
...❄️...
...❄️...
...❄️...
"Katakan pada kami yang sebenarnya Cole. Apa ini sungguhan?" Diruang kerjanya, Cole sedang berbincang dengan Darren dan juga Steve.
Lebih tepatnya kedua sahabatnya itu sedang menginterogasi Cole begitu ia kembali dari B.C.
Cole mengernyit, tahu bahwa rahasianya sudah berubah menjadi topik hangat. "Dasar kau! mulut mu itu benar-benar tak bisa dipercaya." cibirnya mendelik pada Darren.
Selama ini yang kedua sahabatnya itu tahu adalah berakhirnya hubungan antara Cole dan Aileen.
Tapi tak disangka, beberapa waktu lalu Cole malah meminta pendapat pada Darren tentang bagaimana mengurus seorang bayi.
Dari sanalah mau tak mau Cole harus mengatakan tentang kelahiran putrinya yang tidak diketahui banyak orang.
"Bagaimana aku bisa tahan menutupi semua ini seorang diri." elak Darren. "Kau juga sangat mengenalku bukan? Aku tak bisa menyimpan rahasia seperti ini tanpa menceritakannya pada Steve."
Inilah kesalahan Cole. Karena terlalu bersemangat Cole sampai lupa jika sahabatnya itu sama seperti ember bocor. Tak bisa menjaga rahasia.
"Aku justru merasa kecewa." Steve menyela keduanya. "Aku merasa seperti orang yang tak dianggap oleh pria yang kupikir sudah melebihi seorang saudara." Aih, Steve memang handal berwajah kasihan.
"Baiklah aku menyerah." Cole mengangkat kedua tangannya. "Akan ku ceritakan. Puas?" wajah Darren dan Steve langsung berubah antusias. Keduanya sudah siap mendengarkan cerita Cole.
Meskipun sedikit kesal, jauh didalam hatinya, Cole sudah menantikan hari-hari seperti ini, dimana ia bisa memamerkan pada para sahabatnya betapa menggemaskan serta cantiknya putri mereka.
"Jadi, berapa usia putri mu sekarang? boleh kami melihat gambarnya? semoga saja wajahnya tidak sekaku wajahmu." ucap Steve menyindir.
"Sialan!"
Setelah menceritakan kisahnya dengan panjang lebar, baik tentang awal mula pertemuannya dengan Aileen, hingga bagaimana keduanya memutuskan untuk menikah saat itu, hingga cerita yang cukup melukai harga diri Cole dan keluarga, ketika Aileen membatalkan pernikahan mereka, tak ada yang Cole tutup-tutupi dari para sahabatnya itu.
Dan Cole merasa lega, karena Darren maupun Steve adalah pendengar yang baik. Mereka juga memberikan nasihat yang membuat Cole semakin bersemangat mewujudkan masa depan bersama putri kecilnya.
Disaat-saat seperti ini, Cole memang membutuhkan lebih banyak masukan. Ia juga membutuhkan teman untuk bertukar pikiran.
Terlebih lagi dengan Darren yang Cole anggap sudah memiliki cukup banyak pengalaman dalam hal mengurus anak.
"Jadi apa rencana mu sekarang? apa kau akan tetap bertahan dengan hubungan tanpa status ini? ataukah kalian sudah memiliki rencana masing-masing?" Steve bersuara.
Cole mengedikkan bahunya, tak tahu. "Entahlah. Aku memang masih berusaha untuk mendapatkan kembali hati Aileen.
Hanya saja.. saat ini yang terpenting bagi ku adalah Cessa. Aku hanya ingin menjadi ayah yang baik untuk putri kecilku, itu saja." Sahut Cole.
"Kalian tau, aku mencintai mereka melebihi segalanya. Baik Cessa maupun Aileen, dua-duanya adalah orang yang berharga." mata Cole berbinar-binar saat mengungkapkan perasaannya.
Katakan lah ia mungkin berlebihan, tapi perasaannya tak bisa berbohong. Hatinya selalu terasa hangat setiap kali memikirkan Aileen dan Cessa.
Darren mengangguk, "Aku mengerti apa yang kau rasakan kawan." katanya.
"Saat menjadi seorang ayah, aku pun memikirkan hal yang sama seperti mu. Kehadiran seorang bayi memang tanpa disadari akan merubah segalanya dalam hidup. Itu juga yang aku dan Sonya rasakan saat kami memiliki Gio."
Darren tersenyum. Ia membayangkan bagaimana hidupnya saat itu.
"Gio lah yang mengajarkan kami. Dan ternyata, untuk menjadi orang tua yang baik, ada banyak hal yang harus kami pelajari. Aku yakin kau dan Aileen juga akan melewatinya nanti. Semuanya butuh proses. Dan tentu saja, semua hal akan terasa menyenangkan saat dilakukan bersama."
Darren dan Cole sama-sama menghela nafas panjang. Menjadi seorang ayah memang telah merubah banyak hal dalam hidup mereka.
"Sebenarnya aku tak tahu harus mengatakan apa tentang bayi. Karena aku belum menjadi seorang ayah seperti kalian berdua kawan. Tapi menurut ku, kau juga harus peduli tentang hubungan mu dengan Aileen Cole." Nasihat Steve.
"Tidak baik hanya berfokus pada putri mu. Yah, itu memang tidak salah. Hanya saja, kau juga harus pikirkan bagaimana jika nanti kau tidak bisa hidup bersama Aileen, maka posisi mu akan mudah tergantikan meskipun kau adalah ayah biologis Cessa."
__ADS_1
Itulah yang sebenarnya Cole khawatirkan. Karena jujur saja Cole tidak akan pernah bisa merelakan hal seperti itu jika pada akhirnya Aileen memilih pria lain sebagai pendamping hidupnya.
"Yang dikatakan Steve benar kawan. Pikirkan lah lagi. Bicarakan dengan Aileen. Jika memang ada harapan untuk bersama, sebaiknya coba lagi untuk memulai semuanya dari awal."
"Menurut ku Aileen juga masih memiliki perasaan untuk mu. Buktinya dia masih mengijinkan mu untuk bertemu dengan Cessa bukan? itu pertanda baik." Darren memberi dukungan.
"Tapi aku tidak mau terburu-buru. Aku tidak mau memaksa Aileen. Aku takut jika aku terlalu mendesaknya, Aileen justru akan mendorong ku untuk menjauh. Kau tahu sendiri bagaimana latar belakang keluarganya kawan." Cole memalingkan wajahnya. "Aku tidak sebanding dengan mereka."
"Hubungan kami yang seperti ini saja sudah lebih dari cukup untukku dibandingkan dengan tidak bisa melihat mereka sama sekali."
"Bagaimana dengan tuan Marsden? apa beliau memberikan komentar tentang hubungan kalian yang seperti ini?" Steve menatap Cole menyelidik.
"Ayah Aileen selalu bersikap baik padaku. Dan sebenarnya, tuan Dave menyerahkan keputusan secara penuh pada Aileen. Selama ini, meskipun hubungan kami hanya seperti ini, tapi kami baik-baik saja."
"Kalian tahu, orang tua Aileen tidak sedingin yang terlihat." puji Cole. Karena selama ini memang itulah yang Cole rasakan.
Dave tak pernah sedikitpun menghalang-halangi dirinya untuk bertemu Aileen ataupun Cessa. Justru terkadang, Dave lah yang terkesan seperti mak comblang diantara mereka.
"Syukurlah kalau memang begitu. Setidaknya, kau hanya perlu mengetuk satu pintu. Maka semuanya akan baik-baik saja."
"Aku harap juga begitu."
"Jangan patah semangat kawan. Jangan sampai kau menyesal karena terlambat memperjuangkannya cintamu."
"Kau terdengar bijak sekali. Hahahaha."
...❄️...
...Ditempat lain.....
Aileen sedang terburu-buru untuk menuju ke hotelnya bersama dengan Sarah. Pasalnya hari ini Aileen harus bertemu dengan salah satu klien penting yang akan menggunakan hotelnya sebagai salah satu tempat menginap para tamu VVIP dari negara lain.
Untuk itu, Aileen sendirilah yang harus mengurus semuanya secara langsung. Tapi saat hendak memasuki lift khususnya, Aileen tak sengaja melihat sosok yang selama ini masih terekam jelas di ingatannya.
"Apa yang dilakukan wanita itu disini?" tanya Aileen dengan dahi berkerut, Aileen melihat Megan yang masuk ke dalam lift menuju ke lantai atas hotelnya.
Tidak. Lebih baik lupakan..Ini sudah lama berlalu. Aileen memacu dirinya. Jujur saja ia tak punya waktu untuk kembali ke masalalu, masih banyak hal yang harus Aileen selesaikan.
Setelah menyelesaikan meeting dengan klien, Aileen langsung mengambil ponselnya untuk menanyakan keadaan putrinya, Cessa.
Ini adalah kali pertama Aileen meninggalkan putrinya, dan sejak tadi hatinya selalu saja merasa was-was.
"Bagaimana Cessa? apa dia rewel?" tanya Aileen pada Katrina, pengasuh putrinya.
"Tidak nona. Nona Cessa tidak rewel sama sekali. baru saja saya mengganti popok dan juga memberi nona susu. Bahkan sekarang nona Cessa sudah kembali tertidur. Silahkan anda menyelesaikan pekerjaan anda. Saya akan menjaga nona Cessa dengan baik." Sahut Katrina menenangkan Aileen.
"Baiklah. Aku akan kembali begitu pekerjaan ku selesai, terimakasih Katrina."
klik. Aileen menutup panggilannya.
Saat keluar dari lift dan kembali keruangan nya, mata Aileen langsung tertuju pada sosok yang sudah cukup lama tidak ia jumpai.
"Alex? kau di sini?" Aileen tersenyum samar saat menghampiri Alex. "Aku datang untuk melihat mu? ini." Alex menyerahkan sebuket bunga padanya.
"Selamat atas kelahiran putrimu. Aku mendengarnya dari uncle. Putri mu sangat cantik." puji Alex. "Aku juga melihat photo nya."
"Terimakasih Alex."
"O, ya, Kapan kau kembali?" setahu Aileen, selama ini Alex tinggal di Paris dan melakukan pameran di sana. Aileen tak tahu jika Alex berada di Vegas.
Alex tersenyum, "Beberapa hari yang lalu. Kau sudah makan malam?" tanyanya. Aileen menggeleng.
Karena jujur saja sepanjang siang hingga sore hari ini meeting nya baru saja berakhir, Aileen benar-benar lupa untuk mengisi perutnya.
__ADS_1
"Kalau begitu mau makan malam bersama?"
"Baiklah. Ayo."
Keduanya pun kembali ke lobi. Sedangkan Sarah sudah menunggu di sana. "Aku akan pergi dengan Alex untuk makan malam. Kau pulanglah lebih dulu." kata Aileen.
"Baik nona. Saya permisi." Sarah pun urung untuk melaporkan tugas yang ia kerjakan sebelumnya pada Aileen. Mungkin nona nya itu sudah lupa, dan itu adalah hal yang bagus.
Saat Aileen dan Alex masuk ke lift menuju ke tempat parkir tanpa disangka-sangka didepan pintu lagi-lagi Aileen bertemu dengan orang yang tidak disangka-sangka nya. Cole.
Aileen sedikit terkejut saat melihat pria itu ada di hotelnya. Setahu Aileen tidak ada reservasi untuk pertemuan atas nama Cole di sini.
Apalagi jika orang berpikir merekalah yang memiliki janji. Tidak sama sekali. Lalu apa alasan Cole ada di sini?
"Aileen?" mata Cole membulat, ia mengernyit tak suka saat melihat pria yang ada di samping Aileen. Mata Cole juga langsung tertuju pada buket bunga yang saat ini ada ditangan Aileen.
"Cole, apa yang kau lakukan disini?" tanya Aileen langsung pada intinya. "Aku ingin,-
"Cole..?" suara lain menyela ketiganya, dan tentu saja mata mereka langsung tertuju pada sumber suara.
Melihat siapa yang memanggil dirinya Cole mengumpat dalam hati. "Hai.. kita bertemu lagi." Megan menghampiri Cole sambil tersenyum. Wanita ini lagi. Aileen memutar matanya enggan.
Sepertinya ia tahu apa yang sebenarnya terjadi sekarang. Cih.. benar-benar menyebalkan.
Ternyata ini alasan Cole ada di hotelnya. Aileen pikir Cole sudah tidak berhubungan lagi dengan wanita yang menjadi dalang pembatalan pernikahan mereka. Tapi ternyata ia salah..
"Sepertinya aku harus memperbanyak lift menuju ke basemen." gumam Aileen tak ramah. "Ayo, kita pergi pakai lift yang di sana saja."
Aileen berbalik pergi. Begitu juga dengan Alex yang tak ingin berkomentar apapun.
"Aileen tunggu." cegah Cole menyusul Aileen dan menahan tangan wanita itu. "Aku datang ke sini untuk bertemu dengan mu." Cole khawatir jika Aileen akan salah paham.
"Maaf." Aileen menyentak lepas tangannya dari genggaman Cole. "Tapi kau bisa lihat sendiri, aku sudah memiliki janji lain." sahut Aileen menahan marah.
"Tapi,-
"Maaf bung. Kami harus pergi." Sela Alex menahan Cole yang masih ingin menahan Aileen. Dengan berat hati Cole pun melepaskan tangannya.
Dari tempatnya berdiri Megan hanya memperhatikan tontonan itu sambil tersenyum samar.
"Siapa itu, kekasih mu? wanita incaran mu, atau..?"
"Bukan urusan mu." Cole menatap marah pada Megan. "Dan ingat, jangan pernah bersikap seperti kau mengenal ku!" peringat Cole dengan tajam.
Megan bersiul.. "Waw.. aku takut.." Sialan. Tawa Megan membuat Cole merasa muak. "Baiklah.. sampai nanti sayang ku... " Megan melambai lalu pergi meninggalkan Cole.
...❄️...
"Kalian sedang bertengkar?" Alex bertanya, "Maksud ku kau dan pria itu." jelas Alex mengacu pada Cole.
"Aku sudah dengar cerita tentang kalian, sedikit. Tapi aku harap aku tidak membuat mu tak nyaman karena menanyakan hal ini."
"Lupakan saja. Lagipula kami ini hanya orang asing." tepis Aileen tak ingin membicarakan Cole. "Baiklah.. kita ganti topik saja. Maafkan aku." Alex tersenyum senang.
Dalam hatinya Alex benar-benar sedang tertawa, dengan situasi seperti ini, setidaknya ia memiliki kesempatan untuk bersama dengan Aileen lagi.
Selesai makan malam, Alex pun mengantarkan Aileen sampai kerumahnya. Dan setelahnya Alex pun langsung pergi.
Sebelum masuk, Aileen sempat memperhatikan mobil Cole yang terparkir ditempat biasa pria itu meninggalkan mobilnya saat mengunjungi putri mereka.
"Kenapa pria ini datang lagi? menyebalkan!"
...❄️...
__ADS_1
...❄️...
...❄️...