
Keluar area foodcourt Yoshi naik ke lantai berikutnya berisi toko buku, tempat potong
rambut, supermarket, toko parfum, toko kecantikan dan tempat bermain, dll.
Yoshi yang tidak pernah masuk toko buku memutuskan untuk mencoba masuk dan
melihat-melihat apalagi ia sama sekali belum pernah baca buku, dirinya hanya
tau cara mengayunkan pedang sudah dikuasai sejak lama.
Bagian toko buku yang tertata rapi, angin berembus sedang dari pendingin ruangan,
banyak anak-anak berkumpul di satu tempat terlihat untuk membaca buku,
jenis-jenis buku yang tersusun rapi di rak-rak buku dan banyak benda elektronik
yang dijual di depan disana, Yoshi menatap headphone terpampang disana, ukurannya
lebih besar dari kepunyaan Emi yang menurutnya kecil.
Petugas laki-laki yang melihat Yoshi menatap dengan mata tertarik langsung menghampirinya,
“Silahkan tuan, anda tertarik membeli headphone ini? Mungkin bisa untuk pacar
Anda,” ucap petugas itu menawarkan ala-ala sales.
Yoshi menggelengkan kepala, tersenyum menatap petugas tersebut, “Tidak, terimakasih
atas tawarannya. Aku memperhatikan headphone ini karena mirip dengan
kepunyaan seseorang perempuan yang kukenal,” ujar Yoshi tersenyum tipis
kepadanya.
“Perempuan ya?” tanya petugas itu kepada Yoshi yang dijawab dengan anggukan sekedar sambil
melirik area buku yang membuatnya tertarik. “Kalau begitu kebetulan sekali hari
ini lagi ada diskon untuk pasangan yang sedang mencari hadiah karena headphone
ini adalah keluaran terbaru, hanya setengah harga.”
Yoshi berpikir sebelum membeli, ia hanya bertemu Emi hanya sekali dan itupun saat di
kereta tadi sekilas percakapan ringan. Mungkin jika aku memakai sedikit uang
dari Ageha-sama membelikan headphone untuk Emi kemudian memberikan sebagai
hadiah setelah aku menyelesaikan tugas tidak apa-apa, anggap saja aku
memberikan hadiah pada seseorang yang aku kenal, ya hanya sebatas itu.
“Hmm, aku akan membelinya, harganya 30.000 yen kan. Ada warna apa saja?”
“Wah, karena edisi terbatas disini tersedia lima warna. Biru laut, putih, merah,
hijau tosca, dan ungu. Bisa pilih terlebih dahulu,” ujar petugas laki-laki
terlihat lebih tua dari Yoshi.
Yoshi menatap headphone dengan berbagai warna, memindai dari satu warna ke
warna lainnya lalu matanya tertuju pada satu warna terletak di ujung, warna
merah. Terlintas di benaknya jika warna ini akan cocok dengan mata dan rambut
Emi yang senada, walaupun sedikit bertolak belakang dengan sifatnya yang cuek.
Yoshi mengambil warna merah kemudian membayarnya, “Sepertinya aku ambil warna merah
saja, cocok untuknya.” Tanpa sadar ia tersenyum saat mengambilnya.
“Pilihan yang bagus, pasti pacar Anda orang pemberani makanya anda memilih warna ini
biasanya perempuan lebih suka warna biru.”
“Tentu, aku berharap ini akan cocok jika suatu saat akan kuberikan padanya. Aku
membelinya selagi sempat lagipula aku juga tidak tau kapan aku akan pergi
setelah menyelesaikan semuanya,” balas Yoshi dengan nada datar yang tekesan
sedih.
“Begitukah, semoga hari anda menyenangkan!”
Yoshi menganggukkan kepala berlalu pergi dari sana, berjalan menjauh ia menengok
kanan dan kiri membaca jenis buku yang tertera mulai dari psikilogis, sejarah,
buku anak dan komik, dan lain-lain. Tiba-tiba ekor matanya melirik bagian komik
setelah mengambil dan mulai membacanya sambil duduk di bawah lantai beralaskan
karpet terhimpit lemari.
Tidak jauh dari pintu masuk toko buku, dua orang berjalan bersama sambil berbincang
lalu laki-laki itu berpisah dengan perempuan tersebut.
__ADS_1
“Jangan lama-lama Kak, aku gak suka bau buku apalagi lihat segini banyak,” ujar
perempuan itu bersidekap dada karena dia hampir tidak suka baca buku.
Mitsunari memutar bola mata dan menghela napas. “Anzu karena kau pintar bukan artinya
tidak usah baca buku lagi, masa anak perempuan tahu nya cuma olahraga memanah
sudah gitu kau keseringan pakai parfum yang banyak. Kurangi itu yah,” ujar Mitsunari
tersenyum simpul.
Anzu mendengar ceramahan kakaknya tersebut hanya bisa mengomel dari dalam hati
karena mengetahui hobinya yang suka olahraga dan dandan jika ingin karena ia
sangat tidak suka jika jalan tanpa menggunakan parfum kesayangannya.
“Kau mengomel aku dengar loh, mulutmu bergerak sedikit jadi aku tau. Jalan sana cari
terus baca buku siapa tau ada yang menarik, novel, komik atau buku pelajaran,
matematika inggris mu masih kurang kan? Nanti kalau masih gitu lagi aku belikan
tiga tumpuk buku, ingat.”
“Ah, aku mengerti jangan terlalu keras, aku kan benci matematika lagipula kenapa
kakak rewel soal parfumku? Ini kan parfum buatanku sendiri.”
“Haah,lagi-lagi kau menghayal soal parfum buatanmu.”
“Aku buat sendiri kok dan aku serius,” ujar Anzu mengerucutkan bibirnya sebal karena
sang kakak tidak percaya untungnya dia tidak tau rahasia terbesarnya.
“Baiklah, jangan marah nanti kutraktir crepe.”
Mitsunari meninggalkan Anzu yang menggerutu sendiri, tersenyum tipis menganggap ucapan
sedikit keras tadi hanyalah candaan kemudian berlalu pergi menuju rak tempat
komik sejarah favoritnya untuk membaca cerita samurai yang selalu menarik
perhatiannya.
Ia sangat menyukai sejarah sejak kecil jadi terbiasa untuk membaca segala hal tentang
sejarah Jepang, novel tebal ataupun komik sejarah pasti akan selalu dibaca dan
tidak akan pernah dilewatkan sekalipun.
“Buku komik ini adaptasi dari novel---Judulnya Two Misundertand Sword?”
memutuskan pergi namun baru lima langkah ia sibuk mencari ponsel di kantong,
tidak sengaja ia menabrak orang yang berjalan dari samping yang mengaduh
kesakitan karena bokongnya terbentur lantai dan menjatuhkan buku bawaannya.
“Aduhh, sakit,” rintih perempuan itu lalu mendongakkan kepala untuk melihat pelaku yang
tidak sengaja menabraknya.
Mata mereka berdua bertatapan tanpa sengaja, setelah sadar siapa yang ditabrak
perempuan itu langsung beranjak berdiri lalu membungkukkan badan.
“Kak Ueno!!”
“Hai, apa kabar---Oh, Kurazono kau terluka!”
Mitsunari Ueno pemilik dari kafe tempat Emi bekerja, orang yang berdiri di hadapan Emi
lalu memberi rentetan pertanyaan karena dirinya bersalah menabrak Emi
disebabkan ia tidak fokus.
Ueno mengulurkan tangannya, Emi menyambut tangan Ueno lalu ia membantu Emi bangun
saat itu juga. “Mm, kenapa diam saja, apa kau merasa sakit?” tanya Mitsunari
menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, menunggu jawaban dari Emi.
Emi menjawab dengan gelengan. “Tidak, tenang aja Kak lalu ponsel kakak bergetar
terus. Apa tidak sebaiknya dijawab dulu?”
Mitsunari mengambil ponsel di kantong yang bergetar lalu menggeser layar dan menjawab
panggilan. “Kak masih lama gak, uuh bosan nih.”
“Bentar ya, aku masih ngobrol dengan karyawanku. Paling lima atau sepuluh menit paling
lama. Sudah dulu.”
Mitsunari memutuskan panggilan sepihak sebelum Anzu mengomel panjang lebar. Emi
memiringkan kepala menatap Mitsunari sekilas sebelum beralih ke komik miliknya
__ADS_1
yang tadi terjatuh lalu memungutnya.
Setelah Mitsunari mematikan ponsel dengan cepat membantu Emi merapikan buku bawannya. “Maaf
ya gara-gara aku komik milikmu terjatuh, tunggu komik ini kan samurai X yang edisi lama. Ternyata Kurazono masih suka ini ya, jarang lho cewek suka ini,” ujar Mitsunari ceria menunjuk komik yang dibawa.
“Baru-baru ini adik kelasku baru belajar sejarah dan tergila-gila sama samurai perempuan
Tomoe Gozen, karena kemampuannya yang hebat, dan setelah itu aku diajak nonton berbagai film samurai, sejak saat itu aku jadi suka samurai, bisa dibilang aku fans Masamune Date, sekarang malah beralih ke novel samurai ini,” jelas Emi lumayan panjang lebar tanpa disadari.
Mitsunari diam sesaat lalu terkekeh membuat Emi bingung saat itu juga, ia berpikir apa
laki-laki di depannya yang akan menjadi bosnya menganggap dia bercerita lucu?
“Ah, tidak kok. Aku tidak menertawakanmu, ceritamu agak menarik aja. Kau tertarik
begitu saja karena ketularan adik kelasmu gitu kan, haha,” ujar Mitsunari
tersenyum tipis menatap Emi.
Emi yang mendengar itu, tersenyum lega karena ia pikir ditertawakan olehnya, saat
ia mengambil satu buku yang masih tersisa di lantai. Emi yang ceroboh tidak
sengaja menabrak rak buku berisi novel yang kebetulan di belakangnya, alhasil
satu novel berat jatuh di atas kepalanya dan satunya lagi jatuh dan menggores
jari.
“Ya ampun, bagaimana ini? Novelnya jadi jatuh mengenai kepalamu, terus novelnya
jadi menggores jarimu juga kan. Sebaiknya kita keluar dulu dari sini, kalau gak
salah ada toko obat tidak jauh dari sini. Ayo,” ajak Mitsunari sambil
mengeluarkan saputangan biru miliknya yang langsung dililitkan di jari telunjuk
Emi mengeluarkan darah kemudian spontan mengenggam tangan.
Emi berjalan ditarik ragu kemudian berkata, “Tapi Kak, saputangan kakak jadi kotor
karena darah.”
“Sudah, tidak apa-apa kok. Bisa kucuci nanti, jangan dipikirkan.” Mitsunari menggengam
erat tangan Emi seraya menuruni eskalator menuju lantai satu tempat toko
menjual obat.
Perasaan hangat mulai menjalar ke seluruh tangan Emi yang digenggam, sesaat ada sesuatu
panas menyengat tangannya, hampir saja dilepaskan namun tidak jadi saat Mitsunari menoleh ke belakang, menanyakan keadaannya.
“Lho, ada apa Kurazono? Wajahmu pucat, sakit sekali ya? Tunggu ya setelah turun, kita
belok terus jalan bentar sudah mau sampai kok.”
Emi pura-pura tersenyum sebagai pengalih perhatian, menghilangkan rasa cemas
Mitsunari sesaat agar tidak menimbulkan kecurigaan. “Tidak usah buru-buru Kak
Ueno, kan cuma luka kecil jadi terimakasih telah mengantarkanku ya,” ujar Emi
menggengam erat tangan Ueno seraya menatap tangannya.
Tatapan Mitsunari bertemu dengan bola mata scarlet milik Emi yang bersinar terang,
membuat sesuatu perasaan lega berdesir dalam dirinya. “Baiklah, lagipula tidak
terlalu jauh kok. Toko obat yang disana Kurazono lihat kan?”
Emi mengangguk melihat arah yang dituju. “Nah, sesuai permintaanmu, kita jalan pelan-pelan ya, sekalian menghirup angin bertiup dari arah barat taman,” tutup Mitsunari dengan senyum khasnya. Menatap ke arah taman terbuka yang berada di
sampingnya.
Emi mengikuti arah pandangan Mitsunari kemudian angin serasa menerpa dirinya karena
lagi-lagi Mitsunari sudah semangat menarik tangannya. Setelah berjalan melewati
beberapa toko di mal akhirnya mereka sampai di depan toko obat.
“Tunggu disini, jangan kemana-mana. Jika aku sampai tidak menemukan Kurazono aku tidak
akan mengajarimu secara rahasia membuat latte art.”
Setelah mengucapkan itu ia langsung masuk ke dalam toko. Berbincang dengan pegawai yang
bertugas, Mitsunari mendapatkan apa yang didapat ia langsung membayarnya dan
langsung keluar.
Emi menunggu duduk di depan toko sambil menunggu langsung berdiri saat bahunya
ditepuk oleh Mitsunari. “Kak Mitsunari? Aku sampai kaget, kenapa gak lewat
depan aja, bentar banget. Aku kira bakal lama.”
“Kenapa Kurazono kira lama? Beli plester sama obat merah aja kok. Nih,” ujar Mitsunari
__ADS_1
menunjukkan dua benda tersebut lalu memberi tanda agar Emi memberikan tangannya
untuk diobati.