Bisnis, Benci Dan Cinta

Bisnis, Benci Dan Cinta
Bab 26 - Aku Ingin Kembali Padamu


__ADS_3

Zayn berlari mendekati brankar istrinya, ia memegang tangan Maudy. Tampak raut wajah panik dan khawatir pada dirinya.


Maudy meringis kesakitan memegang perutnya.


"Siapa suaminya?" tanya perawat sebelum masuk ke ruang UGD.


"Saya, Suster!" jawab Zayn.


Fahri ingin mencegah adik iparnya itu mendekati Maudy namun Rama melarangnya.


"Silahkan masuk!"


Zayn melangkah cepat menghampiri istrinya yang terus menangis. Zayn terus menyeka air mata itu dengan jemarinya.


"Zayn, sakit!" Maudy berkata sembari menangis.


"Tenanglah, semua akan baik-baik saja!" Zayn mengecup punggung tangan istrinya.


Dokter mulai memeriksa kondisi Maudy dan calon bayinya.


Zayn sedikit menjauh dari brankar dengan wajah panik dan cemas.


Dokter lalu berkata kepada Zayn, "Kami harus membuang janinnya!"


"Tidak!" tolak Maudy lantang dalam sakitnya.


"Lakukan apapun yang terbaik, Dok. Asal istri saya selamat," ujar Zayn.


"Aku ingin anakku selamat, Dok!" Maudy terus menangis.


Zayn mendekati istrinya dan mengelus rambutnya, "Tenanglah!"


"Bagaimana aku bisa tenang? Mereka ingin membuang bayiku!" isaknya.


"Ini demi keselamatan kamu, Maudy!" air matanya Zayn ikut menetes.


"Dia harus selamat, Zayn!" mohonnya.


"Nona, tenanglah. Kami akan berusaha menyelamatkan kalian berdua," Dokter menguatkan Maudy.


"Kalian harus menyelamatkannya!" pintanya dengan suara tinggi.


"Iya, Nona."


-


Zayn duduk di bangku pasien bersama kedua orang tuanya Maudy dan Fahri.


Zayn menundukkan kepalanya sembari memijit pelipisnya.


Seorang perawat menghampiri Zayn meminta tanda tangan pria itu.


Zayn lalu membubuhkan tanda tangannya.


Zayn kembali terduduk air matanya kembali menetes.


Dinda dan suaminya datang ke rumah sakit, keduanya melangkah cepat menghampiri putranya.


Zayn melihat kehadiran Mama Dinda bergegas memeluknya. "Apa yang terjadi?"


Zayn semakin memeluk erat mamanya dan menangis. "Maafkan aku, Ma!"


Dinda mendorong tubuh putranya pelan.


"Aku memilih Maudy tetap hidup," ucapnya terisak.


"Maksudmu calon cucu kami tidak selamat?" tanya Dinda terbata.


"Kita berdoa semoga Maudy dan anak yang dikandungnya selamat serta sehat," ucap Rama mendekati istri dan putranya karena ia telah mendapatkan penjelasan dari besannya.


Dinda menangkup wajah Zayn yang tak hentinya menangis. "Semua akan baik-baik saja, istri dan anakmu pasti selamat!" menguatkan putranya diiringi air mata.


Zayn mengangguk.


Hampir 30 menit menunggu akhirnya salah satu tim medis keluar dan memberikan kabar. "Operasi berjalan lancar. Ibu dan bayinya selamat."


Seluruh keluarga Zayn dan Maudy bernafas lega serta mengucapkan syukur.


"Nona Maudy masih dalam pengaruh obat bius," ujar Dokter.


Keluarga mendengarkan dan mengiyakan setiap perkataan yang diucapkan sang dokter.


Zayn yang pertama kali melihat dan menggendong bayi Maudy karena dia adalah ayah kandungnya.


Pria itu memandangi wajah mungil bayinya lalu memberikan ciuman singkat di pipi. "Cantik!" Lirihnya.

__ADS_1


"Sebentar lagi kita akan bertemu mama," berbicara kepada putrinya.


-


Maudy kini berada di kamar inap, putrinya digendong oleh Wina. Seluruh keluarga begitu bahagia dengan kelahiran bayi mungil itu.


"Di mana Zayn, Bu?"


"Setelah melihat bayimu, dia entah ke mana," jawab Wina.


"Kedua mertuaku?"


"Mereka pamit pulang, besok pagi ke sini lagi."


"Kenapa Zayn pergi?" tanya pelan.


"Ibu juga tidak tahu, Nak."


"Zayn memilih aku yang bertahan daripada anak ini. Apa dia membenci bayi kami?"


"Zayn berkata begitu."


"Iya, Bu. Zayn memohon kepada dokter agar melakukan yang terbaik untukku."


"Artinya Zayn memang mencintaimu," cetus Wina.


"Tapi, kenapa dia ingin membuang bayi kami?"


"Karena untuk menyelamatkan kamu," jawab Wina.


**


Seminggu berlalu, Zayn tak juga menunjukkan batang hidungnya membuat Maudy semakin rindu.


Putri kecilnya menangis gegas Maudy memangkunya dan memberikan ASI.


"Sayang, berhentilah menangis!" membujuk bayinya.


"Kamu ingin bertemu papa, ya?"


"Mama sudah bertanya Oma dan Opa di mana papa kamu tapi mereka tidak memberitahunya."


Bayi itu tak henti menangis.


"Kita akan mencari papa kamu!"


Maudy mendongakkan kepalanya. "Zayn!"


Bayi perempuan itu pun diam ketika mendengar suara sang papa.


"Maaf, aku baru mengunjungi kalian lagi!" Zayn duduk di sisi ranjang.


"Kenapa pergi?"


"Aku tidak mau kamu salah paham," jawab Zayn.


"Aku ingin kembali padamu!"


Zayn tertawa kecil.


"Kenapa tertawa? Kamu pikir aku tidak serius?"


"Kenapa kamu berubah? Oh, aku tahu pasti kamu ingin harta dari keluargaku, ya!"


"Zayn!" geramnya.


Zayn lagi-lagi tertawa lalu mengecup kening istrinya dan berkata, "Aku tidak peduli lagi dengan tanah dan perusahaan itu, bagiku kalian adalah harta terindah yang ku miliki selain kedua orang tuaku."


Maudy menangis haru.


"Aku ingin menggendongnya."


"Dia lagi menyusu, tunggu 'ya!"


Zayn berbisik di telinga istrinya, "Aku mau juga!" ia lalu menatap wajah Maudy ingin melihat ekspresinya.


Maudy mengerutkan matanya.


"Baiklah, aku akan menunggu sampai kamu siap," Zayn tersenyum jail.


Maudy membalasnya dengan senyuman juga.


"Apa kamu sudah memberikan nama untuknya?"


"Belum."

__ADS_1


"Aku menunggumu yang memberikannya."


"Kamu menungguku?"


"Ya, kamu papanya."


"Terima kasih," Zayn tersenyum bahagia dan memeluk istrinya.


"Zayn, kasihan dia!"


Zayn melonggarkan pelukannya, "Maaf, cantik!" melihat ke arah bayinya lalu mengecup keningnya.


Maudy selesai menyusui, "Aku mau ke kamar mandi, tolong jaga dia!" meletakkan putrinya di ranjang.


"Mari ku antar!" Zayn berdiri, mengulurkan tangannya.


Maudy menggenggam tangan suaminya lalu bangkit dari duduknya.


"Maaf, selama kamu hamil aku tidak selalu ada disisimu," ujar Zayn.


"Tapi, ketika aku melahirkan kamu ada menemaniku walaupun harus menunggu diluar," Maudy mengingatkan.


"Aku belum siap jika harus kehilangan dia," ujar Zayn.


"Dan akhirnya dia lahir ke dunia dengan selamat," sambung Maudy.


"Kalian adalah anugerah terindah untukku," ucap Zayn.


Maudy pun tersenyum.


Zayn mengantarkan istrinya ke kamar mandi, lalu ia gegas ke ranjang mengajak mengobrol buah hatinya.


"Hai, cantik. Maafin Papa, ya!"


"Papa sebenarnya rindu padamu tapi banyak kesalahan yang telah Papa lakukan pada kamu dan mamamu."


"Kamu tidak marah 'kan dengan Papa?"


"Kamu tidak marah?"


"Syukurlah kalau kamu tidak marah."


"Papa mau memberi nama kamu siapa, ya?"


"Bagaimana jika nama kamu Nadine?"


"Apa kamu suka?"


"Aku suka!" Maudy menjawab.


Zayn menoleh.


Maudy tersenyum, "Aku suka dengan nama itu."


"Terima kasih kamu sudah mau menerima nama itu," ucap Zayn.


"Sama-sama, Zayn."


"Kapan kamu pulang bersamaku?"


"Mau pulang ke rumah mana?"


"Apartemen."


"Aku tidak mau di sana."


"Tempat tinggal ku di sana."


"Bagaimana kalau kita tinggal di rumah yang Kak Fahri beli?"


"Rumah itu milikmu."


"Aku akan menjualnya kembali padamu," ujar Maudy.


"Tidak, Dy. Biarkan itu menjadi milikmu," ucap Zayn.


"Tapi kamu harus mau kembali ke rumah itu bersamaku dan Nadine."


Zayn mengangguk mengiyakan.


Maudy tersenyum senang.


"Aku mau kembali ke kantor," pamit Zayn.


"Nanti malam tidur di sini, ya!"

__ADS_1


"Apa Kak Fahri mengizinkan aku di sini?"


"Aku yakin pasti dia akan mengizinkanmu di sini."


__ADS_2