Belenggu Cinta Aileen

Belenggu Cinta Aileen
Mengatakan sebuah Rahasia


__ADS_3

...❄️...


...❄️...


...❄️...


...Boston...


"Bagaimana dengan pekerjaan mu sayang?" Dave menghampiri Aileen dan mencium kening putrinya dengan sayang.


"Apa semua baik-baik saja?" sambungnya lagi seraya membelai punggung Aileen, keduanya duduk bersebelahan.


"Semuanya baik-baik saja papa Dave, begitu juga dengan pekerjaanku. Rasanya di sini sangat nyaman. Aku juga merasa lebih sehat." Aileen tersenyum, matanya terlihat berbinar dan cantik.


"Suasana baru memang menyenangkan." Tambah Aileen, kemudian kembali berfokus pada buku yang sedang dibacanya.


Dave tersenyum lembut saat memperhatikan wajah putrinya dalam-dalam, Aileen terlihat lebih bahagia dan juga mulai kembali menjadi dirinya yang dulu.


Aileen yang terlihat nyaman tanpa beban pekerjaan berlebihan.


"Papa berencana kembali lusa. Bagaimana dengan mu sayang? kapan kau dan Sarah kembali? bagaimana kalau kita pulang bersama saja. lagi pula waktu yang kita miliki sudah tidak banyak lagi." tukas Dave memikirkan tanggal pernikahan putrinya yang sudah semakin dekat.


Aileen diam. Ada keheningan sejenak diantara keduanya; tapi setelah itu Aileen mulai berpaling dan menghadap pada Dave, "Entah lah papa, rasanya aku tidak ingin kembali." Kata Aileen menanggapi pertanyaan papanya.


Mendengar hal itu tentu saja membuat Dave mengernyit, rasanya seperti ada sesuatu yang mengganjal dibalik penolakan sederhana dari putrinya itu.


"Bukankah pernikahan mu dan Cole akan dilaksanakan minggu depan sayang? kau tidak ingin kembali? bagaimana mungkin." sahut Dave sedikit meringis.


"Entahlah papa Dave. Rasanya aku ragu untuk menikah." Aileen menghela nafas berat. "Bagaimana kalau aku hidup sendiri saja? lagipula aku bisa mengurus anak ini dengan bantuan suster bukan? dan aku juga punya papa." kata Aileen dengan alasan yang ia pikir masuk akal.


Namun tidak bagi Dave. Ia Masih tidak mengerti perkataan putrinya, apa alasan Aileen tiba-tiba saja berubah pikiran seperti ini.


"Aileen, tunggu." Dave menyela dengan cepat. "Apa terjadi sesuatu antara Cole dan dirimu? Katakan jika memang ada sesuatu yang terjadi diantara kalian, bukankah sebelumnya kau yang bersikeras untuk menikahi pria itu lalu menolak Alex. Jadi ada apa lagi sekarang?" tanya Dave menuntut penjelasan lebih dari Aileen.


"Papa Dave. Aku hanya berubah pikiran. Aku dan Cole masih belum cukup mengenal untuk menjadi pasangan suami pasangan yang akan bersama seumur hidup. Dan kami juga tidak punya hubungan yang lebih dari pada sekarang. Hubungan kami ada hanya karena anak ini." Aileen menghela nafas panjang.


Raut wajahnya pun terlihat gusar. Ia tahu tak akan mudah meyakinkan papanya atas keputusan yang ia buat sekarang.


"Tidak bisa begitu Aileen." ujar Dave lagi. "Dengar. Papa tidak tahu apa yang sedang kau sembunyikan dari papa, tapi apapun itu papa ingin kau bicara jujur dan mengatakan apa yang sebenarnya terjadi.


Ada apa dengan semua lelucon ini? kenapa kau tiba-tiba berubah pikiran sementara pernikahan mu hanya tinggal beberapa hari lagi." Dave mendengus. Amarahnya hampir saja terpancing.


"Sebelumnya kau bilang kalau Cole menjaga mu dengan baik. Pria itu memperlakukanmu melebihi ekspektasi mu sebagai seorang yang baru di kenal. Bahkan papa rasa kau pun menyukainya. Apa papa salah? Dan tiba-tiba saja hari ini kau mengatakan jika kau ingin hidup sendiri serta melahirkan bayi itu tanpa seorang ayah dan juga tanpa ikatan yang jelas?" Dave menatap Aileen tak percaya.


"Papa tidak suka melihat putri papa seperti ini Aileen. Jika memang kau berubah pikiran, setidaknya katakan sesuatu yang masuk akal, bukan alasan yang tidak bisa papa mengerti."


"Apa papa perlu menanyakan semua ini pada Sarah? karena jujur saja papa rasa ada yang kau sembunyikan dari papa." Dave memperingati Aileen dengan sungguh-sungguh.


"Tidak papa Dave. Ini tidak ada hubungannya dengan Sarah. Semua ini adalah murni keputusan ku sendiri. Aku hanya berubah pikiran, sungguh." Aileen membuang wajahnya dan sedikit bergerak gelisah di samping Dave.


Dave memijat pelan pelipis nya, "Apa kau juga sudah mengatakan keputusan mu ini pada Cole? apa pria itu setuju untuk membatalkan pernikahan kalian?" sekali lagi Dave benar-benar ingin mendengar sebuah kebenaran dari putrinya.


Tapi nyatanya Aileen kembali bungkam. Dan Dave sangat tau apa arti dari diamnya Aileen. Putrinya hanya membuat keputusan sepihak.


Dave meraih tangan Aileen lalu membungkus tangan itu dengan hangat, meskipun tak tahu apa yang sudah terjadi, Dave tetap ingin mempercayai putrinya.


"Aileen dengar," kata-kata Dave membuat Aileen menatap matanya dengan manik yang mulai berkaca-kaca..

__ADS_1


"Bersikap seperti ini sungguh tidak baik sayang. Apapun masalahmu dengan Cole, setidaknya kalian harus bicara, dan jika memang kalian memutuskan untuk tidak menikah, maka perlu papa ingatkan, bahwa kau juga tidak akan bisa mengurus bayi itu sendirian tanpa adanya sebuah dokumen pernikahan."


"Apa kau ingin anak mu lahir tanpa orang tua dan juga status yang jelas? itu yang kau inginkan dan kau harapkan untuk nya?"


Aileen menggeleng. Ia tak pernah memikirkan untuk melahirkan bayinya tanpa status yang jelas seperti yang dikatakan papa Dave.


Yang Aileen inginkan hanyalah melahirkan bayi itu dan membesarkan nya tanpa kekurangan satu apapun, hanya saja, rasanya ia tak akan bisa menikahi Cole setelah mengetahui apa yang pria itu lakukan dibelakang nya.


"Papa bisakah aku tidak menikah saja?" suara Aileen bergetar. "Aku benar-benar tidak ingin menikah dengan Cole, pria itu,-" Aileen diam. Ia tak sanggup melanjutkan kata-katanya.


Bagaimana bisa Aileen mengatakan dengan mulutnya sendiri bahwa Cole bercinta dengan wanita lain sebelum hari pernikahan yang hanya tinggal terhitung hari saja. Aileen tidak bisa mengatakan semua itu sendiri.


Melihat keraguan yang begitu kentara di wajah putri nya, Dave hanya membelai pucuk kepala Aileen lalu mencium keningnya.


"Papa tahu sayang. Jika memang berat untuk mu, maka papa akan mencari jalan yang terbaik bagi kalian." kata Dave lembut.


"Hanya saja, tolong pikirkan sekali lagi perkataan papa. Kalau kau sudah benar-benar memikirkan nya dan menetapkan keputusan, maka kita harus bicara pada Cole dan keluarganya. Bagaimanapun pria itu berhak mengetahui keputusan mu saat ini." ujar Dave memberikan jalan tengah pada Aileen.


Dave sangat menyadari, jika putrinya masih terlalu muda untuk mengetahui apa saja yang boleh dan tidak boleh dilakukan saat menjalin hubungan dengan orang lain.


Begitu juga dengan semua yang dilakukan oleh putrinya, Dave bahkan ragu jika Aileen mengetahui konsekuensinya. Karena itulah, Dave tidak ingin jika putrinya bersikap gegabah.


"Pikirkan semuanya pelan-pelan sayang. Kau masih punya waktu sampai lusa." kata Dave.


Aileen tidak berkomentar apapun. Ia tidak membatah, namun tidak juga berniat untuk mengubah pikirannya. Meskipun tak ingin melahirkan bayinya tanpa status, tapi Aileen juga tidak ingin menikahi Cole.


Bagi Aileen, meskipun mereka tidak saling mencintai, tapi penghianatan bukanlah sesuatu yang bisa dibenarkan dalam situasi mereka saat ini.


...❄️...


Sarah menggeleng. Jangankan untuk berpikir, untuk melihat sorot mata Dave saja Sarah tidak berani.


Hanya saja, ia sudah memiliki sedikit firasat tentang apa yang akan dibicarakan oleh tuannya itu. "Tidak tuan." kata Sarah lagi.


"Ini tentang Aileen. Anak itu mengatakan ingin membatalkan pernikahan nya dengan Cole. Katakan pada ku, apa yang sebenarnya terjadi?" Dave meletakkan pulpennya sambil menatap tajam pada Sarah.


"Sejak awal aku sudah curiga tentang kedatangan Aileen ke Boston. Bagaimana mungkin putriku yang tidak suka pergi jauh dari Vegas justru datang ketempat ini dan tinggal lebih lama di sini. Aku harap kau tidak menyembunyikan apapun dari ku Sarah." pinta Dave.


Suaranya rendah namun menuntut. Sarah benar-benar tak berkutik dibawah tekanan yang Dave lakukan.


Pria itu memang berkata lembut, namun arti dibalik kelembutan itu sangatlah menakutkan. "Maafkan aku tuan. Ini semua salah ku." kata Sarah, menunduk. Dave mengernyit. "Ceritakan..!"


Setelah mendengar semua pengakuan serta cerita yang lebih lengkap dari Sarah, Dave pun ikut dilema.


Di satu sisi ia akan sama marahnya dengan putrinya, Aileen, namun di sisi lain, ia bisa sedikit berpikir dengan memposisikan dirinya sebagai Cole.


Meskipun ia tidak membenarkan apa yang dilakukan oleh calon menantunya itu, hanya saja mungkin keduanya masih bisa menemukan jalan tengah yang lebih baik dari pada tidak menikah sama sekali.


"Baiklah Sarah. Terimakasih sudah mengatakan semua ini padaku. Jangan ceritakan jika aku bertanya padamu. Aku tidak ingin putri ku semakin terbebani di situasinya yang sekarang." Sarah mengangguk, patuh.


"Lusa kita akan kembali ke Vegas. Siapkan saja semua keperluan Aileen, dan jika ada hal lain yang berhubungan dengan Cole lagi, katakan padaku lebih dulu."


"Baik tuan. Akan saya lakukan seperti yang tuan perintahkan." Setelah mengatakan hal itu Sarah keluar dari ruangan Dave dengan jantung berdebar.


Sarah berharap, dengan menceritakan semua itu, ia tidak akan melakukan kesalahan lagi. Sarah hanya ingin melindungi Aileen, dan juga melihat wanita itu berbahagia atas kehidupannya. Itu saja.


...❄️...

__ADS_1


...Vegas...


Tok..Tok..


"Kau masih murung saja." Steve melenggang dengan membawa map di tangannya. Ia duduk di depan Cole lalu diam sejenak untuk melihat situasi.


"Kau masih belum menemukan calon istrimu?" tanya Steve lagi. Cole bergeming. Pandangannya masih terarah keluar jendela.


Satu minggu yang lalu, saat Steve mendapati Cole yang mabuk seorang diri di bar, tanpa sengaja Cole mengatakan semuanya pada Steve.


Karena itulah Steve tahu apa yang saat ini tengah di alami oleh sahabatnya itu.


Cole menghela nafas berat, "Tidak ada petunjuk." katanya, "Bahkan sedikitpun?" sela Steve. "Hem. Bahkan sedikitpun." ulang Cole.


Steve ikut diam. Menurutnya, untuk keluarga terpandang seperti Marsden, tentu sangat tidak masuk akal jika mereka membiarkan putri satu-satunya dalam keluarga itu diketahui publik hamil diluar nikah dan juga membatalkan pernikahan yang sudah direncanakan secara tiba-tiba seperti ini.


Apalagi berita pernikahan keduanya mulai ramai diberitakan sejak beberapa hari yang lalu, dimana Cole berinisiatif menyebarkan berita yang bersifat privat tersebut ke awak media untuk menarik perhatian dari keluarga Marsden.


Jika memang Aileen sedang bersembunyi, maka ia yakin dimana pun wanita itu berada pasti akan mudah ditemukan dengan bantuan para pencari berita.


"Bagaimana jika semua ini hanya salah faham saja. Mungkin kau terlalu berlebihan saat memikirkan jika Aileen meninggalkan mu dan pernikahan kalian."


"Bisa saja wanita itu tidak melarikan diri, dan benar-benar sedang menyelesaikan pekerjaannya diluar sana. Kau tahukan betapa banyak perusahaan dan juga hotel yang mereka miliki." kata Steve.


"Santai saja kawan. Jangan terlalu dipikirkan, kau benar-benar terlihat menyedihkan saat ini. Bercukur lah, pernikahan mu hanya tinggal beberapa hari lagi." Saran Steve sebagai satu-satunya sahabat Cole yang mengetahui rahasia Cole.


"Andai saja semua yang kau katakan itu benar. Aku harap jika ini hanya kekhwatiran ku saja." ucap Cole masih terlihat gusar.


"Aku yakin semuanya akan baik-baik saja kawan. Jangan khawatir." tambah Steve. Satu-satunya yang bisa ia lakukan saat ini hanyalah memberikan dukungan pada Cole.


Pria yang sukses melejitkan namanya dalam waktu singkat karena prestasi dan juga kemampuannya berbisnis, kini terlihat begitu kacau karena seorang wanita.


...Ring... Ring...(Ponsel Cole berbunyi)...


"Kau tidak mengangkatnya?" tanya Steve. Cole bergeming. Melihat Cole yang seperti itu, Steve lah yang berinisiatif menjawab panggilan tersebut.


"Ini dari nomor tak dikenal." kata Steve saat melihat layar. "Biarkan saja." sahut Cole tak berminat. Namun tak lama kemudian panggilan yang sama terulang lagi.


"Kau yakin tidak mau mengangkat nya?" tanya Steve, mengarahkan ponsel itu pada Cole, tapi pria itu justru membuang wajahnya, Steve hanya bisa menggeleng.


"Hallo?"


"Tuan, kami mendapatkan kabar terbaru, tuan Dave Marsden dan putrinya baru saja tiba di bandara internasional siang ini. Mereka kembali." lapor seorang pria dibalik sambungan tersebut.


"Baiklah." balas Steve menggantikan Cole. Senyum lebar pun terbit di wajah pria itu. "Ku rasa kau harus pergi sekarang kawan." ujar Steve pada Cole. Pria itu mengernyit.


"Wanita yang kau cari kembali." mendengar hal itu Cole langsung berdiri dari kursinya. "Seseorang baru saja mengatakannya. Mereka baru tiba siang ini." jelas Steve.


Tanpa menunggu lama, Cole langsung mengambil jas nya dan berlari meninggalkan ruang kerjanya..


"Cole.. ponsel mu!" panggil Steve namun pria itu sudah tak terlihat lagi...


...❄️...


...❄️...


...❄️...

__ADS_1


__ADS_2