Belenggu Cinta Aileen

Belenggu Cinta Aileen
Inikah cara kita?


__ADS_3

...❄️...


...❄️...


...❄️...


"Selamat malam nona." sapa Sarah menyambut kedatangan Aileen. "Cole ada di sini?" tanya Aileen mengarahkan pandangannya ke lantai atas..


"Benar nona. Tuan sudah datang sejak tadi untuk menemani nona Cessa." lapor Sarah.


Aih.. menyebalkan. Kenapa Cole harus ada di sini sekarang? jelas-jelas aku sedang marah padanya.


Sepertinya kali ini lagi-lagi Aileen tak bisa menghindari Cole. Meskipun tak ingin bertemu, bagaimana mungkin Aileen tak melihat Cessa sedangkan ia sudah rindu pada bayi kecilnya yang manis.


Dengan langkah gontai Aileen pun naik ke lantai atas. Ia memperhitungkan setiap kemungkinan saat nanti ia bertemu dengan Cole.


Sebelum pergi ke kamar Cessa, Aileen terlebih dahulu menyimpan tas dan juga menyempatkan dirinya untuk mengganti pakaiannya dengan yang baru. Ia harus bersih dan steril saat mendekati putrinya.


Ia berjalan perlahan, memperhatikan Cole untuk sesaat. Pria itu masih terlihat sama di mata Aileen.


"Kau di sini? ku pikir kau bersama wanita itu." Sindir Aileen yang sudah menyilangkan tangan didepan pintu.


"Siapa maksud mu Aileen?" Cole menatap Aileen tajam namun tak bergeming. Suara Cole rendah dan dalam, membuat tubuh Aileen meremang untuk sesaat. Sialan.


Aileen membuang wajahnya menghindari tatapan Cole. "Aku rasa kau tahu siapa yang aku maksudkan!" balas Aileen dengan suara yang sama rendahnya.


Cole diam sejenak. Yang terpikirkan olehnya hanyalah pertemuan mereka sebelumnya di hotel. Dan di sana hanya ada dirinya, pria itu, Aileen dan juga Megan.


Cole tersenyum samar.. "Apa sekarang kau sedang cemburu padaku?" Cole mendekati Aileen membuatnya sedikit tersentak.


Sadar akan perasaan gugup yang sekarang sedang menderanya Aileen langsung mengalihkan pandangannya lagi pada Cessa.


"Aku? untuk apa? aku hanya mengatakannya saja." pungkasnya bersikap seolah tak peduli.


Bagaimanapun juga hubungan mereka saat ini tak bisa dikatakan dapat membuat mereka saling mengekang.


Mereka dapat bertemu dan menjalin hubungan dengan siapapun selama tak ada komitmen yang membuat mereka harus terikat dalam janji setia, seperti pernikahan.


Begitulah seharusnya, tapi ternyata Aileen masih saja tak bisa membendung rasa marahnya setiap kali teringat akan kejadian diwaktu yang lalu.


"Kau bebas bertemu dengan siapa saja Cole. Aku rasa aku tak perlu memberitahu mu, karena aku juga tak pernah melarang mu untuk melakukan itu." ya. Seharusnya inilah yang benar. Inilah yang harusnya mereka lakukan.


"Jadi itu artinya kau tidak cemburu?" Cole melirik pada Aileen.


"Tidak. Tidak sama sekali." tegasnya. Aileen tak ingin dianggap sebagai wanita yang mudah untuk digoyahkan. Selama ini Ia sudah melakukan semuanya dengan baik. Aileen hanya perlu bertahan.


Karena putri kecilnya sudah tertidur, Cole pun meletakan Cessa kembali ke dalam boxnya kemudian berbalik pada Aileen.


"Bolehkah aku katakan jika aku justru merasa senang kalau kau cemburu." gumam Cole merasakan hal yang sebaliknya.


"Jujur saja. Aku berharap kau benar-benar cemburu padaku Aileen. Karena dengan begitu, aku tahu apa yang harus aku lakukan pada hubungan kita."


Tak mengerti dengan apa yang Cole katakan, Aileen hanya bisa kembali memeluk dirinya sendiri.


Mungkin ini adalah cara yang nyaman untuk membuatnya merasa sedikit percaya diri dengan apa yang akan ia katakan sebelumnya.


"Tidak. Aku tidak akan cemburu. Aku hanya bertanya saja. Itu hak mu, dan aku tidak akan melarang mu untuk bertemu atau melakukan apapun yang kau suka dengan,-


Cole kembali menatap Aileen, ia sedang menunggu sampai Aileen menyelesaikan kalimatnya,


"Kau bisa, terserah kau saja." putus Aileen lagi. Ia tak bisa mengatakan apa yang seharusnya ia katakan. Meskipun semua kata-kata itu ada dalam kepalanya, tapi mulut Aileen menolak untuk mengatakan hal tersebut. Cole dan wanita lain, adalah kata-kata yang tak ingin Aileen ucapkan.

__ADS_1


Cole tersenyum dengan langkah perlahan mendekati Aileen. "Itu artinya, kau sedang cemburu." tebak Cole.


"Siapa yang cemburu, kau percaya diri sekali!"


"Apakah tidak?" Cole mendekat dengan cepat.


"Tentu saja." sahut Aileen memalingkan wajahnya tak mau kalah. Cih.. lagipula kau pikir siapa dirimu! Dasar pengkhianat.


Aileen masih ingat betapa ia terluka saat itu. Bisa dikatakan dulu ia benar-benar telah jatuh hati pada Cole.


Karena pria itu adalah cinta pertamanya, dan juga pria pertama bagi Aileen. Tapi apa yang ia dapatkan, semuanya berakhir begitu saja.


Aileen benar-benar tak suka dan tak akan mengijinkan dirinya untuk sekali lagi jatuh dalam perangkap Cole. Pria itu terlalu berbahaya untuk dirinya.


"Aileen..?" gumam Cole dengan suaranya yang berat.


Tatapan keduanya saling mengunci. Terasa aneh dan juga mendebarkan.. Ada sesuatu yang begitu kuat dari Cole yang mampu membuat Aileen enggan untuk memalingkan wajahnya lagi.


"Kalau begitu aku yang cemburu." Tanpa Aileen sadari Cole sudah berdiri di depan Aileen dan menjulang tinggi di depannya.


"Ap..apa..-


"Benar. Yang kamu dengar itu benar Aileen." Ucap Cole mengunci Aileen diantara kedua tangannya. Bergerak perlahan agar tidak menakuti Aileen.


"Pria itu. Aku tidak suka melihatnya didekat mu." Bisik Cole. Nafasnya harum membelai hangat pipi Aileen.


"Aku marah melihat mu bersama pria lain. Apalagi saat melihat bibir manis mu tersenyum karenanya. Aku tidak suka. Aku cemburu Aileen."


Aileen mengernyit. Cole merasa frustasi.. "Jangan katakan kalau kau tidak mengerti hal ini." Cole sudah menyudutkan Aileen diatas sofa.


Nafas Cole masih membelai hangat wajah Aileen dan tentu saja membuat debar jantung Aileen semakin melaju cepat.


"Kau pasti tahu kalau selama ini aku mencintaimu.. jadi jangan berpura-pura tidak tahu atas apa yang ku rasakan. Dan sekarang saatnya kau bertanggung jawab padaku."


Aileen pergi menghindar. Hatinya memang berdebar, tapi tiba-tiba saja ada bagian tertentu dalam dadanya yang terasa ngilu.


Ingatan akan penghianatan Cole di masa lalu kembali meneriakkan pada Aileen bahwa ia tak bisa melupakan semuanya begitu saja.


Perasaan terluka dan juga kecewa lagi-lagi membuat Aileen merasa tak berdaya. Ia takut jika hatinya akan kembali terluka.


Aileen juga takut pada Cole. Takut jika perasaannya yang semakin hari semakin membesar pada pria itu.


Aileen takut jika perlahan-lahan semua yang ia rasakan akan mengacaukan apa yang mereka miliki hari ini.


Aileen tahu betul bahwa cinta yang dimilikinya adalah cinta yang egois. Tapi inilah dirinya.. Ia tak rela jika apa yang menjadi miliknya disentuh orang lain..


"Aileen. Ku mohon. Berikan aku kesempatan." Cole menahan Aileen. "Harus bagaimana lagi aku membuktikannya padamu.


Aku mencintaimu, mencintai putri kita. Aku sungguh-sungguh. Tolong lihat aku." Cole memohon dengan sungguh pada Aileen.


Ini bukan kali pertamanya. Dan Aileen tahu betul bahwa saat ini Cole sedang bersungguh-sungguh saat mengatakan semua itu.


Tapi bagaimana lagi, hati dan juga pikirannya masih begitu mengingat rasa sakit dari pengkhianatan Cole sebelumnya.


"Cole, aku tidak..-


Belum lagi Aileen menyelesaikan kalimatnya, Cole sudah lebih dulu membungkam mulut Aileen.


Cole tak bisa lagi mendengar penolakan yang selama ini terus Aileen lemparkan pada dirinya.


Cole juga merasa takut. Takut jika dirinya benar-benar akan kehilangan semuanya jika Aileen terus mengatakan tidak.

__ADS_1


Mengapa sulit sekali mengembalikan semuanya seperti semula, padahal mereka punya semua yang mereka butuhkan untuk itu.


Cole kembali menarik diri untuk melihat reaksi Aileen pada ciumannya. Wanita itu tidak bersuara, tapi juga tidak melakukan apapun untuk menolak atau menerima ciuman yang mendarat perlahan di bibirnya. Seperti Aileen sedang memperhitungkan apa yang akan dilakukannya pada Cole.


Dengan rasa frustasi yang kian memuncak Cole memberanikan dirinya untuk sekali lagi mencium Aileen.


Tapi kali ini ciumannya disertai dengan kecupan-kecupan kecil yang sarat akan keputusasaan.


Cole ingin tahu sampai dimana ia bisa menggoyahkan hati Aileen. Cole akan menunggu sampai Aileen membalas ciumannya.. meskipun rasanya itu akan mustahil.


Aileen masih tidak bereaksi. Hati Cole kembali terasa sakit karena menyadari, mungkin kali ini ia akan menerima penolakan lain seperti sebelumnya.


Hati Aileen benar-benar tak mudah untuk digoyahkan. Meskipun usaha yang dilakukannya sudah begitu keras, tapi nyatanya, hanya seperti ini saja arti dirinya bagi wanita itu.


Apakah aku harus menyerah?


Cole membuka matanya perlahan. Rasanya terlalu sakit saat hati kecilnya selalu meneriakkan kata penuh keputusasaan mengharapkan Aileen untuk membalas rasa cintanya.


"Aileen.." bisik Cole lirih. Saat maniknya terbuka penuh, Cole melihat hal sebaliknya, mata Aileen tertutup, dengan bulu mata yang bergerak-gerak tak nyaman.


Meskipun begitu, Aileen menerima ciuman Cole. Ya Tuhan. Apa ini? Rasanya hati Cole ingin melompat keluar karena diserbu oleh kebahagiaan yang bergerak bersamaan. Bahkan ketika Aileen mulai menyentuhnya, tubuh Cole beraksi dengan cepat.


Tak bisa dipercaya. Cole bahkan menyebut bahwa ini hal tergila yang pernah dirasakannya. Telinga Cole bahkan bisa mendengarkan bunyi lonceng yang terus berdenting di sekeliling mereka.


Saat Aileen membuka mulutnya dan mengijinkan lidah Cole untuk menginvasi lebih dalam Cole tahu bahwa ia tak akan menyerah. Ini adalah kesempatan terbaik baginya untuk memulai semuanya lagi.


Kali ini Cole mendapatkan pertanda yang baik. Aileen tidak lagi menolak dirinya. Bahkan Aileen mengijinkan dirinya untuk bisa menyentuh wanita itu sepenuhnya. Andai Aileen tau betapa lamanya Cole menantikan saat ini tiba.


Seluruh tubuh Cole terasa panas dan juga mendamba. Sentuhan manis dan juga rasa hangat ini adalah sesuatu yang sudah lama Cole rindukan.


Dengan sekali sentakan, posisi Aileen sudah berubah dan berada diatas kedua paha Cole yang kokoh.


Kedua kaki Aileen melingkari pinggulnya dan memudahkan Cole untuk membawa tubuh Aileen untuk berpindah tempat. Mereka tak bisa melakukan hal seperti ini dikamar putri kecil mereka.


Suara ******* kecil yang terus bersahut-sahutan membuat keduanya sama-sama menggila..


"Aku sudah lama menunggu ini Aileen. Aku tidak akan melepaskan mu." bisik Cole dengan tatapan berkabut. Cole sudah dipenuhi oleh keinginan yang tak dapat dibendung lagi.


Kerinduan ini. Kehangatan ini, bahkan sentuhan manis yang begitu mendebarkan, membuat seluruh tubuhnya berdenyut tak nyaman. Perasaan yang kian membuncah, membuat Cole tak tahan untuk melepaskan dirinya.


Dibawah cahaya lampu yang temaram, Aileen terlalu luar biasa. Tatapan yang penuh dengan kehangatan serta suaranya yang memabukkan membuat tubuh Cole benar-benar terbakar.


Dengan sekali sentakan, Cole melepaskan semua yang menempel pada dirinya. Sosok yang luar biasa yang masih membekas dalam ingatan Aileen kini terpampang nyata di depannya.


Cole begitu menggoda dan juga menggairahkan..


"Sekarang giliran mu.." ucap Cole dengan suara serak tertahan. Nafas Cole lagi-lagi membuat tubuh Aileen meremang.


Meskipun sudah lama, tapi tubuh Aileen masih mengingat semuanya dengan baik. Ia masih begitu familiar dengan semua sentuhan serta cara Cole memuaskan dirinya..


"Cole aku,-


"Ssstttt...ini bukan saat yang tepat untuk berdebat Aileen. Aku tak ingin menyia-nyiakan waktu yang berharga. Aku merindukan mu.. dan aku menginginkan mu.."


Aileen tak bisa berkata-kata lagi, terlebih lagi saat Cole mulai menyentuh dirinya dengan liar.. semuanya terasa kabur..


Aileen tak bisa lagi membendung rasa haus akan sentuhan pria itu pada dirinya.. Aileen mendamba.. ia ingin Cole berada di dalam dirinya.. Kali ini saja..


...❄️...


...❄️...

__ADS_1


...❄️...


__ADS_2