
“Kak!Bangun, kau tidak apa-apa?” ucap perempuan itu menggoyangkan badan Yoshi dikira
pingsan.
“Kelihatannya,
dia shock karena tadi deh.”
“Lihat,
dia jadi pingsan karena kamu sih”
Anak
perempuan yang berada di depannya terlihat seperti cemas, menatap Yoshi yang
tak kunjung bangun.
Sayup-sayup
suara dua perempuan di depan memasuki indera pendengaran Yoshi yang sedikit
demi sedikit mulai terbangun dari tidurnya.
Bulu
matanya mulai bergetar, mata yang berkedip menampakkan obsidian miliknya
terbuka sempurna setelah menyesuaikan cahaya yang masuk.
Kepalaku
pusing? Ah ya, daripada itu aku harus mencari Kurazono. Sial aku lupa sudah
melewatkannya.
“Sana
minta maaf dulu pada kakak itu,” suruh Suzumi menyikut lengan Saragi.
“Ya
deh,” ujar Saragi menatap Yoshi kemudian membungkukkan badan. “Aku minta maaf
karena aku, kakak syok dan terbentur setelah menangkap Suzumi yang terjatuh.”
Yoshi
yang bingung permintaan maaf Saragi akhirnya tersadar apa yang terjadi setelah
ia menemui Ageha. Waktunya kembali namun bergeser tapi tempat pendaratannya
tetap sama sesuai dengan yang dikatakan Kikai sebelum ia menghilang.
Saragi
mengibaskan tangan di depan wajah Yoshi menyadarkan sempat terbengong.
“Ah,
tidak apa-apa. Lainkali jangan berbuat jahil seperti itu Nona.” Yoshi berpikir
sebentar sebelum bertanya,” Sebagai ganti permintaan maaf kalian, aku ingin
bertanya sesuatu.”
Suzumi
bingung menoleh ke arah Saragi yang mengangguk bersedia menjawab pertanyaan
Yoshi. “Tidak apa-apa silahkan kak,” balas Saragi.
“Apa
kalian mengenal Emi Kurazono? Perempuan yang tadi?”
Saragi
tersenyum kemudian menjawab, “Tentu kak, aku satu klub dengannya. Emi adalah
ketua klub panah sejak kelas satu, itu yang aku tau Kak,” jelas Saragi.
Hanya
orang kerajaan setauku yang bisa melakukan panahan, jadi di masa sekarang
panahan dijadikan sebagai olahraga. Aku jadi teringat masa dulu, dimana aku
pertama kali bertemu dengan Meira yang membenci panah sebelum akhirnya aku
memperkenalkan pedang kepadanyakebalikan dengan dia
“Ah,
begitu ya, ada informasi lainnya?” Tanya Yoshi menatap kedua perempuan itu.
Suzumi
yang sedari tadi diam hening, ikut membuka pembicaraan.
“Biasanya
kak Emi akan selalu berada disana untuk latihan setelah pulang sekolah,
tempatnya di Shibuya, pemberhentian sebelumnya yang terlewat.”
“Begitukah,
terimakasih infonya nona-nona, sampai jumpa.”
Yoshi
beranjak berdiri dari kursi, melewati kedua perempuan, baru beberapa langkah
meninggalkan kereta namun Suzumi teringat sesuatu dan berkata, “Bukannya kalau
latihan panah ada Nabura kembar, adiknya si ace klub panah kan?”
“Benar
juga, Nabura selalu ada disana karena dekat dengan Emi walaupun beda tingkatan,”
sahut Saragi menyambung topik Suzumi.
Yoshi
menundukkan kepala terhening sejenak, sesaat ia merasa kesal mendengar Kurazono
__ADS_1
dekat dengan adik kelas. Tunggu? Kenapa aku kesal mendengar nama Nabura?
Aish, ada apa denganku ya dari tadi.
Yoshi
mengacak rambutnya seperti orang frustasi, mendongakkan kepala ia tersenyum
tipis menatap mereka berdua. “Baiklah, itu cukup, terimakasih banyak.”
Langkah
Yoshi yang tadi sempat terhenti akhirnya lanjut berjalan keluar dari pintu
kereta dan turun di jalur peron. Setelah itu, mereka berdua juga turun sambil
mengobrol, saat itu Yoshi yang sudah keluar terjepit kerumunan orang-orang yang
berlalu lalang namun ia bisa meloloskan dari keramaian.
Ia
baru pertama kali berada di stasiun kereta yang besar dan luas, berjalan lurus
untuk menemukan jalan keluar dan benar pintu gerbang merupakan jalur
keluar-masuk stasiun.
Yoshi
yang berada di Osaka masa depan benar-benar tidak tau apa-apa, hanya bisa
terkagum dengan suasana, berbagai toko berjejer dengan padat seperti toko
makanan, baju, aksesori, dan lain-lain, beralih menatap pusat perbelanjaan di
daerah Hankyu, berjalan kaki memasuki toko tersebut Yoshi meneguk ludah karena
tanpa disadari ia mulai lapar karena kebetulan di lantai satu tempatnya berada
adalah foodcourt, dari tasnya ia mengeluarkan sejumlah uang.
Uang?
Tentu saja diberikan oleh Ageha-sama sejumlah uang sebelum ia kembali lagi
kesini, dunia masa depan.
Meneruskan
perjalanan berkeliling sekitar foodcourt mencari makanan,
akhirnya ia melihat sebuah restoran Ichiran menjual Ramen, memasuki tempat
tersebut ia memilih tempat duduk yang dekat dengan pintu keluar.
Yoshi
memesan makanan yaitu takoyaki salah satu makanan yang memang terkenal di
Osaka dari dulu hingga sekarang karena ia dulu pernah ke daerah sini pada
jamannya. Lagipula melihat banyak orang memesan sampai mengantri lumayan
panjang berarti ini sangat enak.
menunggu di barisan sekitar dua menit, seorang anak sudah selesai makan berlari
kecil melewati antrian Yoshi, tidak disadari ia terjatuh di depannya karena
lantai agak licin sehabis mengepel.
“Huwaa.”
Tangis
anak kecil itu meledak seketika Yoshi, kebingungan akhirnya ia mengangkat anak
itu ke dalam pelukannya. Ketika berada dalam pelukan, anak kecil itu mulai
berhenti nangis.
Lho,
dia berhenti menangis? Aku teringat dulu Naho sampai menangis karena aku
terluka digigit serigala tapi dia itu siapa? Kenapa aku gak bisa mengingat
namanya?
“Makasih
sudah menolongku,” ucap anak kecil itu kemudianYoshi tersenyum simpul. “Sama-sama,
hati-hati ya.”
Anak
itu mengangguk kecil, mengusap bekas air matanya dan pergi meninggalkan Yoshi
maju ke depan setelah tiba gilirannya. Ia memesan satu piring takoyaki dan
sebuah teh hijau untuk teman makannya karena ia bisa istirahat sebelum
menemukan Kurazono dan mencari tahu maut yang akan menimpanya dalam waktu
dekat.
Entah
kenapa disini ramai sekali? Apa mungkin akan ada acara?
Tatapan Yoshi menelusuri seluruh bagian restoran hingga
menemukan kertas bergambar yang tertempel tidak jauh dari tempatnya jauh.
Gambar tersebut adalah kembang apai yang akan dilaksanakan kurang dari seminggu
lagi.
Ah,
ternyata pelaksaan kembang api. Aku sampai lupa disini sudah saatnya pergantian
tahun dari tahun 2016 menuju tahun 2017, mungkin seratus empat puluh tahun lebih
terlewat. Pasti menyenangkan bisa
__ADS_1
melihat sebentar suasana disini setelah itu, padahal aku berharap seandainya
aku bisa mewujudkan keinginan Meira melihat kembang api bersama Jinei dan aku sebelum
kejadian itu, aku
merasa bersalah.
Yoshi
menarik napas, memikirkan semua kejadian tragis yang merenggut temannya dan
orang yang disayangi memang menyakitkan rasanya seperti hatinya tercabik-cabik
kemudian menghembuskan kasar dan menghabiskan ramennya. Beranjak dari kursi ia
berdiri dan menatap sekilas poster di sudut ruangan, untuk beberapa saat hingga
ia benar-benar pergi setelah membayar semua.
****
Emi
segera membeli tiket menuju Shinjuku karena sore biasanya jam pulang kerja
sehingga stasiun kereta Shibuya mudah ramai, apalagi jika banyak orang baru
pulang dari jalan-jalan dari tempat wisata.
Ia
berlari kecil setelah membeli tiket di mesin dan membayar dengan kartu subway
miliknya, berjalan ke arah gerbong tengah lalu ia tiba di peron jalur kuning
dan berhenti sambil menunggu kereta datang dalam waktu satu menit lagi sesuai
jadwal.
Menunggu
sebentar, akhirnya kereta pun datang di jalurnya dan Emi menunggu pintu
terbuka, memastikan penumpang keluar sebelum ia mengikuti antrian dan berjalan
bagian dalam supaya daerah masuk tidak terhalangi.
Setelah
semua penumpang masuk, pintu gerbong tertutup dan kereta mulai berjalan. Emi
yang sempat berdesakan mendapatkan tempat duduk dan menyematkan headsett di
telinganya sembari melanjutkan buku sejarah yang baru saja ia pinjam yang ia
pinjam ulang setelah masa pinjam habis hari ini sehingga harus diperbarui.
Menyibukkan
diri dengan membaca sambil menunggu kereta sampai di tujuan, ia menatap ke
langit-langit. Memikirkan pemilik cafe tadi sempat ia melamar, matanya berwarna
ungu terlihat sendu seakan ada sesuatu yang dipendam dan tidak ingin ada
seseorang yang tau.
“Aku
lebih ingin punya seorang kakak laki-laki yang baik dan perhatian seperti Kak Mitsunari,"
gumam Emi tanpa sadar. Mengingat percakapan tadi dengan Mitsunari walau
terkesan menyebalkan dan kaku tapi suaranya yang lembut terasa menyenangkan
seperti mengobrol dengan kakak laki-laki.
Benar,
Emi adalah anak tunggal. Ibu nya tinggal di daerah Osaka bersama sang ayah yang
sedang sakit keras beberapa waktu belakangan sehingga mau tidak mau ia harus
hidup mandiri. Tidak ada saudara tidak menghalangi ingin bersikap ceria, ia
malah lebih aktif di kegiatan klub hanya saja ia berhati-hati setelah kejadian
menyakitkan menimpa diri.
Tetapi
Emi bisa menepis semua rasa kesendirian dan membuat dunia sendiri yang aman berharap
suatu saat ada seseorang yang benar-benar akan mengubah. Tidak disadari olehnya
kereta telah tiba dan membuyarkan lamunannya.
"MOHON
PERHATIAN KERETA TELAH TIBA DI STASIUN SHINJUKU. HARAP PERHATIKAN BARANG BAWAAN
ANDA. TERIMAKASIH.
Suara
pengerasa suara yang telah selesai mengumumkan kedatangan kereta ke Shinjuku
membuat Emi harus beranjak berdiri dari kursi dan mengecek tas miliknya agar
tidak tertinggal.
Ia
segera turun di peron lalu mencari pintu jalan keluar dari stasiun menuju jalan
ke rumah ditempuh dengan jalan kaki dan membutuhkan sekitar sepuluh menit agar
sampai. Jalanan yang ramai membuat Emi mengeluarkan uap dari mulutnya karena
udara yang sedikit dingin lalu ia mengusapkan kedua tangannya agar hangat.
“Hah,
aku bosannya nanti jika pulang ke rumah. Aku berharap ada yang bisa ajak
ngobrol hari ini, setidaknya ada yang menemaniku,” gumam Emi dengan suara kecil,
__ADS_1
karena sepi ia berharap tidak ada yang mendengarnya.