
Kosong,
gelap, dingin dan tanpa apa-apa, itulah tempat Yoshi berada sekarang, sesaat
setelah membuka matanya. Menyesuaikan cahaya yang masuk ke kornea matanya,
membuat Yoshi harus mengedipkan mata.
Tidak
terlihat jalan ataupun pijakan, di depannya hanya hitam, mencoba berjalan lurus
mengandalkan insting namun ia menemukan hal aneh setiap kali melangkahkan
kakinya.
Pijakannya
tidak terlihat ataupun terasa tapi ia merasa seperti berjalan biasa. Insting
terus menuntun Yoshi agar berjalan mencari jalan keluar dan benar setelah
berjalan hampir tiga menit akhirnya ia menemukan pintu yang ada di ujung jalan.
Sebelum
mencapai pintu terdapat dua simbol yang melayang di hadapannya yaitu jam pasir
dan jam analog berdampingan. Yoshi menatap kedua benda itu lalu berpikir.
Jam
pasir? Jam analog? Tunggu kenapa jam analognya berbeda seperti menunjukkan
sesuatu, jarum panjangnya berada di angka tujuh dan yang kecil berada di angka
tiga. Ia berpikir
keras dan mengingat sesuatu, tapi ia merasa ada yang aneh yang menghantui sejak
berada disini.
Tanpa
berpikir panjang lagi, Yoshi memasuki pintu dengan jam analog walaupun ragu.
Suara pintu yang terdorong menampakkan dinding berwarna biru muda dicampur
dengan warna putih yang menyambutnya.
“Wah,
ada pengunjung lewat! Kukira tidak akan ada orang, sudah berapa lama ya??” ucap
perempuan duduk di kursi sambil menghitung dengan jari lentiknya.
Yoshi
bingung dengan situasi di hadapannya, berjalan maju mendekati gadis berkuncir
dua yang berada di depannya.
“Halo?”
tanya Yoshi ragu sekaligus heran karena wajahnya sangat familiar namun pemandangan
di ruangan putih sedikit kebiruan.
Sepertinya
aku tersasar dan salah masuk ruangan deh, lagipula wajahnya tak asing. Apa
kucoba tanya jalan keluarnya?
“Ternyata
kakak tersasar ya, jika ingin menemui Ageha-sama setelah tiba disini
mungkin kakak harus ke ruangan sebelah. Untuk sementara mengobrol denganku
saja, tiga menit cukup kok.”
“Dugaan
kakak benar, aku memang mirip dia. Emm, kakakku,” tambahnya tersenyum manis. “Silahkan
duduk kak, sebelumnya perkenalkan namaku Kikiori, panggil aku Iori.”
Yoshi
membalas dengan senyuman lalu duduk diatas kursi bundar yang baru disediakan.
Ia menelusuri ruangan bernuansa putih biru dilengkapi penuh dengan berbagai rak
disisi kanan dan kiri diisi bermacam bentuk jam dipajang.
“Kalian
berdua sama ya,” gumam Yoshi sembari menatap Iori
Iori
menautkan alis bingung. "Sama?"
“Maksudku
kalian berdua mirip satu sama lain, sama-sama bisa menebak pikiran sebelum aku
mengatakannya, apa kau mungkin mempunyai profesi yang sama dengan Ageha?”
Entah
kenapa Yoshi tertarik untuk menanyakannya. Sejak awal bertemu ia selalu
penasaran terhadap ini.
“Humm,
tidak. Kami memang mirip tapi profesi kami berbeda lho. Ageha-sama sebagai pemberi kesempatan sedangkan aku pengatur waktu, walaupun begitu kakak
bukan bagianku. Kakak mempunyai masa lalu yang kelam biarpun bukan pendosa tapi
aku tau kakak baik dan bisa merubah dengan itu semua.”
“Kakak
tau, sebenarnya tidak ada kesempatan kedua karena kesempatan hanya ada sekali
walaupun ada itu adalah cara memperbaiki kesalahan, waktu yang akan menentukan,
__ADS_1
apakah kakak pantas mendapatkannya atau tidak,” tutur Iori serius lalu menghela
napas.
Yoshi
merasa diceramahi hanya diam, merenung kesalahannya. Jika saja dia jujur
mungkin saja semua kejadian itu tidak akan terjadi, mereka bertiga masih bisa
bercanda, tumbuh bersama hingga sepuluh tahun lagi atau membuka dojo, yang ada
hanyalah kebahagian.
“Tidak
masalah, masa lalu memang menyakitkan sekarang kakak harus membuangnya untuk
melangkah ke depan.”
“Haha,
begitu terimakasih Iori. Walaupun ini hanya kata sederhana tetapi menyadarkanku
bahwa aku harus terus melangkah maju,” ujar Yoshi yakin menatap iris biru milik
Iori.
“Mungkin
sudah waktunya, sepertinya tiga menit cukup untuk mengobrol. Terimakasih kakak,
maaf menahan kak sebagai imbalannya ini terimalah salah satu cinderamata antik
milikku,” ujar Iori menyerahkan benda itu dengan kedua tangannya.
Yoshi
yang bingung menerima dengan ragu. “Apa ini?”
“Ini
salah satu dari koleksiku namanya wish archer. Aku
berikan khusus untuk kakak! Siapa tau membutuhkannya.”
“Makasih
banyak. Aku merepotkan sampai diberikan cinderamata ini tapi aku penasaran buat
apa ya?” tanya Yoshi menatap wish archer tersebut.
Bentuk wish
archer pemberian Iori sedikit unik dan berbeda, menyerupai botol kecil
dengan tutup gabus diatasnya lalu di dalamnya terdapat mini elf archer
berukuran lima cm yang melayang disertai sayap kecil berwarna biru.
“Itu,
wish archer adalah item langka sesuai namanya dapat mengabulkan keinginan bisa
digunakan sekali dan akan hilang karena anak panah archer hanya satu dan
menembak arah tepat. Jadi hati-hati kak, jika salah maka kakak akan kehilangan
“Hmm,
baiklah aku akan menyimpan dan mempergunakan dengan baik. Terimakasih atas
perhatian Iori,” ujar Yoshi dengan senyum mengembang
“Sama-sama,”
ucap Iori senang.
Tanpa
sadar wajah Iori sedikit merona mendengar ucapan dan senyuman Yoshi. “Jalan
keluarnya ada di sebelah sana,” Iori menunjuk ke arah yang salah namun Yoshi
mengangguk dan berjalan ke arah sebaliknya.
“Waa!!!”
Yoshi langsung berteriak ketika kakinya tidak memijak malah terjerumus masuk ke
dalam lubang transparan.
Iori
yang merasa bersalah bingung kemudian menepuk jidatnya. “Astaga! Aku salah
beritahu jalan.”
****
Yoshi
terjatuh di lubang hanya bisa berteriak dan melihat sekelilingnya yang dipenuhi
jam berputar. Setelah tiga puluh detik akhirnya ia sampai di titik awal lagi,
tempat tadi tiba berada di antara dua pintu. Pintu dengan jam simbol jam pasir
dan jam analog.
Tidak
usah berpikir lagi Yoshi langsung memasuki ruangan dengan jam pasir karena
sudah mengetahui ruangan sebelah adalah milik Iori. Segera ia mendorong pintu
yang kokoh yang terasa berat lalu sebuah cahaya silau berwarna kuning menerpa
langsung.
“Selamat
datang Arakawa, senang bisa berjumpa denganmu. Akhirnya kau sampai disini juga,”
sambut perempuan pirang berambut panjang yang tak lain adalah Ageha itu
sendiri.
Arakawa
__ADS_1
merasa pusing hanya mengangguk, Ageha yang merasa kasihan menyediakan kursi dan
meja disertai aroma wewangian Chamomile agar Yoshi rileks.
“Terimakasih
atas sambutannya,” ujar Yoshi menarik kursi dan duduk, menghirup aroma
menyerupai lavender dan dandelion. Wangi yang lembut, pikir Yoshi.
“Sama-sama.
Tadi kau habis bertemu Iori kan?”
“Sudah,
saat aku salah ruangan dan sempat mengobrol sebentar,” balas Yoshi.
“Kalau
begitu apa dia memberikan sesuatu padamu?”
“Ya,
aku mendapatkan wish archer darinya.”
Kikai
menarik sudut bibirnya dan berkata, “Iori seperti itu sifatnya, suka memberikan
barang kepada pengunjung yang disukainya. Aku juga menyadari jika tadi dia
sempat ceroboh memberikan arah yang salah kepada Arakawa,” ujar Kikai terkekeh
sembari meminum teh. Yoshi terbawa suasana ikut terkekeh mengingat tadi
ekspresi Iori yang menurutnya sangat imut.
“Dia
menyukaimu,” tambah Ageha sambil menarik napas.
“Ehh?”
“Itu
jarang terjadi biasanya dia akan cuek dan acuh, hari ini sedikit berbeda bisa
saja karena kedatanganmu di tempatnya.” Ageha menopang dagu sembari menatap
Yoshi serius. “Dia senang akhirnya ada teman bicara sekian lama, sepertinya bagus
untuknya.”
“Begitu
ya.”
“Daripada
itu, bagaimana kita langsung ke inti saja? Setelah kulihat ternyata kontak
fisik dengan orang lain malah membuat Arakawa cepat menghilang selain itu aku
akan mengubah semuanya biar mudah untukmu, kau setuju?”
“Baiklah,
aku setuju lalu apa yang akan diubah?”
Kikai
menautkan kedua jarinya lalu mengeluarkan dua benda yaitu kupu-kupu biru dan
jam pasir dari tas Yoshi. “Aku tidak usah jelaskan lagi, kupikir Arakawa sudah
mengetahui fungsi dari dua benda ini bukan?”
“Aku
terpikir sebuah solusi, kesepakatan diubah. Kau boleh menyentuh, atau disentuh
orang lain. Sentuhan bisa saja berpengaruh kepada ingatan mereka, aku akan
mengukir tanda kupu-kupu di botol sebagai penanda kesempatan yang Arakawa
miliki sekarang, berhubung kau mempunyai sembilan kesempatan yang tersisa,
sekarang sisanya kau lanjutkan sendiri.” Pembicaraan ditutup setelah Ageha
merasa sudah menyampaikan yang diperlukan.
“Berarti
tidak masalah kontak dengan orang di masa depan kan? Tapi hanya dengan Kurazono
saja yang tak bisa.”
Ageha
mengangguk sebagai jawaban lalu Yoshi berpikir sejenak dan mulai berbicara,”
Terimakasih banyak Ageha. Aku tidak tau harus bagaimana lagi karena
sudah mempermudah tugasku. Aku sempat berpikir imbalan apa yang harus kuberikan,”
ujar Yoshi tertawa pelan.
“Tidak
usah sungkan. Sekarang aku hanya akan melihat bagaimana tugas dari takdir baru
yang kuberikan akan membawa akhir ceritamu, apakah berhasil atau tidak.”
Yoshi
sempat meneguk ludah karena hampir saja goyah namun tekadnya untuk
menyelesaikan apa yang ia mulai.
“Sekarang
kau akan kembali ke tempat terakhir berada, semoga sukses,” ujar Ageha lalu
mengulurkan tangannya membentuk lingkaran mantra dan setelah itu Yoshi perlahan
menghilang dari hadapan Kikai dengan tersenyum.
Takdir memang
__ADS_1
bisa dipilih dan diulang namun yang menentukan
akhirnya adalah dirimu sendiri.