Belenggu Cinta Aileen

Belenggu Cinta Aileen
Bicara part 2


__ADS_3

...❄️...


...❄️...


...❄️...


Setelah cukup lama tertidur, tubuh Aileen terasa lebih baik. Ia meregangkan tangannya sambil menyingkirkan selimut yang tadi menutupi kakinya.


Rasanya sudah cukup lama sejak terakhir kali ia bisa tidur senyaman ini. Sejak ia memiliki bayi dalam rahimnya, tubuhnya selalu saja mengalami hal-hal yang tidak terduga.


Insomnia mendadak, mual berkepanjangan, bahkan ada juga waktu dimana tubuhnya akan terasa sakit jika ia tidak melakukan apapun.


Bahkan dalam mimpi saja Aileen merencanakan apa saja yang ingin dilakukannya, ditambah ada-ada saja keinginan aneh yang mulai bermunculan dengan tidak semestinya.


"Apa kau baik-baik saja bayi kecil? terimakasih sudah membiarkan aku tertidur dengan nyaman. Kau baik sekali. Setelah ini, aku akan menuruti semua keinginan mu." Aileen mengelus perut ratanya sambil tersenyum.


Dari tempatnya duduk, Cole hanya memperhatikan interaksi kecil namun terasa intim tersebut.


Ada perasaan yang membuncah dalam dirinya saat mendengar kata-kata yang keluar dari mulut Aileen. Setidaknya ia tahu bahwa wanita itu menyukai bayi yang ada di dalam perut. Bayi miliknya, anak mereka.


"Kau sudah bangun?" suara berat dan khas milik Cole menyapa pendengaran Aileen. Untuk pertama kalinya, Aileen menyadari jika saat ini ia sudah berada ditempat yang berbeda.


Bukan lagi diruang tunggu yang ada di lobi kantor. Tapi di sini, bersama pria yang ingin ia temui.


Ah, bagaimana ini? bagaimana aku bisa ada di sini? Aileen mencari-cari. Sarah pergi kemana? bagaimana bisa dia membiarkan aku sendirian ditempat ini..? Arrggghh yang benar saja.


"Kau baik-baik saja, Aileen?"


Huh...Huh .. tenang lah. Bersikap anggun, dan tunjukkan ketidakberdayaan. Apa itu tadi maksud nya? Arrgg... terserah lah. Aileen meringis.


"Aileen?"


"Hem? ya.. em maksud ku, kau?" Aileen mengernyit. Ia memperhatikan sekitar, Sarah tidak ada dimana pun.


"Ah.. apa kita sedang berada di ruang mu?" tanya Aileen mengusap pelan wajahnya. "Maafkan aku. Sepertinya aku tertidur. Aku tidak tahu kalau,-"


"Tidak apa-apa. Kau bisa melakukan apapun di sini." ujar Cole. "Dan, benar sekali katamu. Kita sedang ada diruang kerja ku. Dan pengawal mu sedang menunggu diluar, jika kau ingin tahu." Cole berjalan melewati Aileen, membuka lemari dan mengeluarkan gelas dari dalamnya.


"Mau minum sesuatu?" tawarnya seraya menuangkan minuman untuk dirinya sendiri. Ditempatnya duduk, Aileen menegakkan badannya.


Menuruti perkataan Sarah agar terus menunjukkan sikap yang terpuji seperti biasanya.


"Tidak. Tidak usah. Aku datang hanya untuk bicara denganmu." tolak Aileen. Sekali lagi ia memperbaiki posisinya, lalu duduk dengan cara paling elegan yang sudah ia pelajari selama ini.


Tapi sialnya hal itu terasa tidak nyaman. Terutama untuk tubuh bagian bawahnya.


"Maksud ku, minuman beralkohol tidak baik untuk anak, ini. Dokter mengatakan begitu." jelas Aileen, menahan diri.


"Ah, maafkan aku. Bagaimana dengan kandungan mu, apa kalian baik-baik saja? aku tidak mendengar apapun tentang mu sejak malam itu." kata Cole.


"Ya. Aku dan bayi ini baik-baik saja."


Cole mengangguk, lalu meletakkan gelasnya setelah menghabiskan minuman yang ia tuangkan untuk dirinya sendiri.


Meskipun hari masih siang, Cole memang membutuhkan sedikit minuman untuk membantu dirinya tetap waras.


Ah, mungkin sebenarnya karena ia merasa gugup. "Kalau begitu ayo kita bicara." kata Cole mengambil tempat didepan Aileen.


Ini adalah kali pertama baginya untuk benar-benar melihat bagaimana bentuk wajah wanita yang selama ini selalu hadir dalam mimpinya.


Cole memperhatikan bentuk alis, hidung, bahkan mata indah sebening kristal yang kini sedang menatap pada dirinya.


Mata itu berkedip-kedip namun tak kehilangan fokus. Dan Cole merasa terkesima melihat semuanya secara langsung. Wanita di depannya adalah calon ibu dari anak-anaknya kelak.


Aileen mengerjap saat Cole terus menatap dirinya. Seakan pria itu sedang menunggu sesuatu.


"Emm..Aku.. Kedatangan ku kesini, hanya untuk memberitahu mu, bahwa aku memutuskan untuk melahirkan bayi ini." kata Aileen menatap Cole dengan sorot mata penuh keyakinan.


"Meskipun mungkin kau berpikir menghilangkannya adalah jalan terbaik, tapi aku tidak akan melakukan itu. Aku akan mempertahankan bayi ini." Suara dan juga sorot mata Aileen yang lantang sekali lagi membuat Cole benar-benar terpukau.


Baru kali ini ia melihat wanita seperti Aileen. Alih-alih menyelamatkan nama baiknya dengan menutupi semua yang telah terjadi, tapi wanita didepannya ini justru melakukan yang sebaliknya.

__ADS_1


Cole merasa senang. Setidaknya, wanita itu memikirkan sesuatu yang benar. Cole tersenyum sambil mengangguk samar.


"Maksud ku, aku tahu bahwa sebelumnya aku telah melakukan kesalahan, dan aku tahu jika aku juga telah melibatkan dirimu. Aku sungguh minta maaf."


Cole mengernyit. Sepertinya ada yang janggal dalam pembicaraan ini. Apakah dirinya yang sedang tidak memahami maksud wanita itu? "


Aku tidak akan meminta mu untuk bertanggung jawab. Tapi sebagai ayah dari anak ini, aku hanya ingin kau tahu keberadaan nya, bahwa aku akan melahirkannya apapun yang terjadi."


Aileen memang sudah bertekad, dan tugasnya hanya perlu menyampaikan hal itu pada pria yang juga memiliki andil dalam hal ini.


"Lalu..,- Aileen berhenti sejenak. Ia merasa canggung karena Cole tidak memberikan respon apapun. Rasanya seperti bicara pada patung. Ingin rasanya Aileen meneriakkan pada pria itu agar bicara.


Bukankah tadi ia bisa mengatakan apa saja.. lalu kenapa sekarang respon nya hanya seperti ini? Sialan.


Aileen bergerak gelisah. Ia tidak bisa mengacaukan pertemuan penting ini hanya karena merasa diabaikan. Pria sialan.


"Papa Dave ingin agar kita menikah." sambung Aileen. Sekali lagi ia menatap mata Cole. Ia mencari sesuatu yang bisa mengurangi ketegangan dirinya, tapi sekali lagi, Cole hanya diam dan terus mendengarkan.. bahkan tatapan pria itu terlihat asing.


Jangan-jangan benar apa yang Sarah katakan sebelumnya. Jika pria ini memang tidak bisa memenuhi ekspektasi nya sebagai seorang suami. Aih, seharusnya aku tidak berharap terlalu banyak padamu!


Hati Aileen sedikit terluka atas sikap diam Cole. Dan ia tidak suka saat harga dirinya mulai dipertanyakan seperti ini.. "Tapi kau tenang saja. Ini bukan sebuah kewajiban. Kau tidak perlu merasa terbeban dengan permintaan papa Dave. Lagi pula ini salah ku. Aku tidak akan,-"


"Apa kau juga menginginkan pernikahan ini?" sela Cole memotong perkataan Aileen yang sedikit tergagap. "Ap..apa?"


Ah sialan. Padahal tadi ia sudah siap sepenuhnya. Tapi sekarang sepertinya sia-sia saja. "Aileen? apa kau juga menginginkan pernikahan ini?" ulang Cole dengan nada yang sama.


Aileen terbelalak. Mulutnya tiba-tiba saja terasa kaku. Pertanyaan itu adalah pertanyaan yang seharusnya sudah memiliki jawaban.


Tapi kenapa.. ? apa sejak tadi ia salah menduga? pria ini tidak berniat melukai harga dirinya. Pria ini hanya sedang bersikap hati-hati.


Jika diposisi Cole, Aileen pun akan melakukan hal yang sama. Wanita itu mengangguk.


Demi bayinya, Aileen akan menikahi ayah dari anak yang saat ini ia kandung. Meskipun terdengar murahan, dan juga sedikit memaksa, tapi Aileen tidak peduli. Ia tetap ingin Cole lah yang menjadi suaminya.


Tidak apa-apa bersikap murahan pada pria yang ada di depannya saat ini. Meskipun kemungkinan ia akan ditolak pun sama besarnya..


"Kalau begitu aku tidak bisa,-." Sudah ku bayangkan..bukankah ini sesuatu yang wajar? Apa yang kau pikirkan Aileen.


"Aku tidak bisa menolak. Aku akan menikahi mu." tambah Cole dengan sungguh-sungguh. Huh? apa? menikah? barusan pria ini mengatakan akan menikah?


"Kau apa? maksud mu, kita?" tanya Aileen masih tidak yakin dengan apa yang ia dengarkan barusan.. mulutnya terbuka seakan ingin mengatakan sesuatu.. tapi suaranya hilang di udara..


"Hem.. ayo kita menikah. Kalau kau mau, aku akan melamar mu lebih dulu, lalu setelah nya kita akan menikah." kata Cole.


Tidak yakin apakah karena kata-kata itu atau karena memang dirinya yang selalu emosional akhir-akhir ini. Aileen tidak bisa berkata apa-apa. Matanya juga terasa panas, ia tak bisa menatap pria itu.


Tidak disaat ia ingin menangis seperti ini. Aileen menundukkan kepalanya. Sejak tadi ia terus berpikir yang tidak-tidak. Tapi ternyata, Cole mau menikahi dirinya. "Aku akan bertanggung jawab atas apa yang telah ku lakukan padamu." sambung Cole.


"Dan jangan katakan bahwa itu adalah kesalahan. Aku juga berperan atas apa yang terjadi malam itu. Hal seperti ini tidak akan terjadi jika aku juga tidak menyetujui nya." Cole berdiri dan mengambil tempat tepat disebelah Aileen.


Ia benar-benar ingin dekat dengan wanita itu, sekali lagi. Untuk meyakinkan ingatan nya bahwa bahkan pernah lebih dekat dari ini.


Sekali lagi Aileen mengangkat wajahnya, dan saat mata keduanya bertemu, mereka terpaku untuk sesaat.


Aileen begitu cantik.. dan bibirnya merah merekah. Rasanya manis dan lembut, bahkan lebih menggoda dari pada madu..


"Jangan katakan hal-hal yang bisa menyakiti bayi ini." Cole meraih tangan Aileen dan menggenggamnya perlahan.


Di ciumnya lembut tangan itu, untuk menyalurkan kesungguhan dari apa yang ia rasakan untuk Aileen.


Aileen tersentak. Rasa panas menjalari punggung nya.. ada rasa yang tidak biasa dalam sentuhan itu. Ia berdebar..


Manik Cole menatap lembut wajah Aileen. Wanita itu kembali tersipu..


"Aku juga sudah bicara pada orang tuaku. Aku sudah mengatakan jika mungkin aku akan menikah dalam waktu dekat. Dan syukurlah jika kau juga memikirkan untuk menikah dengan ku." Cole sendiri merasa jauh lebih baik dengan keputusan seperti ini.


Bagaimana pun juga, ia adalah seorang pria. Ia tidak mungkin menelantarkan bayinya sendiri, terlebih lagi membiarkan Aileen menanggung semuanya. Cole bukan pria seperti itu.


Meskipun mereka tidak saling mengenal, dan mereka telah memulai hubungan dengan cara yang salah, tapi setidaknya mereka sedang belajar untuk memperbaiki semuanya.


Memulai semuanya dari awal lagi. Dan Cole rasa, menikahi wanita seperti Aileen jauh lebih baik dari pada wanita lain diluar sana.

__ADS_1


"Bagaimana dengan kekasih?" tanya Aileen terbata. "Apa kau tidak punya kekasih? aku tidak mau,-" Cole menggeleng pelan sambil tersenyum.


"Aku tidak menjalin hubungan dengan siapapun Aileen." sahut Cole menenangkan.


"Aku akan bicara pada ayah mu. Dan kita juga harus menyiapkan banyak hal untuk pernikahan kita. Bagaimana? Kapan aku bisa bertemu dengan ayah mu?" Tanya Cole menunjukkan antusiasme pada rencana tersebut.


Aileen masih terpaku. Ia seperti terhipnotis oleh aura seorang Cole Maxim. Pria yang mengatakan akan menikahi dirinya dan akan hidup bersama nya seakan-akan hal itu adalah sesuatu yang sudah ia nantikan sejak lama.


Apakah keputusan ini sudah benar, ataukah sebaliknya, Aileen tidak tahu. Dan mungkin Cole pun begitu. Tapi satu hal yang Aileen tahu, bahwa ia tidak memilih pria yang salah.


Cole adalah pria yang baik. Setidaknya pria itu adalah pria yang bertanggung jawab. Dan Aileen tidak akan meminta sesuatu yang lebih dari pada itu.


"Aku akan bertanya, secepatnya." Aileen tersenyum lega. Ia tidak tahu jika Cole akan seantusias ini saat membicarakan rencana masa depan mereka.


Pria yang sama sekali tidak ia ketahui, dan pria yang tadinya selalu membuat dirinya merasa tidak tenang, ternyata adalah pria yang bersedia untuk berdiri di altar bersamanya.


"Baiklah. Aku akan menunggu. Terimakasih karena telah mendatangi ku. Aku senang melihat mu, Aileen." ucap Cole dengan tulus.


Mata itu sekali lagi menghipnotis Aileen dengan kuat, bahkan ia tidak sadar jika saat ini mereka sudah terlalu dekat..


"Hem. Terimakasih juga untuk mu, Cole." balas Aileen merasa lega. "Aku akan menghubungimu lagi dalam waktu dekat. Sekali lagi, terimakasih." ucap Aileen kembali tersipu.


Meskipun semua sudah dikatakan, dan Aileen mendapatkan semua yang ia inginkan dari Cole, tapi entah kenapa ia tidak bisa beranjak.. seharusnya cukup seperti ini.


Dimana mereka sudah saling mendapatkan apa yang terpenting dalam pembicaraan itu.. tapi kenapa..


"Aileen..?" ucap Cole dengan suara rendah.. suara yang hampir-hampir saja terdengar seperti bisikan..


Cole semakin merapatkan dirinya. Hidungnya mencium aroma yang begitu manis dari Aileen.


Dan saat itu juga dada Aileen terasa penuh dan sesak.. "Cole.." Aileen ingin menghindar karena tubuh mereka terlalu dekat dengan tiba-tiba. Tapi ia tidak bisa.


Untuk sesaat, mereka hilang tertelan oleh keheningan dan juga ketajaman rasa yang begitu kuat, hingga menarik mereka jatuh ke dalam lubang yang tak memiliki dasar..


"Cole aku,-" mulut Aileen bungkam. Cole menciumnya dengan begitu lembut.. Ada sesuatu diantara mereka yang sudah tertidur sejak lama dan kini sudah terbangun kembali..


Saat ******* demi ******* terasa begitu panas dan juga menggairahkan.. kancing kemeja Aileen sudah lepas sepenuhnya.


Ia ingin berhenti, tapi tak bisa menolak sentuhan Cole yang terus saja bermain disekitar gunung kembar miliknya.


Saat pria itu menyentuh


nya dan memainkan bulatan kecil itu.. tubuh Aileen bergetar.


Aileen menginginkan pria itu seperti pria itu menginginkan dirinya untuk meneriakkan satu-satunya nama yang bisa membawa mereka ke jurang kenikmatan.. nama pria itu.. nama yang membuat mereka terbebas..


Nama yang membuat keduanya lepas kendali hingga tubuh keduanya bergetar penuh kenikmatan..


"Cole.. ini tidak bisa.. kita tidak..,- "


"Ssstttt.. nikmati saja Aileen.. sebentar lagi kau juga akan menjadi milikku.. anggap saja ini sebagai salam pertemuan kita setelah sekian lama.." bisik Cole dengan nafas yang membuat kulit Aileen meremang.


"Aku akan selalu memperlakukan mu dengan baik. Mulai hari ini, aku adalah milikmu. Dan kau juga milikku." Bisik Cole sambil menyentuh Aileen dengan lembut.


"Kau tahu, aku ingin kita menjadi lebih dekat dari sebelumnya. Dan aku senang, saat kau mengatakan akan melahirkan anak ini. Itu artinya, kita akan selalu bersama sebagai orang tua." wajah Aileen semakin merona saat mendengarkan semua kata-kata manis yang Cole ucapkan.


Cole begitu lihai membuat Aileen terpesona. Bagaimana dirinya bisa menolak sosok yang sehangat dan seintim ini dengan dirinya. Tentu saja dengan senang hati Aileen akan membuka diri dan hatinya untuk Cole.


"Cole, aku.."


Ssttttt..."Jangan lupa pengawal mu ada diluar.. kecilkan suaramu sayang.."


Meskipun tahu itu adalah perintah, tapi Aileen tidak menolak untuk diperintah oleh Cole.. bahkan ia menyukai saat dimana pria itu menuntun dan mengajarkan banyak hal pada dirinya..


"Emmhh.. Cole.. aku ingin.. aku.. "


"Aku tahu Aileen.. aku tahu.."


...❄️...


...❄️...

__ADS_1


...❄️...


__ADS_2