
Pagi hari yang cerah seolah tak ada embun yang menyelimuti pagi hari dikala ini. Kicauan para burung membuat ku seolah-olah ingin terbang bersama mereka. Pagi ini adalah awal pagi di mana aku harus siap melupakan semua kenangan di kota kelahiran ku.
"Sayanggg apakah kamu sudah selesai bergegas, ini udah pukul berapa nanti kamu ketinggalan pesawat" seruan dari mamaku
"Iya maaa sebentar lagi Anggit siap" jawab ku kepada mama.
Rasanya hati ini tak sanggup melupakan kenangan yang ada. Banyak kenangan yang bakalan aku tinggalkan di sini. Terutama kenangan bersama Devan, sahabat sahabat ku keluarga yang ada di sini bahkan kenangan singkat bersama Hans. Hatiku tak karuan menahan hancur nya hati ini. Tanpa di sengaja cucuran air mata mulai membasahi pipiku. Menatap ke cermin dan berkata
"Tuhann singkat rasanya buat aku mudah melupakan kenangan manis yang ada disini. Sulit bagiku melupakan semuanya tak sanggup hatiku buat melanjutkan langkah ku" air mata terus menerus mengalir. Aku tak sanggup menahan duka di hati ini.
tokkk..... tokkkkk....
"Anggit buruan keluar, kita harus segera sampai ke bandara tepat waktu" panggilan kedua dari mama.
Aku segera keluar dan membawa semua barang barang ku.
"Maaf ya ma Anggit lama banget beres beres nya" ucap ku kepada mama.
"Iya sayang gpp, mama tau ini sulit bagi kamu untuk pergi dari sini, tapi ini yang terbaik bagi kamu. Mama sama papa mengirim kan kamu ke Surabaya agar kamu bisa melupakan kenangan pahit kamu yang ada di sini. Mama papa tau ini sulit bagi kamu untuk melupakan Hans tapi ga ada cara yang lain sayang" jawab mama kepadaku.
__ADS_1
Aku hanya bisa terdiam dan sejenak memeluk mama.
Selama di perjalanan mama dan papa sedang asik menghibur hatiku. Tapi tetap saja aku tak bisa menahan luka di dalam hatiku.
"Anggit keluar.... Gitt dengari aku dulu, kamu ga boleh pergi Git, aku sayang sama kamu. Anggit keluar....." teriakan dari jauh membuat mobil papa berhenti sejenak. Aku kira siapa dan ternyata itu Hans. Mama dan papa segera turun dari mobil. Aku? yah aku tak berani keluar dari mobil, karena aku tau kalau nanti aku tak sanggup menatap mata Hans.
"Biarin Anggit pergi ya Hans, tante sama om tau ini sulit bagi kalian berdua tapi ini jalan yang terbaik buat masa depan kalian. Kalau pendidikan Anggit di Surabaya udah selesai dia bakalan balik lagi ke Karawang kok" ucap mama kepada Hans.
"Ga tan, Hans yang salah. Ga seharusnya Hans biarin Anggit pergi jauh. Anggit buka pintunya aku mau ngomong sama kamu, aku sadar kalau sebenarnya aku sayang sama kamu. Anggit kasih aku satu kesempatan buat nunjukin kalau aku sayang sama kamu" jeritan Hans yang membuat ku semakin hampa.
Aku tak sanggup melihat tangis di wajah Hans, dan akhirnya aku memberanikan diri untuk keluar dari mobil.
"Ga gitu Git, dengerin penjelasan aku dulu. Aku tau aku salah tapi aku juga ga tau harus gimana, di satu sisi bayangan masa lalu ku masih menghampiri dan aku juga tau kalau kamu juga belum bisa ngelupain Devan sepenuhnya. Walaupun waktu itu kamu minta ruang dia hatiku. Jangan pergi Git." Ucap Hans kepada ku.
Aku tak sanggup menatap mata Hans, hatiku semakin hancur. Sulit bagiku untuk menjawab setiap perkataan Hans.
Ohhh Tuhann.....
Mengapa kau membuat ku semakin dilema, hatiku tak karuan. Aku tak bisa berpikir dengan jernih. Situasi apa yang menjebak ku. Aku tak sanggup menghadapi Hans.
__ADS_1
"Kak.. Biarin Anggit pergi sebentar ya kak, Anggit mau ngelanjuti sekolah Anggit dulu. Kakak baik baik ya di sini, jangan keseringan main main ntar kuliah nya berantakan. Anggit pamit ya kak" balasku kepada nya.
"Kamu udah kelas 12 loo Git, mending selesaikan dulu sekolah kamu disini" responnya yang begitu cepat.
"Biarin aku pergi kak, aku janji sama kakak kalau aku bakalan balik tepat di tanggal 11 Desember. tanggal di mana kita saling kenal" janji ku kepada Hans.
"Kasih aku kesempatan Git, buat buktiin kalau aku sayang sama kamu. Kalau aku udah bisa ngelupain dia sepenuhnya" permohonan Hans kepadaku membuat aku semakin tak kuasa.
"Iya kak, Anggit juga sayang sama kk tapi biarin Anggit pergi ya. Anggit ga tau kak berapa tahun Anggit di sana yang pasti di tanggal 11 Desember aku bakalan balik kok dan ada di taman ini" ucap ku kepada Hans.
"Aku bakalan datang ke taman ini setiap tanggal 11 Desember, aku bakalan nungguin kamu balik Git. Jaga diri kamu baik baik ya di sana. Aku bakalan nungguin kamu sampai kapan pun". Ucapan Hans semakin membuatku hancur.
Pelukan terakhir yang diberikan Hans membuat air mataku terus mengalir.
"Ayok sayang, ini udah jam berapa nanti kamu ketinggalan pesawat" Seketika mama menarik tangan ku.
Mama dan papa segera membawa ku masuk kedalam mobil. Hari ini adalah hari dimana hatiku benar benar hancur. Di mobil aku hanya bisa diam saja. Melihat ke jendela mobil dan membayangkan kapan aku dan Hans bisa bertemu kembali.
Akhirnya aku sampai di bandara dan ternyata Wel dan keluarga nya sudah ada disana. "jaga diri looo baik baik ya Git, kami disini bakalan tetap nungguin loo pulang" ucap Wel kepadaku. Saling berpelukan dengan semua orang dan akhirnya aku masuk kedalam pesawat dan berpisah sejenak dengan mereka.
__ADS_1