
Beberapa hari kemudian...
Zayn sengaja menghindari orang tuanya dan istrinya karena tidak ingin diganggu dengan pertanyaan mengenai rumah atau kemana saja dia selama ini.
Sejak rumah itu lakukan dan hasil penjualannya ia serahkan ke perusahaan dirinya mulai fokus bekerja.
Selama menikah dirinya tak pernah fokus tentunya waktunya lebih banyak terbuang buat Milka.
Hal itu membuat dirinya sangat menyesal karena tak serius dalam bekerja dan masalah keuangan membuatnya juga harus banyak di luar kantor untuk mendapatkan dana.
Karena rumah juga sudah terjual, keuangan perusahaan mulai stabil ini saatnya di kembali membangun perusahaannya yang hampir jatuh.
Pagi ini Zayn diam-diam mengikuti istrinya, dia memantau wanita itu dari kejauhan. Menggunakan mobil baru yang nilainya jauh lebih murah dari mobil sebelumnya.
Maudy pagi ini tampak keluar bersama seorang pria yang Zayn tak terlalu mengenalnya, ia perlahan mengikutinya dari belakang. Ternyata istrinya dan pria itu menuju rumah sakit.
Fahri membukakan pintu untuk adiknya, ia menggenggam tangan Maudy begitu erat. Membuat Zayn yang memperhatikan kedua dari jauh meremas setir mobil.
Fahri menghampiri Dewa yang telah menunggu mereka, "Aku titip adikku padamu, ya."
Dewa mengiyakan.
Fahri pun pergi.
Zayn melihat pria yang bersama istrinya pergi, buru-buru keluar dari mobil dan masuk ke gedung rumah sakit.
Zayn mencari keberadaan istrinya ternyata wanita itu sedang mengobrol dengan Dokter Dewa di ruang tunggu pasien.
Zayn tak ingin menghampirinya memiliki memantau keduanya dari jauh.
Maudy masuk ke ruang pemeriksaan kehamilan seorang diri sementara itu Dewa beranjak dari bangku.
Zayn tetap menunggu dari jarak yang tidak terlihat dari istrinya dan dokter tersebut.
Tak lama Dewa kembali ke bangku tunggu pasien membawa sebotol air mineral, beberapa menit kemudian Maudy keluar dari ruangan dokter. Keduanya duduk bersebelahan.
"Buat kamu!" Dewa menyodorkan air mineral.
"Terima kasih, Dok!"
"Panggil Dewa saja."
"Terima kasih, Kak!" Maudy tersenyum.
"Bagaimana dengan kondisi kandunganmu?"
"Semua baik, Kak. Tak ada masalah," jawabnya.
"Syukurlah, aku senang jika kamu dan calon anakmu baik-baik saja."
"Terima kasih."
Fahri menghampiri Dewa dan Maudy, "Ayo pulang!" ajaknya dengan lembut.
Maudy berdiri dibantu Dewa.
"Dokter Dewa terima kasih sudah menemani adik saya!" ucapnya.
"Sama-sama, Kak Fahri."
"Kalau begitu kami permisi!" pamit Fahri.
"Kami pamit, Kak!"
"Ya, hati-hati," ujar Dewa.
Zayn gegas membalikkan tubuhnya agar tak terlihat dengan ketiga orang itu. "Adik? Apa pria itu kakak kandungnya Maudy?" batinnya.
Mobil Fahri telah meninggalkan rumah sakit dan kembali pulang.
Zayn tetap mengikuti adik dan kakak itu. Sesampainya ia pun keluar dari mobil melangkah ke rumah orang tua istrinya.
Zayn mengetuk pintu, tak lama Maudy membukakannya. Mata keduanya saling bertemu.
Maudy terpaku.
__ADS_1
Zayn melemparkan senyum tulus. "Apa kabar?"
"Baik," jawabnya singkat.
"Maudy, siapa yang bertamu?" teriak Wina.
"Bukan siapa-siapa, Bu!" jawabnya sedikit berteriak.
"Aku ingin bicara padamu," ujar Zayn.
Maudy mendorong tubuh suaminya menjauh dari pintu. "Sekarang kamu pulang, di dalam ada Kak Fahri bisa-bisa kamu dihajarnya!"
"Siapa Fahri?"
"Kakak kandungku, lebih baik sekarang pulang!" mohon Maudy.
"Kapan kita bisa bertemu?"
"Aku akan mengabarimu, cepat pergi dari sini!" usirnya dengan nada suara pelan.
"Iya, aku akan pergi!" Zayn pun berlalu.
Maudy masuk ke rumahnya.
"Siapa yang datang?" tanya Wina.
"Hanya orang tanya alamat saja, Bu," jawab Maudy berbohong.
"Oh."
-
-
Siang harinya, Maudy menaiki taksi online menuju restoran terdekat karena ia ingin bertemu dan berbicara dengan suaminya.
Sebenarnya bisa saja mereka bertemu di kantor Maudy namun ia takut sewaktu-waktu kakaknya datang.
"Kenapa kamu tidak ingin aku jemput?" tanya Zayn setiba istrinya di restoran.
"Aku baru tahu jika kamu memiliki kakak laki-laki."
"Aku memang tidak memberitahumu karena ku menikah denganmu juga karena dia tapi semua terjadi aku tak bisa menyalahkannya."
"Apa karena dia perusahaan keluargamu mengalami kebangkrutan?"
"Ya, karena dia, kami memiliki utang tapi ia sudah menebus kesalahannya dengan membeli rumah milikmu untukku," ungkap Maudy.
"Jadi, kakakmu yang membeli rumahku?"
"Ya."
"Oh, syukurlah!" Zayn tersenyum lega.
"Kenapa kamu menjual rumah itu?"
"Aku tidak punya pilihan lagi, Dy."
"Lalu kamu tinggal di mana?"
"Aku menyewa apartemen dengan harga terjangkau," jawab Zayn.
"Lalu mobil yang biasanya kamu pakai mana?"
"Aku titipkan di rumah asistenku."
"Maaf, aku tidak bisa membantumu," ujar Maudy.
"Tidak apa-apa," Zayn tersenyum. "Aku sudah banyak bersalah kepadamu, mungkin ini hukuman yang pantas untukku karena menyakiti perasaan kamu dan tak pernah mendengar perkataan mama," tuturnya.
"Lalu bagaimana dengan anak ini? Apa kamu masih mengejar dia untuk tujuanmu itu?"
Zayn lantas menarik ujung bibirnya, "Jika kamu mengizinkan, aku terima saja!"
"Ternyata kamu belum berubah juga!" singgungnya.
__ADS_1
"Tujuan aku menikah memang untuk itu, tapi jika kamu tidak ingin kembali ku takkan memaksa dan ku siap bila dirimu ingin mengakhiri ini semua," ujar Zayn.
"Siap atau tidaknya kamu, aku akan tetap melanjutkan perpisahan ini," ucap Maudy.
"Kamu takut jika kita kembali ku akan menyakitimu lagi?"
"Ya."
"Keputusan kamu sudah tepat, tidak perlu kembali lagi kepadaku," ujar Zayn.
"Kamu pasti ingin kembali bersama Milka atau sudah menemukan pengganti diriku?"
Zayn tertawa, "Apa kamu cemburu?"
"Aku tidak cemburu, cuma...."
"Kamu ingin aku mengejarmu?"
"Ternyata kamu sangat menyebalkan!" Maudy menekankan kata-katanya.
"Jika kamu ragu kepadaku, untuk apa mengejarmu," ucap Zayn
Rahang Maudy menegang mendengar ucapan suaminya itu.
"Aku janji tidak akan mengganggumu dan anak kita," Zayn berbicara sembari memegang ponselnya
Sebuah notifikasi pesan masuk ke ponsel Maudy.
"Aku mengirimkan uang untuk biaya bersalin, kamu tenang saja ku tidak akan lepas tanggung jawab. Aku tetap membiayai anak kita meskipun tak bersamanya," janji Zayn.
Maudy membuka ponselnya tertera nominal angka 100 juta di pesan tersebut.
"Kamu mau kembali ke kantor biar aku antar," tawar Zayn.
"Tidak, aku naik taksi saja."
"Biarkan kali ini aku yang menjadi taksimu!"
"Tidak, Zayn."
"Ayolah, jangan banyak penolakan," ujarnya.
"Baiklah."
-
Sejam lebih berada di restoran, Zayn mengantarkan istrinya kembali ke kantor.
Setibanya Karen berlari menghampiri Maudy yang baru saja keluar dari mobil.
"Gawat, Dy." Tampak wajah Karen panik.
"Kenapa?"
"Kakakmu tadi ke sini? Dia menanyakan dirimu."
"Lalu kamu bilang aku ke mana?"
"Ku coba berbohong tapi dia tak percaya, apa dia tidak meneleponmu?"
"Dia hanya mengirimkan pesan tapi tak ku balas."
"Nah itu, dia jadi marah-marah denganku!"
"Jadi kamu memberitahuku jika bersama Zayn."
Karen mengiyakan.
"Ada apa? Apa yang terjadi?" tanya Zayn.
"Lebih kamu pergi dari sini, Kak Fahri tahu aku bertemu denganmu," jelas Maudy.
"Memangnya kenapa kalau aku bertemu denganmu?"
"Masalah akan menjadi panjang, lebih baik cepat pergi dari sini!" Maudy mendorong suaminya ke sebelah kanan mobil tepat bagian kemudi.
__ADS_1
"Baiklah, aku akan pergi!" Zayn membuka pintu mobilnya dan meninggalkan kantor istrinya.