Betrayal Sword

Betrayal Sword
RESET DESTINY


__ADS_3

Reset Destiny


Tahun 1864, dendam pribadi menyebabkan pemberontakan


besar-besaran di istana yang menewaskan banyak prajurit termasuk dua rakyat


biasa, dan itu semua disebabkan oleh samurai muda yang terkenal kala itu.


***


Suara berat pedang beradu satu sama lain, menghasilkan suara nyaring menandakan pertarungan sengit berlangsung.


Pertarungan seimbang karena salah satu samurai yang berada di bawah masih menahan pedangnya agar tidak goyah, berbeda dengan lawan samurai tersebut yang berusaha menghancurkan pertahanan orang yang berada di depannya.


Sekali lagi bunyi derit pedang tertahan, benturan dari pedang yang berada diatasnya berusaha keras memotong bilah besi di bawahnya.


Samurai yang lain terdesak, semakin terdorong ke bawah kemudian


lawannya mengayunkan pedang seakan ingin menghunus ke samurai kemudian ia


berusaha menangkisnya dengan cepat.


“Ini tidak akan mudah bagimu, jangan hanya menangkis, serang aku


Yoshi!” ejek samurai lainnya yang merupakan lawannya, melakukan serangan yang

__ADS_1


sama membuat samurai yang bernama Yoshi yang mulai terdesak.


Yoshi hanya tersenyum tipis sambil menahan pedang terus menekan ke arah bahunya.


“Aku tidak akan menyerangmu. Bertarung seperti ini tidak akan menyelesaikan


masalah.”


“Hah, apa? Berani kau bilang seperti itu. Kau tau kau salah karena kau bukannya menjaga Meira, malah membuatnya terjebak dalam situasi ini. Jika kau menyukainya kenapa membiarkan hal seperti ini terjadi??”


“Seharusnya, masalah ini dibicarakan dulu, bukan? Aku tidak tau jika dia yang disandera dan lagipula aku tidak mengerti apa yang kau maksud?


Menyukainya?”


mereka.


“Cih, omong kosong.” Pedang itu lagi-lagi diayunkan dan siap dihunuskan tepat ke arah jantung Yoshi. Yoshiaki yang berada dalam keadaan terdesak masih memasang senyumnya.


Meira yang diikat di sebuah tiang kayu, meronta dengan tangan yang diikat ketika menyaksikan Yoshiaki akan terbunuh.


“Jangan... kumohon, Jinei. Biarkan Yoshiaki. Ini semua salahku karena jatuh ke perangkap musuh. Yoshiaki tidak bersalah,” lirih Meira terisak,air mata mulai menetes dari matanya.


Jinei tidak mempedulikan itu, emosi telah memakan jiwanya mengingat Meira yang lebih memilih Yoshiaki dibandingkan dirinya yang selalu bersama sejak kecil.


Jinei sedikit memundurkan langkahnya, mempersiapkan pedang yang akan dihunuskan.

__ADS_1


“Setidaknya, jika ini adalah pilihanmu tidak apa,” ucap Yoshiaki


tetap memasang senyum lalu membuang pedangnya ke tanah.


Jinei diam sejenak berusaha mencerna perkataan barusan, sakit hati telah menguasainya duluan. Tidak ada keraguan, Jinei berlari lalu bersiap menghunuskan pedangnya.


Semua berlalu dengan cepat lalu darah segar menciprati di wajah Jinei seketika itu juga.


Pemilik darah itu terjatuh tergeletak di depan Yoshiaki, yang tak lain adalah Meira yang menjadi perisai Yoshiaki. Jinei melihat itu terdiam kemudian menghampiri Meira sudah tidak bernyawa karena ulahnya.


“Kau!! Tidak akan kumaafkan.”


Jinei berlari ke arah Yoshiaki, mengambil pedang berlumuran darah. Menghunuskan bilah tajam itu namun kejadian tidak terduga terjadi sebelum Yoshiaki menangkisnya, Jinei menusukkan diri dengan pedang Yoshiaki.


Yoshiaki terjatuh di tanah, menatap sobat karib yang pergi begitupula dengan Meira. Perlahan ia cabut pedang tersebut dari Jinei kemudian menutup matanya.


Yoshiaki merasa menyesal tidak menghentikan sahabatnya, tidak terpikir apapun lagi, ia bersiap menikam jantungnya dengan pedangnya namun terhentikan.


“Tidak ada gunanya kau lakukan itu, hanya akan membuang nyawamu sia-sia,” ujar perempuan yang tiba-tiba muncul. Perempuan aneh memakai yukataserba gelap lalu rambutnya digerai panjang dengan iris mata biru terang seperti bulan disertai anting berbentuk bulan kupu-kupu berwarna hitam menggantung di


telinganya.


“Siapa?" tanya Yoshiaki datar.


“Aku sudah memperhatikanmu dari tadi samurai, aku akan memberikan kesempatan. Bagaimana?”

__ADS_1


__ADS_2