Betrayal Sword

Betrayal Sword
FIRST MEET


__ADS_3

Tatapan intens tetap ditunjukkan Yoshi yang tertuju pada scarlet


milik Emi. Saat yang sama sebelum Yoshi kehilangan keseimbangan, kedua


tangannya tanpa sadar berada di kanan dan kiri sisi Emi, seakan mengurungnya.


Situasi tak terduga terjadi di antara mereka.


Suara pengumuman dari pengeras suara mengumumkan bahwa kereta


dengan tujuan stasiun Kyoto Line telah tiba di tujuan. Pengeras suara yang


tiba-tiba berbunyi barusan membuat Emi kaget, ia spontan berdiri karena


pergerakan tersebut lalu Emi menabrak Yoshi yang masih berdiri mematung di


depannya.


Yoshi agak sedikit terdorong ke belakang, ekspresi bingung tentu


terpancar di mukanya.


Emi melangkah melewati Yoshi begitu pintu kereta terbuka


walaupun ia tidak sengaja menabrak beberapa orang yang sedang berdiri di depan


pintu, ia langsung keluar dari kereta.


Setelah keluar dari kereta, Emi berdiri dengan memegang kedua


lututnya, napasnya sedikit tidak teratur karena sedikit berlari kecil saat


keluar barusan lalu rambutnya yang sebelumnya tertata rapi agak berantakan dan


merapikan rambutnya, ia menoleh ke arah jendela kereta tempat Yoshi masih berdiri


mematung di tempat yang sama.


****


Orang-orang berlalu lalang keluar melewati Yoshi, ia hanya


terdiam menatap Emi yang baru saja meninggalkannya barusan. Entah apa yang


dipikirkannya, tatapan Yoshi masih tertuju kepada Emi yang sibuk merapikan


penampilannya agak berantakan.


Mereka berdua bertatapan, tatapan yang tidak dapat diartikan


seolah ada sesuatu sedangkan mereka baru bertemu saat yang lalu.


Terhalang oleh jarak, Yoshi berdiri menghadap jendela lalu Emi


berada di peron kereta. Semua terasa cepat hingga suara bel menandakan kereta


akan berangkat menuju stasiun selanjutnya Stasiun Shinjuku. Kereta mulai melaju


setelah semua penumpang masuk, Yoshi yang masih diam mematung baru tersadar


sedikit berguncang.


'Eh, ada apa ini? Kenapa kereta ini bergerak? Tunggu apa yang


sedang terjadi.' Batin Yoshi bingung melihat Emi dari jendela mulai


bergerak meninggalkan stasiun dengan Emi di sana menatapnya.


Emi mengembuskan napas, menatap kereta yang berlalu barusan. “Malah


ketemu orang aneh sih,” gumam Emi berjalan pergi ke dalam stasiun.


Pintu tiket selatan yang menjadi jalur keluar arah timur dan


barat Stasiun berada di lantai 1F stasiun. Setelah itu Emi mencari tangga turun


karena peron berada di lantai 2F.


Tangga menuju pintu tiket selatan berada di arah jembatan kecil


peron, pergi ke arah sebelah barat stasiun, Emi berjalan ke arah kiri, lalu


pergi ke timur, berjalan lurus ke arah kanan, kemudian lurus setelah melewati


pintu tiket.


Akhirnya Emi keluar dari stasiun yang sedikit ramai karena hari


ini adalah hari kamis, satu hari lagi setidaknya ia dapat bebas untuk besok


setelah melewati hari yang panjang di sekolah dan bertemu dengan orang aneh


bernama Yoshi.


Sedikit berjalan, Emi bertemu jalan raya yang besar dan padat,


gedung-gedung tinggi pencakar langit dengan LED berisi iklan, toko-toko ramai


lalu jalan penyebrangan yang dipenuhi oleh manusia-manusia yang sibuk dengan


kepentingan milik mereka.


Emi menyebrang ke arah lain, banyak bangunan-bangunan pertokoan


serta toko makanan berjejer. Dari baunya sangat menggoda, salah satu toko itu


adalah toko roti melon, ia yang tertarik membeli dua buah roti untuk dibawa


pulang lalu melanjutkan perjalanan menuju suatu tempat.


Menyusuri toko-toko sambil menyapa penjual yang juga akrab


dengannya, melewati dua blok pertokoan, Emi berjalan dengan headsett yang


tersemat di telinganya butuh sepuluh langkah, ia menuruni gang dan berbelok ke


sebelah kiri dan Emi menatap tempat tujuannya tersebut.


Mendorong pintu kaca yang bertuliskan close, bau aroma kayu khas

__ADS_1


menyeruak di indera penciuman Emi, bekas potongan kayu berserakan lalu kayu


busur panah dan anak panah tertata rapi di sudut dinding.


Segera Emi membuka pendingin udara, membiarkan udara dingin yang


diselimuti aroma kayu menyebar dan bercampur di seluruh ruangan. Ia menduduki


kursi yang kosong tempat ia berdiri, mengambil sebilah pisau yang selalu


digunakan namun suara bunyi pintu terbuka menghentikan Emi mengambil benda itu.


Beberapa anak laki-laki yang bercanda ria memasuki toko milik


Emi, “Halo Kak Emi, selamat siang!” sapa anak laki-laki jangkung.


Perhatian anak laki-laki tadi tertuju pada pisau kecil yang digenggam


hampir tertancap di lantai kayu tersebut, “ Astaga Kak Emi mau apa?” serunya


heboh menunjuk pisau itu.


“Hah! Ternyata Kak Emi y-yandere!” tambah teman anak laki yang


sama jangkung dengan ekspresi kaget yang dibuat-buat.


Emi memutar bola mata malas, menatap dua anak laki-laki kembar


yang ada di hadapannya.


“Sini, aku cincang kalian dulu.” Emi iseng seraya pura-pura


mengelus pisau kecil itu.


Dua anak laki-laki kembar mundur beberapa langkah kemudian


tertawa. “Kalau melihat Kak Emi seperti itu malah kurang greget,” ejek anak


laki-laki itu. “Sifat kakak seram gitu, mana ada yang mau. Cari pacar kak.” Kembaran


anak laki-laki menggeleng kepala dramatis.


“Taro dan Toru!!! Kau awas ya. Besok kita bertanding panah di


halaman, jangan sampai menghindar.”


“Wadaw, jangan dianggap serius kak.” Toru menyengir tanpa dosa.


“Yuk kak, bertanding! Sekarang juga boleh,” balas Taro semangat.


“Hei, Taro kau ini gimana sih. Ingat besok kita ulangan


algoritma ditambah fisika lalu masih ada tugas haiku,” ujar Toru menepuk-nepuk


bahu keras disertai perempat imajiner di dahi.


“Aah, membosankan nih. Jangan serius gitu Toru kan bisa minta


teman lain.”


“Dasar Taro. Mentang-mentang ace klub panah malah santai.


Taro, "Kau lupa ya jika bertanding hari ini sama dengan bunuh diri karena


tanka kali ini kita disuruh menyanyikan setelah selesai membuatnya.”


“Waduh, bahaya nih.”


Emi yang melihat kedua kembar yang saling berbisik, heran apa


yang dibicarakan. “Kalian sedang apa sih? Bisik-bisik, takut ya? Atau ada


urusan lain? Ya udah batal ya.” Ia beranjak dari kursi, berusaha meninggalkan


ruangan.


Dua anak kembar itu melihat Emi tidak semangat, langsung


menjawab, "Tidak kok, besok aja kita sibuk ada tugas dan ujian jadi besok


saja bertanding nya ," balas Taro menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


“Aku mengerti kok, anak kelas dua juga mulai sibuk karena sudah


mau kelas tiga.”


Toru mengernyitkan alis bingung, melihat Emi masih memakai


seragam sekolah padahal mereka kira Emi akan melatih hari ini.


“Kak Emi tidak melatih hari ini? Tumben, lagi sibuk sekolah


juga?” Tanya Toru dengan menghujani dengan berbagai pertanyaan.


Emi hanya menghela napas, ekspresi yang semula datar sedikit


berubah. “Aku juga sibuk kelas tiga akhir Toru, alasan aku tidak melatih karena


mulai hari ini aku mendapatkan pekerjaan.”


Taro bertepuk tangan senang. “Wah, selamat Kak Emi, keuangan


kakak tidak terpuruk lagi. Traktiran kalau sudah dapat gaji pertama dong,” canda


Taro.


“Gak sopan kau ini tapi setidaknya aku bisa mendapat penghasilan


sementara--- Eh tetap saja harusnya Taro yang laki-laki traktir, gimana sih.


Tidak gentle,” sindir Emi.


“Kita traktiran pas hari ulang tahun kak Emi saja, tapi aku


patungan ya kak,” ujar Toru dengan wajah tanpa dosa. Cengiran khasnya.


Emi menatap Taro dan Toru gantian kemudian terkekeh, “Baik, aku


tunggu Toru. Contoh Toru adikmu dong, masa kau yang kakak enak-enak terus.”

__ADS_1


Taro dibegitukan cemberut, Emi dan Toru tertawa bersama melihat


Taro berkecil hati.


Suara pintu yang terbuka disertai obrolan ramai gerombolan anak


laki-laki masuk ke toko milik Emi menghentikan tawa mereka berdua.


“Selamat siang Kak, kami dari SMA---Oh, Nabura! Ternyata kalian


sudah disini toh, oh ya langsung latihan yuk,” ujar anak laki-laki yang baru


datang bersama lima temannya itu.


Taro dan Toru langsung berbalik badan dan menyapa temannya.


Mengobrol ria dengan teman satu klubnya.


“Hehe, tumben kalian lebih awal datangnya biasanya selalu


detik-detik terakhir. Ngobrol apaan seru amat, gak ngajak-ngajak,” ucap Kenta


salah satu temannya menyingkut siku Toru.


“Apaan sih, kayak Ken gak pernah ngobrol sama cewek aja.”


“Gitu amat jawabannya. Huu.”


Taro datang mendekat lalu merangkul Toru dan Kenta. “Kalian


berdua ini kayak kekurangan cewek aja, kurang cantik cewek kelas kita? Nanti


kucariikan deh.” Taro berpose ala cewek imut.


“Dih, geli ah. Taro mah asyik dapat sogokan cemilan pas jam


istirahat mulu! Gimana gak kekurangan cewek coba,” ujar Toru mengerucutkan


bibir pura-pura iri.


Emi berdehem membuat semua anak laki-laki itu menatap penasaran.


“Jangan ngomong perempuan mulu, ingat utang kalian. Latihan sana, jadi atlit


profesional baru para perempuan pada minat.”


“Huu, ya deh pelatih kan pro beda sama kita yang amatir--"


Ucapan Taro yang terpotong langsung melongo ke arah gerombolan


cewek baru masuk dari pintu toko. Seorang cewek berjalan anggun mendekati Emi.


“Selamat siang kak! Kami dari SMA Putri Minami Zetsuon ingin


melihat latihan klub panah karena kami baru buka klub dua hari yang lalu,” ujar


perempuan itu lembut disertai senyuman. Begitupula Taro beserta temannya


bersiul ria kecuali Toru.


“Ah, ya silahkan. Kalian bisa daftarkan diri dulu.” Emi


menyerahkan buku dan pulpen berisi nama sekolah.


Perempuan dengan rambut sebahu itu mengisi buku yang diberikan


oleh Emi lalu menuliskan nama sekolah, tulisan yang rapi membuat semua


tercengang.


“Waw, anak dari sekolah putri nyasar disini. Hari


keberuntunganku nih,” ujar Kenta bersiul menggoda sembari menatap perempuan tersebut.


Nao mengangguk setuju. “Lihat itu bahkan tulisannya rapi.”


Selesai menulis perempuan itu menyerahkan buku kepada Emi. “Ini


kak, terimakasih. Tempat latihannya dimana ya?" tanya nya.


“Belok ke kiri lalu jalan terus dan kau akan menemukan halaman


belakang. Perlu kuantar?” tanya Emi, mungkin saja ia membutuhkan bantuan.


"Azaku-san?"


Azaku menaikkan sudut bibirnya lalu menjawab pertanyaan Emi, “Tidak


usah kak. Aku bisa sendiri, panggil aku Anzu biar tidak terlalu formal,” ucap


perempuan bernama Anzu, meninggalkan Emi yang terdiam di tempat, melewati


gerombolan laki-laki teman-teman Taro dan Toru.


Anzu melewati Taro yang sedari tadi terpesona, dua sudut


bibirnya membentuk senyuman ketika melewati Toru yang tidak memberikan reaksi


apa-apa pada Anzu.


“Oi, bengong saja kalian ini. Tangkap ini.” Emi memberikan


sebuah kunci lalu ditangkap oleh Toru.


“Kebetulan habis ini waktunya aku pergi untuk wawancara jadi


kalau aku terlambat bawa saja kuncinya. Awas sampai hilang, kuserahkan


mengawasi tempat ini pada kalian berdua,” ucap Emi sembari melihat jam di layar


ponselnya.


“Oki doki,” jawab mereka serentak sembari memberikan tanda


hormat di kepala.


Ban


on Physcial Contact

__ADS_1


__ADS_2