Bereinkarnasi Sebagai Pelayan Di Dunia Sihir

Bereinkarnasi Sebagai Pelayan Di Dunia Sihir
Bab 3 - membujuknya


__ADS_3

Sudah sekitar 1 bulan telah berlalu setelah aku bereinkarnasi.


Saat ini, aku dipanggil oleh tuan muda ke ruang kerjanya.


Ternyata ia memanggilku karena perjanjiannya untuk memanggil penyihir jika ingatanku masih belum kembali.


Tapi aku tidak mau! Aku bukanlah pemilik asli tubuh ini! Bagaimana jika penyihir itu tahu bahwa aku adalah orang dari dunia lain?! Apakah aku akan dieksekusi?! Hihh! Memikirkannya saja sudah membuatku merinding!


"Maaf tuan muda, bisakah tuan tidak perlu memanggil seorang penyihir saja?" Mau bagaimana lagi!, Aku harus membujuknya untuk tidak memanggil penyihir! Jika aku gagal, bisa-bisa nyawaku melayang!!


"Hah?" Ia kemudian mengerutkan keningnya dan memasang ekspresi yang seram.


(Hikk!, Seramnya!)


Tapi aku tidak boleh takut! Karena bagaimanapun, nyawaku sedang dipertaruhkan saat ini


"H-habisnya, memanggil seorang penyihir hanya karena seorang pelayan biasa ... itu terlalu berlebihan bukan?"


"Tidak kok. ...?"


Apa-apaan kau?! Jawabanmu cepat sekali! Jelas-jelas itu terlalu berlebihan bodoh!


"A-ah, ... Tapi menurut saya, hal tersebut terlalu berlebihan..."


"Kalau menurutku tidak, ya tidak."


(Sialan kau! Jangan menjawabnya begitu saja!!)


"Kalau begitu, ini adalah permohonan saya tuan! Tolong, jangan panggil seorang penyihir!"


(Kumohon! Terima saja!!)


"Tetapi mengapa?"


" ... Eh? ..... "


(Ah, gawat!! Aku belum memikirkan jawabannya sama sekali!)


"T-tuan muda sendiri, mengapa anda bersikeras memanggil seorang penyihir hanya untuk pelayan biasa seperti saya?"


(Ja... Jawabanku sudah benar, 'kan?! Aku tidak salah bukan? Apakah itu terdengar tidak sopan?! Dia bertanya kepadaku, tetapi aku justru bertanya balik!! Aku tidak akan dihukum hanya karena ini bukan?!)


Aku mulai berkeringat dingin. Gawat, keringatku mulai bercucuran...


"Hee ... "

__ADS_1


"A-ada apa tuan muda?"


(Dia tidak marah bukan?! Dia tidak akan menghukumku bukan?!)


"Bukankah itu sudah jelas? ... "


" ... Ya?"


(Tidak! Itu belum jelas bodoh!!) Aku rasanya ingin berteriak seperti itu saja...


Ia kemudian menghela nafasnya.


"Kau ingat saat pertama kali kita bertemu? Lebih tepatnya saat kau hilang ingatan."


"Ya, saya ingat tuan!"


"Apa yang aku katakan saat itu?"


"E-eumm... 'Biarkan saja dulu Esh seperti ini selama kurang lebih 1 bulan. Mungkin saja ingatannya akan kembali perlahan. Tetapi jika ingatannya tak kunjung kembali, katakan padaku, dan aku akan memanggil seorang penyihir untuk mengecek apa yang terjadi padanya.' a-apakah yang itu tuan? Apa saya salah?"


"Ya, kau benar. Jelas-jelas aku sudah mengatakan itu, kenapa kau justru malah tidak ingin ku panggilkan seorang penyihir?"


"Dan lagi, keluarga Grandles adalah bangsawan yang selalu menepati perkataannya. Jika aku tidak menepatinya, bagaimana jika ada rumor-rumor buruk yang tersebar?"


(Tapi sudah ada rumor buruk tentangmu loh. Tidak ada gunanya juga kau menjaga reputasi tersebut.)


Gawat nih, Dea mengkerutkan keningnya lagi ... Sepertinya dia marah...


"Be-begini maksudku tuan... Menarik perkataan kita kembali memang tidak semudah yang kita bicarakan tetapi, jika orang yang bersangkutan tidak mempermasalahkannya, maka itu tidak apa bukan?"


"Tapi tetap saja!,"


Aku mulai geram dengan sikapnya yang keras kepala tersebut, karena tidak tahan dengan sifat keras kepalanya itu, aku langsung menghentakan tanganku ke mejanya.


*Duagh!*


Akupun mendekati wajahku padanya.


"Tuan muda! Begini maksudku!, ... Tuan... Muda ... ?"


Tiba-tiba saja, ia terdiam dan wajahnya memerah! Apa-apaan dia?


Oh, yaampun! Apa jangan-jangan dia sakit?! Sedari tadi dia mengerutkan keningnya, jangan-jangan karena dia sedang pusing?!


"Tuan muda? Apa anda baik-baik saja?! Wa-wajah tuan memerah!"

__ADS_1


(Jika ia sakit, bagaimana dengan rencanaku untuk membujuknya?!)


Kemudian aku meletakkan tanganku di keningnya, untuk memastikan apakah dia sedang demam.


"Men ... Menjauhlah!"


"Eh ..."


Wajahnya memerah lagi! Dia benar-benar sedang sakit ya?!


"Ta-tapi wajah tuan muda memerah! Apakah tuan muda sedang sakit?!" Aku tetap bersikeras untuk menanyakan padanya.


"Ku... Kubilang menjauhlah!"


"Tapi kenapa tuan?!"


(Berhentilah keras kepala bodoh! Karena aku yang repot nantinya!)


"Pergi!"


"Ke-keluar dari ruang kerjaku!"


"LALU BAGAIMANA DENGAN PEMBICARAAN KITA?!!"


Aku mulai mengeraskan suaraku tanpa sadar, emosiku benar-benar sudah mencapai puncaknya.


"KITA BICARAKAN LAIN KALI SAJA!! CEPAT KELUAR!!"


Dea mulai mengeraskan suaranya juga, sepertinya dia juga marah, sama sepertiku.


Tapi mau bagaimanapun juga, seharusnya aku yang marah!


"EHH?!! TAPI!!"


"KUMOHON KELUARLAH!!"


"TIDAK MAU!!"


"AKU AKAN MENAIKI GAJIMU NANTI, KARENA ITU KELUARLAH!!"


"Oke."


Aku langsung diam dan menurutinya begitu saja.


Habisnya ...,

__ADS_1


Habisnya, dia bilang akan menaiki gajiku loh! Mau bagaimana lagi bukan?!


__ADS_2