Betrayal Sword

Betrayal Sword
ANOTHER DIMENSION


__ADS_3

Kosong,


gelap, dingin dan tanpa apa-apa, itulah tempat Yoshi berada sekarang, sesaat


setelah membuka matanya. Menyesuaikan cahaya yang masuk ke kornea matanya,


membuat Yoshi harus mengedipkan mata.


Tidak


terlihat jalan ataupun pijakan, di depannya hanya hitam, mencoba berjalan lurus


mengandalkan insting namun ia menemukan hal aneh setiap kali melangkahkan


kakinya.


Pijakannya


tidak terlihat ataupun terasa tapi ia merasa seperti berjalan biasa. Insting


terus menuntun Yoshi agar berjalan mencari jalan keluar dan benar setelah


berjalan hampir tiga menit akhirnya ia menemukan pintu yang ada di ujung jalan.


Sebelum


mencapai pintu terdapat dua simbol yang melayang di hadapannya yaitu jam pasir


dan jam analog berdampingan. Yoshi menatap kedua benda itu lalu berpikir.


Jam


pasir? Jam analog? Tunggu kenapa jam analognya berbeda seperti menunjukkan


sesuatu, jarum panjangnya berada di angka tujuh dan yang kecil berada di angka


tiga. Ia berpikir


keras dan mengingat sesuatu, tapi ia merasa ada yang aneh yang menghantui sejak


berada disini.


Tanpa


berpikir panjang lagi, Yoshi memasuki pintu dengan jam analog walaupun ragu.


Suara pintu yang terdorong menampakkan dinding berwarna biru muda dicampur


dengan warna putih yang menyambutnya.


“Wah,


ada pengunjung lewat! Kukira tidak akan ada orang, sudah berapa lama ya??” ucap


perempuan duduk di kursi sambil menghitung dengan jari lentiknya.


Yoshi


bingung dengan situasi di hadapannya, berjalan maju mendekati gadis berkuncir


dua yang berada di depannya.


“Halo?”


tanya Yoshi ragu sekaligus heran karena wajahnya sangat familiar namun pemandangan


di ruangan putih sedikit kebiruan.


Sepertinya


aku tersasar dan salah masuk ruangan deh, lagipula wajahnya tak asing. Apa


kucoba tanya jalan keluarnya?


“Ternyata


kakak tersasar ya, jika ingin menemui Ageha-sama setelah tiba disini


mungkin kakak harus ke ruangan sebelah. Untuk sementara mengobrol denganku


saja, tiga menit cukup kok.”


“Dugaan


kakak benar, aku memang mirip dia. Emm, kakakku,” tambahnya tersenyum manis. “Silahkan


duduk kak, sebelumnya perkenalkan namaku Kikiori, panggil aku Iori.”


Yoshi


membalas dengan senyuman lalu duduk diatas kursi bundar yang baru disediakan.


Ia menelusuri ruangan bernuansa putih biru dilengkapi penuh dengan berbagai rak


disisi kanan dan kiri diisi bermacam bentuk jam dipajang.


“Kalian


berdua sama ya,” gumam Yoshi sembari menatap Iori


Iori


menautkan alis bingung. "Sama?"


“Maksudku


kalian berdua mirip satu sama lain, sama-sama bisa menebak pikiran sebelum aku


mengatakannya, apa kau mungkin mempunyai profesi yang sama dengan Ageha?”


Entah


kenapa Yoshi tertarik untuk menanyakannya. Sejak awal bertemu ia selalu


penasaran terhadap ini.


“Humm,


tidak. Kami memang mirip tapi profesi kami berbeda lho. Ageha-sama sebagai pemberi kesempatan sedangkan aku pengatur waktu, walaupun begitu kakak


bukan bagianku. Kakak mempunyai masa lalu yang kelam biarpun bukan pendosa tapi


aku tau kakak baik dan bisa merubah dengan itu semua.”


“Kakak


tau, sebenarnya tidak ada kesempatan kedua karena kesempatan hanya ada sekali


walaupun ada itu adalah cara memperbaiki kesalahan, waktu yang akan menentukan,

__ADS_1


apakah kakak pantas mendapatkannya atau tidak,” tutur Iori serius lalu menghela


napas.


Yoshi


merasa diceramahi hanya diam, merenung kesalahannya. Jika saja dia jujur


mungkin saja semua kejadian itu tidak akan terjadi, mereka bertiga masih bisa


bercanda, tumbuh bersama hingga sepuluh tahun lagi atau membuka dojo, yang ada


hanyalah kebahagian.


“Tidak


masalah, masa lalu memang menyakitkan sekarang kakak harus membuangnya untuk


melangkah ke depan.”


“Haha,


begitu terimakasih Iori. Walaupun ini hanya kata sederhana tetapi menyadarkanku


bahwa aku harus terus melangkah maju,” ujar Yoshi yakin menatap iris biru milik


Iori.


“Mungkin


sudah waktunya, sepertinya tiga menit cukup untuk mengobrol. Terimakasih kakak,


maaf menahan kak sebagai imbalannya ini terimalah salah satu cinderamata antik


milikku,” ujar Iori menyerahkan benda itu dengan kedua tangannya.


Yoshi


yang bingung menerima dengan ragu. “Apa ini?”


“Ini


salah satu dari koleksiku namanya wish archer. Aku


berikan khusus untuk kakak! Siapa tau membutuhkannya.”


“Makasih


banyak. Aku merepotkan sampai diberikan cinderamata ini tapi aku penasaran buat


apa ya?” tanya Yoshi menatap wish archer tersebut.


Bentuk wish


archer pemberian Iori sedikit unik dan berbeda, menyerupai botol kecil


dengan tutup gabus diatasnya lalu di dalamnya terdapat mini elf archer


berukuran lima cm yang melayang disertai sayap kecil berwarna biru.


“Itu,


wish archer adalah item langka sesuai namanya dapat mengabulkan keinginan bisa


digunakan sekali dan akan hilang karena anak panah archer hanya satu dan


menembak arah tepat. Jadi hati-hati kak, jika salah maka kakak akan kehilangan


“Hmm,


baiklah aku akan menyimpan dan mempergunakan dengan baik. Terimakasih atas


perhatian Iori,” ujar Yoshi dengan senyum mengembang


“Sama-sama,”


ucap Iori senang.


Tanpa


sadar wajah Iori sedikit merona mendengar ucapan dan senyuman Yoshi. “Jalan


keluarnya ada di sebelah sana,” Iori menunjuk ke arah yang salah namun Yoshi


mengangguk dan berjalan ke arah sebaliknya.


“Waa!!!”


Yoshi langsung berteriak ketika kakinya tidak memijak malah terjerumus masuk ke


dalam lubang transparan.


Iori


yang merasa bersalah bingung kemudian menepuk jidatnya. “Astaga! Aku salah


beritahu jalan.”


****


Yoshi


terjatuh di lubang hanya bisa berteriak dan melihat sekelilingnya yang dipenuhi


jam berputar. Setelah tiga puluh detik akhirnya ia sampai di titik awal lagi,


tempat tadi tiba berada di antara dua pintu. Pintu dengan jam simbol jam pasir


dan jam analog.


Tidak


usah berpikir lagi Yoshi langsung memasuki ruangan dengan jam pasir karena


sudah mengetahui ruangan sebelah adalah milik Iori. Segera ia mendorong pintu


yang kokoh yang terasa berat lalu sebuah cahaya silau berwarna kuning menerpa


langsung.


“Selamat


datang Arakawa, senang bisa berjumpa denganmu. Akhirnya kau sampai disini juga,”


sambut perempuan pirang berambut panjang yang tak lain adalah Ageha itu


sendiri.


Arakawa

__ADS_1


merasa pusing hanya mengangguk, Ageha yang merasa kasihan menyediakan kursi dan


meja disertai aroma wewangian Chamomile agar Yoshi rileks.


“Terimakasih


atas sambutannya,” ujar Yoshi menarik kursi dan duduk, menghirup aroma


menyerupai lavender dan dandelion. Wangi yang lembut, pikir Yoshi.


“Sama-sama.


Tadi kau habis bertemu Iori kan?”


“Sudah,


saat aku salah ruangan dan sempat mengobrol sebentar,” balas Yoshi.


“Kalau


begitu apa dia memberikan sesuatu padamu?”


“Ya,


aku mendapatkan wish archer darinya.”


Kikai


menarik sudut bibirnya dan berkata, “Iori seperti itu sifatnya, suka memberikan


barang kepada pengunjung yang disukainya. Aku juga menyadari jika tadi dia


sempat ceroboh memberikan arah yang salah kepada Arakawa,” ujar Kikai terkekeh


sembari meminum teh. Yoshi terbawa suasana ikut terkekeh mengingat tadi


ekspresi Iori yang menurutnya sangat imut.


“Dia


menyukaimu,” tambah Ageha sambil menarik napas.


“Ehh?”


“Itu


jarang terjadi biasanya dia akan cuek dan acuh, hari ini sedikit berbeda bisa


saja karena kedatanganmu di tempatnya.” Ageha menopang dagu sembari menatap


Yoshi serius. “Dia senang akhirnya ada teman bicara sekian lama, sepertinya bagus


untuknya.”


“Begitu


ya.”


“Daripada


itu, bagaimana kita langsung ke inti saja? Setelah kulihat ternyata kontak


fisik dengan orang lain malah membuat Arakawa cepat menghilang selain itu aku


akan mengubah semuanya biar mudah untukmu, kau setuju?”


“Baiklah,


aku setuju lalu apa yang akan diubah?”


Kikai


menautkan kedua jarinya lalu mengeluarkan dua benda yaitu kupu-kupu biru dan


jam pasir dari tas Yoshi. “Aku tidak usah jelaskan lagi, kupikir Arakawa sudah


mengetahui fungsi dari dua benda ini bukan?”


“Aku


terpikir sebuah solusi, kesepakatan diubah. Kau boleh menyentuh, atau disentuh


orang lain. Sentuhan bisa saja berpengaruh kepada ingatan mereka, aku akan


mengukir tanda kupu-kupu di botol sebagai penanda kesempatan yang Arakawa


miliki sekarang, berhubung kau mempunyai sembilan kesempatan yang tersisa,


sekarang sisanya kau lanjutkan sendiri.” Pembicaraan ditutup setelah Ageha


merasa sudah menyampaikan yang diperlukan.


“Berarti


tidak masalah kontak dengan orang di masa depan kan? Tapi hanya dengan Kurazono


saja yang tak bisa.”


Ageha


mengangguk sebagai jawaban lalu Yoshi berpikir sejenak dan mulai berbicara,”


Terimakasih banyak Ageha. Aku tidak tau harus bagaimana lagi karena


sudah mempermudah tugasku. Aku sempat berpikir imbalan apa yang harus kuberikan,”


ujar Yoshi tertawa pelan.


“Tidak


usah sungkan. Sekarang aku hanya akan melihat bagaimana tugas dari takdir baru


yang kuberikan akan membawa akhir ceritamu, apakah berhasil atau tidak.”


Yoshi


sempat meneguk ludah karena hampir saja goyah namun tekadnya untuk


menyelesaikan apa yang ia mulai.


“Sekarang


kau akan kembali ke tempat terakhir berada, semoga sukses,” ujar Ageha lalu


mengulurkan tangannya membentuk lingkaran mantra dan setelah itu Yoshi perlahan


menghilang dari hadapan Kikai dengan tersenyum.


Takdir memang

__ADS_1


bisa dipilih dan diulang namun yang menentukan


akhirnya adalah dirimu sendiri.


__ADS_2