
Tatapan intens tetap ditunjukkan Yoshi yang tertuju pada scarlet
milik Emi. Saat yang sama sebelum Yoshi kehilangan keseimbangan, kedua
tangannya tanpa sadar berada di kanan dan kiri sisi Emi, seakan mengurungnya.
Situasi tak terduga terjadi di antara mereka.
Suara pengumuman dari pengeras suara mengumumkan bahwa kereta
dengan tujuan stasiun Kyoto Line telah tiba di tujuan. Pengeras suara yang
tiba-tiba berbunyi barusan membuat Emi kaget, ia spontan berdiri karena
pergerakan tersebut lalu Emi menabrak Yoshi yang masih berdiri mematung di
depannya.
Yoshi agak sedikit terdorong ke belakang, ekspresi bingung tentu
terpancar di mukanya.
Emi melangkah melewati Yoshi begitu pintu kereta terbuka
walaupun ia tidak sengaja menabrak beberapa orang yang sedang berdiri di depan
pintu, ia langsung keluar dari kereta.
Setelah keluar dari kereta, Emi berdiri dengan memegang kedua
lututnya, napasnya sedikit tidak teratur karena sedikit berlari kecil saat
keluar barusan lalu rambutnya yang sebelumnya tertata rapi agak berantakan dan
merapikan rambutnya, ia menoleh ke arah jendela kereta tempat Yoshi masih berdiri
mematung di tempat yang sama.
****
Orang-orang berlalu lalang keluar melewati Yoshi, ia hanya
terdiam menatap Emi yang baru saja meninggalkannya barusan. Entah apa yang
dipikirkannya, tatapan Yoshi masih tertuju kepada Emi yang sibuk merapikan
penampilannya agak berantakan.
Mereka berdua bertatapan, tatapan yang tidak dapat diartikan
seolah ada sesuatu sedangkan mereka baru bertemu saat yang lalu.
Terhalang oleh jarak, Yoshi berdiri menghadap jendela lalu Emi
berada di peron kereta. Semua terasa cepat hingga suara bel menandakan kereta
akan berangkat menuju stasiun selanjutnya Stasiun Shinjuku. Kereta mulai melaju
setelah semua penumpang masuk, Yoshi yang masih diam mematung baru tersadar
sedikit berguncang.
'Eh, ada apa ini? Kenapa kereta ini bergerak? Tunggu apa yang
sedang terjadi.' Batin Yoshi bingung melihat Emi dari jendela mulai
bergerak meninggalkan stasiun dengan Emi di sana menatapnya.
Emi mengembuskan napas, menatap kereta yang berlalu barusan. “Malah
ketemu orang aneh sih,” gumam Emi berjalan pergi ke dalam stasiun.
Pintu tiket selatan yang menjadi jalur keluar arah timur dan
barat Stasiun berada di lantai 1F stasiun. Setelah itu Emi mencari tangga turun
karena peron berada di lantai 2F.
Tangga menuju pintu tiket selatan berada di arah jembatan kecil
peron, pergi ke arah sebelah barat stasiun, Emi berjalan ke arah kiri, lalu
pergi ke timur, berjalan lurus ke arah kanan, kemudian lurus setelah melewati
pintu tiket.
Akhirnya Emi keluar dari stasiun yang sedikit ramai karena hari
ini adalah hari kamis, satu hari lagi setidaknya ia dapat bebas untuk besok
setelah melewati hari yang panjang di sekolah dan bertemu dengan orang aneh
bernama Yoshi.
Sedikit berjalan, Emi bertemu jalan raya yang besar dan padat,
gedung-gedung tinggi pencakar langit dengan LED berisi iklan, toko-toko ramai
lalu jalan penyebrangan yang dipenuhi oleh manusia-manusia yang sibuk dengan
kepentingan milik mereka.
Emi menyebrang ke arah lain, banyak bangunan-bangunan pertokoan
serta toko makanan berjejer. Dari baunya sangat menggoda, salah satu toko itu
adalah toko roti melon, ia yang tertarik membeli dua buah roti untuk dibawa
pulang lalu melanjutkan perjalanan menuju suatu tempat.
Menyusuri toko-toko sambil menyapa penjual yang juga akrab
dengannya, melewati dua blok pertokoan, Emi berjalan dengan headsett yang
tersemat di telinganya butuh sepuluh langkah, ia menuruni gang dan berbelok ke
sebelah kiri dan Emi menatap tempat tujuannya tersebut.
Mendorong pintu kaca yang bertuliskan close, bau aroma kayu khas
__ADS_1
menyeruak di indera penciuman Emi, bekas potongan kayu berserakan lalu kayu
busur panah dan anak panah tertata rapi di sudut dinding.
Segera Emi membuka pendingin udara, membiarkan udara dingin yang
diselimuti aroma kayu menyebar dan bercampur di seluruh ruangan. Ia menduduki
kursi yang kosong tempat ia berdiri, mengambil sebilah pisau yang selalu
digunakan namun suara bunyi pintu terbuka menghentikan Emi mengambil benda itu.
Beberapa anak laki-laki yang bercanda ria memasuki toko milik
Emi, “Halo Kak Emi, selamat siang!” sapa anak laki-laki jangkung.
Perhatian anak laki-laki tadi tertuju pada pisau kecil yang digenggam
hampir tertancap di lantai kayu tersebut, “ Astaga Kak Emi mau apa?” serunya
heboh menunjuk pisau itu.
“Hah! Ternyata Kak Emi y-yandere!” tambah teman anak laki yang
sama jangkung dengan ekspresi kaget yang dibuat-buat.
Emi memutar bola mata malas, menatap dua anak laki-laki kembar
yang ada di hadapannya.
“Sini, aku cincang kalian dulu.” Emi iseng seraya pura-pura
mengelus pisau kecil itu.
Dua anak laki-laki kembar mundur beberapa langkah kemudian
tertawa. “Kalau melihat Kak Emi seperti itu malah kurang greget,” ejek anak
laki-laki itu. “Sifat kakak seram gitu, mana ada yang mau. Cari pacar kak.” Kembaran
anak laki-laki menggeleng kepala dramatis.
“Taro dan Toru!!! Kau awas ya. Besok kita bertanding panah di
halaman, jangan sampai menghindar.”
“Wadaw, jangan dianggap serius kak.” Toru menyengir tanpa dosa.
“Yuk kak, bertanding! Sekarang juga boleh,” balas Taro semangat.
“Hei, Taro kau ini gimana sih. Ingat besok kita ulangan
algoritma ditambah fisika lalu masih ada tugas haiku,” ujar Toru menepuk-nepuk
bahu keras disertai perempat imajiner di dahi.
“Aah, membosankan nih. Jangan serius gitu Toru kan bisa minta
teman lain.”
“Dasar Taro. Mentang-mentang ace klub panah malah santai.
Taro, "Kau lupa ya jika bertanding hari ini sama dengan bunuh diri karena
tanka kali ini kita disuruh menyanyikan setelah selesai membuatnya.”
“Waduh, bahaya nih.”
Emi yang melihat kedua kembar yang saling berbisik, heran apa
yang dibicarakan. “Kalian sedang apa sih? Bisik-bisik, takut ya? Atau ada
urusan lain? Ya udah batal ya.” Ia beranjak dari kursi, berusaha meninggalkan
ruangan.
Dua anak kembar itu melihat Emi tidak semangat, langsung
menjawab, "Tidak kok, besok aja kita sibuk ada tugas dan ujian jadi besok
saja bertanding nya ," balas Taro menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
“Aku mengerti kok, anak kelas dua juga mulai sibuk karena sudah
mau kelas tiga.”
Toru mengernyitkan alis bingung, melihat Emi masih memakai
seragam sekolah padahal mereka kira Emi akan melatih hari ini.
“Kak Emi tidak melatih hari ini? Tumben, lagi sibuk sekolah
juga?” Tanya Toru dengan menghujani dengan berbagai pertanyaan.
Emi hanya menghela napas, ekspresi yang semula datar sedikit
berubah. “Aku juga sibuk kelas tiga akhir Toru, alasan aku tidak melatih karena
mulai hari ini aku mendapatkan pekerjaan.”
Taro bertepuk tangan senang. “Wah, selamat Kak Emi, keuangan
kakak tidak terpuruk lagi. Traktiran kalau sudah dapat gaji pertama dong,” canda
Taro.
“Gak sopan kau ini tapi setidaknya aku bisa mendapat penghasilan
sementara--- Eh tetap saja harusnya Taro yang laki-laki traktir, gimana sih.
Tidak gentle,” sindir Emi.
“Kita traktiran pas hari ulang tahun kak Emi saja, tapi aku
patungan ya kak,” ujar Toru dengan wajah tanpa dosa. Cengiran khasnya.
Emi menatap Taro dan Toru gantian kemudian terkekeh, “Baik, aku
tunggu Toru. Contoh Toru adikmu dong, masa kau yang kakak enak-enak terus.”
__ADS_1
Taro dibegitukan cemberut, Emi dan Toru tertawa bersama melihat
Taro berkecil hati.
Suara pintu yang terbuka disertai obrolan ramai gerombolan anak
laki-laki masuk ke toko milik Emi menghentikan tawa mereka berdua.
“Selamat siang Kak, kami dari SMA---Oh, Nabura! Ternyata kalian
sudah disini toh, oh ya langsung latihan yuk,” ujar anak laki-laki yang baru
datang bersama lima temannya itu.
Taro dan Toru langsung berbalik badan dan menyapa temannya.
Mengobrol ria dengan teman satu klubnya.
“Hehe, tumben kalian lebih awal datangnya biasanya selalu
detik-detik terakhir. Ngobrol apaan seru amat, gak ngajak-ngajak,” ucap Kenta
salah satu temannya menyingkut siku Toru.
“Apaan sih, kayak Ken gak pernah ngobrol sama cewek aja.”
“Gitu amat jawabannya. Huu.”
Taro datang mendekat lalu merangkul Toru dan Kenta. “Kalian
berdua ini kayak kekurangan cewek aja, kurang cantik cewek kelas kita? Nanti
kucariikan deh.” Taro berpose ala cewek imut.
“Dih, geli ah. Taro mah asyik dapat sogokan cemilan pas jam
istirahat mulu! Gimana gak kekurangan cewek coba,” ujar Toru mengerucutkan
bibir pura-pura iri.
Emi berdehem membuat semua anak laki-laki itu menatap penasaran.
“Jangan ngomong perempuan mulu, ingat utang kalian. Latihan sana, jadi atlit
profesional baru para perempuan pada minat.”
“Huu, ya deh pelatih kan pro beda sama kita yang amatir--"
Ucapan Taro yang terpotong langsung melongo ke arah gerombolan
cewek baru masuk dari pintu toko. Seorang cewek berjalan anggun mendekati Emi.
“Selamat siang kak! Kami dari SMA Putri Minami Zetsuon ingin
melihat latihan klub panah karena kami baru buka klub dua hari yang lalu,” ujar
perempuan itu lembut disertai senyuman. Begitupula Taro beserta temannya
bersiul ria kecuali Toru.
“Ah, ya silahkan. Kalian bisa daftarkan diri dulu.” Emi
menyerahkan buku dan pulpen berisi nama sekolah.
Perempuan dengan rambut sebahu itu mengisi buku yang diberikan
oleh Emi lalu menuliskan nama sekolah, tulisan yang rapi membuat semua
tercengang.
“Waw, anak dari sekolah putri nyasar disini. Hari
keberuntunganku nih,” ujar Kenta bersiul menggoda sembari menatap perempuan tersebut.
Nao mengangguk setuju. “Lihat itu bahkan tulisannya rapi.”
Selesai menulis perempuan itu menyerahkan buku kepada Emi. “Ini
kak, terimakasih. Tempat latihannya dimana ya?" tanya nya.
“Belok ke kiri lalu jalan terus dan kau akan menemukan halaman
belakang. Perlu kuantar?” tanya Emi, mungkin saja ia membutuhkan bantuan.
"Azaku-san?"
Azaku menaikkan sudut bibirnya lalu menjawab pertanyaan Emi, “Tidak
usah kak. Aku bisa sendiri, panggil aku Anzu biar tidak terlalu formal,” ucap
perempuan bernama Anzu, meninggalkan Emi yang terdiam di tempat, melewati
gerombolan laki-laki teman-teman Taro dan Toru.
Anzu melewati Taro yang sedari tadi terpesona, dua sudut
bibirnya membentuk senyuman ketika melewati Toru yang tidak memberikan reaksi
apa-apa pada Anzu.
“Oi, bengong saja kalian ini. Tangkap ini.” Emi memberikan
sebuah kunci lalu ditangkap oleh Toru.
“Kebetulan habis ini waktunya aku pergi untuk wawancara jadi
kalau aku terlambat bawa saja kuncinya. Awas sampai hilang, kuserahkan
mengawasi tempat ini pada kalian berdua,” ucap Emi sembari melihat jam di layar
ponselnya.
“Oki doki,” jawab mereka serentak sembari memberikan tanda
hormat di kepala.
Ban
on Physcial Contact
__ADS_1