
Tepat 45 hari usia Nadine, Zayn dan keluarga kecilnya itu kembali ke istana mereka. Ya, Maudy telah berdamai dengan suaminya.
Maudy tersenyum sembari mengedarkan pandangannya ke sekeliling dalam rumah. Cat dinding diganti dengan warna lebih cerah.
Beberapa furniture diganti baru termasuk ranjang milik dirinya dan suaminya memadu kasih.
"Kenapa semua diganti?" tanya Maudy.
"Suasana baru saja sekaligus menyambut putri kecil kita," terang Zayn.
"Oh."
"Letakkan dia di sini," Zayn mengarahkan istrinya yang sedang menggendong putrinya ke tempat tidur khusus bayi.
Maudy meletakkan bayinya ke tempat itu.
Lalu keduanya menemui keluarganya yang masih berada di ruang keluarga. Asisten rumah tangga juga telah kembali.
Tak lama kemudian Dinda dan suaminya datang.
"Selamat siang semua!" Dinda melemparkan senyumnya kepada para keluarga yang lainnya.
"Siang juga," Wina membalas sapaan besannya.
"Di mana cucuku?" tanya Dinda.
"Di kamar, Ma." Jawab Maudy.
"Boleh bertemu dengannya?" tanyanya lagi.
"Boleh, Ma. Mari ku antar," Maudy bangkit dari duduknya menuju ke kamarnya.
Wina juga ikut menyusul putri dan besannya.
Kini di ruangan tinggal Zayn, papa dan ayah mertua.
"Ada yang ingin Papa beritahu kamu," ujar Tian. "Kita lihat ke depan!" ajak Tian yang beranjak berdiri.
Zayn pun bangkit dari duduknya.
"Kamu ikut aku juga!" Tian mengajak ayah mertua putranya.
Dan diiyakan Rama.
Ketiganya berjalan ke pintu masuk keluar rumah.
Zayn tercengang melihat mobil kesayangannya terparkir di halaman. "Kenapa di sini?" terbata.
"Papa mau mengembalikannya kepadamu."
"Jadi...."
"Iya, Papa yang telah membeli mobilmu," ucap Tian.
"Papa!" Zayn lantas memeluk pria paruh baya itu.
"Papa ingin memberikan kamu pelajaran untukmu, mertuamu juga ikut dalam rencana ini," ungkap Tian.
Zayn melepaskan pelukannya lalu menoleh ke ayah mertuanya.
Rama hanya tersenyum.
"Papa meminta dia agar mengizinkanmu mengejar kembali Maudy," jelas Tian.
"Pantas saja, mertuaku tidak marah-marah ketika aku datang berkunjung," ujar Zayn.
"Kami hanya mengikuti perintah orang tuamu, lagian juga Maudy masih mencintaimu," jelas Rama.
Zayn lalu memeluk ayah mertuanya, "Terima kasih telah memberikan kesempatan untukku!".
"Ya, sama-sama." Mengelus pundak menantunya.
Ketiga orang wanita dan bayi mungil menghampiri ketiga pria.
__ADS_1
Maudy juga heran melihat mobil suaminya berada di parkiran.
"Papa yang telah membelinya," ujar Zayn.
"Rumah ini dibeli Fahri kami tidak tahu," ungkap Rama jujur.
"Tapi, aku senang jika rumah ini dibeli Fahri," ujar Tian.
"Aku pikir juga rencana Papa," ucap Zayn.
"Bangunan supermarket yang minta di bangun ulang itu rencana Papa dan Mama," ungkap Tian.
"Jadi...Papa yang sudah membuat putramu ini stress, bingung dan panik?" tanya Zayn.
"Papa kesal denganmu, terpaksa cara ini yang kami lakukan," terang Tian.
"Papa..." Zayn menunjukkan wajah manjanya, lalu kembali memeluk Tian. "Maafkan aku, Pa. Ku janji akan menjadi anak, suami dan papa yang baik!" lanjutnya berkata.
Tian tersenyum, "Papa percaya kamu akan berubah!" menepuk pelan bahu putranya.
Yang lainnya tersenyum menatap ayah dan anak saling berpelukan.
"Mama sudah lapar, ayo kita makan!" ajak Dinda.
Mereka kembali ke dalam menikmati makan siang bersama.
****
Keesokan harinya, Maudy terbangun suaminya tidak berada di sampingnya ia lalu menoleh ke kirinya. Maudy menarik kedua ujung bibirnya menatap pria yang asyik mengobrol putri kecilnya.
Zayn selalu tersenyum memandangi wajah Nadine yang tertidur pulas.
Maudy menyibak selimutnya, turun dari ranjang. "Kenapa belum berpakaian kerja?"
"Aku masih ingin bermain dengan Nadine."
Maudy lantas tersenyum, "Nadine juga butuh pakaian, susu, mainan, bagaimana jika papanya tidak bekerja?"
Maudy menautkan alisnya.
"Aku hanya bercanda," jawab Zayn tersenyum.
"Kamu akan terlambat jika terus bermain dengannya," ujar Maudy.
"Nadine, Papa akan pulang cepat dari kantor nanti kita main lagi," Zayn berkata dengan putri kecilnya.
"Iya, Papa." Maudy yang menjawabnya.
Zayn lantas mendekati istrinya dan mengecup keningnya. "Aku mau berpakaian, kamu tetap temani dia."
"Aku ingin membuatkan sarapan untukmu."
"Kamu belum boleh banyak bergerak, jaga putri kita," ucap Zayn.
Maudy mengiyakan.
-
Zayn tiba di kantor, ia begitu semangat bekerja apalagi ada putri kecilnya yang menjadi obat penyemangat untuknya.
Asistennya memberitahu jika ada rapat di salah satu restoran, Zayn mengiyakan. Ia pun bersiap-siap menuju lokasi.
Sesampainya di sana, mata Zayn menangkap seorang wanita duduk berhadapan dengan pria sebaya dengannya.
Zayn lantas menghampirinya, "Milka!"
Wanita itu terkejut dan berdiri, ia begitu gugup dan ketakutan.
Zayn lantas menoleh ke pria yang ada di sampingnya.
"Kamu kenal dia, Zayn?" tanya Fahri yang menjadi teman makan Milka.
"Iya, dia mantan kekasihku yang hanya memanfaatkan dan menguras harta para pria kaya," ungkap Zayn menatap wanita itu.
__ADS_1
"Bohong!" sergahnya.
"Untuk apa aku berbohong?" Zayn balik bertanya.
"Kita tidak memiliki hubungan apa-apa lagi, Zayn!" Milka berusaha menyangkal tuduhan kepadanya.
"Fahri adalah kakak iparku, tapi aku bersyukur kamu pergi dan meninggalkan aku. Ku bisa kembali lagi dengan istriku dan ku tahu semuanya tentang kelicikanmu!"
"Milka, ternyata kamu seperti itu. Beruntung kita baru bertemu satu kali," ujar Fahri.
"Apa perlu aku menunjukkan bukti para pria yang menjadi korbanmu?" Zayn menantang mantan kekasihnya itu.
Milka yang telah tersudutkan dengan wajah marah meraih tasnya lalu pergi dari restoran dengan langkah cepat.
Zayn dan Fahri saling menghela nafas.
"Terima kasih, kamu sudah memberitahu aku siapa Milka sebenarnya," ucap Fahri.
"Sama-sama, Kak."
"Kamu di sini dengan siapa?"
"Aku tadi ke sini sendirian sebentar lagi asistenku akan datang, kami mau rapat," terang Zayn.
"Oh, kalau begitu aku pamit," ucap Fahri.
"Ya, Kak."
-
Malam harinya selepas Zayn pulang bekerja melihat istrinya menyajikan hidangan makan malam untuknya.
Zayn bergegas ke kamar mandi membersihkan diri.
Tubuhnya terasa segar, ia menggendong putri kecilnya dan tak lupa memberikan kecupan di wajahnya.
"Ayo makan!" ajak Maudy mengambil alih gendong putrinya.
"Kamu makan bersamaku, ku akan mengambil tempat tidurnya!" Zayn lantas berlari ke kamar mengambil ranjang milik bayinya yang memiliki roda, ia mengeluarkan benda tersebut dari dalam kamar.
Maudy lalu meletakkan putrinya, kemudian duduk bersama dengan suaminya di meja makan.
Maudy mengambil nasi, lauk dan sayur lalu ia hidangkan di hadapan suaminya.
"Tadi siang aku bertemu dengan Kak Fahri di restoran," ujar Zayn. "Coba kamu tebak dia dengan siapa?" tanyanya.
"Mungkin dengan kekasihnya," jawab Maudy asal.
"Hampir saja mereka menjadi kekasih," ucap Zayn.
Maudy menautkan alisnya.
"Kak Fahri bersama Milka," ujar Zayn.
"Benarkah?"
"Tapi, akhirnya Milka pulang karena aku memberitahu kebusukannya," jawab Zayn.
"Huh, syukurlah. Aku tidak mau Kak Fahri mendapatkan wanita yang buruk," ujar Maudy.
"Sayang, aku minta maaf jika kemarin itu....."
"Zayn, cukup. Jangan pernah mengungkit masa lalu lagi, kita jalani saja sekarang," ucap Maudy.
Zayn menyentuh tangan istrinya sambil tersenyum. "Terima kasih!"
Maudy membalas senyuman suaminya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Kisah Maudy dan Zayn berakhir sampai di sini..
Terima Kasih 🌹
__ADS_1