
Sekarang
kita kembali ke Yoshi sedang terjebak di kereta, memilih duduk di kereta
menatap tas yang berisi jam pasir berada di dalam tasnya, pergerakannya pasir
tersebut berhenti di tengah-tengah.
Entah
apa yang menyebabkannya sehingga berhenti seperti itu, ia berpikir seraya
menatap jam kemudian kupu-kupu biru sedaritadi hinggap di bahunya berpindah
tempat terbang di atas LCD yang menunjukkan apa stasiun pemberhentian
selanjutnya, bertuliskan Osaka dengan waktu tertulis lima menit akan sampai di
rute itu.
Pandangan
Yoshi yang semula fokus terhadap papan, menjelajah bagian lain dari kereta.
Menelusuri mulai bagian gerbong cukup luas, kursi empuk nan hangat, tatakan
meja, terdapat lorong antara kamar kecil dan bagian gerbong lalu terdapat
berbagai fasilitas mewah dan kotak kecil dengan dua bulatan kecil menempel di
tembok.
Ia
beralih menatap kotak kecil lalu mulai meraba sisi kotak dan jarinya bergerak
menuju bagian tengah bulatan sontak Yoshi kaget lalu menjauhkan tangannya dari
sana.
'A-apaan
itu tadi, rasanya jariku seperti tersengat listrik. Kotak kecil itu berbahaya.' -Pikir Yoshi dalam hati seraya
mengusap jarinya.
Tidak
jauh dari tempat Yoshi duduk, beberapa anak perempuan memperhatikannya lalu
seorang perempuan berdiri menyodorkan kotak pengisi daya berwarna putih kepada
Yoshi lalu berkata, “Anu, kak butuh kabel pengisi daya? Kenapa memasukkan
tangan ke stop kontak?” tanya perempuan itu heran menatap Yoshi yang menatapnya
bingung.
Yoshi
membalas tatapan perempuan dengan senyum tipis yang langsung membuat siswi yang
duduk berteriak girang.
'Hahh?
Tadi dia bilang itu stop kontak? Mungkin dari sana listrik itu berasal,
ternyata banyak perbedaan dengan zamanku.Wah, ini menarik. Ternyata di masa depan sudah
banyak berkembang.'
Perempuan
itu bingung ditatap berusaha agar tidak salah tingkah karena teman-teman yang
duduk tidak jauh dari sana menyoraki mengira Yoshi menyukai perempuan itu.
“Bukan
ya? Kenapa kakak tidak memberikan respon?” tanya dengan bingung.
“Tidak
kok, aku tidak memerlukan itu,” jawab Yoshi sambil menggaruk tengkuknya yang
tidak gatal.
Mohon
perhatian, sesaat lagi kereta api akan tiba di stasiun Osaka.
Suara
pengumuman yang telah mengumumkan bahwa kereta telah sampai di tempat tujuan.
Yoshi menghela napas lega karena sebentar lagi akan terbebas teman siswi
sekolahan tadi yang melihatnya dengan tatapan membuatnya merinding.
“Hei,
Suzumi. Sana dekati kakak itu coba, tanyakan apa dia sudah punya pacar?” bisik
salah satu teman Suzumi menyikut dengan semangat membuat ia gugup.
Saking
semangat temannya, Suzumi terdorong dan hampir menabrak jika ia tidak mengerem
mendadak. Akhirnya ia memutuskan bertanya dengan asal, “Kenapa kakak daritadi
menatap ke arah kursi itu?” Keringat dingin langsung membanjiri Suzumi seketika
ia berusaha membetulkan ucapannya.
“M-maksudku,
tempat tadi diduduki oleh Emi. Apa kakak pacarnya, soalnya tadi kalian
kelihatan akrab.”
“Pacar?
Tadi kau menyebutkan Emi?”
“Ya,
__ADS_1
Kurazono Emi. Pelatih sekaligus ketua klub panahan.”
Jadi
namanya adalah Kurazono Emi.
Suzumi
mengangguk ketika ia yang malah ditanya balik oleh Yoshi.
“Tapi
maaf Nona Suzumi, tidak sopan untuk menyimpulkan bahwa aku berpacaran dengan
Kurazono yang baru kukenal karena aku punya orang yang kusukai,”Yoshi tersenyum
manis setelah berkata, membuat teman-teman Suzumi terpesona seketika itu.
'Hah,
orang yang kusukai? Jangan bercanda aku tidak tertarik terhadap hal begitu.
Aneh, tapi entah kenapa Kurazono mirip dengan ‘dia’. Akh, kenapa aku tidak
ingat!
Pintu
kereta terbuka di samping kiri, Yoshi segera beranjak berdiri namun kebetulan
atau tidak Suzumi yang ceroboh kehilangan keseimbangan sehingga tanpa sadar ia menarik
tangan Suzumi dan terjatuh ke dalam pelukannya.
“Ehh?”
Suzumi
yang bingung berada di pelukan merona sedangkan Yoshi menyadari sesuatu ada
yang aneh, kupu-kupu biru perlahan-lahan terkikis mulai menghilang saat diperiksa
dan benar saja pasirnya bergerak cepat turun kebawah disertai retakan yang
menyebabkan pecah disaat itu juga, pemandangan mulai lenyap kemudian semua
berubah menjadi gelap.
****
Emi
sudah berpakaian rapi menggunakan kemeja berkerah dan rok, berdiri di depan kafe
sambil menarik napas perlahan. Bersiap untuk waawancara pertama kalinya,
sebelumnya ia sudah latihan, tapi sekarang ia cukup gugup.
Setelah
cukup yakin akhirnya Emi memutuskan untuk masuk. Mendorong pintu, bau biji kopi
menyeruak masuk indera penciuman, berbagai biji kopi diletakkan di rak rapi,
mesin-mesin ditata sedemikian rupa sesuai kegunaannya, harumnya Cinnamon lalu
meja serta kursi bulat coklat.
datang di ZerutaRekoi Cafe kami! Ada yang bisa dibantu?” tanya salah satu pemuda
yang merupakan pegawai yang berada di kasir.
Emi
membungkuk lalu menjawab dengan kikuk, “Halo juga kak! Selamat siang saya Emi
Kurazono yang akan melamar kerja sebagai barista,” ucap Emi mantap, pemuda itu
menatap lalu mengangguk sebagai jawaban.
"Aha,
kau yang waktu itu bertanya lewat telepon ya?"
Emi
mengangguk lagi sebagai jawaban, pemuda itu tersenyum. “Kalau begitu, silahkan
ke meja di seberang sana tempat GM kami sedang duduk. Kebetulan beliau sedang
mengecek penjualan saja.”
“Baik
kak, terimakasih banyak.” Emi langsung berjalan menuju meja yang berada di
seberang tempat sang general manajer duduk.
“Permisi
pak, saya mau ngelamar kerja sebagai barista,” ucap Emi yang berada di depannya
sambil menatap laki-laki yang lebih tinggi darinya.
Laki-laki
yang berada di depannya mendongakkan kepala, menatap Emi juga menatapnya.
“Sebelumnya
perkenalkan dirimu lalu terlebih dahulu dan alasan mu ingin bekerja."
“Baik,
perkenalkan nama saya Emi Kurazono, umur tujuh belas tahun, kelas tiga akhir
SMA Kiezasen. Alasan saya melamar kerja---”
“Kalau
begitu sebutkan apa saja tugas dan tanggung jawab sebagai barista.” Laki-laki
itu memotong ucapan Emi sebelum ia sempat menyelesaikannya.
Walaupun
perasannya kesal Emi tetap saja menyebutkan semua jawaban dari pertanyaan laki-laki
__ADS_1
di depannya ini.
“Hmm,
boleh juga. Kau lulus. Mulai sabtu bisa bekerja disini lalu untuk shiftmu adalah
jam dua belas setelah makan siang Seragamnya nanti akan disiapkan, satu lagi
untuk sementara kau akan trainee selama dua minggu, paham,”
ujar laki-laki itu tegas.
"Baik,
pak saya mengerti," ujar Emi dengan nada senang, membungkuk sebagai tanda
terimakasih. Ketika laki-laki tidak sengaja memandang Emi yang senang karena
diterima tiba-tiba jantungnya berdetak kencang kala perempuan di hadapannya mengingatkannya
pada kenalan yang ia rindukan.
Emi
kemudian melangkahkan kaki namun belum sampai tiga langkah terhenti saat
laki-laki itu membuka percakapan
“Tidak
usah kaku Kurazono-san, aku tidak akan memakanmu lagipula umur kita tidak terlalu
jauh dan lagi maaf ya aku tadi memotong saat kau menjelaskan.” Ekspresi datar
laki-laki Emi ingin mengumpat karena jika minta maaf mana mungkin sedater itu.
“Begitukah,
maafkan saya ya,” balas Emi
“Tidak
apa-apa, wajar saja semua yang pertama kali melamar kerja berpikir saya sudah
tua... tapi jangan panggil Pak, panggil saya Kak Mitsunari biar serasa punya
adik perempuan,” canda Mitsunari di balik senyum simpulnya.
Emi
menarik salah satu sudut bibirnya, mendengar candaan atasannya. Tiba-tiba sesuatu
terlintas di benaknya.
“Maaf
sedikit lancang Kak, tapi kakak tidak mempunyai adik perempuan?” Emi tersadar
akan ucapannya barusan langsung menutup mulutnya.
“Yahh,
bisa dibilang ada dan tidak ada,” balas Mitsunari seraya tersenyum simpul lalu
menatap jam yang sudah menunjukkan sore. “Ahh, aku hampir saja lupa menjemput
adikku, dia sedikit sensitif jika terlambat sedetik saja, bawel bukan?"
Mitsunari
langsung beranjak berdiri dari kursinya, Emi spontan membungkuk setelahnya membalikkan
badan dan melambaikan tangan padanya.
“Hati-hati
kak.”
Tidak
lama setelah itu akhirnya Emi memutuskan pulang dan berpamitan, pelayan tadi
menghampirinya.
“Wah,
tumben sekali dia bicara panjang lebar, sifatnya hari ini beda dari biasanya,”
ucapnya menatap ke arah pintu.
“Benarkah,
ngomong-ngomong kenapa kakak memanggilnya beda?” tanya Emi penasaran.
“Soal
itu, aku lebih tua lima tahun darinya, hehe."
“Wah,
kalau gitu kak Mitsunari umurnya berapa?” tanya Emi menatap punggung Mitsunari
yang menjauh.
“Rahasia
perusahaan. Tanyakan sendiri pada orangnya langsung.” Pelayan tadi menjawab
dengan kedipan mata ingin mencoba menggoda Emi.
“Hmm,
sepertinya akan terasa tidak sopan jika aku menanyakan hal pribadi pada atasan
sendiri," ucap Emi dengan nada datarnya.
“Wah,
menarik juga. Ya sudah, Kurazono pulang saja, maaf jadi menahanmu ya.” Pelayan
itu tersenyum manis, lesung pipinya terlihat.
Emi
membungkukkan badan lalu meninggalkan kafe tersebut berjalan pulang menuju
stasiun.
__ADS_1
GM:
General Manajer