Betrayal Sword

Betrayal Sword
BACK AFTER RESET


__ADS_3

“Kak!Bangun, kau tidak apa-apa?” ucap perempuan itu menggoyangkan badan Yoshi dikira


pingsan.


“Kelihatannya,


dia shock karena tadi deh.”


“Lihat,


dia jadi pingsan karena kamu sih”


Anak


perempuan yang berada di depannya terlihat seperti cemas, menatap Yoshi yang


tak kunjung bangun.


Sayup-sayup


suara dua perempuan di depan memasuki indera pendengaran Yoshi yang sedikit


demi sedikit mulai terbangun dari tidurnya.


Bulu


matanya mulai bergetar, mata yang berkedip menampakkan obsidian miliknya


terbuka sempurna setelah menyesuaikan cahaya yang masuk.


Kepalaku


pusing? Ah ya, daripada itu aku harus mencari Kurazono. Sial aku lupa sudah


melewatkannya.


“Sana


minta maaf dulu pada kakak itu,” suruh Suzumi menyikut lengan Saragi.


“Ya


deh,” ujar Saragi menatap Yoshi kemudian membungkukkan badan. “Aku minta maaf


karena aku, kakak syok dan terbentur setelah menangkap Suzumi yang terjatuh.”


Yoshi


yang bingung permintaan maaf Saragi akhirnya tersadar apa yang terjadi setelah


ia menemui Ageha. Waktunya kembali namun bergeser tapi tempat pendaratannya


tetap sama sesuai dengan yang dikatakan Kikai sebelum ia menghilang.


Saragi


mengibaskan tangan di depan wajah Yoshi menyadarkan sempat terbengong.


“Ah,


tidak apa-apa. Lainkali jangan berbuat jahil seperti itu Nona.” Yoshi berpikir


sebentar sebelum bertanya,” Sebagai ganti permintaan maaf kalian, aku ingin


bertanya sesuatu.”


Suzumi


bingung menoleh ke arah Saragi yang mengangguk bersedia menjawab pertanyaan


Yoshi. “Tidak apa-apa silahkan kak,” balas Saragi.


“Apa


kalian mengenal Emi Kurazono? Perempuan yang tadi?”


Saragi


tersenyum kemudian menjawab, “Tentu kak, aku satu klub dengannya. Emi adalah


ketua klub panah sejak kelas satu, itu yang aku tau Kak,” jelas Saragi.


Hanya


orang kerajaan setauku yang bisa melakukan panahan, jadi di masa sekarang


panahan dijadikan sebagai olahraga. Aku jadi teringat masa dulu, dimana aku


pertama kali bertemu dengan Meira yang membenci panah sebelum akhirnya aku


memperkenalkan pedang kepadanyakebalikan dengan dia


“Ah,


begitu ya, ada informasi lainnya?” Tanya Yoshi menatap kedua perempuan itu.


Suzumi


yang sedari tadi diam hening, ikut membuka pembicaraan.


“Biasanya


kak Emi akan selalu berada disana untuk latihan setelah pulang sekolah,


tempatnya di Shibuya, pemberhentian sebelumnya yang terlewat.”


“Begitukah,


terimakasih infonya nona-nona, sampai jumpa.”


Yoshi


beranjak berdiri dari kursi, melewati kedua perempuan, baru beberapa langkah


meninggalkan kereta namun Suzumi teringat sesuatu dan berkata, “Bukannya kalau


latihan panah ada Nabura kembar, adiknya si ace klub panah kan?”


“Benar


juga, Nabura selalu ada disana karena dekat dengan Emi walaupun beda tingkatan,”


sahut Saragi menyambung topik Suzumi.


Yoshi


menundukkan kepala terhening sejenak, sesaat ia merasa kesal mendengar Kurazono

__ADS_1


dekat dengan adik kelas. Tunggu? Kenapa aku kesal mendengar nama Nabura?


Aish, ada apa denganku ya dari tadi.


Yoshi


mengacak rambutnya seperti orang frustasi, mendongakkan kepala ia tersenyum


tipis menatap mereka berdua. “Baiklah, itu cukup, terimakasih banyak.”


Langkah


Yoshi yang tadi sempat terhenti akhirnya lanjut berjalan keluar dari pintu


kereta dan turun di jalur peron. Setelah itu, mereka berdua juga turun sambil


mengobrol, saat itu Yoshi yang sudah keluar terjepit kerumunan orang-orang yang


berlalu lalang namun ia bisa meloloskan dari keramaian.


Ia


baru pertama kali berada di stasiun kereta yang besar dan luas, berjalan lurus


untuk menemukan jalan keluar dan benar pintu gerbang merupakan jalur


keluar-masuk stasiun.


Yoshi


yang berada di Osaka masa depan benar-benar tidak tau apa-apa, hanya bisa


terkagum dengan suasana, berbagai toko berjejer dengan padat seperti toko


makanan, baju, aksesori, dan lain-lain, beralih menatap pusat perbelanjaan di


daerah Hankyu, berjalan kaki memasuki toko tersebut Yoshi meneguk ludah karena


tanpa disadari ia mulai lapar karena kebetulan di lantai satu tempatnya berada


adalah foodcourt, dari tasnya ia mengeluarkan sejumlah uang.


Uang?


Tentu saja diberikan oleh Ageha-sama sejumlah uang sebelum ia kembali lagi


kesini, dunia masa depan.


Meneruskan


perjalanan berkeliling sekitar foodcourt mencari makanan,


akhirnya ia melihat sebuah restoran Ichiran menjual Ramen, memasuki tempat


tersebut ia memilih tempat duduk yang dekat dengan pintu keluar.


Yoshi


memesan makanan yaitu takoyaki salah satu makanan yang memang terkenal di


Osaka dari dulu hingga sekarang karena ia dulu pernah ke daerah sini pada


jamannya. Lagipula melihat banyak orang memesan sampai mengantri lumayan


panjang berarti ini sangat enak.


menunggu di barisan sekitar dua menit, seorang anak sudah selesai makan berlari


kecil melewati antrian Yoshi, tidak disadari ia terjatuh di depannya karena


lantai agak licin sehabis mengepel.


“Huwaa.”


Tangis


anak kecil itu meledak seketika Yoshi, kebingungan akhirnya ia mengangkat anak


itu ke dalam pelukannya. Ketika berada dalam pelukan, anak kecil itu mulai


berhenti nangis.


Lho,


dia berhenti menangis? Aku teringat dulu Naho sampai menangis karena aku


terluka digigit serigala tapi dia itu siapa? Kenapa aku gak bisa mengingat


namanya?


“Makasih


sudah menolongku,” ucap anak kecil itu kemudianYoshi tersenyum simpul. “Sama-sama,


hati-hati ya.”


Anak


itu mengangguk kecil, mengusap bekas air matanya dan pergi meninggalkan Yoshi


maju ke depan setelah tiba gilirannya. Ia memesan satu piring takoyaki dan


sebuah teh hijau untuk teman makannya karena ia bisa istirahat sebelum


menemukan Kurazono dan mencari tahu maut yang akan menimpanya dalam waktu


dekat.


Entah


kenapa disini ramai sekali? Apa mungkin akan ada acara?


Tatapan Yoshi menelusuri seluruh bagian restoran hingga


menemukan kertas bergambar yang tertempel tidak jauh dari tempatnya jauh.


Gambar tersebut adalah kembang apai yang akan dilaksanakan kurang dari seminggu


lagi.


Ah,


ternyata pelaksaan kembang api. Aku sampai lupa disini sudah saatnya pergantian


tahun dari tahun 2016 menuju tahun 2017, mungkin seratus empat puluh tahun lebih


terlewat.  Pasti menyenangkan bisa

__ADS_1


melihat sebentar suasana disini setelah itu, padahal aku berharap seandainya


aku bisa mewujudkan keinginan Meira melihat kembang api bersama Jinei dan aku sebelum


kejadian itu, aku


merasa bersalah.


Yoshi


menarik napas, memikirkan semua kejadian tragis yang merenggut temannya dan


orang yang disayangi memang menyakitkan rasanya seperti hatinya tercabik-cabik


kemudian menghembuskan kasar dan menghabiskan ramennya. Beranjak dari kursi ia


berdiri dan menatap sekilas poster di sudut ruangan, untuk beberapa saat hingga


ia benar-benar pergi setelah membayar semua.


****


Emi


segera membeli tiket menuju Shinjuku karena sore biasanya jam pulang kerja


sehingga stasiun kereta Shibuya mudah ramai, apalagi jika banyak orang baru


pulang dari jalan-jalan dari tempat wisata.


Ia


berlari kecil setelah membeli tiket di mesin dan membayar dengan kartu subway


miliknya, berjalan ke arah gerbong tengah lalu ia tiba di peron jalur kuning


dan berhenti sambil menunggu kereta datang dalam waktu satu menit lagi sesuai


jadwal.


Menunggu


sebentar, akhirnya kereta pun datang di jalurnya dan Emi menunggu pintu


terbuka, memastikan penumpang keluar sebelum ia mengikuti antrian dan berjalan


bagian dalam supaya daerah masuk tidak terhalangi.


Setelah


semua penumpang masuk, pintu gerbong tertutup dan kereta mulai berjalan. Emi


yang sempat berdesakan mendapatkan tempat duduk dan menyematkan headsett di


telinganya sembari melanjutkan buku sejarah yang baru saja ia pinjam yang ia


pinjam ulang setelah masa pinjam habis hari ini sehingga harus diperbarui.


Menyibukkan


diri dengan membaca sambil menunggu kereta sampai di tujuan, ia menatap ke


langit-langit. Memikirkan pemilik cafe tadi sempat ia melamar, matanya berwarna


ungu terlihat sendu seakan ada sesuatu yang dipendam dan tidak ingin ada


seseorang yang tau.


“Aku


lebih ingin punya seorang kakak laki-laki yang baik dan perhatian seperti Kak Mitsunari,"


gumam Emi tanpa sadar. Mengingat percakapan tadi dengan Mitsunari walau


terkesan menyebalkan dan kaku tapi suaranya yang lembut terasa menyenangkan


seperti mengobrol dengan kakak laki-laki.


Benar,


Emi adalah anak tunggal. Ibu nya tinggal di daerah Osaka bersama sang ayah yang


sedang sakit keras beberapa waktu belakangan sehingga mau tidak mau ia harus


hidup mandiri. Tidak ada saudara tidak menghalangi ingin bersikap ceria, ia


malah lebih aktif di kegiatan klub hanya saja ia berhati-hati setelah kejadian


menyakitkan menimpa diri.


Tetapi


Emi bisa menepis semua rasa kesendirian dan membuat dunia sendiri yang aman berharap


suatu saat ada seseorang yang benar-benar akan mengubah. Tidak disadari olehnya


kereta telah tiba dan membuyarkan lamunannya.


"MOHON


PERHATIAN KERETA TELAH TIBA DI STASIUN SHINJUKU. HARAP PERHATIKAN BARANG BAWAAN


ANDA. TERIMAKASIH.


Suara


pengerasa suara yang telah selesai mengumumkan kedatangan kereta ke Shinjuku


membuat Emi harus beranjak berdiri dari kursi dan mengecek tas miliknya agar


tidak tertinggal.


Ia


segera turun di peron lalu mencari pintu jalan keluar dari stasiun menuju jalan


ke rumah ditempuh dengan jalan kaki dan membutuhkan sekitar sepuluh menit agar


sampai. Jalanan yang ramai membuat Emi mengeluarkan uap dari mulutnya karena


udara yang sedikit dingin lalu ia mengusapkan kedua tangannya agar hangat.


“Hah,


aku bosannya nanti jika pulang ke rumah. Aku berharap ada yang bisa ajak


ngobrol hari ini, setidaknya ada yang menemaniku,” gumam Emi dengan suara kecil,

__ADS_1


karena sepi ia berharap tidak ada yang mendengarnya.


__ADS_2