
...❄️...
...❄️...
...❄️...
"Kau masih ingin tidur?" Cole mencium bahu Aileen yang terbuka. Tangannya melingkar dengan sempurna, menyerap semua kehangatan yang bisa ia dapatkan dari kekasihnya.
Ah.. rasanya ia akan gila. Wangi tubuh Aileen benar-benar berbeda dari tubuh wanita manapun yang pernah singgah dalam pelukan Cole.
Aileen memiliki aroma khas yang membuat Cole bisa terjerat sepenuhnya. Dan saat ini, wanita yang sejak lama telah menempati posisi istimewa dalam hatinya itu sudah kembali menjadi miliknya lagi.
Bisakah ia berpikir demikian setelah apa yang mereka lakukan semalam? Sebuah persetujuan untuk memulai semua dari awal, pikir Cole. Ataukah mereka harus menemukan cara lain lagi untuk memperbaharui hubungan ini.
"Hem. Kau sudah ingin pergi?" Aileen bertanya dengan suara sedikit tertahan, maniknya masih tertutup dengan rapat tak ingin menatap Cole. Selain itu, Aileen juga merasa enggan untuk meninggalkan tempat tidurnya yang terasa nyaman.
Aileen tak ingin bertingkah seperti gadis yang sedang mengalami puber dan bersikap manja pada pria yang telah menghabiskan malam bersamanya. Meskipun jauh didalam hatinya ia sedang merasakan gejolak yang luar biasa.
Namun Aileen tak ingin menunjukkan perasaan itu pada Cole. Ia lebih memilih untuk menyembunyikannya rapat-rapat.
"Aku harus pulang sekarang. Ada rapat pagi yang sangat penting. Darren sudah sibuk mengingatkanku sejak semalam. Dan kau tau,-" Cole tersenyum menyiratkan sedikit kekonyolan dalam ceritanya.
"Ada pesan lagi pagi ini yang mengatakan jika aku harus berada di kantor tepat waktu, jika tidak mereka akan menggantikan posisiku, begitu katanya.
Jadi, maafkan aku karena harus meninggalkan mu sekarang. Aku akan datang lagi nanti." ujar Cole senang.
Tentu saja itu hanya kata-kata konyol dari para sahabat, tapi Cole tahu betul jika ada tanggung jawab yang sudah menanti dirinya.
Jujur saja jika Cole merasa enggan untuk pergi meninggalkan Aileen seorang diri. Terutama disaat seperti ini.
Cole masih ingin memeluk dan memanjakan Aileen untuk waktu yang lama. Cole tidak tahu kapan wanita itu akan berubah pikiran lagi, Aileen terlalu sulit untuk ditebak.
Tapi kali ini Cole sungguh tak berdaya, ia tak bisa bertindak sesuai keinginannya karena ada pekerjaan penting yang sudah menunggu.
Tak jauh berbeda dengan Cole, Aileen pun merasakan hal yang sama, ia merasa enggan untuk mengakhiri kehangatan yang sedang mereka rasakan. Tapi apa boleh buat, Aileen juga memiliki pemikirannya sendiri.
Meskipun ingin bersikap biasa saja setelah apa yang mereka lakukan, Aileen sungguh merasa kewalahan dalam mengontrol perasaannya.
Aileen tahu betul bahwa saat ini jantungnya sedang berdebar karena Cole. Bahkan darahnya berdesir dengan cepat setiap kali tangan Cole menyentuh lembut tubuhnya.
Rasa kepemilikan yang telah lama dipendamnya kini kembali bergejolak, tapi Aileen harus tetap memegang kendali.
Ia tak bisa bersikap seperti sesuka hati dan harus berpuas diri dengan hubungan mereka yang seperti ini.
"Kalau begitu pergilah.." ujar Aileen yang entah kenapa terdengar sedikit kecewa karena Cole akan meninggalkan dirinya.
Cole sempat menghentikan kegiatannya untuk sesaat. Otaknya kembali berpikir, sedang hatinya kini mulai meragu. Apakah ia benar-benar harus pergi ataukah bertahan sebentar lagi.
Setidaknya mereka bisa menghabiskan pagi yang penuh kehangatan dengan secangkir kopi sambil ditemani putri kecil mereka yang manis.
Sungguh pemandangan yang selalu ingin Cole wujudkan dalam angan-angannya.
"Aku akan menemui Cessa sebelum pergi. Aku mencintaimu." Cole mencium kening Aileen dan memeluknya sekali lagi. Kali ini pelukan untuk waktu yang lebih lama.
Ahh... sial. Hati Cole benar-benar merasa enggan untuk melepaskan Aileen.. "Tidurlah lebih lama. Aku akan minta pada Sarah untuk menyiapkan sarapan untuk mu." Cole tak berdaya. Ia harus merelakan saat-saat yang penuh kehangatan berakhir sampai di sini.
Sampai Cole meninggalkan kamarnya, Aileen tak bersuara sedikitpun. Pikirannya terlalu penuh dengan pertanyaan tentang hubungan mereka.
Aileen memang mengijinkan Cole untuk menyentuh dirinya karena ia juga membutuhkan itu, tapi sekarang Aileen benar-benar tak tau apa yang harus ia lakukan, terutama pada Cole.
Apakah ia harus bersikap seperti sebelumnya dan melupakan apa yang telah mereka lakukan semalam? seolah-olah itu bukanlah dirinya, tapi seorang wanita yang tengah mabuk karena dipenuhi dengan rasa frustasi. Benar.
Aileen memiliki sedikit keahlian dalam berpura-pura. Selama ini ia selalu melakukan itu. Dan berhasil.
Ahhh... tapi bagaimana jika itu tidak mempan bagi Cole?
Itu artinya ia tak punya pilihan lain selain membiarkan semuanya berjalan seperti yang Cole inginkan? hidup bersama dengan penuh cinta bersama dengan putri kecil mereka tanpa khawatir jika pengkhianatan akan datang lagi dan lagi.
Ya Tuhan. Ini benar-benar memusingkan. Lebih sulit dari pada menghitung berapa banyak seprei yang ada di seluruh kamar hotelnya. Cole tidak akan mudah ditangani.
"Selamat pagi tuan." Sarah menyadari kehadiran Cole yang sedang menuruni tangga.
"Selamat pagi Sarah." balas Cole. "Boleh aku minta bantuan mu untuk menyiapkan sarapan bagi Aileen, dan pastikan agar dia bisa tidur lebih lama." pesan Cole sebelum ia benar-benar meninggalkan kediaman Marsden.
__ADS_1
"Baik tuan, akan saya lakukan seperti yang anda mau." turut Sarah sambil mengulum senyum. Sarah tahu semua yang terjadi di dalam rumah itu, termasuk apa yang terjadi diantara Cole dan juga nona nya.
"Terimakasih Sarah. Ah, satu lagi. Tolong bantu kami mengatasi ini." Cole melirik pada cctv yang sudah pasti merekam apa yang terjadi di setiap bagian ruangan rumah itu.
Sarah yang mengerti maksud Cole langsung mengangguk tanpa mengatakan apa-apa lagi. Begitu juga dengan Cole, ia pergi dengan senyum yang merekah.
...❄️...
"Bagaimana dengan kerjasama kita yang ada di Boston. Apakah semuanya berjalan lancar?" Tanya Cole saat ketiganya tengah berbincang setelah menyelesaikan rapat penting sebelumnya.
"Semuanya baik-baik saja. Dan untuk rapat selanjutnya, akan ku pastikan kita sudah memegang kendali secara penuh." ujar Darren dengan penuh percaya diri.
Selama ini dirinyalah yang membantu Cole untuk mengurusi perusahaan cabang yang ada di Boston. Darren juga sudah menangani urusan kerjasama dengan mitra perusahaan yang akan memberikan investasi besar dengan baik, dan Cole tahu akan itu.
Darren yakin sepenuhnya jika kerjasama itu bisa berjalan dengan baik tanpa kendala sedikitpun.
"Itu bagus. Kalau begitu tolong buat laporan terperinci. Dan kau Steve, tolong gantikan aku untuk pergi ke Boston lusa." putus Cole.l, tiba-tiba.
Steve mengernyit bingung, karena hal itu terdengar konyol untuk dirinya. "Kau meminta aku? Hei.. kau bercanda?" Steve masih tersenyum. Tapi Cole justru menggeleng.
"Tidak. Lagi pula kau juga tahu bahwa aku tidak harus mengulang perkataan ku bukan?" kali ini Cole lah yang tersenyum.
"Kau yakin aku? tapi bukankah..-
"Ya. Kau. Aku rasa aku mengatakannya dengan jelas. Siapa lagi? Aku tidak mungkin meminta Darren untuk menggantikan ku untuk pergi lagi.
Kau tau sendiri pekerjaannya sudah menumpuk. Dan selama ini Darren lah yang mengerjakan semuanya, bukan?"
"Lagi pula kawan, kau juga pasti tidak akan lupa jika Darren memiliki Gio. Kasihan bayi itu. Gio pasti merindukan Daddy nya. Jadi sekarang kau saja yang pergi. Dan.... ku rasa ini bagus untuk mu." Cole menaikan kedua alisnya. Darren pun ikut tersenyum.
"Kalian bercanda?"
"Hanya kau yang bisa ku percaya selain Darren. Oke? kau tidak di ijinkan untuk menolak. Rapat selesai." ujar Cole tak ingin berbasa-basi lagi. Pria itu pun langsung pergi meninggalkan Steven yang hampir tak bisa berkata-kata.
"Hei Cole. Kenapa kau melakukan ini padaku?" Teriak Steve frustasi. Ini adalah keputusan yang sungguh diluar perkiraannya.
Bukan karena Steve tak bisa, hanya saja ia tak suka pergi terlalu jauh dari Vegas. Dan Boston bukanlah tempat yang cocok untuk pria seperti dirinya.
Darren yang masih duduk di kursinya hanya bisa menahan tawa melihat sahabatnya yang tak bisa berkutik karena ulah Cole.
"Cole benar Steve, ini baik untuk mu. Mungkin saja kau akan bertemu kekasihmu di sana. Tak ada ruginya bekerja sekaligus berlibur bukan?" Darren mengedipkan matanya seraya menepuk pelan bahu Steve memberi dukungan.
"Dude! Apa kalian berdua bersekongkol hanya karena aku yang yang belum menikah diantara kita?"
Darren hanya melambaikan tangan tak berkomentar. Pria itu kemudian hanya menampilkan senyum penuh arti. Membuat Steve benar-benar merasa frustasi. Kedua sahabatnya itu benar-benar mengesalkan.
...❄️...
...MARSDEN HOUSE...
Sarah mengetuk pelan pintu kamar Aileen untuk memastikan apakah nona nya itu masih tertidur ataukah sebaliknya,
"Nona, sarapan Anda sudah saya siapkan." kata Sarah dengan suara yang sedikit direndahkan.
"Aku akan turun sebentar lagi. Terimakasih Sarah." sahut Aileen dari dalam kamarnya. "Baik nona." Sarah pun kembali ke lantai dasar.
Di dalam kamar, Aileen yang sejak tadi memang sudah bangun pun langsung meninggalkan kursinya.
Sebenarnya ia tak melakukan apapun selain berpikir. Dan semua yang ada didalam kepalanya hanyalah tentang Cole.
"Aku akan mati muda jika terus seperti ini." Aileen keluar dari kamar. Tapi sebelum turun, Aileen menyempatkan dirinya untuk pergi ke kamar putri kecilnya, Cessa.
Aileen butuh penyemangat. Dan satu-satunya yang bisa memberikan itu saat ini hanyalah putri kecilnya yang menggemaskan.
"Selamat pagi kesayangan mommy. Bagaimana tidurmu sayang? sepertinya kau sudah sehat." gumam Aileen sambil tersenyum lega.
"Nona Cessa sudah tidak demam lagi nona. Dan saya juga sudah menyiapkan semua keperluan nona Cessa seperti permintaan anda." ujar Katrina mengingatkan.
"Baguslah kalau begitu. Kita akan berangkat siang ini. Tolong siapkan semuanya dengan baik Katrina."
Aileen memalingkan wajahnya yang terlihat meragu. Meskipun tersenyum, tapi jelas ia mulai ragu dengan keputusannya.
"Apa kau sudah sarapan? kalau belum kita bisa sarapan bersama."
__ADS_1
"Sudah nona. Saya akan di sini saja menemani nona Cessa, sebentar lagi juga sudah waktunya nona Cessa untuk minum susu." Sahut Katrina. "Baiklah kalau begitu aku akan turun sekarang."
Dilantai bawah Sarah sudah menunggu dirinya.
"Selamat pagi nona." Sarah tersenyum samar seperti biasanya. Wanita itu memang tak banyak bicara. Tapi diwaktu- waktu tertentu Sarah bisa berubah 180° dari apa yang Aileen lihat setiap hari.
"Selamat pagi Sarah. Kau sudah menyiapkan semua yang ku minta bukan?"
"Sudah nona. Semuanya sudah siap, pesawat kita akan berangkat pukul sepuluh." Aileen mengangguk samar. Ia berjalan menuju ke pantry.
"Apa perlu saya memberitahukan tentang kepergian kita pada tuan Cole nona? maksud saya,-"
"Tidak usah Sarah. Biar aku saja yang menghubungi nya, nanti."
"Baik nona."
...❄️...
...AIRPORT...
Setelah mempertimbangkan matang-matang akhirnya Aileen pun memutuskan untuk menghubungi Cole seperti yang Sarah katakan sebelumnya.
Tepat sebelum pesawat mereka berangkat, setidaknya Cole harus tahu jika Aileen akan membawa putri mereka untuk ikut bersama dirinya.
"Hallo Aileen, ada apa?" suara Cole terdengar senang. Tapi jantung Aileen berdebar tak nyaman.
"Cole, kami akan pergi. Aku hanya ingin mengatakan ini pada mu. Ku pikir kau harus tahu." ujar Aileen langsung pada intinya.
"Apa hari ini ada pertemuan lain lagi? maksud ku kau dan putri kita. Kalian pergi bersama bukan?"
"Tidak. Em.. Ya. Maksud ku kami pergi bersama tapi bukan untuk menemui dokter Cessa." Aileen ragu untuk sesaat. Tapi ia tetap melanjutkan kalimatnya.
"Kau tahu bukan kalau aku memiliki banyak pekerjaan. Dan ada pekerjaan penting yang harus aku lakukan. Jadi aku harus pergi. Tapi kau jangan khawatir, Sarah dan Katrina juga pergi bersama ku."
Cole mengernyit, ia masih belum mengerti apa yang Aileen maksudkan dengan pergi.
"Sebentar lagi pesawat kami akan pergi."
"Apa..? Aileen apa maksud mu." Cole berdiri dengan cepat lalu pergi meninggalkan ruangannya.
"Aileen jangan bercanda. Apa maksud mu dengan naik pesawat. Kau akan pergi kemana membawa putri kita?" Cole benar-benar panik saat mendengar jika Aileen akan kembali pergi meninggalkan dirinya lagi.
Ya Tuhan. Apalagi ini.
"Bukan seperti itu Cole. Maksud ku hanya sampai pekerjaan ku selesai. Itu saja."
Cole berhenti. Ia hanya bisa mematung sebelum memasuki mobilnya. "Apa artinya ini Aileen? kau akan meninggalkan diriku lagi dengan membawa putri kita juga?"
"Apa alasan mu pergi karena aku mengatakan perasaan ku? kau merasa terbebani? karena itukah kau pergi lagi? kalau memang iya, aku minta maaf. aku akan menarik kembali kata-kata ku. Tapi kumohon Aileen.. " Cole bahkan hampir tak bisa menyelesaikan kalimatnya.
Ia merasa takut untuk mendengarkan jawaban Aileen. Cole memang sudah merasa terbiasa tak dianggap seperti ini, hanya saja.. kenapa harus sekarang? di saat ia merasa semuanya baik-baik saja.
"Justru karena sebaliknya Cole." Sahut Aileen. "Karena aku menyadari bahwa aku tak akan bisa mengabaikan dirimu.
Aku perlu waktu untuk memikirkan semua ini, jadi ku mohon. Tolong biarkan aku sekali lagi." pinta Aileen merasa putus asa dengan perasaannya.
Cole menghela nafas berat. Hatinya lagi-lagi harus merasakan kekecewaan ini. Tidak cukupkah penantian nya selalu ini? kenapa ia harus melepaskan miliknya lagi? kenapa semuanya harus seperti ini?
"Aileen.. ?"
"Aku mencintaimu Cole. Tapi cinta yang aku miliki tak akan cukup untuk membuat hubungan kita menjadi baik-baik saja seperti yang kau inginkan. Karena itu.. ku mohon.."
"Baiklah.. jika memang ini yang kau inginkan Aileen. Jaga dirimu dan juga putri kita.. aku akan menunggu sampai kau siap untuk memulai semuanya lagi. Tak peduli berapa lama waktu yang kau perlukan.. aku akan menunggumu."
Cole tak bisa memaksakan kehendaknya pada Aileen. Meskipun ia begitu mencintai wanita itu, tapi bukan berarti ia akan menahan Aileen untuk melakukan apa yang diinginkan hatinya.
Seperti katanya, ia tak peduli berapa lama waktu yang Aileen butuhkan,. ia akan menunggu. Karena di dunia ini hanya waktulah yang ia punya..
"Aku mencintaimu Aileen.. jangan lupakan itu.."
...❄️...
...❄️...
__ADS_1
...❄️...