
...❄️...
...❄️...
...❄️...
Saat turun dari pesawat dan mengaktifkan ponsel, mata ku terbelalak beriringan dengan suara jantung ku yang berdegup dengan cepat, pasalnya ada notifikasi yang masuk dari Aileen. Cole senang, tentu. Tapi bukan itu yang terpenting sekarang.
Ada sebuah pesan dari Aileen yang mengatakan jika putri kami sedang tidak sehat.
Meskipun sudah meminta ku untuk tidak khawatir berlebihan, tapi tetap saja aku tidak bisa bersikap santai. Karena ini berhubungan dengan putri kami.
Dengan cepat aku pun menaiki mobil dan melajukan nya menuju ke kediaman Marsden.
Saat tiba di sana, Sarah sudah menunggu ku seperti biasa. Sedangkan Aileen, aku tak melihat wanita itu menyambut ku meskipun sebelumnya Aileen lah yang mengirimkan pesan.
"Tuan?" Sarah mengangguk. "Dimana Cessa?" tanyaku sedikit khawatir. "Diatas bersama nona Aileen." Sarah menjawabi.
Kami pun naik ke lantai atas, tempat dimana kamar Cessa dan Aileen berada. "Bagaimana keadaannya? apakah masih demam?" tanyaku lagi.
"Nona Cessa sudah lebih baik tuan. Silahkan." kata Sarah. Sampai di depan pintu yang tidak tertutup rapat, aku sempat mengintip sesaat.
Aku melihat punggung Aileen yang sedang menggendong putri kecil kami. Raut wajah Aileen terlihat gelisah, dan juga lelah.
Aileen terlihat begitu khawatir meskipun tak ada suara tangisan yang keluar dari mulut Cessa.
Tok..tok..
Aku mengetuk pintu pelan karena tak ingin membuat keributan ataupun mengagetkan Aileen.
"Bagaimana keadaannya?" tanyaku. Saat mata kami bertemu aku bisa menangkap sedikit kelegaan dari raut wajah itu.
Apakah Aileen lega untuk dirinya ataukah untuk putri kami, aku tidak tahu. Tapi aku juga merasa lega bisa bertemu dengan kedua orang sangat penting bagiku.
"Maafkan aku karena harus meminta mu datang. Aku tahu kau pasti sibuk." Aileen menjawab dengan suara setengah berbisik. Aku menghampirinya untuk melihat bayi kecil kami.
Saat aku mengulurkan tangan, Aileen mengerti isyarat ku lalu dengan senang hati memberikan Cessa hingga berpindah dalam pelukanku.
Meskipun begitu aku bisa merasakan bahwa Aileen masih menatap kami dengan khawatir.
"Dia baru saja tertidur. Tadi Cessa sempat demam. Mungkin karena imunisasinya. Tapi sekarang sudah lebih baik." kata Aileen menjelaskan.
"Biasanya Cessa tidak seperti ini. Hanya saja kali ini dia lebih rewel." keluhnya lagi.
Aku merasa senang karena Aileen menceritakan semua ini. Aku merasa menjadi bagian penting dirumah ini. Rumah yang sebenarnya belum menerima ku sepenuhnya..
Aku mengangguk dan menggendong putri kecilku dengan hati-hati. Setelah mempercayakan Cessa padaku, Aileen langsung menghempaskan dirinya ke atas sofa.
"Kau istirahat saja. Biar aku yang mengurus Cessa" kata ku. Ku lihat Aileen memalingkan wajahnya menatap ku dengan sorot mata yang aku pun tak tahu apa artinya.
"Kau tidak bekerja? kau bisa pergi setelah Cessa benar-benar tertidur. Ada Katrina juga yang membantu ku menjaganya." Tentu saja aku menolak ide tersebut. Aku ingin bersama dengan putri ku dan juga Aileen lebih lama lagi.
"Aku sudah mengurus semua pekerjaan di kantor. Tidak apa-apa. Kau istirahat saja. Aku bisa mengurusnya." kataku lagi.
Aileen tak menjawab. Namun aku bisa melihat saat Aileen mengangguk. Wanitaku benar-benar sedang kelelahan.
"Baiklah." katanya tak ingin mendebat ku. "Papa Dave bilang, mungkin saja Cessa sedang merindukan mu. Karena itulah aku mengirim pesan. Dan sepertinya, itu benar."
Mata kami lagi-lagi bertemu. Tapi kali ini ada bias senyum kelegaan yang begitu samar di wajah Aileen. Ah, apakah senyum itu untuk ku?
"Benarkah? putri Daddy merindukan Daddy?" Aku bersuara layaknya anak-anak. "Daddy juga sangat merindukan Cessa. Sangat-sangat rindu."
Untuk waktu yang cukup lama, aku meluapkan semua kerinduanku selama dua minggu penuh tak bisa bertemu dengan putri kecilku.
Waktu dua minggu itu aku gunakan untuk mengurus perusahaan ku yang ada di Boston.
Meskipun tak ingin berjauhan, tapi aku juga memiliki tanggung jawab yang harus ku selesaikan. Dan Aileen tahu akan hal itu. Syukurlah karena ini bukan masalah untuk nya.
Meskipun tak bersama layaknya suami istri, tapi Aileen benar-benar bersikap pengertian.
Semakin lama, sosok wanita dewasa semakin terlihat dari dirinya. Mungkin inilah alasan mengapa aku tak benar-benar bisa melepaskan Aileen. Karena sejak awal, hatiku memang telah terpaut untuk nya.
Aku jatuh cinta pada Aileen bahkan sejak pertama kami bertemu. Rasa suka ku benar-benar gila. Bahkan aku sendiri pun tak tahu dimana batasan dari semua perasaan ini.
"Apa kau membuat mommy terjaga semalam sayang?" aku memandangi wajah Cessa yang tertidur lelap.
"Kasihan mommy. Pasti mommy sangat lelah. Jika ingin begadang, saat ada Daddy saja ya? biar Daddy yang menemani Cessa."
"Maafkan Daddy juga karena meninggalkan mu cukup lama. Daddy harap putri kecil Daddy mau memaafkan Daddy." Cole tersenyum hangat. "Sekarang tidurlah sayang, Daddy di sini bersama mu."
Cukup lama aku menggendong dan menidurkan Cessa dalam pelukanku. Sampai Cessa benar-benar tertidur dengan pulas.
Setelahnya, meletakkan Cessa kembali ke dalam box tidurnya yang hangat.
__ADS_1
Ku selimuti dan ucapkan doa untuk memberinya mimpi yang indah. Sementara diatas sofa Aileen juga sudah tertidur dengan cukup pulas.
Meskipun tak bisa melihatnya secara langsung; bagaimana lelah dan khawatirnya Aileen saat menjaga Cessa, aku bisa merasakan bahwa Aileen begitu mencintai putri kecil kami.
Bahkan wanita yang dulunya adalah penggila kerja melebihi aku itu memutuskan untuk tidak meninggalkan rumah demi mengurus Cessa dengan tangannya sendiri.
Dua wanita ini benar-benar telah membuat duniaku berubah sepenuhnya..
"Aku tahu kau pasti sangat lelah. Terimakasih karena telah menjaga putri kita dengan baik. Kau ibu yang hebat, Aileen. Selamat tidur, bermimpi lah yang indah."
Cole merengkuh tubuh Aileen dan memindahkan nya ke atas ranjang berukuran sedang yang ada di samping ranjang Cessa.
"Tidurlah sayangku." Aku membelai pelan rambut Aileen dan mencium kening serta bibirnya bergantian.
Tentu saja aku melakukan itu secara sembunyi-sembunyi tanpa sepengetahuan Aileen. Karena di saat seperti inilah aku bisa menunjukkan perasaan ku padanya.
Aku sangat menyukai saat-saat dimana bisa berduaan saja dengan Aileen seperti ini.
Waktu yang tak akan bisa ku bayar bahkan dengan harga berapa pun. Hanya dengan memandangi wajah lelahnya, hati ku terasa hangat.
Ah, aku ingin sekali memeluknya dan tidur dalam pelukan Aileen untuk mendengarkan suara detak jantung yang begitu ku sukai. Tapi sepertinya, hal seperti itu masih sulit untuk bisa ku wujudkan.
"Aku merindukan mu. Sangat-sangat merindukan mu." kataku tersenyum samar.
"Aku selalu memikirkan mu dan juga putri kita. Baik di sini maupun di Boston. Kau tau bukan jika aku begitu mencintaimu Aileen. Aku berharap waktu berhenti saat ini." keinginan yang belum bisa ku wujudkan, mungkin sampai nanti pun tak akan pernah bisa.
...❄️...
Setelah memastikan keduanya benar-benar terlelap, aku segera keluar dari kamar Cessa.
Aku tak ingin berada lebih lama di sana karena takut tak bisa menahan diri dari memeluk Aileen. Wanita yang terus saja ku rindukan.
"Dimana tuan Dave?" tanya ku pada Sarah yang saat itu berjaga diruang kerjanya. Wanita itu langsung keluar saat melihat aku yang sudah menuruni tangga.
"Tuan sudah pergi ke kantor." jawabannya cepat. "Tuan berpesan agar besok malam anda bisa datang untuk makan malam." kata Sarah menyampaikan.
"Baiklah. Aileen dan Cessa sedang tertidur. Aku akan pulang dan kembali lagi besok." kataku berpamitan.
Meskipun tadi aku mengatakan semua pekerjaan ku sudah selesai, tapi nyatanya itu hanyalah alasan saja. Aku tak mau Aileen terus mendorong ku untuk kembali bekerja.
"Baik tuan."
...❄️...
Aileen bahkan mendengar semua yang Cole ucapkan pada dirinya, dan Aileen juga tahu jika tadi Cole diam-diam mencium bibirnya.
Ya Tuhan, Wajah Aileen merona. Jantungnya masih saja berdegup aneh setiap kali berada di dekat Cole. Sepertinya Aileen tak akan bisa bersikap seperti biasa. Semua ini terlalu membingungkan.
Apa aku menyukai Cole lagi?
Karena perasaannya yang terus saja terasa aneh, Aileen pun memutuskan untuk bangun. Rasa kantuknya sudah hilang.
Aileen lebih memilih untuk menenangkan hatinya seraya memastikan jika Cessa benar-benar telah tertidur.
"Benar-benar ya, anak mommy ini. Apa kamu begitu merindukan Daddy mu?" Aileen tersenyum.
Saat itulah Katrina masuk ke kamar untuk mengatur suhu ruangan. "Aku akan kembali ke kamarku." kata Aileen. "Baik nona."
...❄️...
Keesokan harinya, seperti janjinya, Cole datang lagi ke kediaman keluarga Marsden. Cole di sambut oleh Sarah, dan seperti biasa ia langsung naik ke lantai atas.
Kamar putrinya terbuka lebar, dan Katrina baru saja datang membawakan susu yang telah disiapkan untuk Cessa.
"Biar aku saja." Cole meminta tempat susu pada Katrina dan membawanya masuk ke dalam.
Cessa sedang berada dalam pelukan Aileen. Keduanya sedang duduk di kursi goyang menikmati keheningan senja.
Sementara itu, Aileen menembangkan sebuah lagu yang Cole sendiri tidak tahu apa judulnya. Namun membuat suasana terasa begitu nyaman.
"Aku tidak tahu kalau kau bisa bernyanyi." Cole meletakan susu Cessa di atas meja yang ada di depan Aileen.
Wajah Aileen sedikit menghangat saat mengetahui jika tadi Cole sedang memperhatikan dirinya.
"Aku juga baru tahu, setelah menjadi seorang ibu " jawab Aileen menundukkan wajahnya yang merona
"Sepertinya Cessa sangat menyukai nyanyian mu." lagi-lagi Cole menunjukkan senyuman khasnya.
"Kenapa kau datang malam-malam begini?" Aileen mengerutkan keningnya. Sepertinya wanita itu tak tahu jika Cole sudah diundang untuk makan malam.
"Uncle yang memintaku untuk datang. Kau tidak tahu?" Aileen menggeleng. Cole kembali tersenyum. "Berikan padaku." Cole meminta Cessa agar diberikan padanya.
Aileen mengoper Cessa pada Cole, "Berikan susunya. Sudah saatnya untuk makan malam." kata Aileen.
__ADS_1
Cole mengambil susu diatas meja dan memberikannya pada Cessa. Cole benar-benar terlihat menikmati perannya.
"Minumlah susumu sayang Daddy. Cepatlah sehat agar bisa bermain bersama Daddy." kata Cole sambil menimang Cessa yang ada dalam pelukannya.
Setelah susu Cessa habis, Cole membalikkan tubuh Cessa untuk membuatnya bersendawa sebelum membaringkan tubuh kecil itu kembali ke atas ranjang.
Aileen hanya memperhatikan dalam diam. Hati Aileen benar-benar menghangat saat memperhatikan kedekatan antara Cole dan juga putrinya.
"Nah, Cessa sudah tidur, sekarang saatnya kita juga untuk makan malam." ajak Cole. "Turunlah duluan. Aku harus ganti baju." kata Aileen membiarkan Cole pergi lebih dulu.
"Hem. Aku akan meminta Katrina naik untuk menemani Cessa."
...❄️...
Makan malam pun berakhir dengan tenang. Dave dan Cole hanya berbincang seperti biasa, sedangkan Aileen lebih banyak diam. Dan hanya bicara jika mereka sedang membicarakan Cessa saja.
"Kau baik-baik saja? istirahatlah lebih awal. Wajah mu terlihat pucat." kata Cole mengkhawatirkan Aileen.
"Hem. Aku akan tidur jika Cessa tidak demam lagi." Sahut Aileen. "Aku bisa menjaganya menggantikan mu." tawar Cole berinisiatif.
Dan diam-diam mencium ku lagi? Aileen ingin mengatakan itu, tapi ia tak ingin membuat situasi diantara mereka berubah canggung. Karenanya Aileen hanya bisa tersenyum.
"Pekerjaan mu banyak bukan? Lagi pula tadi Cessa juga baik-baik saja. Semoga saja malam ini demamnya tidak datang lagi."
Keduanya berbincang sampai di depan pintu.
"Baiklah. Kalau begitu aku pulang. Jika Cessa demam lagi, tolong kabari aku." pinta Cole. Ia tak bisa memaksa Aileen untuk mengijinkan dirinya berada di sana saat wanita itu mengatakan sebaliknya.
"Baiklah. Akan ku kabari." sahut Aileen sambil memeluk dirinya sendiri. "Hati-hati dijalan."
Setelah masuk ke dalam mobil, Cole langsung membawa mobilnya meninggalkan kediaman Marsden.
Kali ini Cole tidak langsung kembali ke apartemen miliknya. Tapi ia memilih untuk pulang kerumah kedua orang tuanya.
"Mom, kau belum tidur?" Cole menghampiri wanita paruh baya yang saat ini berada diruang santai untuk memberinya kecupan. "Bagaimana keadaan cucu mommy, apa sudah lebih baik?" tanya mommy Cole.
"Cessa sudah lebih baik mom. Saat aku pergi tadi demamnya sudah turun. Dan tidurnya juga pulas." sahut Cole. Helaan nafas penuh kelegaan terlihat dari mommy Cole.
"Syukurlah kalau begitu."
Sebelumnya, saat pesawat Cole tiba di airport, Cole sempat memberitahukan pada mommy nya bahwa ia akan langsung pergi ke rumah keluarga Marsden untuk menemui putrinya. Karena itulah orang tua Cole mengetahui bahwa cucu mereka sedang sakit.
"Bagaimana dengan Aileen? apa dia baik-baik saja?" Kali ini Cole diam sejenak. "Aileen juga baik-baik saja mom. Hanya terlihat lelah. Karena Cessa menjadi lebih rewel dari sebelumnya, dan Aileen harus lebih ekstra dalam menjaga Cessa." cerita Cole.
"Apa kalian tidak ada niatan untuk kembali bersama lagi Son? pikirkan bagaimana putri kecil kalian. Di saat seperti ini, Cessa pasti membutuhkan mu, begitu juga dengan Aileen.
Meskipun tak mengatakan nya, tapi pastilah Aileen akan merasa sangat terbantu jika kau yang adalah Daddy Cessa ada di sana untuk menemaninya."
Cole menghela nafas kasar, ini terasa berat baginya jika dibicarakan secara langsung seperti ini.
"Aku pun maunya seperti itu mom. Hanya saja, membujuk Aileen tidak akan semudah itu." Sahut Cole sambil menghela nafas kasar.
"Untuk saat ini, aku hanya bisa menjaga dan mencintai mereka berdua dengan cara seperti ini. Untuk itupun aku tidak bisa lebih memaksa, atau Aileen akan kembali menjauh dariku." Dan Cole tidak ingin hal itu terulang kembali.
Ia akan merasa tersiksa jika dijauhkan untuk kedua kalinya dari putrinya, serta Aileen..
Apa selama ini Cole kurang berusaha? tidak. Cole bahkan melakukan apa saja untuk menjadi bagian penting dalam hidup Aileen dan juga putrinya, hanya saja, semuanya tidak semudah yang Cole bayangkan.
Meskipun begitu Cole tak akan menyerah. Cole akan membuktikan bahwa ia bisa dan layak berdiri di sisi Aileen.
"Mommy hanya berharap agar hubungan kalian bisa kembali lagi seperti sebelumnya Cole. Mommy juga ingin dengan leluasa bisa menjenguk cucu mommy."
Cole tahu apa yang dirasakan orang tuanya. Hubungannya dengan Aileen yang seperti ini memang cukup rumit.
Cole bisa memastikan bahwa ia tak apa-apa. Ia bisa menerima situasi ini tanpa memikirkan untuk mencari pasangan lain.
Hanya saja Cole tidak bisa memastikan jika Aileen akan sama seperti dirinya. Walau bagaimanapun, Aileen adalah wanita yang banyak diincar oleh para pengusaha kaya raya diluar sana.
Dan Jika suatu saat Aileen bertemu dengan pria lain dan memutuskan untuk hidup bersamanya, makan Cole tidak akan bisa melakukan apapun, meskipun ia begitu mencintai wanita itu.
"Bersabarlah mom. Jika Cessa sudah cukup besar, kalian juga akan bisa bertemu dengan nya." selama ini orang tua Cole hanya bertemu satu kali saat Aileen baru melahirkan, dan setelahnya mereka hanya bisa melihat Cessa dari photo dan juga video yang Cole ambil saat mengunjungi putrinya.
"Hem. Baiklah jika memang seperti itu keputusan kalian sayang. Istirahatlah lebih cepat. Besok pagi kita sarapan bersama dengan Daddy." kata mommy Cole.
Pria itu mengangguk dengan patuh, "Baiklah mom. Selamat malam. Aku mencintaimu."
"Mommy juga mencintaimu, Cole."
...❄️...
...❄️...
...❄️...
__ADS_1