
Pagi ini Zayn memberanikan diri mendatangi rumah mertuanya tentunya membawa sebuket bunga lily.
Zayn berusaha tidak gugup karena ia takut jika ayah mertuanya memarahinya atau memukulnya. Bisa-bisa harga dirinya jatuh dan ketampanannya memudar.
Mengetuk pintu dan mengucapkan salam, Zayn kemudian masuk ketika Wina memberikannya izin.
Maudy yang sedang menikmati sarapan tampak terkejut dengan kehadirannya.
"Pagi, Yah!" sapanya gemetaran.
Rama hanya mengangguk.
"Silahkan duduk, Zayn!" Wina mempersilakan menantunya.
Zayn lantas duduk di sebelah istrinya dan memberikan buket bunga tersebut.
Maudy malah meletakkannya di meja.
"Kamu sudah sarapan?" tanya Wina.
"Belum, Bu."
"Mari sarapan!" ajak Wina.
"Terima kasih, Bu."
"Maudy, layani suamimu!" titah Rama.
Bukannya melayani suaminya, Maudy malah memilih meninggalkan meja makan.
"Maudy, kamu mau ke mana?" Rama berteriak kecil bertanya.
Maudy tak menjawab.
"Maafkan Maudy, ya!" ujar Wina.
Zayn mengangguk pelan.
"Kamu sarapan saja, Ayah mau berangkat kerja," Rama berpamitan.
"Lanjutkanlah sarapanmu, Ibu mau ke dapur," Wina pun berlalu.
Tinggal Zayn yang berada di meja makan.
Maudy keluar kamar dengan menenteng tasnya dan berpakaian rapi.
Zayn dengan cepat berdiri dan mengejar langkah istrinya.
"Kenapa masih menemuiku?" Maudy bertanya dengan nada dingin tanpa menatap.
"Aku ingin kamu kembali lagi padaku."
"Kamu ingin aku atau anak ini?"
Zayn tak bisa menjawabnya.
"Sudah ku tebak jika kamu hanya ingin anak ini saja untuk mewujudkan keinginanmu!"
"Maudy, aku mohon hanya kamu yang bisa menolongku!"
"Aku tidak bisa menolongmu karena aku bukan siapa-siapa dirimu!"
"Kamu masih tetap istriku!"
"Setelah anak ini lahir aku akan menggugatmu!"
"Aku tidak akan menceraikanmu!"
"Bukankah kamu sudah memiliki kekasih? Kenapa masih mempertahankan aku?"
"Aku minta maaf," Zayn berkata dengan penyesalan.
"Apa yang sudah membuatmu berubah begini?"
"Milka membohongiku."
Maudy sejenak terdiam, lalu tertawa sinis. "Jadi, karena dia sudah membohongimu kamu ingin kembali padaku?"
Zayn mengangguk.
"Sungguh jahat!" Maudy menekankan kata-katanya.
Dengan langkah cepat Maudy mendekati mobilnya.
"Kamu mau ke mana?"
"Aku mau bekerja," jawab Maudy.
"Kamu tidak boleh bekerja!" larang Zayn.
"Jika tidak bekerja lalu biaya bersalin dari mana?"
__ADS_1
"Aku yang akan membiayainya."
"Tidak perlu, aku masih bisa mencari sendiri!" Maudy menaiki mobilnya dan berlalu.
Zayn lalu menyusul istrinya, mengikutinya dari belakang.
Di tengah perjalanan, mobil Maudy berhenti dan wanita hamil itu turun.
Zayn yang melihat istrinya berhenti memilih berhenti, turun dan menghampirinya. "Apa yang terjadi?"
"Sepertinya ban mobilku kempes," ujar Maudy.
"Biar aku telepon bengkel," ucap Zayn. "Dan kamu pergi denganku," lanjutnya.
Maudy terpaksa mengiyakan.
Zayn menghubungi bengkel langganannya setelah itu ia berkata kepada istrinya. "Sebentar lagi mereka datang dan juga asistenku!"
Maudy mengangguk.
Tak sampai 15 menit, pegawai bengkel mobil dan asisten Zayn bernama Aslan datang. Keduanya pun pergi dari tempat itu.
"Sebaiknya aku menunggu mereka memperbaiki mobilku saja!"
"Kamu akan kelelahan menunggu mereka," ujar Zayn.
"Tapi..."
"Jangan membantah ucapanku!"
"Jika aku tidak terpaksa, ku tak mau satu mobil denganmu," ujar Maudy.
"Maaf, jika aku memaksamu!"
"Ya."
Mobil berhenti di kantor istrinya, Zayn dengan cepat membuka pintu buat wanita itu. "Nanti aku akan menjemputmu!"
"Tidak perlu!" tolak Maudy.
"Kenapa? Aku suamimu jadi kamu adalah tanggung jawabku," ujar Zayn.
"Kenapa baru berkata tanggung jawab?"
"Maudy, aku minta maaf atas semua yang kulakukan kepadamu," Zayn menundukkan kepalanya.
"Aku sudah memaafkanmu dan jangan pernah mengganggu hidupku lagi!" Maudy kemudian berlalu.
-
Maudy sedang berada di dalam ruangan kerjanya lagi-lagi dibuat terkejut karena Zayn tiba-tiba datang.
"Aku membawa makan siang untuk kita," ujar Zayn.
"Aku sudah janji dengan Karen untuk makan diluar," ucapnya.
"Tadi aku meminta izin kepadanya untuk mengajak kamu makan siang, sepertinya dia setuju dan mengerti jika kalian batal makan diluar."
"Kenapa sih' kamu terus mengejarku?"
"Karena kamu masih istriku."
"Ya, tepatnya istri yang dapat mewujudkan cita-citamu!"
"Harus memakai cara apa aku untuk dapat menyakinkanmu?"
"Aku tidak perlu memberitahu cara apa, tapi kali ini aku takkan pernah tertipu lagi dengan akan licikmu itu!"
"Baiklah, terserah kamu mau percaya atau tidak. Sekarang makanlah, kasihan calon bayi kita," Zayn membuka bungkusan makanan yang dibelinya.
Maudy melihat makanan yang dibawa suaminya begitu lezat dimatanya.
"Aku tahu ini kesukaanmu," Zayn menyodorkan chicken steak kepada istrinya.
Maudy meraih sendok lalu mulai mencicipinya begitu juga dengan Zayn.
"Kemarin kamu cek kehamilan, bagaimana dengannya?" tanyanya sambil mengunyah.
"Dia berkembang dengan baik."
"Syukurlah," ucap Zayn. "Kira-kira apa jenis kelaminnya?" lanjut bertanya.
"Perempuan."
"Jika dia lahir pasti secantik kamu."
"Ya, semoga saja nasibnya juga tak seburuk ibunya," sindir Maudy.
"Maaf!"
"Ya."
__ADS_1
Selesai makan, "Sepulang kerja aku akan menjemputmu," ujar Zayn.
"Tidak perlu," tolaknya.
"Aku akan tetap menjemputmu mau atau tidaknya," ucap Zayn beranjak bangkit dari kursinya lalu berjalan mendekati istrinya dan mengecup rambutnya.
"Zayn...."
"Aku pamit, sampai jumpa!"
-
Sore harinya, Zayn menjemput istrinya. Maudy berusaha menghindar dan memberikan alasan namun Zayn tetap bersikeras ingin menjemputnya.
Dengan terpaksa Maudy memenuhi permintaan suaminya, dia pun pulang bersamanya.
"Apa kamu ingin makan sesuatu?"
"Tidak!"
"Apa boleh aku bermalam di rumah kamu?"
Maudy mengerutkan keningnya, menatap suaminya.
"Jika kamu tidak mengizinkannya, aku takkan memaksa."
Maudy bernafas lega.
"Hmm, sebelum pulang temani aku ke tempat laundry dan rumah makan, ya."
"Ya," jawab Maudy singkat.
Zayn menghentikan mobilnya ke sebuah tempat pencucian pakaian, pria itu turun lalu membawa dua plastik berisi baju dan beberapa gantung jas miliknya.
"Sejak kapan kamu mencuci di tempat ini?"
"Sejak lima hari yang lalu, saat kamu pergi dari rumah," jawab Zayn.
"Memangnya kemana para asisten rumah tangga?"
"Mereka ditarik Mama ke rumah utama," jawabnya.
"Oh."
Mobil lalu melaju ke sebuah rumah makan dengan harga terjangkau. Maudy tercengang melihat suaminya membeli makanan di tempat yang berada di dalam jalan sempit.
Karena tidak biasanya Zayn makan atau belanja di tempat kelas bawah, beda dengan Maudy selama makanannya enak dan halal tak peduli di manapun itu tetap di lahap.
Hampir 20 menit menunggu akhirnya pesanan Zayn untuk makan malam selesai juga. Ia membawa bungkusan makanan ke dalam mobil.
"Setiap hari kamu beli di sini?"
"Tidak juga, baru dua kali ini. Menurutku masakannya cukup enak."
"Sejak aku dan para asisten pergi dari rumah?"
"Ya."
"Aku tidak menyangka kamu bisa juga makan di tempat ini."
"Terpaksa karena aku tidak cukup banyak uang untuk makan di restoran mewah."
"Maksudmu kamu mengalami kebangkrutan?"
"Hampir."
Maudy mengerutkan keningnya.
"Sejak kamu pergi beberapa persoalan muncul di perusahaan dan terpaksa aku harus menjual mobil dan jam tangan."
"Lalu apakah ini ada hubungannya dengan kamu mendekati ku kembali?"
Zayn menarik nafasnya lalu ia hempaskan dan mengiyakan.
"Sudah aku duga, pasti kamu memiliki tujuan. Sampai kapanpun kamu tetap takkan pernah menganggap aku sebagai istrimu."
"Maudy, aku minta maaf. Aku hanya ingin menyelamatkan perusahaan saat ini, ku membutuhkan dana untuk menggaji karyawan dan waktunya tinggal beberapa hari lagi. Aku bisa mendapatkan bantuan dari papa jika kamu mau memaafkan ku dan kembali lagi padaku," ungkap Zayn.
Maudy tersenyum sinis.
"Maukah kamu kembali padaku?"
"Tidak, Zayn."
"Maudy, tolong sekali ini saja!" Zayn memohon.
"Aku tidak bisa, Zayn. Sudah cukup apa yang kamu lakukan padaku, sejak menikah aku berusaha mencintaimu dan pernikahan kita berjalan dua bulan ku sudah jatuh cinta padamu. Tapi, apa yang kamu lakukan? Kamu hanya memanfaatkan aku!"
"Maaf!" lirihnya.
"Aku tidak bisa membantumu setelah anak ini lahir hubungan kita juga selesai, kamu boleh menemuinya tapi tak bisa memilikinya."
__ADS_1
Zayn mengangguk pasrah.