Betrayal Sword

Betrayal Sword
MEET EACH OTHER


__ADS_3

Keluar area foodcourt Yoshi naik ke lantai berikutnya berisi toko buku, tempat potong


rambut, supermarket, toko parfum, toko kecantikan dan tempat bermain, dll.


Yoshi yang tidak pernah masuk toko buku memutuskan untuk mencoba masuk dan


melihat-melihat apalagi ia sama sekali belum pernah baca buku, dirinya hanya


tau cara mengayunkan pedang sudah dikuasai sejak lama.


Bagian toko buku yang tertata rapi, angin berembus sedang dari pendingin ruangan,


banyak anak-anak berkumpul di satu tempat terlihat untuk membaca buku,


jenis-jenis buku yang tersusun rapi di rak-rak buku dan banyak benda elektronik


yang dijual di depan disana, Yoshi menatap headphone terpampang disana, ukurannya


lebih besar dari kepunyaan Emi yang menurutnya kecil.


Petugas laki-laki yang melihat Yoshi menatap dengan mata tertarik langsung menghampirinya,


“Silahkan tuan, anda tertarik membeli headphone ini? Mungkin bisa untuk pacar


Anda,” ucap petugas itu menawarkan ala-ala sales.


Yoshi menggelengkan kepala, tersenyum menatap petugas tersebut, “Tidak, terimakasih


atas tawarannya. Aku memperhatikan headphone ini karena mirip dengan


kepunyaan seseorang perempuan yang kukenal,” ujar Yoshi tersenyum tipis


kepadanya.


“Perempuan ya?” tanya petugas itu kepada Yoshi yang dijawab dengan anggukan sekedar sambil


melirik area buku yang membuatnya tertarik. “Kalau begitu kebetulan sekali hari


ini lagi ada diskon untuk pasangan yang sedang mencari hadiah karena headphone


ini adalah keluaran terbaru, hanya setengah harga.”


Yoshi berpikir sebelum membeli, ia hanya bertemu Emi hanya sekali dan itupun saat di


kereta tadi sekilas percakapan ringan. Mungkin jika aku memakai sedikit uang


dari Ageha-sama membelikan headphone untuk Emi kemudian memberikan sebagai


hadiah setelah aku menyelesaikan tugas tidak apa-apa, anggap saja aku


memberikan hadiah pada seseorang yang aku kenal, ya hanya sebatas itu.


“Hmm, aku akan membelinya, harganya 30.000 yen kan. Ada warna apa saja?”


“Wah, karena edisi terbatas disini tersedia lima warna. Biru laut, putih, merah,


hijau tosca, dan ungu. Bisa pilih terlebih dahulu,” ujar petugas laki-laki


terlihat lebih tua dari Yoshi.


Yoshi menatap headphone dengan berbagai warna, memindai dari satu warna ke


warna lainnya lalu matanya tertuju pada satu warna terletak di ujung, warna


merah. Terlintas di benaknya jika warna ini akan cocok dengan mata dan rambut


Emi yang senada, walaupun sedikit bertolak belakang dengan sifatnya yang cuek.


Yoshi mengambil warna merah kemudian membayarnya, “Sepertinya aku ambil warna merah


saja, cocok untuknya.” Tanpa sadar ia tersenyum saat mengambilnya.


“Pilihan yang bagus, pasti pacar Anda orang pemberani makanya anda memilih warna ini


biasanya perempuan lebih suka warna biru.”


“Tentu, aku berharap ini akan cocok jika suatu saat akan kuberikan padanya. Aku


membelinya selagi sempat lagipula aku juga tidak tau kapan aku akan pergi


setelah menyelesaikan semuanya,” balas Yoshi dengan nada datar yang tekesan


sedih.


“Begitukah, semoga hari anda menyenangkan!”


Yoshi menganggukkan kepala berlalu pergi dari sana, berjalan menjauh ia menengok


kanan dan kiri membaca jenis buku yang tertera mulai dari psikilogis, sejarah,


buku anak dan komik, dan lain-lain. Tiba-tiba ekor matanya melirik bagian komik


setelah mengambil dan mulai membacanya sambil duduk di bawah lantai beralaskan


karpet terhimpit lemari.


Tidak jauh dari pintu masuk toko buku, dua orang berjalan bersama sambil berbincang


lalu laki-laki itu berpisah dengan perempuan tersebut.

__ADS_1


“Jangan lama-lama Kak, aku gak suka bau buku apalagi lihat segini banyak,” ujar


perempuan itu bersidekap dada karena dia hampir tidak suka baca buku.


Mitsunari memutar bola mata dan menghela napas. “Anzu karena kau pintar bukan artinya


tidak usah baca buku lagi, masa anak perempuan tahu nya cuma olahraga memanah


sudah gitu kau keseringan pakai parfum yang banyak. Kurangi itu yah,” ujar Mitsunari


tersenyum simpul.


Anzu mendengar ceramahan kakaknya tersebut hanya bisa mengomel dari dalam hati


karena mengetahui hobinya yang suka olahraga dan dandan jika ingin karena ia


sangat tidak suka jika jalan tanpa menggunakan parfum kesayangannya.


“Kau mengomel aku dengar loh, mulutmu bergerak sedikit jadi aku tau. Jalan sana cari


terus baca buku siapa tau ada yang menarik, novel, komik atau buku pelajaran,


matematika inggris mu masih kurang kan? Nanti kalau masih gitu lagi aku belikan


tiga tumpuk buku, ingat.”


“Ah, aku mengerti jangan terlalu keras, aku kan benci matematika lagipula kenapa


kakak rewel soal parfumku? Ini kan parfum buatanku sendiri.”


“Haah,lagi-lagi kau menghayal soal parfum buatanmu.”


“Aku buat sendiri kok dan aku serius,” ujar Anzu mengerucutkan bibirnya sebal karena


sang kakak tidak percaya untungnya dia tidak tau rahasia terbesarnya.


“Baiklah, jangan marah nanti kutraktir crepe.”


Mitsunari meninggalkan Anzu yang menggerutu sendiri, tersenyum tipis menganggap ucapan


sedikit keras tadi hanyalah candaan kemudian berlalu pergi menuju rak tempat


komik sejarah favoritnya untuk membaca cerita samurai yang selalu menarik


perhatiannya.


Ia sangat menyukai sejarah sejak kecil jadi terbiasa untuk membaca segala hal tentang


sejarah Jepang, novel tebal ataupun komik sejarah pasti akan selalu dibaca dan


tidak akan pernah dilewatkan sekalipun.


“Buku komik ini adaptasi dari novel---Judulnya Two Misundertand Sword?”


memutuskan pergi namun baru lima langkah ia sibuk mencari ponsel di kantong,


tidak sengaja ia menabrak orang yang berjalan dari samping yang mengaduh


kesakitan karena bokongnya terbentur lantai dan menjatuhkan buku bawaannya.


“Aduhh, sakit,” rintih perempuan itu lalu mendongakkan kepala untuk melihat pelaku yang


tidak sengaja menabraknya.


Mata mereka berdua bertatapan tanpa sengaja, setelah sadar siapa yang ditabrak


perempuan itu langsung beranjak berdiri lalu membungkukkan badan.


“Kak Ueno!!”


“Hai, apa kabar---Oh, Kurazono kau terluka!”


Mitsunari Ueno pemilik dari kafe tempat Emi bekerja, orang yang berdiri di hadapan Emi


lalu memberi rentetan pertanyaan karena dirinya bersalah menabrak Emi


disebabkan ia tidak fokus.


Ueno mengulurkan tangannya, Emi menyambut tangan Ueno lalu ia membantu Emi bangun


saat itu juga. “Mm, kenapa diam saja, apa kau merasa sakit?” tanya Mitsunari


menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, menunggu jawaban dari Emi.


Emi menjawab dengan gelengan. “Tidak, tenang aja Kak lalu ponsel kakak bergetar


terus. Apa tidak sebaiknya dijawab dulu?”


Mitsunari mengambil ponsel di kantong yang bergetar lalu menggeser layar dan menjawab


panggilan. “Kak masih lama gak, uuh bosan nih.”


“Bentar ya, aku masih ngobrol dengan karyawanku. Paling lima atau sepuluh menit paling


lama. Sudah dulu.”


Mitsunari memutuskan panggilan sepihak sebelum Anzu mengomel panjang lebar. Emi


memiringkan kepala menatap Mitsunari sekilas sebelum beralih ke komik miliknya

__ADS_1


yang tadi terjatuh lalu memungutnya.


Setelah Mitsunari mematikan ponsel dengan cepat membantu Emi merapikan buku bawannya. “Maaf


ya gara-gara aku komik milikmu terjatuh, tunggu komik ini kan samurai X yang edisi lama. Ternyata Kurazono masih suka ini ya, jarang lho cewek suka ini,” ujar Mitsunari ceria menunjuk komik yang dibawa.


“Baru-baru ini adik kelasku baru belajar sejarah dan tergila-gila sama samurai perempuan


Tomoe Gozen, karena kemampuannya yang hebat, dan setelah itu aku diajak nonton berbagai film samurai, sejak saat itu aku jadi suka samurai, bisa dibilang aku fans Masamune Date, sekarang malah beralih ke novel samurai ini,” jelas Emi lumayan panjang lebar tanpa disadari.


Mitsunari diam sesaat lalu terkekeh membuat Emi bingung saat itu juga, ia berpikir apa


laki-laki di depannya yang akan menjadi bosnya menganggap dia bercerita lucu?


“Ah, tidak kok. Aku tidak menertawakanmu, ceritamu agak menarik aja. Kau tertarik


begitu saja karena ketularan adik kelasmu gitu kan, haha,” ujar Mitsunari


tersenyum tipis menatap Emi.


Emi yang mendengar itu, tersenyum lega karena ia pikir ditertawakan olehnya, saat


ia mengambil satu buku yang masih tersisa di lantai. Emi yang ceroboh tidak


sengaja menabrak rak buku berisi novel yang kebetulan di belakangnya, alhasil


satu novel berat jatuh di atas kepalanya dan satunya lagi jatuh dan menggores


jari.


“Ya ampun, bagaimana ini? Novelnya jadi jatuh mengenai kepalamu, terus novelnya


jadi menggores jarimu juga kan. Sebaiknya kita keluar dulu dari sini, kalau gak


salah ada toko obat tidak jauh dari sini. Ayo,” ajak Mitsunari sambil


mengeluarkan saputangan biru miliknya yang langsung dililitkan di jari telunjuk


Emi mengeluarkan darah kemudian spontan mengenggam tangan.


Emi berjalan ditarik ragu kemudian berkata, “Tapi Kak, saputangan kakak jadi kotor


karena darah.”


“Sudah, tidak apa-apa kok. Bisa kucuci nanti, jangan dipikirkan.” Mitsunari menggengam


erat tangan Emi seraya menuruni eskalator menuju lantai satu tempat toko


menjual obat.


Perasaan hangat mulai menjalar ke seluruh tangan Emi yang digenggam, sesaat ada sesuatu


panas menyengat tangannya, hampir saja dilepaskan namun tidak jadi saat Mitsunari menoleh ke belakang, menanyakan keadaannya.


“Lho, ada apa Kurazono? Wajahmu pucat, sakit sekali ya? Tunggu ya setelah turun, kita


belok terus jalan bentar sudah mau sampai kok.”


Emi pura-pura tersenyum sebagai pengalih perhatian, menghilangkan rasa cemas


Mitsunari sesaat agar tidak menimbulkan kecurigaan. “Tidak usah buru-buru Kak


Ueno, kan cuma luka kecil jadi terimakasih telah mengantarkanku ya,” ujar Emi


menggengam erat tangan Ueno seraya menatap tangannya.


Tatapan Mitsunari bertemu dengan bola mata scarlet milik Emi yang bersinar terang,


membuat sesuatu perasaan lega berdesir dalam dirinya. “Baiklah, lagipula tidak


terlalu jauh kok. Toko obat yang disana Kurazono lihat kan?”


Emi mengangguk melihat arah yang dituju. “Nah, sesuai permintaanmu, kita jalan pelan-pelan ya, sekalian menghirup angin bertiup dari arah barat taman,” tutup Mitsunari dengan senyum khasnya. Menatap ke arah taman terbuka yang berada di


sampingnya.


Emi mengikuti arah pandangan Mitsunari kemudian angin serasa menerpa dirinya karena


lagi-lagi Mitsunari sudah semangat menarik tangannya. Setelah berjalan melewati


beberapa toko di mal akhirnya mereka sampai di depan toko obat.


“Tunggu disini, jangan kemana-mana. Jika aku sampai tidak menemukan Kurazono aku tidak


akan mengajarimu secara rahasia membuat latte art.”


Setelah mengucapkan itu ia langsung masuk ke dalam toko. Berbincang dengan pegawai yang


bertugas, Mitsunari mendapatkan apa yang didapat ia langsung membayarnya dan


langsung keluar.


Emi menunggu duduk di depan toko sambil menunggu langsung berdiri saat bahunya


ditepuk oleh Mitsunari. “Kak Mitsunari? Aku sampai kaget, kenapa gak lewat


depan aja, bentar banget. Aku kira bakal lama.”


“Kenapa Kurazono kira lama? Beli plester sama obat merah aja kok. Nih,” ujar Mitsunari

__ADS_1


menunjukkan dua benda tersebut lalu memberi tanda agar Emi memberikan tangannya


untuk diobati.


__ADS_2