Bodyguard Cantik Penakluk Hati

Bodyguard Cantik Penakluk Hati
salah jurusan


__ADS_3

Hari ini Raline menemui calon dari majikannya. Dia mengambil tawaran dari temannya untuk menjadi seorang baby sister. Mungkin tak akan mudah, tapi siapa yang akan tau jika tidak mencobanya. 


"Sebelah sini mba, ibu sudah menunggu." Ucap seorang pelayan di rumah mewah tersebut.


Rumah dua lantai yang lebih tepat di sebut istana itu membuat gadis 24 tahun itu takjub dengan segala sudut dan isinya.


Ini sih cape banget kalo anaknya aktif lari-lari terus. Barang-barangnya antik semua pula, berapa ganti ruginya ini kalau pecah.


Raline membatin takut dia melakukan kesalahan.


Di sebuah ruang besar, seorang wanita paruh baya menunggunya di kursi besar. Wanita itu tersenyum ramah dengan dandanannya yang masih nyentrik.


Berbeda dengan Raline, yang hanya beralaskan make up tipis. Rambut panjangnya sengaja dia Cepol rapi agar terkesan energik dan leluasa untuk bergerak. Baju setelan kemeja putih dan celana panjang hitam pun dikenakannya. Tak ketinggalan sepatu neakers menghiasai kaki rampingnya.


"Silahkan duduk." Ujar sang nyonya rumah.


Raline mengambil duduk di ujung sofa, tak enak rasanya jika dia duduk di tengah bangku besar dan mewah itu. 


Empuk, nyaman, rasanya ingin sekali Raline bermalas-malasan di sofa itu. Tapi tak mungkin, karna dia kesini untuk bekerja. Bukan bermalas-malasan.


Seorang pelayan memberikan sebuah map merah pada sang majikan. Dia membaca lembaran-lembaran kertas yang ada di dalam map tersebut.


"Namamu?" Tanya si nyonya tiba-tiba.


"Nama saya Raline Andriani, biasanya saya di panggil Raline nyonya." Jawab Raline sopan namun tegas.


"Usia?"


"Usia saya dua puluh empat tahun nyonya."


"Dimana kamu tinggal sekarang?"


"Saya tinggal di kos-kosan daerah kelapa nyonya."


"Kau perantauan??"


"Ya"

__ADS_1


"Kau menguasai beberapa ilmu bela diri bukan?"


"Ya, betul nyonya" kali ini Raline berdebar. Dia pernah ditolak karena calon majikannya takut, anak mereka akan di ajarkan kasar oleh Raline. Dan Raline pun sebenarnya pernah menjadi seorang bodyguard anak konglomerat. Tapi karna sebuah fitnah, Raline harus angkat kaki dari rumah itu.


"Apa kau bisa menggunakan senjata?" Raline bingung kali ini. Si calon majikannya ini seperti menginterview untuk menjadi bodyguard bukan pengasuh.


"Eemmm, sebenarnya saya bisa menggunakan senjata Laras pendek, tapi saya tidak punya lisensi dan perijinan karna kendala di biaya nyonya." Raline memang bukan gadis sembarang, dia bukan seorang gadis penakut. Justru dia adalah seorang wanita tangguh dan berkarakter.


"Urus ijin dan lisensi penggunaan senjata untuknya. Aku mau dia di bekali penuh. Karna dia harus menjaga dirinya sendiri dan anakku." Si nyonya memberikan perintah pada pelayan di sampingnya.


Tak lama, turun seorang pria tampan dan gagah dari lantai dua rumah itu.


Raline terkesima dengan anak majikannya itu. Tubuhnya tinggi tegap, badan sixpack rapi terbungkus jas dan kemeja. dan wajah yang sangat tampan. siapa pun wanita yang melihat pasti akan terkesima oleh karismanya.


"Ini anakku. Dia yang harus kau jaga."


Mata Raline membulat sempurna dengan apa yang di ucapkan wanita yang tengah menginterviewnya itu.


Ga salah denger kan aku? Itu otot kotak-kotak kaya tahu sutra begitu buat apaan kalo masih di jagain emak? Ya ampun, mas aku cewek lho. Apa ga malu masnya?


Raline bingung dan merasa canggung, apa iya pria sebesar itu harus di jaga?


"Ooooohh ya, maaf aku lupa. emm, begini Raline, aku melihat sepak terjangmu sebagai bodyguard. Dan aku puas akan hasil kerjamu. Jadi, kau kuangkat menjadi bodyguard bukan baby sister."


Raline tertegun dengan pernyataan si majikan baru. Bila biasanya Raline menjadi guard seorang anak, kini dia harus menjaga orang dewasa. Bahkan usianya lebih tua darinya.


"Apa kau sudah sarapan Raline?"


"Kebetulan sudah nyonya." Sebetulnya belum, tapi Raline sungkan jika harus sarapan dengan orang baru.


"Baik kalau begitu, Pak Totok akan mengantarkan kami ke kamar. Dan akan memberi tahu apa saja tugas-tugasmu."


"Baik nyonya terimakasih."


Raline di temani dengan kepala pelayan di rumah besar itu. Berkeliling rumah megah setra memberi tahu apa saja yang boleh dan tidak boleh dia kerjakan.


"Ini kamar tuan muda." Pak Totok memberi tahu Raline sebuah kamar ketika mereka berhenti di depannya.

__ADS_1


"Pak maaf, dari tadi saya belum tau siapa nama tuan dan nyonya." Ucap Raline pelan.


hehehehe


"Yang tadi menginterview kamu namanya nyonya Lusi. Dia adalah nyonya rumah ini. Suaminya bernama tuan Carlos Ibra. Tuan sudah meninggal beberapa tahun lalu. Nah, anaknya tadi Tuan muda. Namanya Kevin Ibra. Hati-hati sama tuan muda, dia pria berhati dingin." Jelas pak Totok.


"Kenapa nyonya besar memilih saya pak?" Raline merasa bingung dari mana ,nyonyanya itu tau tentangnya.


"Namanya juga orang berduit nduk. informasi tentang wong cilik seperti kita itu ya gampil."


Benar juga apa yang pak Totok bilang. Ada uang, semua mudah di genggam.


"Ini ruang kerja tuan, ruang ini menyambung dengan kamar tuan muda. Pintunya rahasia." pak Totok memberi tahu Raline dengan cara berbisik. Karna haya pak Totok yang tau hal tersebut.


"Rahasia tapi bapak kasih tau saya." Protes Raline


"Ya kan kamu bodyguard tuan muda. Ya harus tau hal ini lah. weees, ayo ikut bapak lagi. Kita kekamar kamu."


Mereka menuruni tangga besar itu menuju ke kamar pelayan di bagian belakang rumah.


"disini tempat kamu tidur nanti."


Sebuah kamar seukuran kosannya. Tapi jauh lebih rapi dan tertata. Ada sebuah ranjang ukuran 120×200cm dan sebuah lemari. Cukup untuk menaruh baju-baju yang akan Raline bawa nanti.


"Setiap kamar, di tanggung oleh pemiliknya sendiri. Ingat, nyonya besar ga suka berantakan. Kamu jangan jorok yo nduk."


"iya pak."


kamar-kamar pelayan di pisah dari rumah utama. Ada empat kamar seukuran dengan kamar yang akan Raline tempati, dan ada sebuah kamar yang lebih besar dari kamar-kamar yang lain. itu merupakan kamar pak Totok dan mbok sumi istrinya. pak Totok dan istrinya memang mengabdi sudah sangat lama. Dari saat nyonya Lusi dan tuan Carlos masih baru menikah, mereka sudah bekerja di sini.


"Nanti di pintu kamu tempelkan nama, biar ga ketuker. O iya, nanti kita kenalan sama yang lain. Sekarang mereka masih sama kerjaannya masing-masing." ujar pak Totok.


"Kerja kamu cukup melayani tuan muda. Degala kebutuhannya tuan muda. Kalau bisa, kamu itu menjadi bayangannya. Kamu nanti di kasi libur dua kali dalam sebulan. Kamu ga bisa lama-lama libur nduk, karna demi keamanan tua muda." pak Totok menjelaskan semua detail pekerjaan Raline, mulai dari apa kebiasaan tuan mudanya, apa yang tidak dia sukai, dan apa saja yang boleh dan tidak boleh Raline lakukan terhadap tuan mudanya.


"pak, boleh tanya ga?"


"Ya"

__ADS_1


"Kenapa tuan udah segede gitu masih butuh bodyguard, cewek pula bodyguardnya"


"Karna kalo cewek tu sulit di tebak, nanti juga kamu ga boleh berpakaian formal, pasti tuan minta kamu ganti. Musuh majikan kita banyak dan bukan orang sembarangan. Jadi kamu juga harus hati-hati sama diri sendiri." Raline membuat note dengan yang satu ini. 'Musuhnya bukan orang sembarangan' sepertinya gajinya yang besar akan sebanding pula dengan resiko yang dia tanggung.


__ADS_2