentu saja ia tidak punya pengawal seperti Aileen. Tapi untuk seseorang yang dekat dengan dirinya, tentu saja ada.


"Hem. Aku punya dua orang sahabat yang sudah ku kenal sejak kami berada di universitas. Dan sekarang mereka juga bekerja bersama ku." kata Cole, mengingat..


"Benarkah? kalian pasti berbagi banyak hal." Aileen sedikit merasa iri. Pasalnya ia tidak memiliki teman yang seperti itu. Yang di milikinya hanyalah papa Dave dan juga Sarah.


"Bisa di bilang begitu. Aku, Darren dan juga Steve sudah mengenal satu sama lain. Dan sepertinya, tidak ada yang ku rahasiakan dari mereka, kecuali.." Cole berhenti sejenak.


Ia melirik sekilas pada Aileen, dan tersenyum saat Aileen terlebih antusias menunggu lanjutan dari perkataannya.


"Kecuali..?" ulang Aileen, gadis itu menunggu dengan mata berbinar. Ia ingin tahu lebih banyak tentang Cole. Pria itu tersenyum, lalu memegang tangan Aileen, "Kecuali tentang malam itu. Dan juga dirimu." ucap Cole.


Byuuusss... Wajah Aileen bersemu.. Jantung berdegup kencang.


"Aku tidak ingin berbagi tentang malam itu dengan siapapun. Cukup untuk diriku saja." Cole hanya ingin Aileen tahu tentang hal itu. Jika ia benar-benar menjaga privasi mereka tidak terkecuali dari para sahabatnya juga.


"Ap.. Apa yang kau katakan. Kau bercanda saja." Aileen mengalihkan pandangannya seketika. Wajahnya terasa panas. Aileen merasa malu memikirkan Cole menangkap basah dirinya yang sedang tersipu.


Melihat Aileen yang tiba-tiba diam, perasaan tak nyaman mulai menjalari punggung Cole.


"Apa aku membuat mu tak nyaman? aku sungguh minta maaf Aileen. Aku tidak bermaksud seperti itu. Aku hanya,-


"Tidak apa-apa, Cole. Aku tidak marah. Hanya saja bercanda mu tidak lucu." sahut Aileen. Cole tidak setuju dengan hal tersebut.


Tidak sedikit pun ia berniat untuk menjadikan malam paling berkesan dalam hidupnya sebagai suatu lelucon.


"Kenapa aku harus bercanda..? aku sungguh-sungguh. Aku hanya ingin menyimpan tentang dirimu hanya untuk ku saja. Apa tidak boleh?" kata Cole dengan nada yang asing di telinga Aileen.


Bisa-bisanya ia merasa seperti ini di saat dirinya hanya berdua saja dengan Cole. "Itu terserah kau saja. Tapi memang ada baiknya, Ka.., kalau..kau tidak menceritakan hal seperti itu pada orang lain." Aileen gugup.


Rasanya benar-benar tak nyaman harus membicarakan malam itu dengan blak-blakan seperti ini.


Cole tersenyum. "Itu akan membuat ku malu." gumam Aileen. "Bagaimana pun, malam itu aku yang menyeret mu, dan aku juga yang,-


"Bertingkah seperti kucing liar?" sela Cole kemudian tertawa. Seketika raut wajah Aileen berubah, ia mengernyit sambil memikirkan sesuatu dari ucapan itu. Kucing liar? apa malam itu aku seperti kucing?


"Dan tentu saja, aku tidak keberatan untuk memelihara kucing liar seperti mu." sambung Cole lagi.


Aileen mendengus, ternyata sejak tadi Cole hanya berniat untuk menggodanya saja. "Rasanya kau terlalu senang untuk mengejek ku, ya..?" sahut Aileen, melipat kedua tangannya.


"Aku tidak mengejek, hanya mengatakan kebenarannya saja." bela Cole. "Malam itu kucing liar itu mencakar dengan luar biasa. Aku tidak akan melupakannya."


Wajah Aileen semakin merona. "Jangan mengejekku Cole. Aku benar-benar akan mencakar mu nanti!" peringat Aileen. Tawa Cole semakin pecah saat mendengar peringatan tersebut..


"Ya.. ya . baiklah. Aku tidak akan menganggu kucing liar ini lagi, aku takut di cakar!"


"Cole...!"


"Iya.. Aileen...?"


"Hentikan!"


"Apa? mobilnya? kita belum sampai."


"Cih.. ternyata kau menyebalkan!" kata Aileen memberengut.


"Ternyata kau sangat menggemaskan, kucing liar."


...❄️...


...❄️...


...❄️...

__ADS_1


__ADS_2