
Maudy dan keluarganya menikmati sarapan seperti biasanya. Suara ketukan pintu kembali terdengar lagi.
Ketiga orang yang berada di meja makan saling memandang.
"Pasti itu Zayn, Bu." Tebak Maudy.
"Biar Ibu yang buka," Wina berdiri, berjalan ke arah pintu.
Suara teriakan luapan kegembiraan terdengar oleh Rama dan Maudy, keduanya pun gegas menghampiri Wina.
Maudy terdiam ketika melihat wajah sang kakak.
Pria itu menumpahkan air matanya di bahu sang ibu.
"Fahri!" Rama berkata lirih.
"Ayah!" Memeluknya dan kembali terisak. "Maafkan aku!"
"Ayah sudah memaafkanmu!" Rama mengelus pundak putranya.
Fahri melepaskan pelukannya lalu mengarahkan matanya kepada adiknya yang masih berdiri dengan mata berkaca-kaca, tatapannya kini ke arah perut membuncit wanita itu.
Fahri mendekati Maudy, "Kamu hamil dan sudah menikah?"
Maudy mengangguk mengiyakan.
"Maudy kami nikahkan kepada keluarga yang sudah membantu membayar utang kita, Fahri." Tukas Wina.
Fahri lantas memeluk adiknya dan menangis, "Maafkan, Kakak. Pasti kamu tidak bahagia menikah dengannya."
"Ya, kami juga salah karena menikahkan Maudy kepadanya seandainya kamu tidak membawa uang perusahaan takkan seperti ini!" ungkap Wina yang masih kesal dengan putranya.
"Maafkan aku, Bu. Aku akan menebus kesalahanku," ujar Fahri.
"Sudahlah, Nak. Semua sudah terjadi, adikmu sebentar lagi juga akan berpisah dengan suaminya," ucap Rama.
"Pisah?" Fahri terkejut.
"Ya, Kak. Setelah bayi ini lahir aku menuntut cerai," Maudy turut menjelaskan.
Fahri kembali memeluk adiknya, "Semua karena kesalahan aku seharusnya kamu tidak mengalaminya. "
"Sudahlah, Kak."
"Aku janji akan menjagamu dan melindungi calon keponakanku," ucap Fahri.
"Terima kasih, Kak. Aku sangat senang, Kak Fahri kembali bersama kami," ungkap Maudy.
-
-
Malam harinya, di rumah Zayn..
Pria itu sendirian di bangunan mewah tersebut. Beberapa sudut ruangan tampak mulai berdebu, cucian piring setumpuk di wastafel dan air isi ulang tampak kosong di dalam galon.
Hanya beberapa lampu yang menyala. Selepas mengisi perutnya, Zayn duduk melamun di ranjangnya.
Semua orang menjauhinya, Milka yang selalu ia utamakan ternyata tidak tulus mencintainya.
Teman-temannya yang selalu meminta bantuan modal malah menolak bertemu dengannya.
Zayn menjambak rambutnya, dirinya benar-benar frustasi.
Tadi pagi hingga siang hari ia mencari pinjaman ke sana kemari agar bisa membayar gaji karyawan namun satu pun teman dan saudara tak ada yang memberikannya.
"Aaarrrghhh....."
"Haruskah aku menjual rumah ini?" gumamnya.
****
Tiga hari kemudian, Fahri mengantarkan adiknya itu bekerja.
Begitu sampai Fahri lalu berkata, "Kakak ingin membelikan rumah untukmu."
__ADS_1
"Rumah? Untukku?"
"Ya, sebagai permintaan maaf Kakak kepadamu."
"Tidak usah, Kak."
"Anakmu butuh tempat tinggal, Maudy."
"Kak, aku bisa menumpang tinggal dengan ayah dan ibu." Maudy menolaknya.
"Kamu harus menerimanya, karena ini rumah harganya sangat murah jauh dari harga pasaran. Kita harus memilikinya sebelum diambil orang lain."
"Kenapa dijualnya murah?"
"Karena pemilik rumah itu sangat membutuhkan uang cepat, jadi dia tak bisa menunggu terlalu lama jika harus menggadaikannya atau menjual harga mahal."
"Memangnya di jalan apa?"
"Rahasia."
"Ih, Kakak kenapa main rahasia?"
"Aku ingin memberikan kejutan untukmu," ujar Fahri.
"Baiklah," Maudy tersenyum.
Wanita itu pun turun, sebelum memasuki kantor ia melambaikan tangannya ke arah Fahri yang menurunkan kaca jendelanya.
Zayn memperhatikan istrinya dari jarak jauh hanya bisa diam karena ia tak mungkin memarahi Maudy dekat dengan orang lain.
"Apa dia yang akan menjadi penggantiku?" gumamnya.
Zayn lantas pergi meninggalkan kantor istrinya menuju perusahaan kecil miliknya.
-
-
Sorenya, Fahri menjemput adiknya. Ya, dia sudah membeli rumah tersebut.
"Boleh juga, aku akan menelepon ayah dan ibu untuk menyusul kita. Mau makan di mana?"
"Restoran tempat favorit ayah dan ibu saja," jawab Maudy.
"Baiklah," Fahri lalu menelepon kedua orang tuanya agar menyusul mereka.
Keempatnya menikmati makan bersama yang telah lama mereka tidak lakukan.
"Bu, Yah, aku sudah membelikan rumah untuk Maudy untuk menebus kesalahanku padanya," ujar Fahri.
"Dari mana kamu mendapatkan uang?" tanya Wina.
"Uang perusahaan yang aku bawa itu ku gunakan membuka usaha dan beberapa menunjukkan hasil," jelas Fahri.
"Memangnya kamu membeli rumah seperti apa untuk adikmu?" tanya Wina.
"Rumahnya mewah berlantai dua dan harganya sangat murah," jawab Fahri.
"Memangnya di mana kamu membeli rumah?" tanya Rama.
"Besok aku akan memberitahunya dan mengajak kalian ke sana," jawab Fahri.
****
Keesokan harinya, Maudy dan sekeluarganya pergi ke rumah yang telah dibeli Fahri dengan harga 1 miliar.
Maudy dan kedua orang tuanya saling pandang karena jalan yang dilalui ke rumah yang dibeli Fahri merupakan jalan yang sama menuju rumah Zayn.
Mobil memasuki rumah Zayn, membuat ketiganya semakin heran.
"Ini rumahnya, Kak?" tanya Maudy.
"Iya." Fahri lalu keluar dari mobil, begitu juga dengan lainnya.
"Kamu membelinya dengan siapa?" tanya Rama.
__ADS_1
"Ada seorang pria sebaya dengan Ayah yang sebagai perantara pemiliknya," jawab Fahri.
Maudy yang melihat rumah suaminya telah dijual seketika tubuhnya lemah, ia memundurkan langkahnya dengan mata berkaca-kaca.
Wina yang berada di belakang putrinya dengan cepat menahan tubuhnya, "Maudy!" teriaknya.
Rama dan Fahri yang berada di belakang menoleh ke belakang gegas mendekat.
"Kenapa dengan Maudy, Bu?" tanya Fahri.
"Rumah yang kamu beli ini milik suaminya," Rama menjawab pertanyaan putranya.
"Apa!" Fahri begitu terkejut.
"Ya."
Maudy pun menangis, "Aku mau pulang, Bu!" lirihnya.
"Ayo kita pulang!" Wina mengajak suami dan putranya.
Keempatnya pun pulang.
Sepanjang jalan Maudy terus menangis meskipun tangannya berusaha menyeka buliran kristal agar tidak jatuh di pipinya.
Sesampainya di rumah Maudy pun menjelaskan kepada seluruh keluarganya.
"Beberapa hari yang lalu Zayn datang dan memohon kepadaku agar ku kembali kepadanya."
"Dia memintaku kembali dan memaafkannya agar kedua orang tuanya memberikan bantuan kepadanya karena perusahannya sedang mengalami kerugian dan Zayn butuh uang untuk menggaji karyawannya lalu aku menolaknya."
"Jadi menurutmu Zayn menjual rumah untuk itu?" tanya Fahri.
"Mungkin," jawab Maudy pelan.
Rama dan istrinya saling pandang, keduanya merasa kasihan dengan Zayn.
"Aku sudah membeli rumah itu, bagaimana?" tanya Fahri.
"Aku akan menemuinya," Maudy mengambil ponselnya lalu menghubungi suaminya tak lama kemudian ia matikan.
"Bagaimana?" tanya Wina.
"Ponselnya tak aktif."
"Kamu ke rumah orang tuanya saja," saran dari Rama.
"Iya, Yah."
"Kakak akan temani kamu," ucap Fahri.
Maudy mengiyakan dan keduanya pergi ke rumah orang tuanya Zayn.
Sesampainya di sana, kedua mertuanya itu pun terkejut jika putranya menjual rumah dengan harga murah.
"Sejak mendatangi kami memohon bantuan dan memberikan syarat kepadanya setelah itu dia tak pernah kemari lagi," ungkap Dinda.
"Papa tidak tahu di mana Zayn?" tanya Maudy.
"Kami tidak pernah memantaunya lagi," jawab Tian.
"Apa kamu sudah menghubunginya?" tanya Wina.
"Sudah, Ma. Tapi, nomornya tidak aktif."
"Mama akan menghubunginya!" Dinda menekan nomor di ponselnya terdengar suara jika sedang tidak aktif.
Maudy tampak kecewa.
Lalu Tian menghubungi asistennya Zayn dan menanyakan keberadaan putranya. Senyum lega terpancar di wajah pria paruh baya itu.
"Bagaimana, Pa?" tanya Maudy.
"Dia lagi di luar kota perjalanan bisnis," jawab Tian.
"Huh, syukurlah!" ucap Maudy dan Dinda bersamaan.
__ADS_1