Bisnis, Benci Dan Cinta

Bisnis, Benci Dan Cinta
Bab 25- Apa Aku Boleh Menyapanya?


__ADS_3

Malam harinya, Maudy dan kedua orang tuanya menunggu Fahri di meja makan.


Tak lama kemudian Fahri pulang dari kantornya, ia lalu duduk di sebelah adiknya. "Kenapa kamu tidak memberitahu Kakak jika bertemu dengan suamimu?"


"Aku minta maaf, Kak."


"Kamu bertemu dengan Zayn?" tanya Rama.


"Iya, Yah."


"Mau apa dia bertemu kamu lagi?" tanya Wina.


"Aku hanya ingin tahu alasan dia menjual rumah itu, Bu."


"Lalu apa alasannya?" tanya Rama.


"Dia terpaksa menjualnya untuk membayar gaji karyawan," jawab Maudy membuat kedua orang tuanya merasa kasihan.


"Jika tadi bertemu dengannya Kakak akan menghajar suamimu itu karena sudah menyakitimu," ujar Fahri.


"Kak, tolong jangan sakiti dia," mohon Maudy.


"Kamu merasa kasihan dengannya?" tanya Fahri.


"Dia ayah dari anakku, calon keponakan Kak Fahri juga."


"Dia sudah menyakitimu, Dy." Ujar Fahri.


"Tapi, dia sudah mengaku menyesal, Kak."


"Apa kamu mau kembali lagi padanya?" tanya Wina.


"Tidak, Bu. Tapi, dia sudah berjanji akan bertanggung jawab kepada calon anak kami."


"Baguslah, jika dia mau bertanggung jawab. Semoga saja apa yang diucapkannya benar," ujar Rama.


"Jika saja dia menyakitimu, Kakak akan menghajarnya!" janji Fahri.


"Dia tak mungkin menyakitiku!" ucap Maudy.


-


Pukul 9 malam, Maudy merebahkan tubuhnya di ranjang sembari memainkan ponselnya.


Maudy tak memperdulikan sosial media milik suaminya. Ya, dia memang benar-benar menutup pintu hati untuk Zayn.


Sebuah pesan masuk di aplikasi berwarna hijau dari suaminya, Maudy hanya membacanya tanpa membalasnya.


Zayn kembali mengirimkan pesan kepada istrinya namun tak mendapatkan respon.


Pesan ketiga Maudy lalu membalasnya.


Zayn yang membacanya begitu senang meskipun istrinya hanya dengan membalas dua kata saja yaitu 'Hai, juga!'


Zayn seperti pria yang sedang jatuh cinta, begitu bahagia ketika wanita yang sedang diincarnya meresponnya.


Maudy meletakkan ponselnya di nakas dan menarik selimutnya lalu memejamkan matanya.


Sementara Zayn menunggu balasan kedua dari istrinya, "Apa mungkin dia sudah tidur?" gumamnya.


**********


Sebulan kemudian, Maudy kembali bertemu dengan Zayn di restoran. Tentunya, pertemuan mereka dilakukan diam-diam karena Maudy tak ingin kakaknya tahu.


"Aku senang kita bertemu lagi," ujar Zayn tersenyum.


Maudy membalas dengan senyuman tipis.


"Apa kabar kamu dan dia?"


"Kami berdua baik-baik saja."


"Syukurlah, aku senang mendengarnya. Kapan kata dokter kamu melahirkan?"


"Prediksinya tujuh atau delapan minggu lagi."


Zayn kembali melengkungkan bibirnya.


"Maaf, ketika aku melahirkan kamu tidak bisa menemaniku," ujar Maudy.


"Aku tahu kamu masih membenciku," ucap Zayn. "Tapi, tenanglah. Aku tidak mempermasalahkan hal itu. Bagiku kamu dan anak itu selamat saja sudah sangat bahagia," lanjutnya.


Maudy tersenyum samar.

__ADS_1


"Apa kamu sudah belanja perlengkapan bayi?"


"Sudah."


"Dengan siapa?"


"Dokter Dewa."


Seketika senyum Zayn memudar.


"Kebetulan dia memiliki waktu jadi ku meminta tolong padanya," ujar Maudy.


"Jika kamu meminta ku menemanimu, aku siapa kapanpun itu," ucap Zayn.


"Tapi, aku tidak mungkin memintamu menemaniku."


"Kenapa tidak mungkin?"


"Hubungan kita sebentar lagi akan berakhir, jadi tuk apa kita bertemu."


"Apa aku tidak bisa menjadi temanmu?"


"Tidak!"


"Kamu benar-benar ingin aku menjauhimu?"


Maudy tak menjawab.


"Sudah, jangan dipikirkan ayo makan!"


Maudy menikmati makan siang dengan suaminya.


Zayn meraih tisu mengelap bibir istrinya membuat Maudy tercengang.


"Kamu ingin menambah makanannya?" tanya Zayn.


"Tidak."


"Jika anak kita lahir, kamu akan memberikan nama apa?"


"Aku tidak tahu."


"Apa aku boleh memberikan nama untuknya?"


"Baiklah, kalau kamu tidak membolehkan aku memberi nama anak kita," ujar Zayn dengan nada kecewa.


Maudy kemudian kembali melanjutkan makannya.


Selesai makan siang, Zayn menawarkan tumpangan kepada istrinya. "Mau pulang ke rumah atau ke kantor?"


"Aku tidak ke kantor lagi. Mungkin ketika selesai melahirkan dan anak ini berusia dua bulan baru kembali bekerja," jawab Maudy.


"Kamu tidak perlu bekerja, aku akan menanggung semua kebutuhanmu dan bayi kita," janji Zayn.


"Aku harus bekerja, Zayn. Karena tanggung jawabmu cuma anak kita bukan aku!"


"Karena kamu sudah mengurus dan merawat anak kita jadi ku berhak membiayaimu. Anggap saja upah karena kamu telah menjadi ibu buatnya," ucap Zayn.


Mata Maudy tampak berkaca-kaca.


"Jangan menangis, kamu sangat jelek!" Zayn meledek.


"Siapa yang menangis?"


"Itu matanya mulai berair!" tunjuk Zayn ke bola mata istrinya.


Maudy sesekali mendongakkan kepalanya agar air matanya tidak tumpah.


"Ayo ku antar pulang!" Zayn berdiri lalu mengulurkan tangannya.


"Aku bisa berdiri sendiri," tolak Maudy.


"Jangan menolak atau membantah!"


Maudy akhirnya menerima uluran tangan suaminya, keduanya saling bergandengan tangan ke arah parkiran.


Zayn membuka pintu buat istrinya.


Di dalam mobil, Zayn kembali meminta sesuatu. "Apa aku boleh menyapanya?"


Maudy mengerutkan keningnya.


"Hanya sebentar saja, agar dia tahu siapa ayahnya," jelas Zayn.

__ADS_1


Maudy mengangguk.


Zayn menundukkan kepalanya, tangannya menyentuh perut istrinya. "Ini Papa, Nak!"


Jantung Maudy berdesir ketika tangan Zayn menyentuhnya.


"Aku boleh mendengarnya?"


Maudy mengiyakan.


Zayn meletakkan telinganya di perut Maudy merasakan detak jantung calon buah hatinya lalu tersenyum.


Perasaan Maudy tiba-tiba menjadi tenang, bahagia dan lega.


Zayn mengangkat kepalanya dan tersenyum senang, "Terima kasih telah mengizinkan aku!"


Maudy tersenyum tipis dan mengangguk tanda mengiyakan.


Zayn mengantarkan istrinya pulang ke rumah orang tuanya.


Begitu sampai, Zayn hendak turun namun dilarang Maudy.


"Aku ingin mengantarkanmu sampai depan pintu rumah," ujar Zayn.


"Jangan, Zayn. Di rumah ada Kak Fahri, aku takut dia akan memukulmu," Maudy memberikan alasan.


"Kamu mengkhawatirkan aku?"


"Ya," Maudy keceplosan.


Zayn tersenyum, "Terima kasih sudah mengakhawatirkan aku."


"Sudah sana pulang!"


"Aku tetap akan mengantarmu pulang!" Zayn keluar dari mobil lalu melangkah cepat membukakan pintu istrinya.


Zayn berjalan di samping istrinya yang tampak kesusahan berjalan.


Baru sampai di teras rumah, Fahri keluar, "Darimana saja kamu?" tanyanya kepada Maudy.


"Dia pergi bersamaku, suaminya. Kami dari restoran, aku mengajaknya," Zayn yang malah menjawab.


Fahri mengarahkan pandangannya kepada Zayn dengan cepat tangannya memukul wajah pria itu.


Seketika Maudy menjerit.


Zayn tersungkur di lantai, ia mengelap bibirnya yang berdarah.


Fahri mendekati Zayn menarik kerah baju suami dari adiknya.


"Kakak, sudah cukup!" teriaknya menarik tangan Fahri.


Fahri melepaskan tangan adiknya kembali melayangkan pukulan ke perut Zayn.


"Kakak, hentikan!" teriak Maudy menarik tubuh Fahri.


"Fahri, hentikan!" Rama keluar dari dalam karena mendengar suara teriakan putrinya.


Karena rasa marahnya menggebu, Fahri tak menghiraukan teriakan ayahnya dan tak sadar jika adiknya di belakang.


Fahri menepis kasar tangan seseorang tanpa menolehnya ke belakang, matanya hanya tertuju pada Zayn.


"Maudy!" Teriak Rama mendekati putrinya.


Tangan Maudy yang ditepis Fahri secara kasar membuatnya terjatuh.


Kedua pria itu melihat ke asal suara, mata mereka membulat ketika melihat darah mengalir di paha Maudy.


"Maudy!" Wina berlari mendekati putrinya.


Zayn dan Fahri gegas menghampiri Maudy.


"Bu, sakit!" teriaknya menangis.


Zayn mengangkat tubuh istrinya.


"Zayn sini!" Rama mengarahkan menantunya ke mobil pribadinya.


"Biar aku yang menyetir!" ucap Fahri lalu ia berkata kepada iparnya. "Kamu tidak boleh ikut!"


Zayn melihat mobil yang ditumpangi istrinya itu berlalu.


Dengan cepat ia berlari ke mobilnya dan menyusul istrinya. Tak peduli larangan kakak iparnya.

__ADS_1


__ADS_2