berkultivasi dengan game

berkultivasi dengan game
11


__ADS_3

Go Han dan Go Su adalah dua pemuda yang pertama kali memasuki toko game online versi lama. Mereka telah bermain selama lima jam penuh, dan ketika layar komputer mereka tiba-tiba menghitam, berarti waktunya habis. Go Han melepaskan kekesalannya dengan mengumpat, merasa bahwa toko ini tidak adil.


Go Su juga merasa kesal, tetapi dia lebih terkontrol dalam reaksinya. Setelah menyelesaikan permainannya, dia dengan hati-hati melepaskan headset gaming-nya. Dia hampir mengeluarkan keluhan, tetapi kemudian melihat bahwa Go Han tercengang. Go Su bertanya dengan heran, "Kenapa, Tuan Go?" Namun, Go Han tidak bisa menjawab.


Kedua pemuda itu bingung dan heran dengan situasi ini. Go Su akhirnya mencoba mengintip layar komputer mereka dan menyadari bahwa orang-orang lain di dalam toko juga tenggelam dalam permainan mereka sendiri.


"Ah, tuan muda, mengapa mereka semua ada di sini?" tanya Go Su, mengungkapkan kebingungannya yang sama dengan yang dirasakan Go Han.


Mereka ingin pergi tanpa menciptakan masalah, tetapi tiba-tiba dua orang lain bergegas untuk duduk di kursi yang baru kosong.


Slap.


"Akhirnya, dapat kursi juga, pemilik ,aku empat jam, oke"


"Aku juga,ahh sampai di mana aku tadi ya "kata mereka dengan bersemangat


Sepertinya mereka sudah menanti giliran mereka untuk bermain.


Tangan tangan yang awalnya bergerak kaku , segera berselancar lincah dengan helm headset gaming VR.


Ini yang membuat Go Han terkejut.


Go Han dalam hatinya tiba tiba bertanya-tanya apakah dia akan mengalami bully seperti biasanya hari ini. Namun, untuk kejutannya, tidak ada yang mengganggu atau mencibirnya.


Ini terasa sangat aneh.


Go Su juga merasa penasaran dan mencoba memahami situasi ini. Dia melihat bahwa semua orang sepertinya terfokus pada dunia game mereka, sama seperti yang mereka lakukan. Ternyata, mereka semua datang ke toko ini untuk bermain, bukan untuk membully.


Go Han dan Go Su, setelah berbisik-bisik sebentar, merasa perlu untuk mencari tahu bagaimana orang-orang di sekitar mereka bisa bermain begitu hebat. Go Han, dengan perasaan campuran antara kagum dan kebencian, berkata, "Kalau mereka ingin bermain, biarkan saja. Tapi masalahnya, dari mana mereka tahu bahwa kita ada di sini?"


Go Su merespons, "Saya berpikir sama seperti Anda, tetapi mari kita mencari tahu bagaimana mereka melakukannya." Mereka berdua merasa terdorong oleh rasa penasaran.


Namun, semakin lama mereka mengamati, perasaan kagum dan kebencian semakin memuncak. Go Han terkesan dengan kemampuan pemain amatir ini yang tampaknya sudah sangat terampil dalam dunia game. Tetapi dia juga merasa frustrasi dan kecewa, karena pencapaian yang selama seminggu dia usahakan dalam permainan, mereka lakukan hanya dalam hitungan jam.


Go Han berbicara dalam hati, "Saya bahkan berjuang selama tiga hari penuh untuk membunuh harimau emas, dan mereka berhasil melakukannya dalam waktu singkat. Bagaimana mereka bisa melakukan itu?"


Go Su, yang sebenarnya sudah melewati level itu dalam lima jam saja, memutuskan untuk tetap diam agar tidak menimbulkan kecurigaan. Dia hanya menutup mulutnya, merasa perlu untuk menyembunyikan prestasinya. Go Su ingin menjaga hubungan baik dengan Go Han.


Go Han, tanpa mengetahui prestasi rahasia Go Su, terus merenung, merasa bahwa dunia ini tidak adil baginya. Dia bertanya-tanya apakah ini adalah perbedaan antara mereka yang berbakat dan mereka yang tidak berbakat dalam dunia game.


Go Han terus mengomel, tetapi dia mulai memperhatikan dengan seksama cara orang-orang di sekitarnya bermain dan menaklukkan musuh-musuh dalam dunia game tersebut. Saat dia memperhatikan lebih dalam, dia menyadari bahwa setiap orang memiliki gaya permainan dan strategi mereka sendiri dalam menghadapi tantangan.


Dia berbisik kepada Go Su, "Meskipun ini hanya permainan, orang berbakat memang berbeda dari saya yang tidak berbakat. Lihat saja, mereka bermain dengan strategi."


Go Su mungkin tidak sepenuhnya memahami maksud inti pembicaraan tersebut, tetapi dia dengan semangat menjawab, "Benar, Tuan Muda. Game ini tentang strategi dan kerjasama. Jangan hanya mengandalkan kekuatan fisik, tapi gunakan juga otakmu."


Go Han tercengang oleh jawaban itu, memutuskan untuk mengalihkan perhatiannya pada Go Su. Dia kemudian bertanya, "Bagaimana levelmu tadi?"


Go Su merasa agak malu dan wajahnya memerah. Namun, setelah didesak berkali-kali, dia akhirnya menjawab, "Aku hampir mencapai kota B."


Jawaban ini membuat Go Su merasa seperti tersambar petir. Go Han awalnya menganggap kelima orang itu sebagai jenius di kelasnya, yang bisa dianggap wajar jika mereka bermain game seperti profesional.


Namun, pertanyaannya sekarang adalah, bagaimana Go Su bisa mengejar ketertinggalannya, terutama karena Go Han memiliki beberapa fasilitas dan keunggulan sebagai putra pertama dari keluarga inti.


"Go Su,kau..kau bohong kan?"tanya nya dengan wajah kesal.


Go Su merasa bersalah dengan penampakan Tuan mudanya seperti. tapi seharusnya dia lebih menahan diri dan menjaga jarak mereka agar tidak terlalu jauh.

__ADS_1


Minimal dia harus bergerak lebih lemban dari tuan mudanya.


Namun seseorang masih harus belajar jika sebenarnya dunia itu memang kejam.Go Han Meskipun tidak begitu menjanjikan namun dia adalah Tuhan muda dan menjadi temannya sejak dulu.


Karena itu Go Su berkata dengan jujur,"aku mengalahkan harimau emas pada 10 menit pertama dan Aku tidak bohong jika aku sudah tiba di kota tadi"


jawaban itu sepertinya menambah ketidaknyamanan dalam hati Go Han


Perasaan frustrasi dan rasa inferioritas mulai merayap ke dalam pikiran Go Han.


"Kenapa bisa padahal aku yang bermain pertama kali di sini? tapi sekarang aku tertinggal dari semua orang? bagaimana mungkin?" kata Go Han lagi dengan suara pelan.


 Dia merasa tertinggal dan terombang-ambing antara rasa ingin membuktikan diri dan perasaan ketidakpastian tentang apakah dia bisa menyusul mereka dalam permainan ini.


Go Han yang tidak terima dengan kekalahan segera mendekati meja kasir, di mana Weiwei tengah asyik bermain dalam gamenya. Dia menatap Weiwei dengan pandangan tajam dan menghina, kemudian bertanya, "Apakah kamu juga bermain game?"


Weiwei menjawab sambil tetap fokus pada permainannya, "Ya, aku juga bermain."


Go Han melanjutkan dengan pandangan menghina dan berkata, "Di level mana kamu berada? Apakah kau sudah mencapai kota B?"


Weiwei segera menghentikan permainannya sebentar dan membiarkan Go Han melihat sendiri progressnya. Go Han, yang sebelumnya terus mencibir dan merendahkan, tiba-tiba terdiam.


Ternyata, gadis tanpa akar spiritual ini bermain di kota pusat, yang artinya dia telah mencapai tingkat tertinggi dalam permainan tersebut. Pemandangan ini membuat Go Han hampir pingsan. Dia merasa sangat terhina karena dikalahkan oleh semua orang.


Go Han ingin bertanya lebih banyak tentang simbol-simbol yang ada di dalam permainan sebelum Go Su menyela. Dia berkata, "Pemilik toko, apa arti dari simbol-simbol di atas ini?"


Weiwei yang awalnya juga pernah bingung dengan simbol-simbol di atas layar, menjawab dengan penuh pengetahuan. Dengan penuh kesabaran, dia mulai menjelaskan beberapa simbol yang terdapat di layar dengan ikon-ikon yang terlihat asing namun memiliki peran penting dalam permainan online ini.


Dia menunjuk pada simbol pertama yang terlihat seperti tombol khusus dengan gambar pedang. "Simbol ini adalah 'Pemusnah Musuh'," kata Weiwei. "Ketika Anda menggunakannya dalam pertempuran, serangan Anda akan meningkat secara signifikan, dan Anda dapat mengalahkan musuh dengan lebih cepat."


Lalu, Weiwei mengarahkan perhatian mereka ke simbol kedua, yang tampak seperti perisai dengan lapisan energi di sekelilingnya. "Ini adalah 'Perisai Energi'," lanjutnya. "Dengan mengaktifkan simbol ini, Anda mendapatkan perlindungan tambahan dari serangan musuh. Sangat penting untuk bertahan hidup dalam situasi berbahaya."


Terakhir, Weiwei menunjuk pada simbol keempat yang terlihat seperti kitab terbuka dengan simbol bahasa. "Ini adalah 'Pengetahuan Tersembunyi'," katanya. "Dengan mengaktifkan simbol ini, Anda akan mendapatkan akses ke informasi rahasia dan tips strategis dalam permainan. Ini bisa menjadi kunci untuk mengatasi tantangan yang sulit."


Dalam permainan, terdapat poin sebagai mata uang, bilah nyawa sebagai indikator kesehatan karakter, dan simbol hadiah untuk bonus. Pemain harus bijak dalam mengelola poin, menjaga bilah nyawa, dan mencari simbol hadiah untuk berhasil dalam permainan. Semua elemen ini penting dalam strategi permainan.


Go Han dan Go Su mendengarkan dengan seksama, mencoba memahami pentingnya simbol-simbol ini dalam permainan.


Go Han akhirnya memutuskan untuk meminta Weiwei untuk memperlihatkan cara bermainnya. Weiwei, yang tidak memiliki rahasia tersembunyi, dengan ramah setuju. Dengan senyum, dia mulai bermain lagi, kali ini menggunakan karakter bernama Nara, seorang penyihir, dan menampilkan kecepatan, jimat, dan sihir dalam permainannya.


Go Han dan Go Su dengan penuh perhatian memperhatikan setiap gerakan dan keputusan yang diambil oleh Weiwei dalam permainan. Mereka berbicara dengan antusiasme, mencoba memahami alasan di balik setiap langkahnya.


Go Han bertanya, "Weiwei, mengapa kamu memilih karakter Nara dalam permainan ini? Apakah ada kelebihan khusus yang dimilikinya sebagai penyihir?"


Weiwei menjawab sambil terus bermain, "Tentu, karakter Nara memiliki sihir yang kuat, yang memungkinkan saya untuk melawan musuh dari jarak jauh dengan kekuatan yang luar biasa."


Go Su menambahkan, "Bagaimana dengan penggunaan jimat dan sihir dalam pertempuran? Apakah ada strategi khusus di baliknya?"


Weiwei menjelaskan, "Saya menggunakan jimat untuk meningkatkan daya serangan Nara dan mengaktifkan sihir penyembuhan untuk menjaga kesehatannya. Ini memungkinkan saya untuk bertahan lebih lama dalam pertempuran."


Saat mereka terus memperhatikan, Go Han mulai menyadari bahwa permainan ini tidak hanya soal kecepatan tangan, tetapi juga tentang pemilihan karakter, senjata, jimat, dan strategi sihir yang cerdas.


Go Su menanyakan, "Apakah ada trik khusus yang kamu gunakan ketika menghadapi bos dalam permainan ini?"


Weiwei tertawa, "Tentu saja, ada trik untuk itu. Saya biasanya mengumpulkan simbol hadiah yang memperkuat sihir saya sebelum menghadapi bos, sehingga saya bisa mengalahkannya dengan cepat."


Nara, sang penyihir dalam permainan, berdiri di tengah padang yang luas dengan dua raksasa yang menghadapinya. Kedua raksasa itu berdiri tinggi, menggertakkan tubuh mereka yang besar. Namun, Nara tidak sendirian. Di sekitarnya, 200 monyet bergerak lincah, melompat-lompat di antara rerumputan dan pepohonan.

__ADS_1


"Wow pemilik sebenarnya kau memiliki begitu banyak bawahan, hebat"kata Go Han yang bersemangat.


Tapi dia segera lesu lagi ketika Weiwei berkata,"mereka bukan bawahanku tapi mereka terpaksa menurut karena di bawah mantra sihir. mantra ini hanya berlaku sekitar 10 menit dan aku harus bisa membunuh musuh sebelum 10 menit itu habis"


"tuan muda bukankah artinya jika kita sampai ke level ini kita harus bertarung dengan 200 ekor monyet sekaligus.Ah bagaimana mungkin karakter Kiel yang berpegangan pedang mampu mengalahkan mereka Jadi pada dasarnya, karakter penyihir sangat cocok untuk level ini"kata Go Su yang langsung membuat strategi di dalam benaknya.


Go Han mengganggu kepala dan berpikir akan lebih sulit untuk menang setiap kali mereka melewati kota selanjutnya.


Tapi dia segera fokus lagi dalam layar yang saat ini dikendalikan oleh Weiwei.


Weiwei dalam karakter Nara, mengangkat tongkat sihirnya ke udara, mengumpulkan energi magis dalam dirinya. Dengan suara yang penuh keyakinan, dia mulai mengucapkan mantra-mantra kuno. "Ventus Ignis!" serunya sambil melemparkan mantra pertama.


Shooos...


Duar...duar...


 Sebuah tembakan api besar muncul dan menghantam salah satu raksasa, membuatnya mengeluarkan raungan marah.


Ahkkkk.. akhhhh...


Raksasa yang terserang, dengan brutal mencoba menjangkau Nara, tetapi monyet-monyet yang cerdik bergerak cepat. Mereka melompat-lompat di sekeliling dua raksasa tersebut dengan niat untuk mengganggu perhatian dan menyebabkan raksasa ini bingung.


Segera jeritan jeritan yang menusuk tulang bergema tanpa henti di Layar komputer.


Akhhhh....Akhhhh


Nara melanjutkan dengan mantra kedua, "Gelida Glacius!" Suara itu bergemuruh di udara saat dia melemparkan serangan sihir es yang membekukan kaki raksasa yang kedua, membuatnya terjatuh dengan gemetar.


Sementara itu, Nara berseru kepada monyet-monyetnya, "Lindungi diri kami!" Monyet-monyet itu merespons dengan lincah, terus mengganggu raksasa yang terjatuh dan menyerang dengan tanduk dan cakar mereka.


Raksasa yang terjatuh mencoba bangkit, tetapi Nara tidak memberinya kesempatan. Dia mengucapkan mantra ketiga, "Aeris Tempestas!" dan mengirimkan serangan sihir penuh kekuatan yang membuat dua raksasa itu roboh, mengakhiri pertempuran dengan kemenangan.


Segera setelah kemenangan atas dua raksasa, tiga karakter lain bergabung dalam pertarungan. Salah satunya adalah Kiel, yang dengan tegas memerintahkan, "Bunuh semua monyet ini sebelum mantra sihir dari Nara berakhir!"


Para monyet yang berjumlah 200 ekor ini sudah kehilangan bos mereka, yaitu dua raksasa tadi. Mereka panik dan berlari kesana kemari mencari tempat bersembunyi, tetapi tim ini, termasuk karakter Nara sang penyihir yang saat ini digerakkan oleh Weiwei dengan headset virtual reality-nya, tidak memberikan ampun.


Kiel, karakter penguasa dalam pertarungan ini, berbicara dengan nada tegas, "Jangan biarkan satu pun dari mereka lolos! Mereka adalah musuh, dan kita tidak boleh membiarkan mereka pergi !"


Ketika satu monyet berhasil dibunuh, itu berubah menjadi sebuah energi perak di layar. Dalam 10 monyet, mereka akan berubah menjadi energi emas. Seratus monyet setara dengan energi berlian. Jelas, membunuh monyet-monyet dalam game ini adalah seperti menemukan harta karun.


Ketika mantra dari Nara habis, tiba-tiba saja monyet yang tersisa menjadi marah besar dan mereka bergabung menjadi seekor monyet raksasa.


 Kiel, Nara, dan dua karakter lainnya segera bergabung dan menyerang monyet raksasa itu mati-matian. Mereka juga harus berhati-hati menghindari gerakan kaki raksasa yang dapat meremukkan mereka.


Di tengah kekacauan, Nara, yang digerakkan oleh Weiwei, mengucapkan mantra sihir lainnya dengan wajah serius, menciptakan lapisan perisai magis untuk melindungi tim dari serangan musuh.


Pada satu kesempatan, Kiel melaporkan, "Aku berhasil menghujamkan pedangku ke kaki monyet ini,ayo bunuh dia cepat!" Dengan gesekan pedang yang tajam, dia memotong kaki monyet, dan monyet raksasa itu jatuh ke tanah dengan bunyi gedebuk yang keras.


Melihat peluang ini, semua karakter buru-buru mengepung monyet raksasa tersebut dan bersama-sama mereka membunuhnya di tempat.


Segera percikkan dan ruangan suara monyet memekakkan telinga,tapi suara itu semakin lama semakin menghilang menunjuk kan jika dia sudah tidak lagi hidup


Matinya monyet raksasa memicu pelepasan semua kotak harta karun yang terkunci menjadi terbuka dan bebas.


Harta karun ini berubah menjadi kristal energi yang tersimpan di bilah-bilah dalam layar, dan dengan cepat, layar menampilkan kata "game over."


 Go Han dan Go Su tercengang di sepanjang permainan, ketika game sudah berakhir, perkataan pertama mereka adalah , apakah cuman segitu?"

__ADS_1


Menghadapi wajah wajah yang tidak puas ini, Weiwei yang baru saja menang , hanya bisa meminta maaf karena ini memang sudah game over.


Ini sudah tamat,bro.


__ADS_2