
Sekarang
Yoshiaki berada di masa depan, melewati dua ratus tahun setelah kejadian yang
artinya Yoshi melompati waktu sesuai arahan dari Ageha sang Kikai
teikyo-sha
****
Beberapa
waktu yang lalu....
“Waktu
adalah segalanya, semua kejadian yang sudah terjadi biarkan berlalu. Hapus
penyesalan, kepedihan, amarahmu lalu sekarang aku memberikan kesempatan menarik.
Kau bisa menolaknya jika mau, tapi untukmu akan kuberikan sebuah penawaran
bagaimana?” ujar Ageha kemudian mengulurkan tangan pada Yoshi yang hanya
memandang uluran tangan darinya.
Yoshiaki
menatap dengan tatapan kosong, ia tidak tau lagi. Yang dipikirkan sekarang
adalah cara menebus dosanya. Apapun akan dilakukan.
“Baiklah,
aku akan memberikan sebuah jam waktu dan kupu-kupu biru ini.” Ageha tersenyum
sambil mengeluarkan kedua benda dari tangannya.
'Jam?
Kupu-kupu? Ia penasaran untuk apa kedua benda itu.'Batin Yoshiaki.
“Sepertinya
kau bingung, akan kujelaskan. Jam waktu ini berfungsi sebagai penanda awal dan
berakhirnya waktu yang kau miliki lalu kupu-kupu sebagai pemandu untuk
menemukan reinkarnasi dia, tetapi akan ada efek sampingnya, jika dia malah
menyukaimu apalagi memilih mengingatmu maka kau akan gagal menyelamatkannya,
setelah itu kupu-kupunya akan menghilang dan kesempatan akan berakhir karena
keberadaanmu bisa merubah masa depan."
“Kesempatan....
berapa kali yang aku punya?” ujar Yoshi dengan sedikit ragu.
“Sepuluh,
hanya sepuluh saja. Gunakan dengan baik-baik karena aku tidak akan memberikan
kedua kalinya,” balas Ageha sembari menunggu jawaban Yoshiaki.
“Hah,
baiklah. Aku akan mengikuti sesuai saran Anda.”
“Kenapa
jawabanmu tidak senang begitu, apa kau ragu?” Ageha tersenyum.
“Tidak,
aku tidak akan ragu dalam langkahku apalagi dalam mengambil keputusan. Satu
lagi, ada yang mengganjal pikiranku. Bukannya tadi anda bilang, kalau dia
mengingatku dan aku gagal menyelamatkannya, maka semua akan berakhir.”
“Ah,
aku belum bilang ya. Jadi, aku akan mereinkarnasi teman perempuanmu tapi dengan
syarat, mencari dan menyakinkan anak yang akan menjadi kunci, selamatkan dia
dari maut.”
“Maut
apa? Apa hal buruk akan terjadi?”
“Benar,
kecelakaan akan merenggut jiwanya sebelum waktu yang ditentukan,” ujar Ageha
serius.
“Hanya
menyelamatkannya, bukan? Harusnya itu tidak sulit,” balas Yoshi cepat.
“Ya,
jika kau sanggup pasti tidak akan sulit bagimu. Lagipula, ada satu hal yang
harus kuberitau jika berhasil aku akan meminta imbalan padamu bagaimana?” Ageha
menjawab dengan senyum.
“Aku rela
jika harus menukarnya dengan nyawaku sekali pun.”
“Wah,
kau pria yang baik ya. Demi temanmu kau rela melakukan apapun,” puji Ageha
sembari tersenyum kepada Yoshiaki.
“Mana
mungkin? Toh, sekarang aku tidak lebih dari pembunuh.”
“Penilaianku
tidak pernah salah. Jadi apa kau mau mulai sekarang?”
“Boleh
menanyakan satu hal lagi? Jinei lalu Meira bisa tolong anda reinkarnasikan mereka
juga.”
“Bagaimana
ya? Harus ada bayaran lebih, bukan?” Ageha tampak bingung mempertimbangkan.
“Tidak
masalah.” Yoshiaki menatap Ageha jika ia lebih jujur kepada temannya ini semua
bisa dicegah.
“Selamatkan
anak perempuan itu dari kecelakaan tapi jangan gegabah, jangan biarkan dia
mencintaimu karena aku tidak tau apa yang akan terjadi dan kau tidak boleh
sampai jatuh cinta serta tidak boleh menggunakan kontak fisik.”
“Kenapa?” tanya Yoshiaki menatap ke
arah Ageha sembari menunggu jawaban.
“Tentu
saja kau akan menghilang hanya itu. Hati-hati Arakawa.”
“Baiklah,
aku mengerti.”
__ADS_1
“Kalau
begitu sekarang adalah waktunya, aku akan membuka pintu portal untukmu.” Ageha mengubah baju Yoshi dengan sihirnya sebelum
pergi. “Sesampainya disana adalah masa depan dan berbeda dengan saat ini.
Semoga kau bisa beradaptasi dengan waktu dua ratus tahun yang mendatang. Semoga
kebaikan selalu menyertai.”
Pintu
portal mulai terbuka, lorong hitam berwarna-warni yang disertai kupu-kupu biru
yang menerangi jalan setapak dilalui Yoshi, setelah membungkukkkan badan ia
memasuki portal tersebut, sesaat kemudian pintu portal mulai menutup seakan
melahap Yoshiaki di dalam pusaran portal yang akan membawa ke masa depan.
****
Tahun
2016
Yoshiaki
melamunkan tentang percakapan dengannya, hanya bisa menghela napas. Saat
mendongakkan kepala, kupu-kupu biru tersebut terbang entah kemana tanpa
disadari.
Yoshiaki
yang bingung menemukan jejak berupa debu halus berwarna biru berjatuhan di
depannya, walaupun hari menunjukkan masih pagi tetapi jalan yang tidak terlalu
ramai membuatnya mudah mengikuti jejak tersebut.
Jejak
biru tersebut, mengarah ke tangga masuk ke subway. Lorong luas yang
ramai dipadati oleh orang-orang yang berlalu lalang, membuat Yoshiaki bingung
dengan lautan keramaian.
Setelah
melewati keramaian, Yoshiaki akhirnya bisa keluar dan menghirup napas sesaat.
Ia terus berjalan, tanpa disadari di ujung jalan masuk menuju pintu masuk
kereta, ia menemukan kupu-kupu biru tersebut, hinggap di atas pundak seorang
perempuan yang kira-kira umurnya sebaya dengannya.
Yoshi
memasuki kereta tersebut setelah mengganti pakaiannya, ia mengenakan jaket
merah dengan garis hitam di bagian lengan sebelah kiri dan kanan lalu celana
jeans berwarna hitam keabu-abuan. Yoshi yang sedikit mencolok dengan gaya
rambut Panjang berantakan miliknya serta model pakaian serta penampilannya yang
cukup menawan membuat siswi-siswi di kereta tersebut menatapnya dengan kagum.
Bingung
karena menjadi tatapan setiap gadis termasuk siswa yang menatap dengan tatapan
yang sulit diartikan.
Heran,
Yoshi menghela napas kemudian mencuri pandang ke arah anak perempuan sedang
duduk di depannya sambil mendengarkan headphone lalu bersenandung kecil yang
Mendadak
kereta sedikit berguncang karena kesalahan teknis, membuat Yoshi sedang berdiri
tiba-tiba kehilangan keseimbangan hampir menubruk perempuan di depannya.
Tangannya
kirinya bertumpu pada dinding kereta sebelah kiri perempuan berada sedangkan
tangan kanannya bergantungan pada pegangan kereta.
Masih
bingung dengan situasinya sekarang ia tersenyum manis. “Maaf, untuk barusan kau
pasti terkejut karena guncangan tadi.” Yoshiaki menatap perempuan yang sedang
menatapnya juga. Bola matanya berwarna merah membuat Yoshiaki terpaku dan
tersadar setelah kupu-kupu itu berpindah di tas.
Yoshi
segera merogoh jam pasir yang ada di tas dan melihat bergulir dengan cepat
hingga setengah padahal rasanya baru saja ia bertemu dengan dia dan kejadian
barusan terasa bentar. Tanda bahwa waktu mulai berkurang sedikit demi sedikit.
“Tidak
apa-apa,” ujar perempuan itu datar melepaskan headsett, hanya
menatap Yoshiaki sekilas lalu melanjutkan kegiatan membaca, tidak menghiraukan
keberadaannya sama sekali..
Yoshi
mengernyitkan dahi bingung, berpikir kenapa orang di masa depan sikapnya tidak
sopan? Lihat sikap tidak sopannya jika perempuan ini hidup di era meiji,
dipastikan kepala nya dipenggal karena dianggap tidak sopan tau! Lalu pakaian
aneh apa yang dipakainya, aku belum pernah melihat baju seperti itu, apa ini
tren di masa depan? Banyak perempuan memakai baju yang sama dengannya dan lagi aku
penasaran dengan maut yang akan merenggut nyawa perempuan ini. Berarti aku
harus melindungi nya ya?
Penasaran
dengan sampul buku yang tertutup oleh tangan milik perempuan itu, Yoshi
akhirnya bertanya, “Hei, boleh aku bertanya apa yang sedang kau baca itu?”
“Kenapa
sok akrab bertanya seperti itu sih,” jawab perempuan santai dengan nada sopan
kepada Yoshiaki yang baru dikenalnya.
'Sikap
ketusnya mengingatkanku pada seseorang yang kukenal tapi siapa ya?’
Perempuan
itu memutar bola malas, menatap Yoshiaki dengan tetap menggunakan headsett.
“Kenapa
malah diam, sedang memikirkan apa? Lagipula tidak sopan menatap seperti itu
seakan sudah saling kenal saja,” tambah perempuan sambil fokus membaca
novelnya.
__ADS_1
"Haha
ya, aku penasaran dengan buku yang sedang kau baca karena judulnya tertutup
oleh jarimu."
Perempuan
itu terdiam mendengar ucapan Yoshiaki, yang dibegitukan hanya tersenyum.
“Kalau
seperti itu, lebih baik berkenalan dulu. Perkenalkan namaku Yoshiaki, biasanya
dipanggil Yoshi biar lebih mudah salam kenal dan boleh kutahu siapa namamu?”
tanya Yoshi sambil mengulurkan tangan.
Perempuan
itu menatap Yoshi yang masih setia mengulurkan tangan. “Apa anda tidak ada marga?
Kenapa hanya nama saja?”
Seketika
Yoshi menurunkan uluran tangan begitu mengingat bahwa kontak fisik dilarang.
“Entah,
yang aku tau itu adalah namaku,” ujar Yoshi jujur karena apa ia tiba-tiba
melupakan marganya dan mengingat namanya.
“Ah,
begitu. Namaku adalah Emi Kurazono,” balas perempuan yang bernama Emi tersebut,
tatapan hangat terlontar sekilas. Setelah itu tatapannya berubah datar kembali.
Walaupun ia sedikit cuek tapi ia berusaha menyambut uluran tangan Yoshi,
anehnya Yoshi malah menurunkan tangan seakan enggan bersalaman dengan Emi. Ia
berusaha tidak mempedulikan Yoshi yang menurutnya aneh.
“Yoshi-san.”
“Ya?
Ada apa?”
“Tidak,
hanya mencoba memanggil saja,” ujar Emi tetap fokus membaca novelnya.
"Tolong, singkirkan tangan Yoshi-san agak menganggu."
Yoshi
yang menyadari tangannya masih bertumpu langsung memindahkan.
“Maaf,
aku gak sadar,” ujar Yoshi cengengesan membuat semua siswi penumpang kereta
langsung terpesona.
“Two Misunderstand
Sword, judul buku yang Yoshi-san tadi tanya kan,” Emi menjawab
pertanyaan Yoshi untuk pertama kali.
“Jadi
itu judulnya. Bisa ceritakan tentang apa isinya, Kurazono-san?” tanya Yoshi
sedikit penasaran dengan buku yang Emi baca serius.
Emi
menghela napas kemudian memulai ceritanya, “Sebenarnya aku baru baca setengahnya.
Latar dari cerita ini saat zaman Meiji, saat era samurai masih banyak di saat
itu. Semua berjalan lancar, para samurai tidak pernah memberontak dan hidup
sesuai jalannya. Selang beberapa tahun kemudian, muncul dua samurai terkuat
yang berhasil menguasai teknik terkuat dan menjadi yang terkuat dari
samurai-samurai di jaman itu.
“Sampai
mereka menemukan anak perempuan ahli panah yang terlantar tanpa orang tua dan
mereka akhirnya merawat, dan berlatih pedang hingga anak perempuan itu tumbuh
dewasa.”
“Terus,
apa kelanjutannya?” Yoshi menaikkan alisnya. Jujur dia sangat penasaran dengan
cerita itu karena cover dua samurai saling memunggungi satu sama lain, terlebih
kisah itu sangat mirip dengan kisahnya.
“Entah,
aku tidak tau kelanjutannya karena baru baca hal dua puluh dua.”
“Berarti
baru setengah baca, aku menantikan lanjutan ceritanya,” ujar Yoshi menatap Emi
masih setia dengan headsettnya.
“Hmm,
ya nanti.” Emi tetap fokus membaca dengan ekspresi datarnya. Sesuatu melintas
di benaknya, “Ngomong-ngomong, apa kita pernah bertemu sebelumnya? Kenapa Anda
akrab sekali denganku?" tanya Emi mendongakkan kepala menatap Yoshi.
Tatapan
mata Yoshi bertemu dengan Emi, bola mata merah beradu pandang dengan bola mata
hitam milik Yoshi yang menunjukkan keseriusan. Waktu seakan melambat, suasana
ramai kereta seolah lenyap, udara dingin di pagi itu tidak terasa rasanya udara
berjalan seakan bergerak perlahan.
Tiba-tiba
siswi-siswi yang sedang berdiri sambil mengobrol, tidak sengaja menabrak
punggung Yoshi, untung saja sempat mengendalikan keseimbangan sehingga ia tidak
terjatuh ke belakang namun ia malah terdorong ke depan, dekat dengan wajah Emi.
Lagi,
situasi tadi terjadi lagi, jarak di antara mereka hanya tinggal beberapa senti,
hembusan napas yang semakin terasa satu sama lain lalu tatapan mereka beradu
pandang. Tatapan Yoshi seolah terhipnotis oleh warna scarlet milik Emi
begitupula Emi yang diam terpaku pada bola mata Yoshi yang kelam.
Foot
note:
*San= untuk mengekspresikan kesopanan yang diletakkan di belakang nama orang.
__ADS_1