
Keesokan harinya...
Zayn benar-benar bingung, akhirnya ia memilih menjual salah satu mobil mewah dan 2 jam tangan yang berharga puluhan juta dalam waktu semalam.
Karena waktunya mendesak tak ada pilihan lagi, ia harus rela menjual barang kesayangannya itu dari harga pasaran.
Zayn bisa bernafas lega, karena biaya pembangunan supermarket telah ia dapat. Untuk urusan karyawan yang membawa kabur uang perusahaan diserahkannya kepada kuasa hukum perusahaan.
Dan masalah bukan hanya itu saja, gaji karyawan harus ia bayarkan karena tinggal beberapa hari para pekerja di perusahaannya mendapatkan hak.
"Apa lagi yang harus aku lakukan?" gumamnya.
"Apa aku harus menjual mobil ini lagi?" tanyanya lirih ketika berada di dalam kendaraan itu.
Dengan cepat ia menggelengkan kepalanya. "Tidak.... tidak!"
Hampir 15 menit diam dan berpikir akhirnya Zayn meninggalkan halaman rumahnya menuju kediaman orang tuanya.
Begitu sampai, Dinda dan Tian sedang menikmati sarapan.
"Pagi, Pa, Ma!" sapanya.
Kedua orang tuanya Zayn hanya sekedar menoleh dan melanjutkan sarapannya.
Zayn duduk di sebelah Mama Dinda. "Ma, Pa, aku butuh bantuan kalian," ujarnya.
"Sepertinya ada seseorang yang butuh bantuan kita, Pa," sindir Dinda.
"Ma, aku lagi serius," ucap Zayn.
Dinda menoleh ke arah putranya, "Mama juga serius."
"Ma, Pa, aku minta maaf!" lirihnya dengan wajah menunduk.
"Kenapa baru sekarang minta maaf?" tanya Tian.
"Aku menyesal tak mendengar ucapan kalian," jawabnya.
"Akhirnya kamu menyadarinya," ujar Dinda sembari menyedot jus jeruknya.
"Kamu menyesal karena sudah tahu jika kekasih yang selalu dibanggakan itu tak sesuai harapan," Tian berkata menyindir.
"Ya," Zayn berkata lirih.
"Apa yang bisa kami bantu?" tanya Tian.
"Aku butuh uang untuk membayar gaji karyawan, Pa."
"Kenapa dengan perusahaan kamu?" tanya Tian.
__ADS_1
"Papa pasti sudah tahu yang terjadi dengan perusahaan ku."
"Ya."
"Bantu aku, Pa!" Zayn memohon dengan nada memelas.
"Maaf, Papa tidak bisa bantu."
"Pa, aku mohon kali ini bantu aku!"
"Yang bisa membantu kamu itu Maudy," sahut Dinda.
"Maudy?"
"Ya, kami menyerahkan hak kuasa kepadanya jika dia memaafkanmu dan kalian kembali lagi maka kami akan membantumu," jelas Tian.
"Kenapa harus dia?"
"Karena dia sedang mengandung anakmu, calon cucu kami," jawab Dinda.
Zayn diam dan berpikir, waktu tinggal 2 minggu lagi.
"Bagaimana, Zayn?" tanya Dinda.
"Baiklah, Ma." Zayn kemudian berpamitan kepada kedua orang tuanya.
Tian dan Dinda saling pandang lalu tersenyum.
Zayn pergi ke rumah mertuanya, ia melupakan rasa malunya demi satu tujuan yaitu uang dari papanya.
Zayn turun dari mobilnya, tampak istrinya hendak berangkat dengan Karen.
Maudy cukup terkejut ketika suaminya mendatanginya. "Kenapa kamu ke sini?" tanyanya pelan.
Karen gegas memasuki mobil karena ingin membiarkan sahabatnya berbicara berdua kepada Zayn.
"Apa kabar?" tanya Zayn pelan.
"Sangat baik," Maudy memaksakan tersenyum.
"Kamu mau ke mana?"
"Aku mau periksa kehamilan.".
"Biar aku temani," Zayn menawarkan diri.
"Tidak perlu, terima kasih."
"Maudy, aku minta maaf jika selama ini sudah menyakiti hatimu," Zayn berkata penuh penyesalan.
__ADS_1
"Aku sudah memaafkanmu, maka pergilah!" Maudy memegang kenop pintu mobil.
"Kamu harus kembali ke rumah," pinta Zayn.
"Tidak bisa," Maudy gegas memasuki mobil sahabatnya.
Zayn hanya diam dan berdiri.
Di dalam mobil, Karen lalu bertanya, "Kita berangkat sekarang?"
"Ya," jawab Maudy tanpa menatap.
Mobil pun melaju meninggalkan rumah orang tua Maudy.
Zayn lalu mengikuti mobil yang ditumpangi istrinya.
Sesampainya di rumah sakit, ia tak turun hanya memantau istrinya dari dalam mobil.
Maudy yang tahu suaminya mengikutinya memilih membiarkannya.
Hampir sejam di dalam mobil akhirnya Maudy keluar dari rumah sakit bersama dengan Karen dan Dewa.
Zayn tak memperdulikan istrinya dengan siapapun, baginya saat ini calon bayi dan mereka bisa kembali lagi bersama demi satu tujuannya.
Mobil Karen meninggalkan rumah sakit lalu mengantarkan sahabatnya kembali ke rumah.
Zayn tetap mengikuti istrinya hingga ke rumah mertuanya, ia ingin menghampirinya namun diurungkannya karena ada ayah Maudy.
Zayn memutar arah mobilnya menuju rumahnya.
Rama dan Wina melihat mobil yang memutar balik.
"Bukankah itu mobil Zayn?" tanya Wina.
"Iya, Bu."
"Untuk apa lagi dia ke sini?" tanya Rama.
"Dia meminta aku kembali ke rumahnya, Yah."
"Kamu mau?" tanya Wina.
"Tidak, Bu. Aku tak ingin kembali lagi kepadanya," jawab Maudy.
"Kenapa?" tanya Wina.
"Dia tidak pernah mencintaiku, Bu. Dia hanya ingin anak ini saja," jelas Maudy.
"Bagaimana jika dia sudah menyesal karena telah menyia-nyiakan kamu?" Rama kembali bertanya.
__ADS_1
"Aku tidak percaya dia telah berubah, Yah."