
48 menit waktu ku di pesawat. Dan akhirnya aku sampai dikota kelahiran papa yaitu Surabaya. Disini aku bakalan tinggal sama adiknya mama yaitu papa Bams. Papa Bams bagiku adalah papa kedua yang aku sayangi. Beliau sosok papa yang sangat menyayangi ku. Begitu aku melangkah kan kaki ku ke dalam bandara. Papa Bams sudah ada menunggu ku dari tadi.
"Papaaaa.... Anggit kangen banget sama papa, kabar papa baik baik aja kan" teriak ku sambil memeluk nya.
"Anggit, papa juga kangen sama kamu. Alhamdulillah kabar papa baik kok" balas nya kepada ku.
"Mama Dena mana pa?" tanya ku kepada papa Bams.
"Di rumah sayang, mama lagi siapin semua makanan kesukaan kamu di rumah makanya mama ga ikut jemput kamu di bandara" kata papa Bams.
"Ohhhh begitu ya pa,aku jadi ga sabar pulang ke rumah papa. Lagian Anggit udah laper banget ni pa hehehe" ucap ku kepada papa.
Akhirnya aku dan papa Bams segera pulang ke rumah untuk makan malam.
Sampai di rumah aku di sambut oleh mama Dena dan Boy. Yahhh Boy adalah sepupu ku, anaknya papa Bams dan mama Dena.
"Akhirnya sepupu gueee yang lagi galau ni udah sampai juga hahahah" lantunan kata Boy yang seketika membuat ku teringat dengan Hans.
"Boy, jangan gitu. Anggit baru aja sampai kamu udah cari masalah aja" ucap mama Dena kepada Boy.
"Gpp maa, Boy kan sering gitu sama Anggit. Duhhh maaa Anggit laper banget ni hehe" jawabku kepada mama.
__ADS_1
"Yaudah ayokk masuk, biar kita makan malam" ajakan papa Bams.
2 tahun juga rasanya, aku tak berkumpul bareng dengan keluarga papa Bams di Surabaya. Rasa kangen ku akhirnya terobati,. dan seiring berjalannya waktu sejenak aku melupakan kesedihan ku.
"Sepupu gueee yang tercantik dan kesayangan mama papa, besok pagi loo harus bangun cepat ya biar kita ga terlambat sekolah. Okeee Anggit" ucap Boy kepadaku.
"Iya Boy.... Awas aja luu besok ninggalin gue pulang sekolah. Maaa paaa bilangin ke Boy supaya ga macam macam disekolah" jawab ku kepada Boy sambil menatap sinis.
"Hahahaha.... besok ga bakalan gue tinggal lo Anggit. Lagian loo sepupu kesayangan gue, awas aja besok ada yang macam macam sama looo gue gebukin nanti" balas Boy kepada Anggit.
"Udah udah jangan ribut, Anggit sayang buruan di makan habis itu kamu istirahat besok mama sama papa bakalan anterin kamu sama Boy ke sekolah" Ucap mama Dena kepada ku.
Selesai makan malam aku segera siap siap ke kamar buat ngerapikan barang bawaan ku. Rasanya lelah banget. Sampai aku melupakan sejenak kejadian tadi pagi.
Kringgggggg...... kringgggggg... kringgggg....
Suara dering telpon ku yang ternyata itu dari Hans. Panggilan masuk yang melebihi dari 3 kali membuat ku seketika menjadi hancur. Tak sengaja aku langsung mengingat kejadian tadi pagi di taman. Aku tak sanggup melupakan Hans. Berulang kali Hans mencoba menghubungi ku bahkan 20 pesan masuk dari nya belum sempat ku baca.
"Ohhhh jadi luu yang namanya Hans, yang udah buat adik gue sampai harus pindah ke Surabaya" jawab Boy kepada Hans.
Aku terkejut melihat Boy tiba tiba sudah ada di belakang ku dan menjawab telpon dari Hans.
__ADS_1
"Kamu sepupu nya Anggit ya, aku boleh ngomong sama Anggit ga" balas Hans kepada Boy.
"Anggit udah tidur lagian dia ga mau di ganggu. Udah dulu ya ini udah malam" ucap Boy kepada Hans.
Boy langsung mematikan telpon nya. Dan mengambil hp ku.
"Ihhhhh Boyyyy !!!! ga sopan tau ngambil hp orang. Aku bilangi mama papa ya !!!! " teriak ku kepada Boy.
"Mending looo tidur, besok pagi baru gue kasih hp looo. Udah jangan di ingat lagi. Sekarang looo fokus sama masa depan loo dan lupain dia" ucap Boy kepada Anggit.
Karena rasanya aku malas berdebat dan akhirnya aku menuruti perkataan Boy. Aku merasa kesal tapi aku malas berdebat. "Huffftttt Boyyyy !!!!!!!" teriak ku ke cermin.
Tapi terkadang perkataan Boy ada benarnya juga. Aku harus terbiasa tanpa Hans. Aku harus fokus sama masa depan ku. Semakin aku berusaha melupakan Hans, semakin aku ga bisa hidup tanpanya. Hatiku semakin hancur. Aku tak bisa tidur dan aku melangkah ke jendela dan membayangkan kalau Hans ada didekat ku.
"Ga Gitttt !!!! loooo harus bisa ngelupain Hans."
Ohhh Tuhannnnn.....
perasaan apa ini, mengapa hatiku semakin tak karuan. Aku hampa tanpa Hans, pikirin ku tak jernih. Lelah dengan semua ini.
Udara yang dingin membuat ku ingin kembali ke kasur dan segera menghangati tubuh ini dengan selembar selimut tebal. Jam sudah menunjukkan pukul 22.00 WIB yang mana waktunya aku harus tidur karena pagi pagi aku harus sekolah. Dan bertemu orang baru.
__ADS_1
15 menit sudah aku di kasur tetap saja aku tak bisa tidur. Bolak balik menatap ke atap dan akhirnya aku bisa tertidur pulas.